That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Maha Benar


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan suasana temaram terlihat pergerakan kecil di atas ranjang. Cleire menyingkirkan pelan tangan Chris yang memeluknya. Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi dan ia sudah terbangun.


Dilihatnya Chris yang masih tidur dengan nyenyaknya tanpa terusik. Cleire mengusap perutnya dengan mata mengantuk. Matanya menyapu sekitar ruangan. Kamar yang di cat putih itu tidak lagi membuat suasana ruangan menakutkan seperti dulu.


"Chris," panggil Cleire pelan.


Chris tidak bergeming.


"Chriss ..." Suara Cleire sedikit merengek dengan tangan mengguncang tubuh Chris. Bukannya bangun, Chris malah memeluk Cleire yang langsung kesal.


"Sttt ... tidurlah," gumam pria itu, memberi elusan lembut di punggung Cleire.


"Aku lapar, bukan ingin tidur!" Cleire merengek lagi seraya memberi pukulan kecil di punggung Chris.


"Makanlah ..." gumamnya lagi. Cleire mendongak dengan bibir mencebik. Mau membuatnya saja, tapi tidak mau bertanggung jawab, cih! Anakmu lapar, hey!


Cleire akhirnya memilih bangun sendiri. Pria itu mungkin kelelahan sehabis bekerja. Ia bangun dengan perlahan dengan memegang perutnya yang buncit. Masih enam bulan saja sudah berat. Bagaimana jika sudah sembilan bulan? Bersiap saja untuk sakit pinggang.


Sepi sekali. Biasanya ada Seno dan Clark yang menginap. Sekarang tidak lagi karena sudah ada Chris. Untungnya kamar mereka ada dibawah bukan diatas. Jika tidak, malas sekali rasanya bergerak.


Cleire mengambil apa saja yang sekiranya enak untuk dimakan. Ia berdiri di depan lemari es sambil memakan sepotong cake sisa semalam.


"Aku ingin lagi." Tapi piring sudah kosong, sisa pun tidak ada.


"Aku lapar," gumamnya lagi. Rasanya malas sekali mengerjakan sesuatu. Biasanya ia paling aktif dalam bergerak. Mungkin karena hormon kehamilan yang mendukung.


Wanita itu berdiam diri selama beberapa saat untuk mengumpulkan niat. Mata mengantuk juga menjadi pendukung. Sampai Cleire merasakan tendangan di perutnya barulah ia kembali ke kesadarannya.

__ADS_1


"Ada-ada saja kau ingin makan saat subuh. Lain kali ambil waktu malam atau siang saja," ucap Cleire menunduk. Sepertinya baby ingin ia bergerak segera.


"Kau ingin makan ayam?" tanya Cleire seolah baby mengerti.


"Tentu saja, Mommy," jawab Cleire sendiri dengan cekikikan. Ia merasa konyol dengan dirinya sendiri.


Diambilnya ayam yang sudah diberi bumbu di lemari es. Tinggal menggoreng saja tidak terlalu lama. Sekalian ia membuat susu juga.


"Jangan tanya daddy mu. Dia menyebalkan!" kata Cleire saat merasakan tendangan lagi.


"Kau cepatlah besar dan keluar agar bisa membalas daddy untuk Mommy ya. Dia hanya tahu tidur saja." Bisa dipastikan jika Cleire akan menjadi ibu cerewet di masa depan.


Saat ingin membalik ayam, tangan Cleire tidak sengaja menyenggol teflon dan reflek ia melepas capit memasaknya hingga berbunyi. Cleire mengibas tangannya yang terasa panas.


"Karma itu sungguh ada. Baru saja aku mengatai Chris, tapi sudah mendapat balasan!"


Chris bangun saat mendengar kegaduhan di dapur. Ketika melihat Cleire tidak ada di sampingnya, ia langsung bangun tergesa-gesa. Ia melihat tangan Cleire tidak sengaja terbakar dan langsung mematikan kompor.


"Kenapa tidak membangunkan ku!" Chris dengan telaten memberikan obat pada luka bakarnya sambil mulutnya ikut mengomel.


"Itu luka kecil saja!"


"Diam!"


"Sudah kubilang jangan memasak. Jika ingin sesuatu panggil aku!" Wanita ini masih keras kepala.


Cleire sudah cemberut, tapi tetap membiarkan Chris mengurus lukanya. "Aku sudah membangunkan mu! Kau saja yang tidak mau bangun!" Benar, kan? Pembaca saksinya!

__ADS_1


Chris berdecak. Setelah selesai menutup lukanya, Chris melanjutkan apa yang tadi di kerjakan Cleire, bahkan menambah menu lain. Pria itu memasak? Cleire terkejut melihatnya. Lebih terkejut lagi saat merasakan masakan Chris ternyata jauh lebih enak dari masakannya sendiri.


"Makan! Jangan melamun."


"Tahu begini dari dulu saja kau memasak," gerutu Cleire menyuap lahap. Chris tersenyum tipis karena gemas.


"Curang!" hardiknya tiba-tiba. "Bagaimana bisa kau memasak? Bahkan lebih enak dari punyaku. Tidak adil!" Akhirnya pria itu terkekeh.


Hey! Aku tinggal sendiri di penthouse hampir sepuluh tahun lamanya. Memasak bukan hal sulit, tapi menjadi kebiasaan!


Kecupan bertubi-tubi diberikan Chris pada wajah Cleire. Ia tidak bisa marah pada wanita ini meski sering berbuat ulah membuatnya kesal.


"Jangan pergi ke dapur untuk memasak lagi. Aku tidak mau kau terluka. Dengar? Jika kau mengulangi lagi, akan ku kosongkan ruangan ini agar tidak ada dapur!" Entah sudah berapa kali Chris memberi peringatan.


"Hey! Mana bisa begitu. Sejak kapan rumah tidak ada dapur!"


"Sejak sekarang. Jadi awas saja." Pletak! Memberi sentilan di kening Cleire.


"Ishh! Lama-lama tulang tengkorak ku bisa cekung!" Mengelus keningnya. Pria ini suka sekali menyentilnya.


"Tidak ada yang seperti itu. Tidak usah aneh-aneh. Makan saja."


"Kenapa jadi kau yang maha benar disini. Harusnya aku yang selalu benar." Masih tidak mau kalah.


"Iya, kau yang benar. Cepat habiskan." Mengalah saja dulu atau ini tidak ada akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2