That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Membiarkanmu Pergi?


__ADS_3

Cleire duduk meringkuk di atas ranjang dengan pandangan kosong tanpa jiwa. Raganya ada, tapi jiwanya serasa pergi entah kemana. Mulutnya tidak bicara bahkan telinganya menolak untuk mendengarkan. Air mata sudah tak lagi membasahi wajah sosok cantik bagai boneka ini.


Hidup, tapi mati. Mungkin itulah gambaran yang cocok untuk Cleire saat ini. Seno dan Clark pun turut hadir untuk menghibur gadis ini, tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun dari mereka yang berhasil.


Elle sendiri tampak rapuh di pelukan suaminya. Wanita itu tak kuasa menahan rasa sesak melihat putrinya yang biasanya menyebalkan menjadi seperti mayat hidup. Rasanya baru saja ia melihat Cleire begitu hidup dengan cinta pertamanya, tapi Tuhan kembali merenggutnya.


Sampai kecupan lembut di kening dan lelehan bening menetes di pipi mulus Cleire. Cleire dengan respon pelan menatap pemilik air mata. Ardrich tersenyum menyakitkan melihat sang adik akhirnya merespon.


"Ar?" gumamnya pelan.


"Iya, Cleire. Ini Ar. Kau masih mengenalku, kan?" Ar berbicara lembut, tangannya mengelus pipi adiknya.


Sudah tiga hari lamanya sejak insiden tak terduga itu. Pesawat di kabarkan jatuh tepat di atas laut hingga hanya menyisakan puing-puing nya saja. Cleire semakin terpukul mendengar kenyataan bahwa jasad sebagian orang dinyatakan hilang termasuk jasad Chris sendiri. Tidak ada raga terakhir yang bisa dilihatnya. Chris pergi tanpa menyisakan dirinya lagi.


"Chris tidak akan suka jika kau seperti ini, Cleire. Dia takkan bahagia meski sudah bersama Tuhan. Kau mau dia membenci dirinya sendiri karena membuatmu seperti ini." Ardrich terus berbicara saat mata Cleire tak lepas memandangnya. Tanpa di duga, air mata Cleire mengalir di sudut matanya.


"Tidak tidak. Jangan menangis, oke? Kau harus tersenyum. Dengan begitu dia akan bahagia." Ardrich berusaha menghapus setiap air mata yang keluar.

__ADS_1


Demi Tuhan rasanya ia ingin menangis sekeras mungkin melihat kondisi sang adik. Tapi ia tahu itu hanya akan memperburuk kondisi Cleire saat ini. Ardrich juga sama sedihnya. Ia juga merasakan kehilangan yang amat sangat. Tidak peduli seburuk apa pertemanan mereka, Chris masihlah sahabatnya.


"Aku– aku tidak bisa," ucapnya sesugukan.


Cedric yang menyaksikan bersama yang lainnya di luar pintu akhirnya memilih masuk. Ia sudah tak sanggup melihat Cleire yang seperti ini.


"Kau harus bisa, Cleire! Dengar. Tidak selamanya orang yang bersama kita akan tinggal. Menangis seperti ini takkan mengembalikan Chris kembali!"


"Cedric!" Markus mendekat.


"Hal terbaik yang bisa kau lakukan saat ini adalah melepaskan. Biarkan ia bebas. Berdoalah untuknya. Dia memang tidak ada bersamamu lagi, tapi masih tetap ada di dalam hatimu!" Cedric terus berucap.


"Jika aku bahagia, dia juga akan bahagia?" tanya Cleire pelan.


Hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Seorang wanita berambut coklat panjang dengan mata biru langitnya sedang berdiri dengan tangan menggenggam sebuket bunga di depan hamparan pantai yang luas.


Terima kasih sudah datang ke hidupku dan membuatku bahagia. Terima kasih sudah mencintaiku. Dan Terima kasih sudah menyadarkanku bahwa ada waktu di mana akhirnya aku harus merelakanmu pergi.

__ADS_1


Dengan hati setegar mungkin, Cleire membiarkan bunga yang dibawanya larut mengikuti arus. Setiap bulan, di tanggal yang sama ia akan datang ke tempat ini sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk orang terkasihnya.


Cleire memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sejuk yang menerpa wajahnya. Saat ia membuka mata kembali, bayangan Chris akan selalu ada di sampingnya. Cleire mau tidak mau berusaha tersenyum.


"Kau senang sekali ya meninggalkanku. Kau harusnya mengatakan dulu jika ingin pergi. Dengan begitu aku kan tidak perlu terkejut." Cleire terkekeh miris.


"Kau tahu. Sekarang aku tinggal di penthouse milikmu. Aku akan merusaknya jika kau tidak kembali juga!" Cleire berpura-pura cemberut. Wanita itu mengambil kerikil kecil dan melemparnya sekuat tenaga ke pantai.


"AKU BERSUNGGUH-SUNGGUH. INI BUKAN ANCAMAN! AKU JUGA AKAN MENCINTAI PRIA LAIN. AKU INGIN LIHAT APA KAU BISA MELENYAPKANNYA SEPERTI KATAMU DULU," teriaknya leluasa.


Mungkin lisannya berkata rela, tapi jauh di lubuk hatinya Cleire masih berharap. Ia percaya jika suatu hari nanti mereka akan bersama kembali. Entah itu disini atau di alam yang berbeda.


"Kau curang! Kau sengaja meninggalkan separuh dirimu bersamaku, kan? Dengan begitu aku tidak bisa menyusulmu." Ucapan Cleire berubah pelan.


"Bagaimana jika dia bertanya dimana dirimu? Aku takut tidak bisa merawatnya dengan baik."


Kakinya sudah hampir lemas. Ia akhirnya terduduk di atas pasir pantai seraya memeluk lututnya. Cleire menyembunyikan wajahnya disana. Tubuhnya mulai bergetar diiringi isakan kecil yang menyayat hati.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2