That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Ikuti Kata Hati


__ADS_3

"Taylor Jared merupakan sahabat dekat Cleire sejak masih tinggal di Sevilla, Spanyol. Hampir semua masa kecil Cleire dihabiskan di kota itu bersama Granny. Tapi, semenjak Granny meninggal diumur Cleire yang sudah 18 tahun, Daddy membawanya kembali kesini, New York."


"Hubungan mereka tak lebih dari sekedar sahabat, tapi bisa membuat orang lain salah paham. Selain Granny, hanya Taylor yang menjadi temannya disana. Sama sepertimu, Aku bahkan sempat iri dengan kedekatan mereka."


Penjelasan panjang Ardrich menerawang ke masa lalu, dimana ketika mulut itu berbicara, ada banyak hal tersembunyi di matanya.


"Dimana kalian semua? Kenapa hanya ada mereka?" Ardrich tersenyum kecut, ada banyak hal yang tidak bisa diceritakan.


"Jika kau sungguh mencintainya, maka temukan sendiri jawabannya. Jika beruntung, kau akan mendengarnya sendiri dari mulut Cleire. Selain itu, maka kau berhasil memiliki hatinya karena dia sudah mempercayaimu." Chris terdiam mendengarnya.


Ya. Gadis itu memang terlihat terbuka diluar, tapi bukan berarti semua hal akan ikut terbuka. Cleire masih tahu apa yang patut diceritakan dan mana pula yang tidak perlu diceritakan. Semua masih memiliki takaran masing-masing, tinggal kitalah yang memilahnya dengan benar.


"Aku akan mendapatkannya sebentar lagi," ucap Chris yakin.


.......


...--- o0o ---...


.......


Plakk


Bunyi tamparan keras mengambil alih perhatian banyak orang. Beberapa orang berbisik dengan berbagai opini maupun fakta yang terlihat.


"Sialan kau! Br*ngsek, baji*gan! Aku membencimu!" teriak wanita yang kini meraung menumpahkan air matanya seraya memberi pukulan beruntun di dada sang pria.


"Kau jal*ng! Murah*n!" Menunjuk wanita lain di sisi pria itu nyalang.


"HENTIKAN! Jangan menuduh sembarangan!" bentak pria itu marah.


"Menuduh? Dia sudah hamil anakmu, lalu kau masih bilang menuduh!" jawab wanita itu tak kalah marah.

__ADS_1


Mungkin dapat ditebak apa yang tengah terjadi di tengah-tengah cafe besar itu? Pertengkaran yang sudah dipastikan adalah kasus perselingkuhan yang biasa terjadi.


Di sudut cafe, seorang gadis muda mengamati dengan malas. Ia duduk menompang kepalanya dengan tangan mengaduk-aduk makanannya yang tak tersentuh.


"Lelaki memang tidak bisa dipercaya," celetuknya malas.


"Janji palsu, mulut manis, cih! Omong kosong."


Sepertinya, kata-kata itu sedikit mengganggu karena seseorang di meja belakang terlihat menoleh untuk melihat sumber suara.


"Hei, Nak. Sepertinya kau punya masalah?"


Eh!


Gadis itu sedikit terkejut saat pria paruh baya menepuk bahunya dan duduk di depannya.


Dia mendengarku ya?


Apa-apaan? Kenal saja tidak!


"I'm okay, Sir. Thank you." Cleire tersenyum paksa.


Ya. Gadis itu memang Cleire yang untuk kesekian kalinya dilanda kebosanan hingga berakhir di tempat ini sendirian. Jangan tanya dimana Taylor! Pria itu kembali sibuk di habitat aslinya.


"Aku mengerti." Pria itu mengangguk.


Mengerti apa? Kenapa rasanya dia mirip seseorang ya? Tapi aku tidak ingat.


"Aku mendengarmu memaki, pasti kau punya masalah dengan seorang pria, kan?" Belum menyerah juga rupanya.


Benar juga sih, tapi dia mau apa?

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Sir. Seperti yang kukatakan, i'm okay."


"Wanita memang pandai berpura-pura." Mengangguk seolah paling mengerti sifat perempuan.


Cleire mendelik sebal. Tuan, anda sedang tidak sibuk ya hingga meladeniku! jeritnya dalam hati.


"Pria itu memang seperti yang kau ucapkan tadi, tapi ingat ... tidak semuanya! Wanita bisa berpura-pura sepertimu dengan mudah, tapi pria sulit. Ada diantara mereka yang jika serius, maka akan memperjuangkan hingga akhir. Tapi, seringkali para wanita itu sulit membedakan yang benar-benar tulus."


Cleire terdiam, kenapa rasanya pria ini seperti cenayang. Tapi, jujur ia sedikit tertegun dengan penjelasan panjang lebarnya. Ia tahu jika tidak semua orang sama, tapi entah kenapa jika itu menyangkut pria, maka pikirannya menyangkal.


"Belajarlah memahami situasi dan dirimu sendiri. Jangan termakan dengan pandangan pribadi yang membuat dirimu sendiri tersesat. Jika kau bingung, maka dengarkan penjelasan orang-orang di sekitarmu."


"Pada intinya adalah dirimu sendiri. Buka dan lihat melalui hati dan matamu karena hati tidak bisa berbohong dan mata akan mengungkapkan."


Lagi-lagi itu membuat Cleire terdiam. Semua itu seolah menusuk ke bagian dirinya yang terdalam. Seringkali hatinya berkata lain dari pikirannya, tapi dengan keras kepalanya ia menyangkal.


Chris.


Pria yang ia tolak dalam pikiran, namun hati seakan menolak untuk melepaskan. Ia tak mengerti. Jika memang dirinya tidak menyukai dan menolak pria itu, lantas mengapa ia tidak menolaknya dengan tegas? Justru tanpa sadar ia nyaman?


Tapi, aku takut.


"Jangan gegabah, Nak. Coba saja buka hatimu dan lihat hasilnya. Percayalah pada pilihan hatimu." Pria itu menepuk kepala Cleire seperti gadis kecil yang baru saja di nasehati oleh gurunya, lalu beranjak pergi meninggalkan Cleire yang termenung.


Aku sudah membantumu sedikit, Son. Jangan mengecewakanku, batinnya, menatap Cleire dari balik kaca mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Gkpp dong ya Chris nya udh gk murni. Di story ini tuh aku mau mengubah sedikit pandangan orang lain pada makhluk ciptaan Tuhan seperti Chris ini....


...Kalau kalian paham, pasti tahu aku menjelaskan apa. Sebejat atau sebajingan apa orang seperti Chris, dia masih berhak buat dapat kepercayaan, berhak dapat kesempatan. Setiap orang itu bisa berubah. Jangan pandang sebelah mata....

__ADS_1


...Kan jadi curhat😛 ...


__ADS_2