
Hari pekan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang di seluruh dunia tak terkecuali Cleire. Kebanyakan orang mungkin menggunakan nya untuk bersantai di luar. Menghirup udara segar dan menikmati banyak hal diluar. Namun gadis yang sudah berstatus pengangguran ini justru menggunakannya untuk tidur seharian.
Hanya wacana karena gadis muda yang tak lain adalah Casey telah menganggu mimpi indahnya. Jika seharusnya ia berada di tempat tidur, justru malah duduk di sofa panjang salah satu toko di sebuah pusat perbelanjaan.
"Cleire, bagaimana menurutmu?" Cleire menatap malas gadis muda yang sibuk memutar tubuhnya itu. Meminta pendapat seberapa cocok pakaian yang dipilihnya.
"Jelek!" sambar Cleire asal. Casey langsung cemberut. Memang bukan hal yang tepat jika mengajak kakak perempuannya ini.
"Bekerja sama lah sedikit, Cleire ..." rengek Casey.
"Hm," dehemnya pelan, mata cokelatnya terlihat mulai sayu.
"Ish, menyebalkan!" Dengan sedikit dorongan saja, kakaknya itu mungkin sudah rebah dan tidur nyaman di sofa.
"Cleiree!!" pekik Casey, membuat Cleire segera tersadar. "Berisik!"
"Kau niat tidak sih menemaniku!"
"Kau yang menarik paksa aku. Darimana niatku datang?" ujar Cleire polos. "Lagipula kau itu anak dari seorang desainer terkenal yang rancangannya menjadi incaran banyak orang kelas atas! Untuk apa susah-susah membeli sendiri. Datangi saja ibumu itu. Ck! Menyusahkan diri sendiri," cibir Cleire semakin menjadi.
Casey meremas pakaian ditangannya dengan wajah cemberut. Apa yang ia harapkan? Cleire wanita aneh yang berbeda dengan wanita lainnya. Jangankan berbelanja seperti wanita normal, memilih pembalut saja sudah memusingkan Cleire! Masih ingat kan gadis itu memiliki berbagai macam merk?
"Menyesal aku membawamu!"
"Ya, seharusnya kau membawa Cedric," jawabnya tanpa dosa.
"Semakin gila aku jika membawanya!" pekik Casey putus asa. Percuma saja memiliki kakak perempuan, tapi tidak bisa diajak bersenang-senang.
"Astaga ... kau bisa merusak gaunnya, Cas." Lihat saja para Spg disana terlihat gelisah. Ingin menegur, namun takut menyinggung. Ya beginilah kehidupan orang kecil seperti kami, pikir mereka.
Casey dengan wajah ditekuk menyerahkan gaun di tangannya pada salah satu Spg. "Bungkus saja. Dia yang membayar." Casey menunjuk Cleire yang mengibaskan tangan. "Yaya terserah. Memang itu tujuan utamamu, kan."
"Kau kan kaya. Ratusan dollar ibarat hanya seujung kukumu." Casey mencibir dengan mengetikkan jarinya di ujung kuku.
__ADS_1
Para pekerja disana hanya bisa menggelengkan kepala pelan mendengar obrolan ala sultan itu. Obrolan orang kaya memang berbeda. Untungnya mereka bisa mengendalikan diri agar tidak terpancing.
"Kau punya dua?!" Casey terkejut melihat dua black card tersusun rapi di dompet Cleire. Setahunya Cleire hanya punya satu.
"Oh. Chris yang memberikannya. Dia ingin menjalani kewajibannya sebagai calon suami," jawab Cleire santai, membuat Casey terperangah.
Belum menjadi istri saja sudah di treat like a Queen (Diperlakukan layaknya Ratu). Bagaimana jika sudah menikah? Benar-benar menjadi Ratu kakak perempuannya ini. Astaga ... keluarga Nelson memang tidak main-main.
-
-
-
-
-
Byurr!
"Apa-apaan kau!" pekik Casey marah. Mereka sudah menjadi pusat perhatian semua pengunjung.
"Itu masih kurang untuk gadis tidak tahu malu ini!" sarkasnya.
"Apa maksudmu!"
"Itu cocok untuknya! ******* menjijikkan yang merebut kekasih orang!"
"Jaga bicaramu!" teriak Casey mendorong bahu wanita itu keras.
Cleire masih diam. Gadis itu lebih memilih membersihkan wajahnya dulu daripada berdebat. Meski begitu, Cleire masih memasang telinganya dengan baik. Setelah diperhatikan, itu masih wanita yang sama. Bethany akhirnya berani mendekatinya secara langsung.
Kulitku jadi lengket, kan. Kenapa harus menyiram dengan jus jeruk? Setidaknya dengan air putih seperti di dalam drama. Gadis itu mendumel sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja, Cleire! Dia sudah mengataimu bahkan menyiram mu!" pekik Casey lagi, kesal melihat kakaknya lebih sibuk sendiri. Setidaknya beri pelajaran dulu pada Bethany ini!
"Kau diam saja, Casey. Dia yang datang tiba-tiba membuat masalah. Jadi biarkan dia mengomel sendiri sampai puas."
"Kau, lanjutkan. Aku akan mendengarkan. Pastikan kau sudah mengeluarkan semua keluhanmu. Dengan begitu kita tidak perlu bertemu lagi."
"Kau–" Bethany merasa geram. Cleire bahkan tidak takut sama sekali. Gadis itu lebih santai dari perkiraannya.
Dengan langkah lebar Bethany kembali mendekati Cleire. Tangannya bersiap menarik rambut gadis itu. Tapi siapa sangka saat hampir menggapai, Cleire dengan santai mendorong kursinya hingga Bethany hanya menggapai ruang kosong dan akhirnya tersungkur di lantai.
Bethany terdiam dengan nafas memburu. Ia melihat sekitar mulai diam-diam menertawakannya. Belum lagi Casey tertawa paling keras. Wanita itu mengepalkan tangannya kesal. Sudah terlanjur malu, tidak akan dilepaskannya Cleire.
"MATI SAJA KAU!" Bethany berdiri dan berlari ke arah Cleire, tapi Cleire langsung berdiri dari duduknya sehingga Bethany lagi-lagi harus menerima malu. Wanita itu bergerak begitu cepat hingga menabrak kursi yang di duduki Cleire.
"Rasakan!" Casey tertawa dengan puasnya. Cleire sendiri sudah pindah tempat duduk. Gadis itu benar-benar tanpa dosa.
"Jika tidak ada yang ingin kau katakan aku akan pergi."
"JALA*GG!! CHRIS MILIKKU, BUKAN WANITA PENGGODA SEPERTIMU–" Bughh.
Hening.
Semua orang terperangah melihat Bethany sudah jatuh tak sadarkan diri di lantai, lalu menatap Cleire yang merenggangkan jari-jarinya. Ya, gadis itu pelakunya. Terlalu lelah mendengar rutukan Bethany, Cleire tanpa ragu memberi pukulan di wajah wanita itu. Hanya lebam sepertinya tidak masalah.
"Ayo pulang," katanya pada Casey yang membeku.
"Cle– Cleire. Bagaimana dengan nya?" Menunjuk Bethany. Cleire mengikuti arah tunjuk Casey.
"Kau." Cleire menyuruh pelayan yang berdiri untuk mendekat.
"Iy– iya, Miss?"
"Perbaiki tidurnya atau pindahkan saja ke toilet," ucapnya membuat orang-orang membola seraya menggeleng.
__ADS_1
"Ayo!" Ditariknya Casey pergi setelah meletakkan beberapa ribu dollar di atas meja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...