That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Aku Menyesal


__ADS_3

Suara tawa sekelompok pria menggema di dalam apartemen. Seno dan Clark tak henti-hentinya menertawakan Cleire yang cemberut di ujung sofa sana. Kompak sekali keduanya dalam hal mengejek, apalagi jika itu berkaitan langsung dengan gadis cantik itu.


"Aku mencintaimu, Chris. Jangan tinggalkan aku." Seno menirukan suara Cleire kala itu, lalu kembali tertawa.


"Aku akan selalu bersamamu, Baby. Jangan khawatir." Clark tak ingin kalah. Keduanya saling berpelukan layaknya sepasang kekasih.


Cleire yang sudah kesal setengah mati lantas meraih bantal sofa yang tersusun rapi disana, kemudian melempar dengan keras satu persatu bantal tersebut ke arah dua orang menyebalkan itu.


"Pergi kau bajingan! Atau ku potong masa depanmu itu," teriak Cleire kesal, namun hanya ditertawakan oleh keduanya.


"Awas kau ya ..." Bangkit dari tempatnya seraya meraih gunting di dalam laci nakas. Seno dan Clark langsung berhenti tertawa. Mereka langsung ketar-ketir, bersiap lari saat Cleire bergerak cepat kearah mereka.


"Astaga Cleire! Kami hanya bercanda," pekik Seno saat Cleire mengejarnya dengan Clark.


"Chris! Apa yang kau tertawakan. Hentikan singa liarmu ini." Clark tahu Cleire sedikit sensitif, tapi tidak tahu begitu serius.


Chris yang sejak tadi hanya menjadi penonton tidak peduli. Ia hanya terkekeh dengan gelas birnya di meja bar. Bukankah gadisnya menggemaskan? Ah ... senang rasanya mengingat gadis itu sudah menerimanya bahkan mengungkapkan perasaan yang ditunggunya selama ini.


"Kau sangat bahagia," ucap Ardrich yang memperhatikan tingkah Chris.


"Ini adalah hari paling membahagiakan untukku," jawabnya sungguh-sungguh. Ardrich tersenyum


tipis mendengarnya.

__ADS_1


"Aku menyesal," ucap Chris kemudian. Ardrich dengan cepat menoleh. "Katakan lagi," kata Ar menahan emosinya.


"Aku menyesal karena tidak dari dulu mengenalnya. Mungkin aku tak akan sebajingan sekarang jika bersamanya sejak dulu."


Kenapa tidak sejak lama ia mengenal Cleire. Hidupnya mungkin akan menyenangkan karena gadis itu. Mungkin karena ia tak pernah peduli dengan cinta dan wanita. Dirinya yang introvert tak membutuhkan itu semua untuk menemani hidupnya.


Meski ia tahu sahabatnya mempunyai adik perempuan, tapi siapa yang tahu jika gadis itu akan menjadi bagian dari hidupnya?


Begitulah takdir. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa menebak.


Ardrich merasa lucu. Ia sempat berpikir Chris menyesal karena mencintai adiknya. Terlalu cepat berburuk sangka, pikirnya.


"Dia di Spanyol sejak kecil. Baru kembali untuk kuliah dan akhirnya menetap karena paksaan mommy. Memang belum waktunya kalian bertemu."


**


"Teman-temanmu menyebalkan!" gerutu Cleire dengan nafas tersengal-sengal. Gadis itu baru berhenti saat Seno dan Clark benar-benar pergi dari apartemen. Chris hanya mampu terkekeh geli.


Disana hanya tinggal keduanya. Ardrich juga sudah pergi beberapa menit yang lalu karena urusan pekerjaan. Sejak beberapa bulan terakhir, Chris akhirnya menahan Cleire untuk bekerja lagi.


Pria itu begitu mencintai gadisnya hingga tak rela orang lain menatap kecantikannya dengan kedok pekerjaan. Sebagai Direktur, sudah sewajarnya Cleire bertemu banyak klien dan itu membuat Chris harus terbakar cemburu setiap kali mendapati pandangan lapar serta kagum dari para investor.


Ardrich tak dapat membantah. Ia tahu betapa posesifnya pria itu sekarang. Cleire yang cerewet dan banyak tingkah saja tak mampu melawannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu meladeni mereka."


"Tidak meladeni bagaimana! Aku gadis dengan kesabaran paling tipis bagaimana bisa menahan." Makin kesal saja gadis ini dibuatnya.


"Asal kau tahu aku juga pria dengan kesabaran paling tipis, tapi masih mampu menahan." Chris memasang wajah mesumnya.


"Cih! Kesabaran macam apa itu." Cleire tampaknya tak menyadari senyum aneh Chris.


"Kesabaran seperti ini." Mulai merem*s buah dada Cleire yang sejak tadi menggodanya. Gadis itu lagi-lagi ceroboh dengan pakaian yang terbuka di bagian atasnya.


"Chriss!" pekiknya menyentak tangan Chris. "Dasar mesum!" Hal itu membuat pria itu tertawa.


Chris benar-benar gemas dibuatnya. Ia meraih Cleire ke dalam pelukannya, memberi banyak ciuman bertubi-tubi di wajah gadis itu.


"Lain kali perhatikan pakaianmu, Bebe. Meski itu umum, tapi aku tak menyukainya. Hanya aku yang boleh melihat tubuhmu." Masih memeluk Cleire, kemudian memberi kecupan ringan di telapak tangannya.


Cleire tidak melawan atau menolak lagi. Ia menyembunyikan senyumnya. Chris selalu memperlakukannya dengan penuh cinta. Ia berharap pilihannya tepat. Ia tak ingin lagi merasa kecewa dan membuat pandangannya kembali berubah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan protes part ini pendek. Aku cuma bisa Up seadanya. Itupun sambil kerja. Jadi Up atau tidaknya tergantung kesibukan aku di dunia nyata. Ini juga berlaku buat novel KTKM....


...Yang belum baca yuk mampir. MC nya gak akan lemah Kok meski ceritanya berbeda dari yang biasa aku buat. Aku cuma mau mencoba alur baru aja yang lebih ekstrem. ...

__ADS_1


Terimakasih bagi para reader yang masih mau nunggu🥰


__ADS_2