
Sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire milik Chris terparkir di atas tanah berpasir putih. Tidak terlihat siapapun disana kecuali dua orang yang duduk di pinggir pantai berlapis tikar.
Cleire menikmati suasana tenang berhembus angin menyejukkan ini. Sudah lama ia tidak menikmati momen yang dulu menjadi hobinya. Hari ini akan menjadi salah satu hari yang berkesan dalam hidupnya.
Cleire tersenyum tipis mengingat kekonyolan Chris beberapa saat lalu. Pria disampingnya ini rela menurunkan ego demi dirinya. Kini jari manisnya tak lagi kosong. Cincin berukir berlian kini sudah tersemat manis disana.
Ya, Chris telah melamarnya. Tapi jangan harap ada kata-kata romantis atau persiapan manis seperti pasangan normal pada umumnya. Mari ingatkan sekali lagi, mereka adalah pasangan yang jauh dari kata romantis!
"Berikan tanganmu," kata Chris saat mereka baru sampai di pinggir pantai.
Cleire menurut dengan menyodorkan tangannya meski kebingungan. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin Chris pakaikan di jari manisnya begitu saja.
"Apa ini?" tanya Cleire heran.
"Lamaran," jawabnya. "Bagaimana menurutmu?" sambungnya lagi.
Cleire mengerjit. "Kau sedang melamarku atau bertanya pendapatku?"
"Tentu saja melamar."
"Hanya begini?" Tidak ada kata-kata atau semacamnya? Rasanya agak aneh.
"Memangnya harus bagaimana? Yang terpenting kita menikah dan hidup bersama." Chris tersenyum tanpa dosa.
Cleire memandang pria itu datar, sampai pukulan kecil mendarat di dada bidang Chris. "Menyebalkan! Bukan begini caranya melamar!" hardiknya.
"Lalu bagaimana?"
"Oh God! Aku lupa kau bukan manusia. Lupakan saja!" Chris terkekeh.
__ADS_1
"Kalau begitu kita ulangi. Aku akan berlutut dan menyampaikan kata-kata manis seperti dalam drama. Biar ku cari dulu," katanya sambil mengambil ponselnya di saku.
"Untuk apa ponsel?"
"Membuka internet," jawabnya polos. Cleire memanyunkan bibirnya kesal. Memang tidak bisa romantis. Lamaran macam apa ini!
"Tidak perlu!" Cleire menghentakkan kakinya sebentar, lalu menarik pria itu agar duduk di atas tikar yang telah disiapkan.
"Why?" Chris memasang wajah bingung, membuat Cleire jengah.
"Aku menerimamu. Cincin sudah kau pasang, tidak bisa dilepas lagi."
Ada atau tidak ada lamaran hasilnya akan sama saja. Perutnya sudah mengembang. Tidak sempat lagi ia memikirkan penolakan. Konyol!
Cleire tersenyum tipis mengingat itu. Sekarang ia bersandar di bahu kokoh milik pria itu dengan satu tangan Chris melingkar di pinggangnya.
Ingatannya berputar ke pertemuan pertama mereka dimana Chris tengah kebingungan dengan bahasa yang digunakan seorang kasir. Meski begitu Chris masih dengan sifat arogannya tidak mau tahu dengan masalah itu. Menurutnya waktu sangat berharga untuk hal yang membuang waktu seperti saat itu.
**
"Chriss!!" Cleire memekik terkejut seraya menutup mulutnya tidak percaya. Setelah kembali dari pantai, pria itu langsung membawanya ke rooftop di penthouse mereka.
Ia memang tidak pernah pergi kesana, kecuali Chris yang memang menyukai ketenangan. Tempat itu ternyata tidak buruk. Chris sudah menyulapnya seperti sebuah taman hias, lengkap dengan sofa dan karpet yang nyaman.
Namun yang membuatnya terkejut bukanlah hal tersebut. Tapi lampu yang menyala di sebuah gedung pencakar langit di sebelah gedung mereka. Cleire tidak menduga hal yang dilihat di depan matanya ini. Di sampingnya ada Chris yang tersenyum padanya.
Gedung pencakar langit itu juga merupakan sebuah hotel. Namun yang membuatnya berkesan adalah lampu-lampu di beberapa kamar yang dibuat berkedip membentuk sebuah pola love yang melambangkan cinta.
"Suka?" bisik pria itu. Cleire tersenyum seraya mengangguk. Chris pasti bercanda!
__ADS_1
"Sekarang lihat." Chris kembali mengarahkan wajahnya ke depan.
Cleire tersentak saat semua lampu tiba-tiba padam. Gedung di depan mereka seketika gelap gulita. Tapi kemudian Cleire menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca saat lampu kembali menyala dengan pola baru. Will you marry me.
"Chris ..."
Saat menoleh, Chris sudah tidak ada disana. Pria itu berpindah di belakangnya sedikit menjauh dengan sebelah tangan menggenggam sebuket bunga besar. Lalu di tangan yang lain memegang secarik kertas bertuliskan I love you my destiny. Chris merentangkan tangannya, meminta Cleire agar memeluknya.
Tanpa pikir panjang, wanita hamil ini berhambur memeluk pria yang menjadi belahan jiwanya.
Kali ini bukan hanya Chris, tapi ketiga sahabat Chris juga ada disana. Seno, Clark maupun Ardrich yang telah membantu Chris mempersiapkan semuanya, termasuk menyewa seluruh kamar yang ada di hotel untuk memperlancar semuanya.
Seno melambaikan tangannya antusias saat Cleire melihat kearah mereka. Begitu pula Clark dan Ardrich yang ikut tersenyum bahagia.
"Thank you ..." lirihnya dengan iringan air mata terharu.
"Kau belum menjawabnya, Baby." Chris tersenyum gemas.
Cleire melepas pelukannya dan beralih merengkuh wajah tampan pria itu. Cleire mempertemukan bibir mereka. Untuk pertama kalinya Cleire berinisiatif untuk memulai.
"Yes, i will!"
...~End~...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk TBIMD kita tamatkan sampai disini dulu ya Say. Terimakasih banyak untuk para reader yang setia menunggu🙏
ini karya baru aku
__ADS_1