That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
That Bastard is My Destiny


__ADS_3

Cleire menatap tajam pria yang tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin itu. Tangannya tak henti mengusap bibirnya yang membengkak dan memerah serta perih. Bahkan tangan satunya tak sungkan mengusap kedua dadanya yang ikut sakit.


Pria itu sangat liar! Tidak lepas kendali saja Cleire sudah bersyukur. Mungkin Chris sudah lama tidak mendapat asupan hariannya sehingga begitu menggilai gadis muda ini.


"Kenapa menatapku terus? Kemari, bantu aku." Chris tanpa dosa melempar handuk di tangannya pada Cleire yang segera ditangkap cepat olehnya.


"Kau!"


Pria itu terkekeh, memasang senyum tampan yang bisa membuat para wanita tergoda, namun tidak berguna untuk Cleire.


"Kenapa kau sangat manis, hm? Rasanya aku ingin memakanmu." Chris mencoba berdiri dari tempatnya, namun segera ditahan oleh suara Cleire. "Stop! Jangan coba-coba bergerak!" tunjuknya mengancam, membuat Chris lagi-lagi terkekeh.


Cleire dengan kesal melangkah kearah Chris. Ia mulai menggosok rambut lebat pria itu. Chris menatapnya dari cermin, mengamati wajah cantik yang tengah kesal itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya, tidak percaya pada takdir Tuhan yang memberinya gadis seperti Cleire.


**


Chris PoV


Dulu aku tidak percaya hal semacam ini. Kupikir aku takkan menemukan sesuatu yang dinamakan cinta. Meski aku melihat ada banyak cinta antar pasangan diluar sana, tetap saja aku merasa bahwa hal itu takkan pernah terjadi padaku.


Daddy selalu mengatakan bahwa cinta itu nyata. Ada saat dimana kau akan bertekuk lutut pada seorang wanita. Menjadikan dia Ratu dalam hatiku dan permata dalam rumah tangga kami kelak. Tidak peduli seperti apa watakmu, ketika kau mencintai seseorang, maka kau akan berusaha menjadikannya prioritas.


Aku hanya tersenyum tipis. Aku tahu daddy hanya menceritakan melalui sudut pandangnya, tapi aku percaya jika pak tua itu benar-benar mengagungkan cinta. Cinta pada seorang Kara yang sifatnya sangat bertolak belakang dengannya.

__ADS_1


Kini ... aku melihat dan merasakannya sendiri pada seorang Cleire. Gadis cantik yang tidak sengaja berpapasan denganku di sebuah swalayan kecil. Untuk pertama kalinya, aku tertarik pada seorang gadis dan pada hari itu pula aku ingin dia menjadi milikku.


Percayalah, ini bukan sekedar nafsu belaka. Bohong jika aku tidak tergoda oleh tubuhnya, nyatanya hal itu sudah sering membuatku gila dan berakhir di kamar mandi. Aku benar-benar mencintainya. Aku menginginkan hatinya hanya tersimpan namaku, tidak ada orang lain.


Ini akan menjadi kisah sederhanaku memperjuangkan seorang Cleire.


"Kenapa menatapku!" Bukk, pukulan di bahuku begitu terasa. Astaga ... ia sebenarnya sangat kasar. Padahal Ardrich bilang ia gadis yang lembut namun sedikit bar-bar.


"Aku hanya mengagumi ciptaan Tuhan." Kuraih tangan kecilnya, lalu mengecupnya. Halus, lembut dan ... terlihat rapuh, takut tanpa sengaja mematahkan tangan itu.


Kulihat ia berdecak dan menarik tangannya, namun kutarik agar memelukku dari belakang, lalu mencuri kecupan di pipinya. Cleire terdiam, menatapku dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


**


Kami mungkin hanya berpapasan, bertemu pertama kali tanpa kesengajaan. Namun, pria ini juga yang menunjukkanku cinta yang begitu nyata. Terkadang aku bingung siapa yang harus ku ikuti. Pikiranku atau hatiku?


Trauma masa lalu menggangguku, membuat pikiranku terkadang kacau. Akankah hubungan ini berhasil jika aku bersedia mendampinginya? Bagaimana jika takdir mempermainkanku?


Aku masih ragu untuk mengakui. Entah sampai kapan aku menyimpan perasaan ini sendiri. Lebih baik seperti ini, orang lain tak perlu tahu masalahku.


"Aku lapar," kataku, mengalihkan pandanganku. Mata pria itu terlalu bahaya untuk ditatap, seperti ada sihir yang hendak mengikatku di dalamnya.


Hei! Kenapa tertawa!

__ADS_1


"Seingatku kita baru saja makan," katanya sok berpikir. Selain polos, sebenarnya aku sedikit bodoh. Yang menjadi kelemahanku sekarang adalah melawan pria ini! Kenapa begitu sulit?


Betapa bodohnya aku mengatasnamakan lapar sebagai alasan. Aku baru ingat jika kami baru saja selesai makan siang, belum lagi aku menghabiskan banyak snack di mobil. Ahh ... shit!


Eh!


Terlalu sibuk memikirkan kebodohanku, tanpa sadar pria ini sudah membawaku duduk di pangkuannya. Mendekapku seperti bayi yang rapuh. Damn! Wajahnya begitu dekat. Hembusan napasnya beraroma mint begitu terasa di Indra penciuman serta tengkukku.


"Gugup," bisiknya sensual. Bisa kurasakan tangannya mulai menjalar di sekitar punggung dan pahaku yang terbuka.


Pria ini lagi-lagi menggodaku!


"Tetap bersamaku dan lahirkan anak untukku."


**


Author PoV


Lagi-lagi, ciuman keduanya tak bisa dihindarkan. Bibir Cleire seolah telah menjadi candu bagi seorang Chris. Cleire sendiri seakan terbiasa. Sentuhan Chris yang tiba-tiba tidak lagi mengejutkan dirinya. Mungkin inilah yang terjadi ketika hati ikut bertindak. Tidak ada paksaan, semua mengalir sebagaimana mestinya.


...Jika takdirku memang dirimu, aku rela mengikutimu selamanya, lalu mengatakan pada dunia bahwa pria baj*ngan itu adalah takdirku....


...~ Cleire Roseanne Melden ~...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2