
Kara yang sehabis berkeliling taman memicingkan mata kala melihat sebuah mobil mewah berjenis Ferrari yang merupakan salah satu mobil termahal di dunia berhenti tepat di halaman mansion utama.
Wanita paruh baya itu mulai mengira-ngira siapa kiranya pemilik mobil tersebut. Chris jelas tidak memiliki mobil sejenis itu, apalagi suaminya. Apa mungkin para gadis-gadis merepotkan yang mengejar putranya?
Namun, ia dibuat terkejut saat melihat siapa yang keluar dari sana. Gadis yang belakangan ini menjadi target putranya? Tanpa ragu Kara mendekat, bersedekap sinis menatap Cleire dari atas hingga ke bawah.
"Aku menyuruhmu pulang bukan untuk membawa gadis ini," katanya pada Chris yang memeluk dirinya.
Chris menghela nafas pelan, lalu menatap ibunya itu. "Mom," ucapnya dengan penuh peringatan, membuat Kara memutar bola matanya jengah.
"Apa kau tidak punya wanita lain selain kekasih orang?'" sarkas Kara lagi.
Chris yang awalnya biasa saja mulai terpancing. Ia tidak suka miliknya di klaim sembarangan. Cleire sendiri tidak terkejut, seakan sikap Kara bukan lagi masalah.
"Mom ... Cleire milikku sepenuhnya, tidak ada orang lain!" Chris menggeram, membuat Kara maupun Cleire sedikit bergidik.
"Chris," panggil Cleire. "Sebaiknya bersihkan dirimu dan istirahat," lanjutnya setelah pria itu melihat kearah dirinya.
"Temani aku, awas jika kau berani pergi!" perintahnya penuh ancaman, lalu menarik gadis itu masuk bersamanya, meninggalkan Kara yang memberengut kesal karena diabaikan.
"Dasar anak-anak muda!" Menghentakkan kakinya kesal, lalu menyusul masuk.
Kara mendudukkan dirinya di sofa kamar. Robert melirik istrinya yang kesal itu seraya menyesap kopi hitamnya.
"Apa lagi sekarang?" tanya Robert.
Wajah Kara semakin tidak enak. Wanita itu mendekat dan memeluk suaminya itu. "Chris lebih memilih gadis itu daripada aku," adunya.
"Begitu?" Kara mengangguk dengan wajah dibuat sedih.
Robert menghela nafas, dirangkulnya sayang Kara dalam pelukannya. "Aku ingin bertanya padamu, Honey."
"Kenapa kau tidak menyukai gadis itu?" Pertanyaan Robert membuat Kara terdiam.
"Tidak ada?" tanya Robert lagi, tersenyum tipis. Ia hanya mencoba memancing sifat lain Kara.
Kara langsung paham maksud suaminya. Ia lantas memandang cemberut pria itu seraya memukul bantal dengan kesal. "Aku tidak bilang tidak menyukainya!" sungutnya.
__ADS_1
"Lalu?"
"Gadis itu bekerja sebagai Direktur di perusahaan Melden sekaligus asisten Elle. Aku sudah menyukainya sejak pertemuan kami di butik, tapi ternyata dia sudah memiliki kekasih dan itu bukan Chris!"
Seperti dugaan Robert sejak awal. Jika Kara memang tidak menyukai Cleire, sudah sejak awal pula Kara melakukan sesuatu untuk menjauhkan mereka. Tapi, hingga detik ini, wanita itu tidak mencoba berbuat sesuatu kecuali hanya sekedar berkata-kata.
"Aku melihat Elle begitu menyayanginya. Aku jadi iri padanya karena mendapatkan Cleire sebagai kekasih putranya," ungkap Kara.
"Kalau begitu, bukankah Chris sudah mendapatkannya?"
Kara berdecak, "Kau gila! Bagaimana mungkin aku tega merebut calon dari anak sahabatku sendiri."
Dan ternyata istrinya yang cerewet ini belum mengetahui fakta apapun. Sejak kapan putra Elle menjadikan adiknya sendiri sebagai kekasih? Benar-benar perkembangan media yang begitu pesat hingga kebenaran pun terkadang sulit ditemukan.
"Aku tidak mau Chris dan Cleire berbuat gila hingga Elle merasa terkhianati, tapi aku juga tidak mau merusak kebahagiaan Chris. Sangat sulit menemukan wanita yang cocok untuknya." Kara terlihat benar-benar sedih sekarang.
Awalnya begitu bahagia melihat Chris membawa wanita, tapi siapa sangka ia wanita yang sama yang pernah dikagumi kelicikannya. Bukan tidak tahu, wajah cantik Cleire sudah menyebar di banyak sosial media karena kecantikan dan ketenarannya. Belum lagi yang menjadi kekasihnya adalah seorang CEO tampan dari perusahaan Melden yang tidak lain adalah sahabat dari anaknya sendiri.
"Jangan khawatir, Chris tahu apa yang dia lakukan. Kita cukup memberi dukungan." Robert tak berniat memberitahu.
Robert menyadari kekesalan istrinya itu mulai berbicara lagi, "Kau sudah bercerita pada Elle tentang kedekatan Chris dan Cleire, bukan? Seperti apa reaksinya. Apa dia marah?"
Eh? Benar juga. Elle tidak terlihat marah sama sekali, justru wanita itu terlihat sedikit memancarkan kebahagiaan meski tertutupi dengan rasa keterkejutannya.
"Apa Elle tidak begitu menyukai Cleire?" Dengan polosnya Kara bertanya.
Pria yang menjadi suaminya itu langsung menghela nafas pelan. Sudahlah, hal tidak penting tidak perlu dibahas terlalu dalam.
-
-
-
Mata Cleire tidak lepas mengamati Chris yang melepas jas hingga kemejanya hingga polos di bagian atasnya. Chris diam-diam tersenyum melihat tingkah Cleire yang tidak terganggu sedikitpun. Bukankah para gadis biasanya akan merona setelah melihat tubuh tegap nan kekar milik pria?
"Ingin menyentuhnya?" goda Chris membuat Cleire mendelik sebal. "Tidak tertarik!" jawabnya ketus, membuat Chris terkekeh.
__ADS_1
Ia sudah sering melihat kakaknya bertelanjang dada seperti Chris. Belum lagi adiknya, Cedric tidak berbeda jauh. Begitulah pria, tak malu menampakkan tubuh bagian atasnya.
Tapi melihat Chris, Cleire mulai membayangkan bagaimana ketika tubuh eksotis itu disentuh banyak wanita yang menjadi partnernya selama ini? Ada rasa tidak suka dalam diri Cleire, tapi segera diabaikan.
"Pasti menyenangkan pergi ke luar negeri, kan?" tanya Cleire setelah merebahkan tubuhnya malas diatas ranjang kamar Chris.
Pria itu tersenyum tipis, sepertinya gadis itu berencana pergi lagi untuk bersenang-senang seperti sebelumnya.
"Why? Ingin pergi juga?" Chris berjalan mendekat. Cleire menatapnya malas. Ia meraih guling dan memeluknya sambil bersandar di kepala ranjang.
"Ardrich menutup aksesku ke luar negeri," jawabnya sendu bercampur kesal.
Andai gadis itu tahu jika bukan Ardrich satu-satunya yang terlibat. Nyatanya, pria yang tengah berdiri tanpa atasan di depan Cleire ini termasuk otak dari penutupan aksesnya.
"Aku heran denganmu. Sangat menyukai negara orang? Toh aku bekerja bukan liburan," kata Chris tersenyum tipis, seraya mengangkat dagu gadisnya menghadapnya yang kini duduk di sisi ranjang, namun langsung ditepis oleh Cleire.
"Seperti apa rasanya ... ketika wanita bayaranmu menyentuhmu." Menghilang senyum di wajah Chris.
Kata-kata itu lepas begitu saja tanpa Cleire sadari. Ternyata tak mudah menepis pikiran buruk di kepalanya.
Gadis itu memalingkan wajahnya, malu sekaligus takut. Chris tidak terlihat hangat lagi, wajahnya terlihat tidak suka ketika Cleire membahas masa lalunya. "Jika penasaran, kenapa tidak mencobanya sendiri?" Ia meraih tangan Cleire dan meletakkannya di dadanya yang telanjang. Cleire ingin menarik kembali tangannya, namun Chris menahannya.
"Sekarang hanya ada aku dan kau, jadi ... jangan membahas orang lain lagi, Bebe!" desisnya menggeram. Cleire tidak berani bergerak ketika jambang tipis dan bibir milik pria itu sudah menyapu area lehernya.
Tiba-tiba ....
"Chris!" Gadis itu memekik tertahan saat Chris sudah menangkup buah dadanya dan mer*masnya. Hendak menumbuhkan birahi pada gadisnya.
"Just we, remember!" bisiknya ditelinga Cleire, lalu membiarkan bibirnya melahap habis bibir manis yang sering membuatnya gila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Halo para reader .......
...Maaf aku gak Up hampir 2 mingguan dikarenakan aku pengen istirahat dulu dari menulis. Ada waktunya kami juga cape harus berpikir terus, bukan sekedar ketik terus jadi ya☺️ Semua butuh pemikiran agar cerita tetap jelas hingga akhir....
...Jangan takut aku gak Up. Novel ini sudah di kontrak jadi aku pasti bakal Up terus. Terimakasih buat semuanya yang sudah membaca dan mau memberi dukungan sampai sekarang.😇...
__ADS_1