
Cleire terbangun saat mendengar seseorang mengantar makanan. Gadis itu masih setengah sadar. Ketika membuka mata, tangannya refleks memegang kepalanya yang sakit.
Sepertinya aku mabuk.
"Ah, sial!"
Ia kembali mengingat kejadian semalam. Sean yang pernah menjadi rekan bisnisnya tidak sengaja berpapasan dengannya. Hubungan keduanya cukup baik untuk dikatakan teman karena mudah saja merasa nyaman saat di dekat Cleire.
Semalam ia hanya iseng mencoba minuman beralkohol yang di pesan Sean ketika pria itu pergi ke toilet. Rasanya ternyata tidak buruk setelah dicoba beberapa kali dan bodohnya ia ketagihan.
Tapi tunggu! Ada yang salah.
Cleire kini menatap sekeliling. Ada lemari, sofa, ranjang yang di tidurinya. Kamar? Damn! Kamar siapa ini! Jangan bilang Sean yang membawanya kesini.
Cleire langsung bangun dari tidurnya dengan waspada hingga selimut yang membungkusnya jatuh ke perut. Tidak ada siapapun di kamar ini. Hanya hawa dingin yang terasa menusuk kulitnya.
Gadis itu kemudian memeluk dirinya sendiri, bermaksud melindungi kulitnya, tapi tak lama kemudian keningnya berkerut seraya kepalanya bergerak pelan melihat ke bawah. Kini matanya membola sempurna. Tubuh bagian atasnya ternyata tidak tertutup apapun!
What the ...?!
Tangannya kini dengan ragu-ragu membuka selimut yang menutupi bagian bawahnya. Setelah melihat, Cleire tanpa sadar memekik. Ia segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Tubuh polosnya telah dipenuhi bercak-bercak merah, terutama bagian dadanya. Ada banyak juga di bagian paha dalamnya. Pemandangan ini tidak asing. Ia sering mendapatkannya dari si pria mesum, tapi pria itu tidak disini. Dirinya kan sedang dalam masa pelarian.
Bodoh, bodoh, bodoh! Apa yang terjadi? Aku tidak ingat apapun, Tuhan!
"Aku harus pergi." Cleire bergerak turun, tapi belum lama ia berdiri, kakinya sudah terjatuh hingga ia terduduk kembali.
"Oh God! Sakitt." Kakinya lemas, pinggangnya seperti ingin patah dan bagian bawahnya terasa sangat nyeri.
"Aku seperti sehabis diperkosa!"
Saat matanya kembali menangkap hal tidak mengenakkan. "Apa yang terjadi!" teriak Cleire. Di atas ranjang putih itu ... cairan merah yang sudah mengering! Jelas itu darah keperawanannya.
"ARGHH! KESUCIANKUU HILANGG!" pekiknya lagi seraya menangis. "Tidak mau. Aku tidak mau!" Ia hanya ingin menghindari Chris disini, kenapa justru mendapat bencana.
Bagaimana ini? Sean sialann! Aku akan membunuhmu liat saja! Cleire berpikir Sean lah yang memperkosanya. Ia tidak terima! Tahu begini sejak dulu saja ia melepas kesuciannya bersama Chris yang notabene nya memang kekasihnya daripada Sean yang tidak ia cintai.
__ADS_1
Air mata sudah membanjir wajah cantik itu. Cleire menelusuri ruangan dengan tertatih-tatih. Ia mencari tasnya. Ponselnya ada disana.
"Kau sendiri yang mencari mati!" desis Cleire. Ia tak peduli. Tangannya sudah menekan salah satu nomor di ponselnya.
Cukup lama telpon itu diangkat. Cleire sudah hampir kesal dibuatnya.
"Halo?" sautan di sebrang sana terdengar.
**
**
Ardrich mengabaikan panggilan masuk di ponselnya. Ia hanya melirik sekilas nomor yang tak dikenal, lalu kembali pada pekerjaannya. Saat ponsel berbunyi lagi, Ardrich membanting pulpennya kesal.
Siapa orang yang berani mengganggunya! Meski begitu ia tak berniat menjawab. Pria itu hanya diam sambil menatap kesal.
"MAX!" teriak Ardrich kemudian.
"Iya, Tuan?" jawab Max setelah masuk terburu-buru.
"Angkat," katanya singkat. Max melirik ponsel yang terus berbunyi itu.
"Baik, Tuan." Dengan segera asisten itu mengambilnya, tak lupa ia menloudspeaker panggilan agar bosnya itu ikut mendengar.
"Halo?"
"Ar ..."
Mendengar suara bergetar yang begitu mereka kenal di ujung sana, keduanya langsung bertatap. Ardrich dengan cepat kembali merampas ponsel di tangan Max.
"Cleire?!" Ini dia gadis yang membuat khawatir beberapa hari ini. "Dimana kau, hah! Aku hampir gila mencarimu!" bentaknya.
Tidak ada jawaban dari Cleire, hanya suara tangisan yang membuat Ardrich terdiam. "Hei, kau kenapa?" Pria itu mulai panik. Tidak biasanya Cleire menangis karena bentakan nya.
"Aku sudah kotor, Ar. Aku sudah tidak suci lagi," tangisnya.
Ardrich langsung paham ucapan adiknya. Tangannya mengepal marah. Ia mencengkram erat ponsel itu. Max bersiap. Ia ikut menegang mendengar perkataan Cleire.
__ADS_1
Prangg!!
Tanpa belas kasih Ardrich menendang meja kaca di tengah ruangan hingga tak berbentuk. Bahkan Cleire di ujung sana bisa mendengar kegaduhan yang Ardrich perbuat.
Pria itu murka. Mungkin jika orang lain mendengar, mereka akan menganggap Ardrich berlebihan. Hubungan se*s di luar nikah bukanlah hal tabu. Hanya kehilangan keperawanan bukanlah suatu masalah.
Tapi bagi Cleire, itu tanda kehormatan wanita. Gadis itu begitu menjaga dirinya agar tak terjerumus dalam pergaulan bebas. Oleh sebab itu keluarganya terutama Ardrich begitu menjaga gadis muda ini. Namun, begitu tahu kehormatan adiknya direnggut, ia jelas sangat marah!
"Siapa?! SIAPA YANG BERANI!!" teriakan murka Ardrich begitu menggelegar.
Clara yang berada di kursinya sampai berdiri. Beberapa karyawan yang menunggu izin masuk pun jadi mengurungkan niatnya. Ceo mereka mengamuk lagi. Pria itu memang berbahaya ketika marah.
Saat suara gaduh terdengar lagi, Clara memberanikan diri untuk masuk. Betapa terkejutnya wanita itu melihat keadaan ruangan sudah berantakan. Max yang melihat Clara segera menghampiri. Sebaiknya jangan mendekat, Ardrich tidak pandang bulu saat marah.
Tapi dibandingkan dengan Chris, Ardrich masih lebih baik, pikir Max.
"Tunggu aku menangkapnya. Akan ku bunuh pria br*ngsek itu!!" sahut Ardrich lagi.
"Ardrich!" pekik Clara saat melihat Ardrich mencengkeram sudut meja hingga telapak tangannya berdarah.
"Jangan ikut campur." Max menahan wanita ini.
"Kau tidak lihat dia terluka!" Menyentak tangan Max yang menahannya.
"Aku sudah memperingatimu. Jangan menyesal."
Clara tak mendengarkan. Ia nekat mendekati pria yang belakangan ini mengganggunya itu. Meski tak tahu apa yang membuat pria ini marah, tapi entah mengapa dalam dirinya ada rasa khawatir.
"Ar, biar ku obati lukamu." Mencoba menyentuh tangan yang terluka.
"JANGAN MENYENTUHKU!" Pria itu dengan kasar menyentak tangan Clara hingga wanita itu terjatuh.
Clara terdiam syok. Matanya bergerak mengikuti Ardrich yang pergi begitu saja, mengabaikan.
"Aku sudah memperingatimu," kata Max menyusul Ardrich.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Minta Komen dan Like nya yang banyak ya Say biar rajin Up😆...