That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Wanita Selalu Benar!


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berjenis Ferrari berhenti tepat di depan pintu masuk perusahaan. Beberapa karyawan yang mengenali langsung menghindar dari jalan. Penjaga segera mendekat saat pemilik mobil keluar dengan kacamata hitamnya.


Cleire keluar dengan gaya casualnya. Sangat santai seolah tengah liburan. Ia tersenyum pada penjaga di dekatnya. "Terima kasih," ucapnya seraya memberikan kunci mobil untuk di parkir.


Selain baik hati, Cleire terkenal dengan sifat cerewet serta menggemaskannya. Itu dapat dilihat dari bagaimana tingkahnya saat bersama Ardrich. Hal itu juga membuat para pekerja disana merasa nyaman dengan gadis ini. Meski tergolong kaya, namun ia tidak sombong.


Semua orang masih saja takjub melihat sosok cantik ini. Auranya yang bersahabat mengundang orang lain untuk mengenal. Meski begitu, mereka masih tahu diri untuk tidak berurusan dengan kekasih CEO mereka.


Hari ini di waktu luangnya yang membosankan, Cleire datang ke perusahaan untuk bertemu sang kakak. Jika dulu ia memanfaatkan kebosanannya dengan jalan-jalan, maka lain cerita setelah bersama Chris. Pria itu takkan rela melihat kekasihnya bepergian sendiri seperti seorang lajang!


Niatnya ingin menemui Ardrich malah tertahan di depan pintu ruangan saat melihat pemandangan yang membuat Cleire membulatkan mata. Ardrich dan Clara yang ia kenal sebagai sekretaris itu sedang berciuman! Oh God! Berita apa yang ia lewati?


Sifat menyebalkan nya pun tak dapat bekerjasama. Ia tanpa sadar memekik akibat terkejut." Ardrich!" Bak ketahuan berselingkuh, dua manusia itu langsung melepas tautannya. Clara memandang Cleire dengan raut khawatir, begitupun dengan Ardrich yang merutuk dalam hatinya.


Mengapa adiknya harus datang disaat seperti ini?!


"Cleire, ini tak seperti yang kau lihat." Clara berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini. Namun, Cleire dengan bermacam tingkahnya mulai memikirkan ide jahilnya.


"Ternyata seperti ini kalian dibelakang ku. Pantas saja perasaanku tidak enak." Sok mendramatis, membuat Clara kalang kabut dibuatnya. Ardrich hanya memutar bola matanya malas.


"Cleire ..."


"Jika kalian saling tertarik, mengapa tidak mengatakannya dari awal." Makin menjadi saja gadis satu ini.


"Tuan, tolong jelaskan padanya." Clara benar-benar panik. Ia tak ingin di cap sebagai perusak hubungan orang. Mungkin hanya Clara yang tertipu disini.


"Tidak perlu dijelaskan. Aku punya mata untuk melihat."


"Cleire, tidak seperti itu." Clara memohon.

__ADS_1


Ardrich semakin jengah melihat tingkah adiknya ini. Ia menarik Cleire untuk duduk, menekan pundak gadis itu agar tidak bergerak dan membuat masalah lebih besar.


"Tinggalkan kami," katanya pada Clara. Wanita itu sedikit ragu, tapi menurut.


Melihat kepergian Clara, Ardrich menyunggingkan senyum tipis dan itu tak luput dari penglihatan Cleire.


"Mom, Ardrich sedang jatuh cinta!" pekik Cleire tiba-tiba, membuat Ardrich segera berbalik dan menyambar ponsel gadis itu. Rupanya itu tertipu. Ia pikir Cleire mengadu pada Elle.


Cleire tertawa puas. Lucu sekali melihat kakaknya yang kaku dan sedingin es ini menjadi seperti orang bodoh. Ardrich mengumpat dalam hati. Ia melempar ponsel itu dan segera ditangkap oleh pemiliknya sebelum benda itu tak terselamatkan.


"Ada apa kemari?!" ketusnya kesal.


"Haha ... kau marah aku mengganggu acara romantis mu ya." Puas sekali tawa gadis ini. "Batu berjalan ini rupanya hidup normal juga," ejeknya semakin menjadi.


"Sebaiknya kau pulang saja," datar Ardrich.


"Kenapa? Kau mau melanjutkan hal tadi." Ingin sekali rasanya melempar adiknya ini dari jendela balkon, tapi ia masih sayang. "Baik-baik. Aku pergi. Jangan lupa pengaman mu ya kakak tersayang," katanya sambil berlalu pergi masih dengan tawanya.


Damn!


"Clara Bryne berusia 25 tahun. Ia dibesarkan oleh ayahnya seorang diri setelah ibunya meninggal karena kecelakaan 12 tahun yang lalu. Clara berasal dari keluarga biasa, namun karena kepintarannya ia berhasil memperoleh beasiswa selama kuliah."


Cleire hanya manggut-manggut saja, kemudian, "Siapa yang memulai lebih dulu?" Pertanyaan ambigu itu membuat Max menghela nafas sabar. Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai identitas Clara, adik dari majikannya itu justru memikirkan hal lain.


Karena tak ingin repot, ia menjawab, "Tuan."


"Ahh ... sudah kuduga! Aku memang sudah membacanya sejak awal. Tatapan Ardrich, tingkah Ardrich, aku melihatnya!" sambarnya heboh.


"Kau juga melihatnya, kan Max?"

__ADS_1


"Iya, Nona."


"Benar, kan!"


Iyakan sajalah, batin Max sabar.


Gadis itu tidak benar-benar pergi. Ia singgah terlebih dahulu ke ruangan lamanya. Berita besar ini takkan ia lewati begitu saja. Ia juga tidak ingin asal menyetujui pilihan sang kakak. Orang itu harus sesuai dengan standar keinginan Cleire.


Kakak ku yang tampan itu tidak boleh dibodohi orang!


"Max, menurutmu Clara wanita baik atau tidak?"


Mana aku tahu, Nona ....


"Penilaian orang berbeda-beda, Nona."


"Kalau begitu katakan saja berdasarkan penilaianmu!"


Mana sempat aku menilai orang, Nona ... Aku hanya sibuk mengurusi tuan.


"Saya tidak tahu, Nona." Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Is! Masa begitu saja tidak tahu." Padahal setiap hari bertemu.


"Kita tidak bisa menilai dari penampilan luarnya saja," katanya membela diri.


"Memangnya siapa yang memintamu menilai dari luarnya saja!"


Sekarang aku percaya wanita selalu benar!

__ADS_1


__ADS_2