
"mari kita sambut peserta berikutnya inilah dia dance Pramuka variasi dari SMA tunas bangsa" dengan keras dan lantang suara MC membuat ramai suara tepuk tangan yang menyambut
lagu perlahan di putar, mereka bergerak sesuai irama, gerakan yang sangat lincah dan juga tegas
tanpa gerogi mereka bergerak selincah mungkin dan terus menerus bergerak dengan kompak tanpa kesalahan sedikit pun hingga musik selesai. semua penonton bertepuk tangan, melihat itu satu persatu mereka saling pandang dengan senyuman bangga dan penuh arti
"kakakkkkk" teriak mereka kegirangan setelah turun dari panggung dan para wanita lansung memeluk Rizka
"kalian keren kakak bangga" Rizka balas memeluk mereka
"itu berkat kakak" kata Sherly
tanpa mereka sadari malam itu hujan turun sangat lebat di sertai angin, setelah itu mereka duduk di bangku penonton menyaksikanq penampilan dari sekolah lain hingga acara malam itu selesai
setelah penutupan oleh MC semua sudah boleh di persilahkan kembali ke tenda tapi kondisinya hujan deras hampir semua menunggu di teras teras aula menunggu hujan reda walaupun ada juga yang menerobos hujan
cia duduk bersama teman temannya yang lain sambil menunggu hujan, tetes tetes hujan yang terus berjatuhan, di sebelah kanan dan kirinya ada Tasya dan keni
"gue harap hujannya cepat reda gue udah ngantuk" gumam keni
"kita tunggu sama sama ya" cia tersenyum pada keni dan juga di balasnya
"gue dingin" lirih Tasyai yang memeluk lututnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Salma yang ada di sebelahnya
pukul 10.13 akhirnya hujan reda walaupun masih sedikit gerimis tapi semua lebih memilih ke tenda masing masing
semua di buat terbelalak ketika tiba di tenda, tenda yang di gunakan untuk mereka beristirahat kini sudah tergeletak di tanah, mereka pasti tau penyebabnya
"loh kenapa jadi gini" Tasya berlari mendekati tenda dengan mata berkaca-kaca
kebetulan ada ruangan kosong yang tidak di kunci di sekolah segera mereka membawa barang-barang ke ruangan tersebut melalui jalan belakang beruntungnya tenda mereka berada paling samping
di dalam ruangan cia mengecek barang miliknya Alhamdulillah basahnya gak tembus karena tenda mereka juga tahan air
"lalu kita harus gimana" tangis Tasya kini pecah
dengan cepat semua lansung berkumpul dan berusaha menenangkan Tasya
"tas jangan nangis dulu kita pasti bisa betulin lagi" kata cia
"kapan.. udah jam segini besok udah penilaian tenda, gue pengen istirahat" Isak Tasya
"jangan nangis dulu, kita selesain semua sama sama ya" sahut Sherly
"ini pengalaman pertama gue ikut perkemahan, gue kira pengalaman pertama ini bakal seru tapi kenapa jadi gini sih" kata Tasya yang semakin emosi, perlahan Salma memeluknya berusaha menenangkannya "gue pengen pulang sal" sambungnya
cia, Sherly, keni, Amel dan juga veni lansung tercengang mendengar perkataan Tasya
"sya jangan nangis dulu ya" bujuk Salma
"memangnya Lo mau tidur di tanah malam ini, gue tau kita semua capek tapi gak harus nyiksa diri kayak gini, kalau ada apa apa gimana" Salma terlihat seperti berfikir
"tapi kita udah sampai di sini gak mungkin kita pulang gitu aja" kata Sherly
"please tas jangan gini dong" ucap cia
"gini deh kita persiapkan semua dari jauh jauh hari udah sampai sini kita pulang gitu aja" bentak Veni "kita tuan rumah mau bikin malu" lanjutnya dengan emosi yang semakin memuncak
"sabar ven, semua gak bisa kalau di selesaikan dengan emosi" Amel berusaha memenangkan Veni. dengan kasar Veni lansung meninggalkan kerumunan itu pergi ke pojok ruangan sambil menghadap jendel berusaha menenangkan dirinya
"tapi Tasya ada benarnya, gue capek kalau memang bakal pulang gue juga gak papa" kata Salma
"guys.. kalian sadar gak sih yang kalian omongin, gak semudah itu" tegas Amel
"guys please jangan gini dong kita diriin tenda sama sama sekarang" lirih cia berusaha meyakin kan Tasya
__ADS_1
"udah deh gue capek, terserah mau gimana" Sherly lansung berlalu pergi dari ruangan itu dengan penuh emosi
'gue juga baru pertama kalinya ngalamain ini, tapi gue yakin kalau di kerjakan sama sama pasti selesai, tapi ni anak.. aduh gak tau lagi mau ngomong apa dasar anak mami" batin cia
"guys trnangin kalian dulu ya" Amel berusaha menenangkan mereka
tanpa sengaja saat Sherly keluar dari ruangan itu di liat oleh kak Wulan panitia yang sedang patroli, bergegas Wulan menghampiri ruangan tersebut
klekk
suara pintu terbuka
sontak semua mata lansung tertuju pada arah suara tersebut di
kak Wulan adalah salah satu panitia yang paling sabar dan juga ramah, wanita yang selalu mengenakan pakaian sar'i itu walaupun memiliki pangkat yang sama dengan kak Angga tapi sama sekali tak perna marah dan berkata kasar dan selalu rendah hati
"kalian kenapa di sini ?" tanya Wulan dengan sentar di tangannya
Amel menceritakan masalah yang sedang mereka alami sekarang
'rasanya gue pengen nangis ngadapin situasi ini' kata cia dalam hatinya sambil terus melirik Veni dan juga Tasya
"Tasya, jalan yang kamu pilih itu bukan jalan yang tepat, kita pasti bisa hadapin semua sama sama, di dalam Pramuka kita semua itu saudara jadi jangan anggap kamu itu sendiri"
"gue capek kak" lirih Tasya dengan Isak tangisnya
"kita semua capek, coba kamu liat wajah teman teman kamu apa kamu mau ngerusak rencana kalian yang udah kalian persiapkan sejak lama" mendengar perkataan kak Wulan Tasya akhirnya tak bersuara lagi hanya suara isaknya sesekali "lebih baik kalian perbaiki sekarang lebih cepat lebih bagus " sambung Wulan
akhirnya Tasya luluh dan mau kembali ke Buper untuk memperbaiki tenda, sementara barang barang di izinkan kak Wulan untuk di simpan di ruangan
setiba di lokasi tenda Tasya terkejut melihat tenda yang sudah setengah berdiri terlihat Sherly, Bagas, Revan, Jordi dan juga Kenzo yang sedang berkerja
untung aja lokasi tenda mereka paling pinggir dan sedikit raih dari tenda yang lain jadi tak memalukan jika melihat Tasya emenangis meratapi tenda mereka yang tumbang
"lihat kan kita semua itu saudara jadi jangan sungkan minta bantuan" kata kak Wulan dan hanya di balas anggukan oleh Tasya yang masih berlinang air mata "kalau gitu kakak pamit dulu ya masih banyak tugas kalian bantuin juga dong" pamit kak Wulan dan setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu
cia dan yang lainnya juga ikut membatu mereka dan berkerja sama walaupun sudah larut malam tapi kantuk yang datang kini sudah tak lagi menyelimuti mereka
"cia.." panggil seseorang
cia menoleh ke arah suara itu yang tak terlalu jauh darinya ternyata itu Revan yang memegang puncak tenda sambil berdiri sedikit berjinjit
"kenapa ?" cia mendekat
"bantu gue pegangin tiangnya gue ikat atasnya" kata Revan datar
cia membantu memagangi tiang sementara Revan mengikat puncak tenda
tiba tiba ingatan cis kembali ke beberapa tahun yang lalu
flashback 🌸
segerombolan bocah yang tengah asik bermain rumah rumahan di belakang rumah salah satu milik anak itu
cia, cessa, putri, Rindi dan juga sila yang tengah asik bermain rumah rumahan di taman belakang rumah Rindi. kini mereka sedang duduk di karpet dengan beberapa makanan dan boneka kesukaan mereka yang tepat depan rumah buatan mereka sendiri
cia menggendong sebuah boneka bebek miliknya sambil memakan cemilan coklat yang ada di mangkuk di depannya
"sila jangsn habisin makanan cessa" teriak cessa kecil yang terus meminta toples yang berisikan nastar keju yang di bawahnya dari rumah
"minta sedikit cessa, kata mami sila gak boleh pelit" teriak sila yang tidak mau memberikan toples itu, sampai akhirnya terjadilah adu mulut antara keduanya
"sila cessa gak boleh berantem nanti Tante marah" putih yang berusaha melerai keduanya
"riaa.." teriak diego yang baru datang bersama seorang temannya. Riani menoleh dan langsung menghampiri diego, Oya ria adalah panggilan rumah rindi
__ADS_1
sila dan cessa yang sedang berkelaki melihat kedatangan Diego lansung menaruh boneka dan toples cemilan itu dan berlari menghampiri diego dan Riani, sedangkan putri lansung menghampiri cia
"diego sini deh kita lagi main" kata Rindi
Diego adalah sepupu Riani dan satu anak laki laki lagi itu adalah Renaldi teman Diego mereka semua satu kelas di sebuah taman kanak-kanak dan sudah mengenal satu sama lain
"wih ada rumah, ikutan dong" Renaldi lansung berlari memasuki rumah rumahan milik anak cewek
"Renaldi gak boleh itu rumah cewek" teriak cia dan lansung berlari kearah Renaldi
"ciaa.." suara putri tak di hiraukan oleh cia
sedangkan Riani, Diego, sila dan cessa duduk di karpet sambil menyantap makanan
cia berlari dan menarik Renaldi keluar sambil mengumpat Renaldi dengan celotehannya
"kalau mau bikin sendiri sana" kata cia kecil
tak butuh banyak waktu Renaldi lansung mengajak Diego membuat rumah rumahan juga.
tiga jam berlalu putri dan sila sudah di jemput dengan mami mereka, sudah sangat sore tapi bunda cia belum jemput juga, cia duduk meringkuk di tepi kolam renang sambil menunggu, tak lama kemudian cessa juga berpamitan pulang Rindi pamit ke dalam untuk mengambil makanan Diego dan Renaldi juga ikut kedalam
kini hanya cia sendirian duduk sambil memeluk boneka bebek yang selalu ia bawa
"cia kenapa sedih ?" sebuah pertanyaan sontak membuat cia kaget, saat cia melitik ternyata itu Renaldi yang berdiri di sampingnya sambil membawa kue coklat, cia tak menjawab sedikit pun
" pasti karena belum di jemput ya" tebak Renaldi
"kamu sok tau banget rem" cetus cia
"gak boleh bohong, aku liat kamu dari tadi liatin jam pasti nunggu di jemput" kata Renaldi lalu duduk di samping cia sambil memakan kue itu "nanti kalau udah besar jadi pacar aku ya biar aku bisa anterin kamu terus" lanjutnya
flashback off 🌸
"ciaaaa" teriak Revan mengagetkan cia
plakk' sontak cia memukul wajah Revan tepat di hidungnya
"awww... salah gue apa" teriak Revan sambil memegangi hidungnya dan mundur dari hadapan cia beberapa langkah
saat Revan meluruh kanan kiri semuanya sudah selesai dan anak cewek yang lain mengambil barang seperlunya ke ruangan dan yang laki laki sepertinya sudah balik ke tenda
"sorry Van gue gak sengaja" dengan sigap cia lansung meraih wajah Revan dan memastikan hidungnya baik baik saja
cukup lama keduanya seperti itu, Revan yang awalnya kaget dengan perlakuan cia tapi sama sekali revan tak melawan dan mslah menatap wajah cantik cia
Revan tersenyum "modusnya lumayan ya"lalu tertawa kecil dan cia baru sadar ternyata dari tadi Revan yang terus menatapnya
dengan penuh kesal segera cia menurunkan tangannya
"ngeselin lu ya" cia berjalan meninggalkan Revan namun tangannya di tahan oleh Revan membuat cia kembali menghadap ke arahnya
"apaan lagi van" cia memberontak
"tanggung jawab ni hidung gue sakit" kata Revan sambil menunjuk hidupnya
"sini gue tampol lagi" cia mengangkat tangannya seperti ingin memukul
"gak bisa kalem dikit ngapa" tanpa menghiraukan perkataan Revan cia lansung pergi begitu saja, Revan hanya terkekeh melihat punggung cia yang semakin menjauh
🌸🌸🌸🌸🌸
jangan lupa vote ya🌹
author sayang kalian 🤗
__ADS_1