The Boy I Love

The Boy I Love
mabuk


__ADS_3

berdesak desakkan tapi itu bukan penghalang untuk ku, sampai akhirnya aku tiba di meja itu dan mendapati seorang wanita yang duduk di dekat peria yang setengah terbaring di meja


"kak, kakak bangun kak" gue berusaha menggerakkan tubuh kak darian


aku duduk di sebelah kak Ian dan lansung menyandarkan kepalanya yang tadinya terletak di meja dan menariknya ke bangku dengan hati hati


"kak bangun kak.." sambil menepuk nepuk pipinya pelan


"kak kenapa kak Ian jadi kayak gini ?" tanya ku setelah menyadari seorang wanita yang mungkin seumuran dengan kak darian yang juga menatapnya seperti penuh arti


"aku Nayla kebetulan tempat kerjaku gak jauh dari sini darian nelfon kalau dia lagi ada di bar, aku panik jadi segera ke sini" kata wanita itu lirih


mendengar nama itu aku cukup ngerti siapa dia karena kak darian sering cerita tentang wanita ini, orang yang selalu ada untuk dia dan rela berkorban untuknya beberapa tahun ini


"Deri minum terlalu banyak, aku gak tau ada apa dengan dia tapi dia butuh teman cia" aku yang mendengar itu menjadi terdiam menatap kakak yang tak sadarkan diri dan penuh dengan bau alkohol yang menyengat, saat ini yang aku tau perasaan kak Ian sedang tidak baik baik saja


"der.. bangun cia udah datang" ucapnya pelan sambil memegang pundak kakak


perlahan mata sayup itu terbuka dan lansung tersenyum tangannya meraih wajah gue, kak darian gak akan mabuk kalau sekedar ada masalah kecil, dan apa yang di hadapannya sekarang pasti bikin pikirannya kacau


"cia temanin Deri dulu ya aku bayarin ini dulu" kata Nayla sambil menunjuk botol minuman yang penuh di meja dan gue hanya mengangguk


setelah Nayla pergi gue memandangi wajah kakak yang sendu dan menyingkap rambutnya yang sedikit basah


"kakak kenapa ?" bisik ku pelan kak Ian bangun dan menatap ku


"Minggu depan kakak balik ke Jerman jaga diri baik baik ya" kakak tersenyum sendu sambil mengelus puncak kepalaku dengan tangan yang sedikit gemetar


"uhukkk uhukkk hueeekk" tiba tiba kak Ian batuk dan memuntahkan cairan ke lantai, gue panik gak tau harus apa karna gak pernah ngadapin orang mabuk sampai kayak begini


"kak kakak" gue mengusap punggung kak Ian


"ciaaa" aku tersentak setengah kaget waktu ada yang memanggil namaku, sontak menghadap ke arah suara itu dan ternyata ada sosok Revan yang berdiri di belakangku dengan sedikit ngos-ngosan


"Revan" gumam gue kaget


"hueeekk" kak Ian sekali lagi muntah


"cia bawa Deri balik aja" kata Nayla sambil berlari kecil menghampiri kami setelah membayar semua


"bentar pesan taksi dulu" sambil mengeluarkan handphone


"gak keburu pake mobil gue aja" gue masih sedikit terdiam tapi dengan cepat Revan membatu menopang tubuh kak Ian


Nayla membawakan tas milik kakak dan mengikuti Revan l, gue masih terpaku pada Revan sambil mengikuti mereka dengan pelan


"kak makasih ya udah bantuin kakak Ian" kaya gue sambil menerima tas kak Ian yang di bawakan Nayla barusan


"iya sama sama" Nayla tersenyum


"kita pulang dulu ya" setelah berpamitan gue segera memasuki mobil revan


Revan menyandarkan tubuk kak Ian di bangku belakang dan memasangkan seatbelt gue duduk di samping kakak menyandarkan kepalanya di pundak ku untuk menopang tubuhnya, Revan mengemukakan mobilnya lumayan kencang tapi tetap berhati-hati dan membantu membawa kakak sampai ke atas


kamar semi akan ku gunakan sementara untuk tempat istirahat kak Ian. Revan meletakkan kak Ian dengan sangat hati hati di ranjang agar tak membuatnya terbangun


"Lo tungguin kak Ian bentar ya" segera gue berlari ke kamar gue meletakkan tas mengganti sepatu ku dengan slipper harian dan lansung membuka lemari mencari baju, karna kemarin aku sempat membeli baju kaus oversize yang sangat besar di tubuhku


"nah ini dia" sebuah baju kaus berwarna putih yang bergambar kepala panda kecil dan kembali ke kamar sebelah


Revan hanya duduk di bangku samping nakas sambil memainkan ponselnya


"bantuin gue ganti bajunya" Revan bangkit meletakkan ponselnya di nakas dan pindah ke ranjang, perlahan dengan sangat hati hati aku membuka satu demi satu kancing baju kak Ian yang juga di bantu oleh Revan


"gak salah ni Lo kasi baju begini untuk dia" kata Revan sedikit terkekeh


"memangnya kenapa ?"


"kemaap gak sekalian yang warna pink"

__ADS_1


"ngeledek lu ya" kaya ku datar


"udah deh keluar aja, kalau di sini lama lama bahaya untuk Lo entar" bisik Revan sedikit menggoda lalu pergi meninggalkan kamar sambil tertawa


"apaan sih tu anak" gue gak ngerti apa yang dia bilang lalu mengikutinya keluar "duduk bentar ya gue ambilkan minuman" kata ku sambil berjalan ke dapur


"ciaa" panggilnya membuat langkahku terhenti dan berbalik ke arahnya


"gak usah deh, gue lansung balik aja"


"oh ya udah" Revan berbalik berjalan menuju pintu


"Van.." sambil berlarii menuju Revan dan menghentikan langkahnya


"kenapa ?" tanya Revan lembut


"makasih untuk hari ini" suara itu terdengar cukup dalam


kutatap semi yang berdiri tidak jauh dari pintu keluar, ia tak menjawab hanya mengelus puncak kepalaku, entah mengapa sekarang aku merasa tenang setelah melihat senyum Revan cukup lama tatapan itu tapi perlahan Revan menurunkan tangannya, berbalik dan segera pergi. aku masih diam terpaku menatap pintu yang baru saja tertutup


_____


pagi ini gue bangun lebih awal karna harus membuatkan sarapan untuk kakak dan harus mengantar cucian ke loundry karna untuk beberapa hari ini gue agak sibuk, sarapan pagi ini cukup simpel hanya bubur sayur, telur rebus, ayam goreng dan segelas susu karna tadi subuh gue browsing di internet orang yang sudah akan mengeluarkan banyak energi jadi harus makan makanan sehat


sambil menyiapkan makanan di meja makan aku memutar lagu kesukaan ku sambil bersenandung kecil mengikuti lirik lagunya


klekk pintu kamar terbuka, kak Ian keluar sambil memegangi kepalanya yang mungkin masih terasa pusing


"ciaaa" panggil kak Ian


"cuci muka dulu kak baru makan" gue menarik kak Ian, sedikitnya sempoyongan kak Ian hanya pasrah mengekor


setelah sarapan selesai dan membereskan makan mengambil sepatu dan bersiap berangkat sekolah, yahh hari ini berangkat sendiri, sebenarnya malas banget bawa mobil sendiri, entah mengapa hanya sekedar menyetir aja gue mager


"kak kalau ada yang mau di beli chat aja nanti cia beliin pulang sekolah" kata gue sambil memasang sepatu


"gak usah eh nanti kakak mau balik lagi" kata kak Ian sambil menonton TV dan gue hanya mengangguk dan terdiam menatap kak Ian yang sedang duduk


"kenapa ?" tanya kak Ian sambil tersenyum melihat gue yang udah di sampingnya


"jangan mabuk lagi ya kak please" kata ku lirih


Darian menatap adiknya serius mereka memang dekat tapi tak pernah Darian melihat adiknya begitu serius seperti ini


'gue gak tau seperti apa gue semalam, tapi apa semenyedihkan itu sampai cia kayak gini' batinnya darian hanya tersenyum berusaha menghibur adiknya lalu mengangguk


"cepetan deh berangkat, jangan lupa ke loundry ya" sambil mengusap puncak kepala cia


"ya udah cia berangkat ya assalamualaikum"


gue memeluk kak Ian sekilas dan melambaikan tangan bangkit dan meninggalkan kakak, saat hendak membuka pintu tiba tiba


"cia.." sontak langkah gue terhenti dan lansung melirik ke belakang "thanks bajunya entar gue bawa ke Jerman" sambungnya sambil tersenyum


setelah berpamitan gue berangkat menggunakan mobil semi sambil membawa kantong yang berisikan pakaian kotor


_____


beberapa hari berlalu semenjak kepergian kak Ian ke Jerman dia gak pernah cerita apa alasannya mabuk seperti di malam itu dan gue juga gak mau nanya karna kakak akan cerita di saat dia udah ngerasa baikan


setelah beberapa Minggu berlalu hari hari gue semakin membosankan. waktu itu sekolah di liburkan beberapa hari di karenakan guru sedang mempersiapkan kegiatan rutin rapat ke sekolah lain yang ada di luar daerah


gue dan semi memutuskan untuk pulang ke Bandung selama perjalanan semi menyetir dengan serius. gue menatap keluar jendela sambil memeluk boneka bebek pemberian Renaldi


rasanya hati ini menolak untuk kembali ke Bandung sekarang tapi raga gue gak bisa menolak


semalam mama nelfon dan mengatakan kondisi rumah saat ini, papa yang saat ini baru saja di tipu oleh rekan bisnisnya sebesar 28 miliar dan kehilangan jejak orang tersebut hanya bisa melampiaskan emosinya di rumah


saat menatap boneka yang saat ini sedang gue peluk rasanya ia sedang memberikan semangat dan berusaha membuatku tegar. sejujurnya setiap kali bahas keluarga rasanya hati gu sakit

__ADS_1


"di peluk Mulu " kata semi sedikit tertawa


"haa" lamunanku buyar seketika


"seberkesan itu ya sampai di peluk terus" kata Revan sambil tertawa


"cuma bekal untuk bantal doang"


"kenapa gak bawa bantal benaran aja, kan kita naik mobil pribadi bukan naik angkutan umum"


"ihhhh semmm jangan ganggu deh, baru aja gue mau galau galauan malah emosi gara gara Lo"


"ya elah mau galau ceritanya" semi tertawa semakin keras "mending Lo tidur perjalanan masih jauh, ntar kalau gue capek tukeran" tanpa menghiraukan perkataan semi gue lansung memalingkan wajah ke arah jendela


setelah melewati Berjam jam perjalanan akhirnya mobil sport berwarna biru itu tiba di Bandung memasuki kawasan komplek elite di daerah tersebut


jarak rumah gue edah gak jauh lagi tapi tiba-tiba semi memberikan mobilnya, gue bingung dan lansung menatap semi seolah bertanya


"Lo yakin mau lansung pulang gak ke rumah gue dulu ?" tanya semi, gue hanya tersenyum sambil mengangguk dan semi kembali mengemudikan mobilnya memasuki pekarangan rumah mewah yang tidak lain adalah rumah keluarga cia


"gue balik ya" kata semi setelah cia kelar dari mobil dengan membawa barang barangnya


"daaa" sambil menutup pintu


mobil cia perlahan berjalan mundur meninggal rumah gue, sambil melambai gue melangkah mundur menuju rumah dengan senyum yang perlahan memudar menjadi hambar


setiba di depan pintu utama yang besar itu sejenak gue menghela nafas lalu membuka perlahan membuka pintu


kreekk.. pintu di buka


tak ada siapapun di sana, rumah terlihat sangat sepi, perlahan gue melangkah menuju kamar, dengan cepat gue melangkah menaiki tangga hingga tiba di depan pintu kamar tiba tiba langkah gue terhenti saat hedak membuka pintu


"papa itu heran semudah itu mama percaya dengan orang, kamu gak mikir nanti kalau orang itu nipu kita gimana" suara besar itu terdengar sangat jelas dari arah dapur


"gak semua orang itu penipu, lagian aku udah kenal dia dari SMA"


"aku tetap enggak setuju" bantahnya


segera gue masuk setelah mendengar suara langkah kaki yang luar dari dapur


sraakkk gue membuka tirai kamar, sinar matahari lansung menerpa wajahku yang ada di dekat jendela, tas gue lempar begitu aja ke sembarang arah


baru aja pulang udah disuguhi dengan pemandangan yang begini, kembali gue pandangi isi kamar itu tak ada yang berubah sedikitpun, tiba tiba pandangan gue terhenti pada meja belajar di samping jendela perlahan gue duduk dan memperhatikan buku buku yang berbaris rapi yang di selip beberapa novel yang sudah gue habis baca


gue meraih sebuah buku berwarna merah muda yang sudah hampir penuh dengan tulisan tangan gue, yes it's my Diary, the only one who knows how I feel


mengambil pulpen yang ada di tempatnya dan mulai bercerita tentang apa yang sedang gue rasain sekarang


Dear Dairy


Entah yang ke berapa kalinya tapi gue selalu rindu dengan rumah dimana perselisihan yang menjadi tawa, makan bersama di meja makan walaupun sosok papa yang selalu dingin tapi semenjak kejadian papa yang dulu pernah di tipu, sekarang suasananya berbeda, rumah yang seharusnya jadi tempat untukku berpulang sekarang malah ingin terus pergi, entah sampai kapan situasi ini akan bertahan.


siang berganti gelap tak ada seorangpun yang tau tentang kedatangan cia, sejak tadi siang cia mengunci kamarnya karna kamar cia bertepatan di lantai atas bersebelahan dengan kamar kakaknya jadi semenjak kak Ian ke Jerman jarang ada anggota keluarga yang naik ke atas kecuali mama yang sekedar bersih bersih, setelah berkemas dan selesai mandi ia lansung tidur sampai malam larut, tubuhnya benar benar lelah


perlahan cia mengerjapkan matanya, tenggorokannya terasa sangat kering, cia benhun dengan mata yang masih setengah terpejam sambil memegang tenggorokannya


setelah ia sadar sepenuhnya baru menyadari dia lupa tak menyediakan minuman di kamarnya karena ia lansung tidur, karena haus cia memutuskan ke bawah, setiba didapur cia mencurah segelas air putih dan lansung meneguknya. entah mengapa tangannya sangat ringan ingin membuka kulkas, begitu melihat isinya mendadak cia menjadi segar, kali ini kulkas di pemudi Dengan makanan kesukaannya bahkan ada pencake tiramisu favorit cia dan kue yang lainnya


cie membawa pencakek itu ke meja makan dan lansung melahapnya, saat sedang asik makan tiba tiba terdengar suara dari kamar mandi belakang


"mungkin tikus" batin cia dan lansung melanjutkan makan


tiba tiba muncul di benarnya bagaimana kalau itu maling dan akan berbuat jahat


jantungnya mulai berdebar kencang sambil membawa garpu dan menodongkannya ke depan cia perlahan menuju kamar mandi belakang


🌸🌸🌸🌸🌸


Jangan lupa like vote dan hadiah ya dan jangan lupa untuk shere cerita ini ke teman temanmu🤗

__ADS_1


see you di cerita selanjutnya


author sayang kalian yang 🌹


__ADS_2