
cia yang baru selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib hendak mengambil novelnya melanjutkan bacaannya namun Tina tina terhenti karena suara ponselnya
Revan :"temuin gue di danau dekat gedung kosong yang gak jauh dari sekolah" isi pesan dari Revan
"ngapain ni anak di danau mau loncat" kata cia dengan memicingkan sebelah bibirnya
Ting.. Tong.. suara pesan masuk lagi
Sherly: "ciaaaa... tadi sore gue jadian sama fido"
sontak mata cia membulat tanpa membalas pesan dari Sherly dan mengganti pakaiannya cia lansung berlari keluar dengan cepat memesan taksi online dan segera turun dengan mengenakan piama berwarna pink
setelah tiba di lobi Dengan terburu buru cia menuju depan tapi taksi yang di pesannya belum datang membuat cia semakin panik beberapa menit setelah cia mondar mandir di situ akhirnya taksi itu datang, segera cia menuju tempat keberadaan Revan
"pak cepetan pak" dengan panik cia menyuruh supir taksi itu, mobil melaju dengan kecepatan 80km/jam
sepanjang perjalanan cia terus menelfon nomor revan sama sekali tak ada jawaban, hanya suara operator yang menjawab
tak butuh waktu lama akhirnya mobil itu berhenti di depan gedung tua yang sudah lama kosong, setelah membayar cia lansung berlari, ada mobil silfer yang terparkir rapi di samping gedung
"ini kan mobil revan" gumam cia pelan, ia menyusun mobil itu tak ada tanda tanda orang di dalamnya segera cia berlari ke belakang menuju danau. setelah mendekati danau cia berjalan semakin pelan tubuhnya gemetar kakinya semakin susah untuk melangkah tangannya yang memegang ponsel untuk menjadi penerangannya dan sesekali memanggil nama Revan dengan lirih
tak bisa di pungkiri rasa takunya kini memenuhi seluruh tubuhnya, cia takut kegelapan di tambah lagi lokasinya yang seperti ini
tak sengaja pandangan cia tertuju pada sosok pria yang berdiri di tepi danau di bawah lampu dengam sedikit berlari, sekitar 5 meter dari Revan cia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya agar terlihat baik baik saja. perlahan cia berjalan mendekati Revan
dulunya gedung yang di depan adalah kantor tapi sudah lama bangkrut dan di kosongkan dan danau itu dulunya adalah taman dengan danau yang indah tapi sekarang tak ada yang merawatnya hanya ada beberapa lampu taman yang masih menyala
"dangkal banget sih pikiran Lo" cia berteriak dari belakang
membuat Revan tersentak dan lansung membalikan badannya. medapati cia yang berdiri memegangi ponsel sebagai sentar, tapi Revan di buat melonggo melihat penampilan cia saat ini
rambut yang sedikit acak acakan bercorak kucing panda berwarna putih dan kaki yang hanya beralaskan slipper bulu berwarna merah jambu
"mau party bantal mbak" ledek Revan dengan sedikit terkekeh dan baru cia memperhatikan slipper bulu yang ia kenakan saat ini
"ini kan karna Lo juga" cia berjalan mendekati Revan "lagian dangkal banget pikiran lo gitu doang mau loncat ke danau" lanjut cia
__ADS_1
"siapa yang mau loncat ?" tanya Revan bingung
"ya Lo lah" kata cia sedikit terbata bata
"enak aja gue masih sayang nyawa" kemudian Revan duduk menghadap danau
"gue tau Sherly udah jadian sama fido terus Lo ngapain ke sini di telfon gak aktif" cia ikut duduk di samping Revan
"ya elah kebanyakan nonton drama lu, sia sia banget idup gue kalau begitu" Revan tertawa "gue kesini cuma cari tempat yang tenang aja kalau gue lansung pulang pasti fido lagi pamer sekarang" lanjut Revan, cia hanya melirik sejenak lalu mematikan sentar ponselnya
"gue sering ke sini kalau lagi cari ketenangan" gumam Revan
"Lo gak nangis kan ?" tanya cia dengan polosnya
Revan melirik cia di sampingnya, tangan cia yang menggenggam ponsel dengan gemetar lalu berdecak
"kenapa ?" tanya cia
"gue gak sebodoh yang di pikiran lo"
'entah kenapa rasanya waktu seakan berhenti ngeliat wajah Revan yang jadi dekat gini kenapa gue jadi dek dekan, ya ampun cia sadar' batin cia
"gue gak tau Lo kedinginan atau ketakutan tapi gue dari tadi tangan Lo terus gemetar" kata Revan, dengan cepat cia lansung menarik tangannya dan menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah di mukanya
"balik yuk gue anter" keduanya bangkit dari tempat itu segera meninggalkan danau
setiba di rumah cia berjalan memasuki kamar melewati semi yang asik bermain game dengan dangat ribut, itu sudah biasa cia rasakan walaupun hanya semi seorang tapi suaranya udah kayak seRT
setiba di kamar cia melitik slippernya yang sudah kotor bahkan bulunya pun sudah tak secantik sebelumnya, ia mengambil slipper itu dengan wajah manyun dan menaruhnya di keranjang cucian dan sekalian membersikan wajahnya
setelah mencuci tangan dan mencuci muka sontak mata cia membulat dan kaget detak jantung berdetak sangat hebat lehernya di penuhi dengan bintik bintik merah ketika ia menyingkap dengan bajunya juga sudah banyak bintik merah di lengannya segera ia berlari ke kamar membongkar laci nakas di samping ranjangnya meraih sebuah botol obat
damm obatnya habis botol itu benar benar kosong
"SEM.. SEM.. SEMII" cia berteriak sekuat tenaga, perlahan tubuhnya menjadi lemas cia hanya bisa duduk merinhkuk di samping ranjang dengan nafas yang semakin memburu
"apaan sih berisik banget gue lagi siaran lansung nih" semi datang dengan mengenakan kostum buaya sambil memegangi ponselnya, begitu ia melihat cia yang terduduk di tepi ranjang dan terlihat tangannya yang penuh dengan kemerah merahan dengan cepat semi mematikan ponselnya dan menghampiri cia
__ADS_1
"o.. o.. obat gue habis" kata cia dengan terba bata
semi lansung memapah cia bangkit dari lantai untuk duduk di ranjang mengambilkan jaket dan syal untuk cia
"kita ke rumah sakit sekarang" segera semi mengambil kunci mobilnya dan lansung bergegas ke rumah sakit
setiba di rumah sakit semi menunggu di ruang tunggu, berdiri menghadap pintu di mana cia sedang di periksa
Tringg... tringg... tringg handphone semi berdering
"halo Tan" suara semi terdengar lirih
'gimana cia sem' kata Tante Amira dengan sangat cemas
"cia baik baik aja kok Tan cuma obatnya aja habis " semi berusaha tenang supaya Tante Amira juga tenang "Oya Tan nanti semi telfon lagi ya kalau hasilnya udah keluar" semi mengakhiri telfonnya
klek.. pintu ruangan terbuka keluar seorang perawat
"Anda keluarga pasien ?" tanya perawat itu dengan ramah
"iya saya kakaknya"
"silahkan masuk" suster itu mempersilahkan semi masuk
terlihat cia masih di ranjang rumah sakit dengan setengah menyandar dan ada dokter muda dan cantik yang berdiri di sebelahnya, semi duduk di samping ranjang cia menghadap dokter tersebut
"saya ingin membicarakan ini di ruangan saya tapi pasien ingin di sini saja dan ingin di temani kakaknya"
dokter memberikan hasil pemeriksaan cia wajah dokter terlihat sanagat cemas tapi semi hanya menanggapi dengan wajah datarnya
🌸🌸🌸🌸
Hay Hay.. semua kira kira cia sakit apa ya ikutin terus ceritanya ya jangan sampai ketinggalan
dan jangan lupa votenya ya🌹
author sayang kalian 🤗
__ADS_1