The Boy I Love

The Boy I Love
ada yang mengganjal


__ADS_3

."MAMAAAA....." cia lansung terduduk mendapati mama yang sudah tak sadarkan diri di kamar mandi wajahnya pucat, cia berteriak sekuat tenaga memanggil papa dan adiknya tapi tak ada yang datang, segera cia kbali ke meja makan mengambil ponselnya dan menelfon semi


"maa tahan sebentar ya cia cari bantuan" ucapnya lirih air matanya jatuh begitu saja


di sebrang sana semi terbangun mendengar dering ponselnya, ia bangkit sambil menguap besar mengambil ponselnya yang ada di atas nakas


"cia, tumben banget jam segini" gumamnya Pelan


"halo ci.." semi angkat bicara dengan suara yang masih sedikit serak


"sem mama Sem, mama pingsan" kata cia panik, sontak semi terbelalak kaget


"gue kesana tunggu ya, jangan panik" setelah mematikan telfon semi mengambil jaket dan kunci mobil dan lansung bergegas ke rumah cia


setiba di rumah cia mereka berdua lansung membawa Tante Amira ke rumah sakit milik keluarganya


sejam berlalu cia dan semi menunggu di depan ruangan di mama tante Amira sedang di periksa. kini cia tak lagi menagis tapi terus kenapa ke depan dwngan pandang kosong semi yang melihat menjadi kasian ingin menghiburnya tapi semi tau saat seperti ini cia tak bisa di ganggu


akhirnya dokter dan beberapa rekannya keluar dari ruangan itu cia lansung mergeges menghampiri mereka


"gimana keadaan mama bang" tanya cia pada bang Irawan salah satu dokter di sana


"kita ngomong di ruangan Abang ya"cia dan semi mengikuti Irawan menuju ruangannya


"tidak ada gejala serius tapi akhir akhir ini sepertinya Bu Amira sedang banyak pikiran dan sedikit stres" cia hanya terdiam "memangnya apa yang Bu Amira lakukan sampai kelelahan seperti ini? " rtanya dokter Irawan


"aku juga gak tau, kemaren aku baru aja balik dari Jakarta" ucap cia lirih


"gini ya cia Abang bukan pesikolog tapi sering sering untuk bawa mama kamu untuk referesing karena keliatan banget kalau Bu Amira stres" kata


tak lama kemudian cia dan semi keluar dari ruangan dokter Irawan dan masuk ke dalam ruangan mamanya, begitu membuka pintu dan melihat Tante Amira sudah sadar segera cia berlari mendekati mamanya dan diikuti oleh semi


"mama udah sadar" cia tersenyum dan lansung memeluk mamanya


"semi kamu di sini juga kapan datangnya" sapa Tante Amira lirih


ya sering terjadi seperti itu di saat cia menghawatirkannya dan yang deluan di sapanya selalu semi


"ih mama yang anak mama cia atau demi sih" cia meraihuk sedangkan semi tersenyum sambil menahan tawanya


"kan dua duanya anak mama, udah ih jangan kayak anak kecil gitu" mama tersenyum sambil menggenggam tangan cia


"Oya kalian kapan datang ke Bandung? " tanya Tante Amira


"loh kan dari kemaren Tan" kata semi bingung


"hehe dari kemaren ma tapi kemaren cia langsung tidur kebetulan rumah sepi banget" kata cia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal


"kebiasaan keboknya, Oya Sem kamu bisa belikan Tante makanan soalnya tadi Tante belum makan"


"oke Tan tunggu ya" dengan cepat semi lansung melesat pergi dari ruangan tersebut

__ADS_1


melihat mamanya yang ingin bangun cia membantu mamanya untuk duduk


"mama kenapa ?" tanya cia lirih


"cia jangan ceritakan masalah ini sama papa atau Alvian ya" tatap mama lekat


"Oya ma papa sama Alfian ke mana ?" tanya cia penasaran, mama menunduk tapi masih terlihat di wajah mama ada sesuatu yang terjadi


"kamu ingatkan kejadian papa di tipu rekan kerjanya ?" cia mengangguk "semenjak itu papa jadi emosian rencananya Minggu depan restoran mama buka satu cabang lagi di puncak dan yang hendel itu Tante Tina, tapi papa gak setuju alasannya gak mau kena tipu lagi, dan tadi sore papa pergi ke Bogor katanya ada urusan bisnis dan Alfian mau ikut sekalian liburan, mereka pergi tiga hari" cia hanya terdiam tak menjawab ataupun bertanya sepatah katapun, mama memperhatikan raut wajahnya tau apa yang sekarang ia rasakan


"Oya gimana di Jakarta pasti seru dong"


"maa.. jangan ngalihkan pembicaraan deh"


mama menghela nafas panjang "udah jangan bahas itu lagi besok mama ajak keliling restoran dengan toko roti ya" sambil tersenyum lebar dan mengusap puncak kepala cia


keesokan harinya mama sudah keluar dari rumah sakit pagi pagi sekali katanya gak betah pengen cepat pulang, setelah di antar semi pulang cia mandi dan bersiap-siap untuk ke restoran sedangkan Tante Amira harus istirahat dulu


pagi ini cia berangkat ke restoran sendiri, Tante Amira akan menyusul nanti siang setelah sudah cukup istirahat dandanannya cukup simpel hanya menggunakan jeans biru, atasan putih dan sepatu kets putihnya tapi tetap memancarkan kecantikannya ditambah lagi rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan riasan wajah yang tidak terlalu tebal, sambil membawa tas belanjanya karena besok akan kembali ke Jakarta dan cia Kana belanja untuk beberapa barang kesukaan teman temannya karna setelah selesai berkeliling restoran dan toko kue mamanya cia sudah janjian akan bertemu teman teman lamanya di Bandung



outfit cia fabela khusuma ke resto pagi ini, cukup simpel tapi tetap terlihat stylish


cia tiba di parkiran resto mewah yang tertulis "ONE MADAM A" tidak lain milik ibunya, restoran ini adalah restoran pusat yang sudah membuka banyak cabang


cia masuk dan lansung menghampiri beberapa pelayan yang ada di kasir, cia di sambut dengan hangat dengan para pelayan, seperti biasanya cia akan selalu mengecek jumlah keuangan yang masuk dan keluar karna cia cukup mahir dalam bidang marketing, dulu saat masih di Bandung cia selalu melakukannya setiap akhir pekan karna cia sering menghabiskan akhir pekan di restoran atau di toko tapi hanya beberapa beberapa saja hanya yang ada di Bandung saja


"iya non soalnya bahan yang biasanya kita beli dari petani lagi kosong jadinya kita beli di pasar dan harganya lumayan tinggi" terlihat cia seperti sedang berfikir, tanpa di sadarinya seorang pelanggan dari tadi yang terus memperhatikannya


"tumben banget kan kita udah ada kesepakat dengan petani" batin cia


"mama tau? " tanya cia lagi


"nyonya udah tau non dan saran untuk belanja ke pasar juga nyonya karna banyak petani yang lahannya rusak"


"kenapa mama malah ngambil keputusan ini, seharusnya kan harus jaga kualitas dan kenyamanan konsumen"


"cia kebelakang dulu ya mbak" setelah mbak wita mempersilahkan cia landung ke ruangan belakang, di belakang ada kamar kecil khusus untuk cia istirahat dulunya dan sekarang semenjak cia di Jakarta kamar itu di gunakan sebagai kantor sekertaris mama dan kantor mama ada di lantai dua


mbak wita kembali melanjutkan pekerjaan tiba tiba seorang peria gagah berhas menghampirinya dengan membawa segelas kopi ditangannya, membuat mbak wita terpesona dan tak berkedip melihatnya


"permisi mbak " kata peria itu dengan sopan


Rafa defian arlangga seorang pengusaha roti ekspor yang sudah beberapa bulan ini bekerja sama dengan Tante Amira


"eh iya m.. m.. mas ada yang bisa di bantu?" tanya Mbak wita gerogi


"tadi itu siapa ya, kok saya baru liat dia" tanya rafa


"oh itu namanya cia anak ibu Amira yang ke dua sekolah di Jakarta makanya gak pernah keliatan" terlihat peria itu sedikit mengganggu dan terlihat tersenyum tipisnya sambil melihat arah kepergian cia

__ADS_1


"oh makasih ya mbak infonya" Rafa kembali ke mejanya semula


"gitu aja gak mau nanyain tentang wita atuh" celoteh wita sendiri ketika peria tu sudah pergi


setiba di ruangan itu cia membaringkan tubuhnya dia atas ranjang kecil itu, terlihat ada teteh Jesi yang sibuk dengan laptopnya seperti banyak pikiran


"apa kabar teh" sapa cia sambil menarik kurisi di samping Jesi


"ciaa kapan datengnya atuh, kumahak damang ?" tanya Jesi dengan ramah


"Alhamdulillah teh"


"syukur Alhamdulillah atuh"


Jesi adalah sekertaris Tante Amira, sudah bekerja dari awal Tante Amira merintis bisnis resto ini usianya sepuluh tahun lebih tua dari cia, mereka memang akrap karena Jesi suka sekali anak anak dan sudah di anggap oleh Tante Amira seperti keluarga sendiri


sejak kecil Jesi tinggal di panti asuhan, Jesi berasal dari keluarga yang serba kekurangan, 20 tahun yang lalu ibu Jesi sakit keras ayahnya harus bekerja serabutan setiap hari banting tulang untuk menghidupi istri dan anak semata wayangnya, tapi ayahnya mengalami kecelakaan dan tidak bisa tertolong, beberapa hari kepergian ayah ibunya menyusul, tersisa Jesi seorang ia di bawa yayasan perlindungan anak dan tinggal di panti asuhan sejak umur 6 tahun


saat tamat SMA Jesi tak sengaja menemukan dompet milik Tante Amira, kemudian Jesi memilih mengembalikan dompet itu pada alamat pada KTP yang ada di dalam dompet


karena kejujurannya Tante Amira memperkerjakannya di toko roti mikinya dan saat pertama kali mendirikan restorannya Jesi di percayakan untuk menjadi sekertaris mama dan bertanggung jawab atas restoran


"Oya teh tadi aku liat harga penjualan jadi naik?" tanya cia


"itu dia masalahnya cia, teh Jesi juga bingung, petani pada nolak jual hasil panennya, katanya lahanya rusak ada juga yang lahannya mau di bangun ada juga lahannya mau di jual, jadi terpaksa belanja di pasar" kata Jesi sambil kebingungan


cia mendengarkan penjelasan kak Jesi dengan seksama, walaupun merasa sedikit ada yang mengganjal, bagaimana bisa semua petani tiba tiba tidak bisa memberikan hasil panennya dengan serempak


dua jam berlalu mereka mendiskusikan masalah ini, Tante Amira datang dan membuyarkan mereka berdua


"seriusnya anak anak mama" sama Tante Amira dengan lembut


"hehe ibu, cuma ngobrol Doang kok bu" kata Jesi sambil menutup laptopnya


"oya ma tadi cia liat di depan harganya naik kata mbak wita mama yang nyarankan untuk belanja di pasar ?" tanya cia basa basi


"iya mama bingung karna petani semuanya punya kendala, tapi tenang aja cuma sementara aja karna masih ada petani yang kerja sama dengan kita" kata mama sambil mengisap puncak kepala cia "sedang mama selidiki cia" batin Tante Amira. cia hanya menatap kosong ke arah mamanya sambil berpikir


"Oya katanya mau ikut mama keliling "


"ayo deh, tapi cia gak bisa lama ni mah soalnya ada janji dengan rindi dan yang lainnya" kata cia sambil mengambil tasnya dan lansung merangkul ibunya


"iya nanti kamu balik deluan aja karna Mama bakal agak lama, Jesi ibu pegi dulu ya" pamit Tante Amira pada Jesi, ia mengangguk lalu melambaikan tangannya melihat punggung Tante Amira yang berjalan menjauh


tanpa di sadari ibunya cia kembali melihat ke belakang sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jesi lalu Jesi mengacungkan jempolnya sambil tersenyum


Tante Amira pergi di dampingi supirnya sedangkan cia membawa mobilnya sendiri mobil putih yang di hadiahkan oleh ibunya saat ulang tahunnya di tahun lalu


🌸🌸🌸🌸🌸


jangan lupa like comen dan votenya ya🤗

__ADS_1


author sayang kalian 🌹


__ADS_2