
semua pertandingan akhirnya selesai, semua peserta perlombaan berhamburan di segala tempat ada yang ke mushola untuk beribadah ada yang lansung ke tenda dan ada juga yang istirahat sekadar duduk duduk di tepi lapangan dan sekitarnya
fido Revan dan wildo yang baru saja selesai melaksanakan shalat ashar duduk bawah pohon yang ada di tepi lapangan sambil menghirup udara segar sore itu
Revan duduk bersandar di pohon sambil memainkan rambutnya dan wildo yang sibuk merapikan pakaiannya tanpa sengaja wildo menyadari bahwa wajah fido yang ditak biasa
"kenapa do ?" tanya wildo heran
"iya muka di tekuk gitu ada apa sih" Revan yang menyadarinya jika ikut bertanya
"gue kesel mentang mentang tahun lalu mereka juara umum jadi seenaknya aja" kata fido sedikit emosi
"kapan mereka bilang gitu ?" tanya Revan
fido menceritakan semuanya yang dia dengar saat baru saja selesai perlombaan fido yang awalnya memutuskan untuk buang air kecil ke toile yang tak sengaja mendengar percakapan segerombolan anak dari SMA merah putih yang meremehkan SMA tunas bangsa bahkan mereka sempat mentertawakan SMA tunas bangsa dan berkata tak akan mendapatkan prestasi
ngomong ngomong soal SMA merah putih, SMA tersebut adalah SMA tetangga yang selalu bersaing ketat dengan SMA tunas bangsa di dalam organisasi mau pun masalah pendidikan
"udah deh jangan di pikirin biarin aja" kata wildo berusaha menenangkan fido
"iya do biari aja, ntar kita liat siapa yang jadi pemenangnya" sahut Revan sambil menepuk pelan pundak fido
"ya gue emosi dengernya, kalau mereka beneran jago oke lah, tapi kita kan cuma beda tipis lagian pemenangnya belum di tentuin udah singing deluan" umpat fido, bahkan masih banyak umpatan umpatan yang ia lontarkan, wildo yang mendengarnya cuma diam tak menjawab lagi
menjadi seorang wildo juga tak mudah karena tak sedikit pula teman teman smpnya yang bersekolah di SMA merah putih bahkan pacarnya juga bersekolah di sana, ia tau betul teman temannya seperti apa walaupun tak semua yang segikit lancang tapi
"udah ah gue mau balik aja" fido bangkit dan meninggalkan Revan dan wildo
"fido fido " gumam revan pelan
"untuk apa sih sekolah kita selalu bersain dengan SMA merah putih ?" tanya wildo
"kenapa, bukannya bagus ya apa lagi di bersaing di dalam pendidikan" jawab Revan, walaupun ia tau kalau ibu bukanlah jawaban yang ingin wildo maksud
"maksud gue.."
"gue tau" belum sempat wildo menyelesaikan omongannya sudah di potong oleh Revan "karna Lisa dan anak anak band lu di sana
Lisa adalah nama dari kekasih wildo dan ya teman teman wildo yang ada di SMA merah putih adalah teman satu bandnya yang juga mengikuti Scout camping di sini
__ADS_1
"udah deh jangan di bahas lagi, gue deluan ya" kata semi setelah itu berdiri
"mau kemana?" tanya revan
"toilet, kenapa mau ikut" Revan menjahili wildo
"ogahh" jawab wildo bergidik geli sedangkan Revan hanya tertawa sambil berjalan meninggalkan tempat itu
waktu keluar dari toilet Revan hampir saja menabrak beberapa cewek yang berlarian di koridor sekolah, setelah mereka semua sudah terlihat cukup jauh Revan melanjutkan jalannya menyusuri pepohonan di samping lapangan yang sangat besar itu sambil menendang beberapa batu yang ada didepannya
tanpa sengaja langkah terhenti saat melihat sesuatu yang hendak ia tendang tapi Revan menahannya
Revan membungkuk mengambil benda itu, sebuah gelang inisial berwarna hitam, sejenak ia melirik kanan dan kiri mencoba mencari apakah ada orang yang kehilangan sesuatu.
tidak ada satu orang pun Yang terlihat seperti kehilangan sesuatu ataupun mencari sesuatu, Revan memutuskan membawanya dan menaruhnya di saku celana dan melanjutkan jalannya
di sisi lain cia bersama teman temannya yang lain beristirahat sambil memainkan ponsel mereka ada yang dudu sambil merapikan isi tas masing masing, Veni yang masih sibuk mengeksekusi ayam geprek yang sudah lama ia tunggu tunggu
"aaaaa... "teriak keni di sertai tawa yang keras membuat semua pasang mata teman temannya lansung melihatnya terheran-heran
"gila ya lu ?" cetus veni
"iya ni bikin gue kaget aja" sahut Amel
"apaan sih yang bikin Lo begitu" Sherly mengintip isi handphone keni yang sedang ia pegang
"kepo banget sih" dengan cepat keni menarik handphonenya,dan ampai akhirnya jadilah perdebatan di antara mereka berdua
"haha lagi bucin dia guys" ledek Sherly sambil tertawa dan mejenank mengacak-acak rambut keni
dengan wajah masam keni pindah dari Tempak itu dan pergi keluar duduk di depan tenda moodnya yang berhasil di hancurkan Sherly membuat ia tak ingin lagi memainkan handphonenya
semua umpatan dan unek unek-uneknya ia keluarkan di dalam hatinya
'apa salahnya kalau gue bucin kayak dia gak pernah bucin aja, ih sebel banget gue dengan tu anak iiiiiiihhhh' batin keni, Salma dan cia lansung mengikuti keni dan duduk di sampingnya
"gitu aja ngambek baperan banget" kata Sherly sambil mengolok dari dalam
"udah jangan di dengarin dia mah memang gitu" Salma mengusap kepala keni berusaha menenangkannya
__ADS_1
"kayak gak pernah bucin aja, kesel gue" nada bicara keni mulai tinggi
"udah ken gak papa biarin aja" cia menggenggam tangan keni, perlahan emosi keni mulai meredam setelah menghela nafas panjang keni tersenyum tipis pada kedua sahabatnya itu
"jangan gitu juga kalik sher" kata Tasya kecut
"bisanya aja yang terlalu baperan " sahut Sherly
"Lo.." ucapan Amel terputus
"shutt.." Veni memberi isyarat seperti menyuruh Amel tak berdebat dengan Sherly, Amel hanya diam sambil menggit bibirnya
saat hendak mengambil handphonenya cia menyadari gelang yang kemarin ia beli kini tinggal satu, dengan cepat ia meraba seluruh kantongnya benar benar tinggal satu. keni dan Salma di buat bengong melihat cia yang kebingungan
"nyari apaan ci ?" tanya Salma bingung
flashback
Beberapa menit kemudian cia yang baru keluar dari toilet berjalan bendak kembali tapi langkahnya terhenti saat melewati lapangan, pandangan nya tertuju pada sosok Mario yang kini sedang sibuk dengan sampulnya keringat yang bercucuran dan membuat rambutnya basah, tapi kali ini tak ada senyum yang terpancar di wajahnya
drett.. drett.. drett... handphone di sakunya pun bergetar, segera cia mengangkat telfon tersebut dan berlari menuju gerbang sekolah tanpa ia sadari sebuah gelangnya keluar dari kantor celananya bersamaan saat handphonenya keluar
"bentar ya " dengan cepat cia lansung bergegasberlari ke lapangan bawah
setiba di sana sangat sepi, pandangan cia terus kebawah mencari benda kecil miliknya. setelah setengah jam menggelilingi lapangan hasilnya nihil tak ada di setiap sudut lapangan
"kemana ya ?" tanya cia pada dirinya sendiri
'cuma gelang biasa tapi kenapa rasanya penting banget buat gue' gumam cia dalam hati
karena tak menemukannya cia memutuskan kembali ketenda bersiap membersikan diri untuk acara penutupan Scout camping nanti malam, dengan langkah gontai ia melalui tenda tenda dari sekolah lain sambil memperhatikan sekelilingnya masih berharap menemukan gelang itu
'udah deh cia cuma gelang doang jangan terlalu di pikirin' 'tapi gue suka gelangnya' 'masih ada satu lagi cia' 'masih bisa beli lagi, lagian masuk banyak gelang yang bagus' 'tapi gak tau kenapa gue suka banget' batin cia, ia menggerakkan kepalanya keras menghapus banyak perdebatan dalam otaknya
"yaudah deh biarin aja, kalau ada yang Nemu juga biarin aja kan masih ada satu lagi" gumam cia
ia mengambil gelang itu dari sakunya dan memasangnya pada lengan kirinya dan kembali menuju tenda
🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
jangan lupa votenya ya🌹
author sayang kalian 🤗