
cia berjalan gontai mendekati seorang yang berlari menghampirinya sedangkan satu orang lainnya diam di tempat sambil menatap cia. sambil membawa liontin jella ia tersenyum sambil mengulurkan liontin ini tapi kepalanya semakin berat walaupun perlahan pandangannya semakin buram
"cia kamu gak papa" jella semakin panik melihat cia yang sakin pucat
cia tersenyum begitu jella menerima liontin itu, tapi begitu jella ingin melepaskan cardigannya cia sudah jatuh pingsan
"ciaaa..." teiak jella dengan kesat sambil menaruh kepala cia di pangkuannya membuat Saskia semakin panik dan lansung lari dengan gelagapan
"kamuu jangan lari bantu aku.. heyy" teriak jella tapi sama sekali tidak di hiraukan Saskia "harus minta bantuan dengan siapa tuhan.." lirihnya semakin panik
tidak sengaja wildo melihat Saskia yang berlari sambil berulang kali melihat kebelakang
"tadigue gak liat Saskia di pantai apa.." batin wildo lalu ia berlari mencari tau ke arah Saskia berasal dan diikuti oleh Revan
di sisi lain Mario terus menghubungi ponselnya tapi sama sekali tidak ada jawaban, Salma yang melihat itu lansung mendekatinya
"gue dengar ada cowok yang udah punya pacar tapi masih dekatin cewek lain" sindir Salma dengan menatap tajam mario
"Lo kenapa sih ?" tanya Mario pura pura tak mengerti
"jangan sok polos ya, gue tau semuanya cia juga tau semuanya Lo gak usah sok dekatin via karna dia juga gak mau sama Lo" ucap Salma lalu meninggalkan Mario sendiri
"CIAA.." "CIAA LO DI MANA" teriakan Revan dan wildo saling bersaut sautan
mendengar suara panggilan jella lansung berteriak meminta tolong
"siapa aja tolong ciaa" teriaknya yang lansung di dengar oleh Revan dan wildo
pandangan keduanya lansung tertuju ke arah suara, seorang gadis yang terduduk di pasir sambil memangku cia cia Yang tidak sadarkan diri, keduanya lansung berlari dengan panik
"cia kenapa ?" bentak Revan panik
jella menjelaskan semuanya dengan air mata yang tidak dapat di bendung lagi, setelah wildo mengirim pesan pada yang lain semua di suruh kempali ke tempat cemping tapi Salma lansung berlari menuju tempat di mana cia berada
"pantesan gue liat Saskia lari ketakutan gitu" gumam wildo
"lehernya" gumam jella panik
begitu banyak bintik bintik merah yang lumayan besar begitu di periksa di tangan dan kakinya juga ada, karena panik segara Revan membawa cia untuk kembali tapi di perjalanan mereka bertemu dengan Salma
"turunin cia dulu" Revan melaksanakan perintah salama dengan pelan pelan ia membaringkan cia di pangkuannya
"Lo mau ngapain" wildo menghentikan gerakannya begitu menyadari Salma membawa jarum suntik
"tenang aja gue juga gak bakal nyakitin dia" jawab Salma, semua menatap tajam ke jarum suntik walaupun sebenarnya Revan takut dengan jarum suntik "eh tunggu dulu gue gak pernah nyuntik sebelumnya hehe"
"ya elah sal gue udah tegang liat Lo, kirain udah berpengalaman" celetuk Revan
"tauk ni anak" timpal wildo
"setau aku suntik ke nadinya" jella angkat bicara
perlahan Salma meraba denyut nadinya dan menyingkirkan cairan itu dengan sangat hati hati setelah itu lansung membawa cia ke tempat cemping semua yang melihatnya panik, tak kalah panik juga dengan Mario tapi ia hanya bisa menatap dari kejauhan
__ADS_1
"cia.. ci.. bangun ci " Salma menepuk pelan pipinya
"ada apa ini" sebuqh suara besar tiba tiba datang dan membuat semua tertegun "cia kenapa ?" sontak pak Agus panik
"cia nyebur kelaut untuk ngambil liontin saya yang jatuh, maaf pak semua karena saya" semua terdiam hanya jella yang memberanikan dirinya dengan gemetar
"bawa cia ke bus kita ke rumah sakit sekarang, yang lain tunggu di sini dan lanjutkan kegiatan kalian" kata pak Agus dengan tegas
"saya ikut pak karna saya punya tanggung jawab di sini" kata wildo, pak Agus mengangguk setuju dan segera bergegas pergi
yang ikut ke rumah sakit hanya Salma Revan dan wildo, menunggu cia yang masih di periksa pak Agus dan ketiga siswanya masih menunggu dengan cemas, Salma duduk di bangku paling ujung menatap yang lainnya sambil memegangi ponselnya di telinga
"hallo Sem" gumamnya pelan
"iya sal ada apa" jawab semi dari seberang telfon
"cia..cia masuk rumah sakit" kata Salma
"APA... " yang tadinya sibuk bermain PS di warnet semi melonjak kaget dan segera berlari meninggalkan warnet "ShareLok gue kasana" lalue mematika telfon mereka
di rumah sakit semua masih menunggusudah hampir pukul 12 malam tapi dokter belum juga keluar, Salma yang terliha sudah mengantuk sudah bersandar di bahu pak Agus karena mengantuk dan lelah
"kalian udah makan ?" tanya pak Agus, wildo menggeleng begitu juga denga Salma yang baru sadar
"kalau gitu bapak beli makan dulu, kasian kalian belom makan dan pasti cia juga belom makan"
"biar saya temani pak" Setelah pak Agus mengiyakan mereka pergi dan menyisakan Revan dan Salma di sana
"cia sebelumnya sakit apa" gumamnya datar, Salma tersadar melihat Revan yang ada di sebelahnya dan juga menatap pintu itu, sebelum menjawab pertanyaan Revan ia menghela nafas panjang
"gue juga gak tau, cia gak pernah cerita kalau dia sakit" jawabnya
"terus apa yang Lo suntik tadi"
"gue gak tau tapi.."perkataannya berhenti sejenak "kemaren malam gue liat cia suntikin itu dinadinya, dan tadi waktu gue bilang ke semi kalau cia masuk rumah sakit semi kedengaran panik banget, gue yakin ada yang mereka sembunyikan" Salma terdengar begitu serius begitu juga dengan Revan
tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu, revan dan Salma lansung menghampiri dokter
"gimana cia dok" tanya Salma panik tapi dokter tak menjawab malah terlihat gugup dan bingung lalu dokter meminta catatan hasil pemeriksaan pada suster di sebelahnya
"apa keluarga pasien ada di sini ?" tanya dokter, salma dan Revan terdiam sejenak lalu menggeleng "seorang ikut keruangan saya dan satu orang lagi menjaga pasien di sini" gumam dokter lalu pergi menuju ruangannya
"Lo jaga cia oke" perintah cia lalu ia berlari mengikuti dokter
Revan mengiyakan setelah Salma pergi perlahan ia membuka pintu ruangan cia. dari ambang pintu perlahan ia menatap tubuh yang terbaring tak berdaya dan banyak bercak merah di tubuhnya, Revan duduk di sampingnya menekan dagunya menatap cia yang belum sadarkan diri
"jadi tidak ada yang tau pasien kenapa" kata dokter yang bertanya pada Salma di sisi lain
Salma menggeleng bingung menatap dokter lalu dokter mengukur hasil pemeriksaan cia, setelah membacanya ia sedikit bingung namun kaget
"Anafilaksis stadium 2 itu apa dok ?" tanya Salma bingung
"pasien memiliki imunitas tubuh dan jantung yang lemah sejak kecil, alergi dingin yang berlebihan membuat pasien tidak bisa mengontrol tubuhnya bila sudah timbul kemerahan dan jantung yang lemah membuatnya tidak bisa syok yang berlebihan"salma masih menatap dokter dengan tak percaya "dan jika di biarkan terus menerus ini akan berbahaya untuk nayawanya" lanjut dokter
__ADS_1
setelah keluar dari ruangan dokter Wildan dengan langkah gontai Salma berjalan tak tentu arah sambil memegang kertas hasil pemeriksaan medis perkataan dokter Wildan terus terngiang di telinganya "jika di biarkan terus menerus akan membahayakan nyawanya" "ini penyakit yang jarang di jumpai" "sepertinya pasien sudah tau sejak lama dan sedang menjalankan pengobatan
"gue masih gak nyangka rupanya di balik sifat Lo yang susah di tebak ini rupanya lagi berjuang untuk sembuh, bahkan Lo gak pernah cerita ke siapapun" ucapnya dalam hati, tak terasa air mata itu jatuh begitu saja
tiba di depan ruangan itu dari jendela pintu Salma menatap ke dalam cia yang sudah sadar tersenyum kepada tiga lelaki di sekelilingnya dengan cepat ia menepis air mata di wajahnya menarik nafas dalam-dalam dan menyembunyikan hasi pemeriksaan itu, perlahan membuka pintu seolah tak terjadi apa apa sambil menyapa hangat semua yang ada di sana
"Alhamdulillah Lo udah sadar" sapa Salma sambil meletakkan tasnya
"Salma apa kata dokter" spontan pertanyaan pak Agus membuat Salma terdiam sejenak dan melihat ekspresi cia yang langsung berubah dan memalingkan wajahnya
"dokternya bilang Lo itu harus banyak istirahat, cia cuma terlalu kecapean aja kok pak, bandel sih" salma beralih duduk di samping cia "gimana keadaan Lo?" tanya Salma pada cia yang tersenyum hangat
"seperti yang dokter bilang, I'm fine cuma kecapean doang" jawab cia
"syukur deh kalau gak ada yang serius kalau gitubkalian makan dulu ya bapak sudah belikan makanan" wildo memberikan makanan pada yang lain satu persatu "malam ini mungkin bapak gak bisa menemani kamu di sini saya harus kembali kepercampingan" ucap pak Agus serius sambil mengusap pelan puncak kepala cia
"ya elah pak ini udah pagi kalik, nih udah jam satu lewat" ucap wildo menyodorkan jam tangannya
"kamu ini nyambung nyambung aja" pak Agus berdecak kesel sedangkan yang lainnya hanya tertawa "hukumannya kamu setirin saya sampai kepercampingan"
"yah pak saya pengen tidur di sini aja"
"itu hukuman untuk kamu"
"biar saya antar sampai kedepan pak" revan menawarkan diri
"eh kamu supir cepetan" gertak pak Agus pada wildo, walaupun dengan berat hati dan Omelan Omelan kecilnya wildo tetap menurut lalu ketiga peria itu pergi meninggalkan ruangan, Salma terus melihat ke arah pintu memastikan mereka sudah tidak lagi didepan
Salma meraih tangan cia sambil menepuk-nepuknya pelan, bahkan cia bisa membaca ekspresinya
"sorry" gumam cia pelan
"why.." Salma mengerutkan dahinya
"Lo harus tau dengan cara kayak gini" cia sedikit menundukkan kepalanya sedih
"hey Lo gak harus minta maaf sebenarnya gue juga kaget, tapi marah juga gak ada gunanya"
"Salma makasih karna Lo juga gak bilang dengan yang lain tadi" dengan tatapan sendunya ia menggenggam tangan Salma
membalas tatapan cia seperti itukini Salma tau di balik sikapnya yang kadang jutek kadang receh ternyata menyimpan banyak masalah
"HAHAHA..." sontak Salma tertawa terbahak-bahak
"ya elah malah ketawa sarap ni anak" cia memutar matanya malas sambi menghempas tangan salam
"Lo nyadar gak sih, baru kali ini gue ngeliat Lo serius kayak begini" kata Salma sambil tertawa
"aukah males gue sama Lo jadinya" ia melihat tangannya sambil membuang muka
walaupun sebenarnya Salma seperti ini karena berusaha untuk menghiburnya
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1