The Boy I Love

The Boy I Love
duta and petir


__ADS_3

suasana sekolah yang masih sunyi membuat seorang gadis cantik duduk tenang di taman sekolah dengan headset yang terpasang di telinganya , sambil duduk bersandar Tasya memejamkan matanya menikmati alunan musik kesukaannya


dari kejauhan keni berjalan mendekati sambil membawa beberapa tumpukan buku


yang baru saja ia bawa dari perpustakaan


"banyak banget?" tanya Tasya sambil melepas headset di telinganya


"Lo gak inget ntar kan kita ada kuis pelajaran fisika dan gue yakin pasti kita di suruh mempresentasikan jawabannya" jawab keni sambil membolak balik lembar halaman buku


"ya elah santai aja kalik jam terakhir juga" ucap Tasya dengan santai lalu melirik jam tangannya "eh masih ada 7 menit lagi ikut mau ikut gue ke kantin?" tanya Tasya


"males gue, palingan Lo mau beli makanan untuk Persiapan pelajaran bahasa Indonesia"


"ya uda gue deluan" ucap Tasya lalu pergi sambil melambaikan tangannya pada keni


setiba di kantin Tasya lansung mengambil beberapa keripik, coklat dan permen, kegiatan ini sudah Tasya terapkan sejak beberapa bulan yang lalu, di mana mana mungkin pelajaran sejarah lebih membosankan dari bahasa tapi berbeda di sekolah ini, pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling membosankan


"totalnya 20 ribu neng" ucap ibu kantin, setelah Tasya memberikan uang selebaran berwarna hijau itu segera ia mengemas jajanannya dengan rapi di dalam tas dan kembali menuju kelas


"Tasya!!" panggil cia yang setengah berlari menghampiri Tasya


"Lo ci, baru Dateng ?"


"mau pulang gue, masih di tanya"


"hehe.. kalem ci" rintis Tasya lalu keduanya berjalan bersama menuju kelas


"dari mana Lo, tumben banget gak bareng keni?" tanya cia


"biasa rutinitas pelajaran bahasa hehe, keni mana mau ikutan dia mah rajin" jawab Tasya


tanpa di sengaja keduanya berpapasan dengan Revan yang juga bersama fido tepat di persimpangan lorong kelas, mata keduanya saling bertemu dan senyum kecil itu terlukis di bibir cia dan Revan


"Lo kan tau sendiri seperti apa guru bahas Indonesia kita lemah lembut, kalem, setiap bahas materi gue berasa di bacain dongeng, dan satu lagi sebenarnya beliau tau gue makan tapi dia gak ngelarang dan gak Negor juga jadi selagi beliau nyaman dan gue nyaman apa salahnya ya gak" panjang lebar Tasya berbicara tapi sama sekali tak di dengarkan oleh cia yang masih menatap Revan


"cia Lo kenapa sih" bentak Tasya yang benyadari kalau cia tak mendengarnya


"ehh.. emm" cia tersadar dan menjadi gerogi


"eh bukannya itu Revan?" tanya Tasya lansung sontak menghentikan langkah mereka "tumben banget Lo gak teguran gitu" sambung Tasya


"memangnya harus?" tanya cia datar lalu berjalan deluan meninggalkan Tasya


"noh mulai.. salah apa gue nanya" umpat Tasya lalu menyusul ke kelas

__ADS_1


______


"serius lo jadian sama dia ?" tanya fido terkejut


"memangnya kenapa" tanya Revan balik sambil memberikan tumpukan buku jurnal kelas yang harus di bagikan pada ketua kelas


"gue gak yakin aja gitu, Lo bisa mahlukkan cewek secuek dia, sama cewek aja bisa cuek" mendengar perkataan fido Revan hanya tersenyum dan mengingat kejadian semalam


"itu menurut kebanyakan orang tapi enggak menurut gue, udah deh masuk kelas Lo sana" canda Revan sambil berjalan memasuki kelasnya


"kebanyakan cowok yang cuek ini malah kebalikannya" guemam fido sendiri sambil memasuki kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Revan


_____


"menurut para ahli puisi adalah karya sastra yang diringkas dan diberi bunyi yang terpadu dengan kata kias atau di sebut imajinatif..." suara lembut itu terus saja menjelaskan pembahasan pelajaran saat ini, ada beberapa siswa yang tertidur, makan dan tak memperhatika sama sekali hanya beberapa siswa yang mendengarkan keni salah satunya dan itu pun terus menguap dari tadi


cia melihat ponselnya banyak pesan masuk yang membuat tangannya gatal untuk tidak membuka ponsel


Pramuka tunas bangsa [Angga :"nanti siang, saat istirahat semuanya harap berkumpul di aula karna akan segera di laksanakan pemilihan kedutaan Pramuka SMA tunas bangsa, karap kerja samanya sekian terimakasih"]


"menarik nih kayaknya" ucap cia dalam hatinya


begitu bell istirahat berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas, cia, Tasya Salma, Maurel dan Dian lansung menuju aula sedangkan Sherlyemilih menghampiri fido terlebih dahulu dan keni lebih memilih di kelas dan belajar untuk pelajaran selanjutnya


"akan saya jelaskan terlebih dahulu" ucap lantang kak Angga sambil berdiri "setiap organisasi harus memiliki kedutaan Mading masing yang harus memahami betul konsep kerja di setiap organisasi, tidak harus berprestasi tapi harus bisa menjadi panutan untuk sesama dan adik kelas kalian nantinya" di sela ucapan kak Angga cia melirik semua siswa yang ada di sana tidak ada tampang Revan di sini


"good etitut, disiplin, berpakaian rapi, public speaking dan selalu memenuhi syarat di setiap kegiatan setelah satu semester ini kami sudah menyeleksi beberapa kandidat yang nantinya akan di seleksi kembali, dan duta Pramuka yang akan memilih kalian" setelah kak Angga tutup bicara segera dua seorang gadis cantik dan peria tampan berdiri yang tidak lain adalah duta putra dan putri


purnama wiseya dan Rafki Albert duta senior yang nantinya akan bertanggung jawab atas calon duta yang mereka pilih


"sebelum kami menunjuk siapa orangnya kami akan menjelaskan apa itu duta kepramukaan.." dengan panjang lebar kak purnama dan Rafki mejelaskan semua menyimak begitu juga dengan cia dan teman temannya


"enam kandidat putra dan enam kandidat peria yang sudah terseleksi selama 5 bulan ini kami harap kalian siap berkompetisi lagi dan siap menjadi duta Pramuka SMA tunas bangsa" ucap kak Rafki yang di sabut dengantepuk tangan oleh yang lainnya


"kandidat putra wildo, Mario, Yaris.." kak Rafki menyabutkan nama nama kandidat peria, di sisi lain cia terus memperhatikan jam tanggannya karena bosan dan menurutnya gak penting penting banget


"lalina, jella, Saskia Patricia dan ecia" sontak mata cia membulat mendengar pernyataan kak purnama


"hahh.." gumam cia pelan "what.. apa lagi ni males banget gue" batin cia


"Minggu depan kita akan melaksanakan seleksi bersama dengan kedutaan organisasi yang lainnya dan mulai besok kita mulai latihan persiapkan diri kalian" ucap kak Angga setelah mengakhiri percakapannya semua siswa kembali menuju kelas masing-masing


dengan langkah malas cia berjalan sendirian menuju kelas. sedangkan teman temannya memutuskan untuk ke kantin sebelum bell berbunyi


"gue gak ngerti apa sih yang mereka liat dari gue" umpat cia sambil menendang nendang bebatuan yang ia lewati

__ADS_1


"emosi banget bos" sebuah suara muncul dari belakang lansung membuatnya kaget


"anjir.." refleks cia lansung memukul orang tersebut membuat orang itu teriak kesakitan "ravan.. Van maaf maaf gue gak sengaja" kata cia sambil menghampiri Revan dengan nada bersalah


"kejam banget Lo pacar sendiri di tabok" kata Revan sambil memegang bahu kirinya yang masih nyut nyutan karena pukulan cia


"hah pacaran" tiba tiba sebuah membuat kedua sejoli itu kaget dan Landung tercengang "sejak kapan Lo beduak pacaran kok gue gak tau" lanjut Sherly


"sher.. L.. Lo.." sumpah rasanya cia ingin menghilangkan dari tempat itu, sebenarnya gak masalah juga tapi dia belum siap kalau teman-temannya tau atas hubungannya


"iya kita pacaran" jawab Revan dengan santai sambil merangkul cia membuat Sherly semakin kaget


"ih apaan sih Van" cia menepis lengan itu dari bahunya


"congratulation akhirnya sahabat gue pacaran lagu seneng gue dengarnya, ya udah deh lanjutin pacarannya gue deluan ya byee" cia masih diam mematung sambil menggigit bibir bawahnya melihat punggung Sherly yang berjalan menjauh


"santai aja kalik" kata Revan sambil menyenggol bahu cia


sejenak ia menatap Revan kesal lalu kembali berjalan menuju kelas, Revan hanya tersenyum melihat tingkah pacar barunya itu


"selamat siang anak-anak" sapa ibu Paulina sambil memasuki kelas


"siang bukk!!.." jawab para murid bersamaan


"buka buku kalian kita lanjutkan yang Minggu lalu, saya jelaskan setelah ini saya akan memberikan quis" Bu Paulina membuka bukunya dan mulai menulis di white board lalu menjelaskan tentang apa yang barusan di tulisnya


dengan panjang lebar dan sangat teliti Bu Paulina menjelaskan kepada siswanya, semua pandangan siswa terus tertuju padanya kecuali Tasya yang dari tadi tidak fokus, dengan ponsel yang di sandaran pada buku yang terbuka membuat ia seolah olah membaca buku


Oya Tasya itu salah satu model di sebuah agensi dan sangat aktif di sosial media, ia bergabung pada agensi tersebut saat masih kelas 5 SD dan sekarang jadwalnya sedang tidak padat dan kelonggaran fotoshot


"Tasya sedang apa kamu?" dengan tegas Bu Paulina memanggil namanya membuat ia kaget dan lansung menutup buku itu


"kenapa Bu?" tanya Tasya gugup


"coba kamu ulangi bagaimana peroses terjadinya petir dan mengapa menghasilkan suara" sontak Tasya lansung ketar ketir kebingungan


"gini ni buk, ini awan ni" sambil mengepalkan tangan kanannya menurunkan awan "ketemu awan lain" dan mengepalkan tangannya kirinya membentuk awan yang lain "ketemu saling bertabrakan, lalu terjadinya gesekan yang menimbulkan percikan listrik jadi.." semua nurut tertuju pada Tasya begitu juga cia yang menahan tawanya dari tadi


"JEEDDAARRRR...!!" ucapnya tiba tiba dengan gaya konyolnya membuat guru dan para siswa lainnya kaget dan tertawa "jadi deh petirnya hehe"


semua siswa di buat tertawa sedangkan Bu Paulina terus senyum senyum sambil menggelengkan kepalanya


"ya sudah lanjutkan tugas kalian yang sudah bisa pulang deluan"


"busett.. berasa bocah SD" gumam Tasya pelan Dian yang duduk di sebelahnya lansung tertawa sambil menggelengkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2