The Boy I Love

The Boy I Love
Bandung


__ADS_3

setelah keadaan cia membaik mereka di perbol pulang ke Jakarta, selama perjalanan semi Salma dan Revan terus bergantian menyetir selama perjalanan walaupun kondisi cia sudah membaik tapi tubuhnya masih terasa lemah dan kepala yang sering berkunang-kunang


"kita gila sih brani banget perjalanan kayak gini" ucap Salma yang saat ini sedang menyetir


"ya elah santai aja kalik gue mah udah biasa" timpal semi yang berbaring di bangku sebelahnya sambil memeluk Kimi


"menurut kita biasa aja tapi menurut bocah kan beda" sahut Revan yang duduk di sebelah cia sambil memainkan ponselnya


"sok tua lu pada beda setahun juga"


"gak papa kalik yang penting udah punya SIM" jawab semi


"oiya dia kan belom punya SIM yak" ledek Revan sambil tertawa


"ilegal ni Lo pada nyuruh anak di bawah umur nyetir perjalanan jauh"


"gantian juga.. setir aja deh gue ngantuk"


setelah seharian perjalanan mereka tiba di apartemen karena sudah larut malam dan kecapean semi menyuruh Revan menginap, sekarang sudah pukul 3 pagi pak Agus sudah tau kabar ini dan memberikan izin pada mereka berempat


"Lo gak pulang ?" tanya Revan pada Salma


"gue mau nemenin cia lagian rumah gue juga di samping" cetus Salma sambil membawa barang-barang masuk Revan hanya terdiam sambil memperhatikan Salma hingga tak terlihat lagi


"Van istirahat aja deluan " ucap Revan


setelah memaroh tasnya di kamar Revan tak melihat keberadaan semi, angin bertiup kencang memasuki kamar itu berniat ingin menutup pintu balkon begitu tangannya menyentuh pintu gerakannya sontak terhenti


"iya Tan Sem minta maaf Sem gak bisa jagain cia, tapi Tante tenang aja sekarang udah mendingan cia juga udah di bolehin rawat jalan"


" ......"..


"iya Tan Sem tau ini semua akan bahayauun cia, Sem juga gak mau kehilangan adik yang paling Sem sayang"


walaupun tidak tau dengan siapa demi berbucara tapi Revan sudah bisa menebaknya, mendengar percakapan itu Revan mematung


"Sem juga gak bakal ceritain semuanya dengan om Ardi, Sem gak mau cia makin tertekan" sontak mata Revan terbelalak dan mendengar semi menyudahi panggilannya dengan cepat ia pergi dari tempat itu


____


setelah beberapa hari pulang dari Bali sekolah mengadakan libur semester, cia dan semi memutuskan untuk pulang ke Bandung, Salma pulang ke Jogja sedangkan Tasya akan pergi berlibur ke Kuala lumpur bersama keluarganya Dian dan Maurel juga akan pergi liburan keluarga dan hanya Sherly dan keni yang stay on Jakarta


sebelum mereka berangkat ke Bandung dokter kiana akan datang untuk memeriksa keadaan cia karena tak mau hal yang tidak di inginkan terjadi


"hasil pemeriksaan baik, gak papa kok untuk perjalanan malam asalkan jangan full AC ya Sem" kata dokter kiana sambil membereskan barangnya kedalam tas


"cia tubuh kamu hanya kamu yang ngerasain sakit, jangan takut untuk bersuara" ucap dokter kiana sedikit bersisik, cia hanya terdiam


"kalau gitu saya pamit dulu ya, daa Kimi.."


cia mengantar dokter kiana sampai kedepan pintu sedangkan semi lansung membereskan meja dan oansung mencuci gelas sisa minuman yang di suguhkan untuk dokter


"cia saya bukan psikolog tapi saya bisa liat dari wajah kamu" dokter kiana mengangkat tangannya dan mengusap pundak cia "kamu udah kakak Agam seperti adik sendiri, kalau kamu butuh teman cerita saya siap" senyuman itu seakan memberikannya semangat, cia sedikit mengangguk dengan senyum hambar


____


di Bandung setelah dua hari di Bandung akhirnya dokter yang menangani cia bisa datang untuk memeriksanya setelah dinasnya di luar daerah


papa Ardi sudah berangkat ke kantor, Alvian sejak pagi belom keluar dari kamar dan yang pasti dia belum bangun


"Hay cia apa kabar" sapa dokter Chiko

__ADS_1


"seperti yang dokter liat" jawab cia akrab


"biar saya periksa dulu ya"


sambil menunggu cia di periksa Tante Amira pergi ke dapur menyiapkan minuman dan cemilan


setelah di periksa seperti biasa dokter memberitaukan seperti apa kondisinya dan seterusnya dokter akan pulang atau kembali ke rumah sakit, setelah mengantar dokter ke depan Amira berdiri di ambang pintu menatap putrinya yang duduk di sofa dengan meringkuk


bayangan tentang cia kecil timbul di fikirannya putri kecil yang ceria namun pemalu, tak mampu tertahankan cairan bening itu jatuh mengenai pipinya


___


"hayy... tumben nelfon gue" kata cia yang baru saja menjawab telfon revan


sore itu suasana di bandung sedikit mendung jadi cia tidak boleh ke mana mana hanya bediam diri di kamar bersama kimi


"hari ini gue nemenin Angga liburan bareng pacarnya bareng yang lain juga" kata revandengan suara lesu


"waww seru dong, tapi ngapa lemes gitu suaranya"


"gak tau kenapa tapi kita tiba tiba ketemu dengan Mia di sini dan malah ikut gabung gue jadi bete"


"ya elah masalahnya gitu doang"


tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu


"ini mama sayang" panggil mama dari balik pintu


"udah dulu ya ntar gue telfon lagi" setelah mematikan telfonnya cia bergegas membukakan pintu


"iya ma.."


"makan buah dulu" ucap mama


tanpa menunggu lama cia lansung melahap buah buahan itu, melihat anaknya yang begitu semangat saat makan Amira fikir ini adalah saat yang tepat untuk membicarakannya


"cia.. mama sudah memutuskan untuk cari dokter baru untuk kamu" sontak gerakan cia terhenti ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu


flashback


sambil menghabiskan waktu bersama kimi tak terasa makanan Kimi yang ada di kamar sudah habis ia memutuskan untuk turun ke dapur


"ayo ikut aku bentar doang ke dapur" kata cia dengan suara manja yang di buat buatnya


sambil menggendong Kimi cia berjalan menyusuri anak tangga, rumahnya sudah sepi padahal baru pukul 9 ingatannya kembali pada memori di dalam rumah duduk berkumpul di sofa dengan canda tawa, cia hanya menghela nafas dan lansung pergi ke dapur dan setelah mendapat yang ia inginkan cia lansung kembali ke kamarnya tapi begitu melewati kamar orang tuanya ia tersentak dan lansung berhenti


"aku udah bilang sekarang bisnis ku lagi menurun harus berapa lagi aku bilang" cia yercengang mendengar suara bentakan itu yang tidak lain adalah suara ayahnya


"aku masih sanggup ngongkosin anak-anak ku dengan usahaku sendiri dan mereka berhak mendapatkan yang terbaik" suara ibunya yang terdengar lirih


"yang harus kamu kasi yang terbaik itu Alvin dia masih kecil"


"anakku buka cuma Alvin, masih ada Nando dan cia, sejak kapan kamu jadi pilih kasih begini" teriakan Amira pecah memenuhi kamar itu, sedangkan cia yang berdiri di balik dinding berdiri dengan kaki yang gemetar dan air mata yang berlinang


"merek udah besar dan Nando liat anak gak tau diri itu pergi seenaknya"


"dua pergi untuk sekolah mas kamu kenapa jadi gini sih dan aku udah putuskan untuk mencarikan dokter dari luar negri untuk cia dan aku gak perlu izin dari kamu" mendengar langkah ibunya yang berjalan keluar cia lqnsung berlindung di balik vas bunga besar yang tak jauh darinya, sambil memeluk Kimi air matanya tidak bisa terkontrol lagi


flashback off


"maa.. gak perlu cia baik baik aja kok"

__ADS_1


"mama tau kamu gak baik baik aja, don't lie mom" lirih Amira sambil mengusap pipi anaknya


"maa I'm good, believe me"


"oke by the way telfon sama siapa kayaknya akrab banget"


"temen mah, dia baru aja pamer kalau dia lagi liburan"


"kalau kamu bosen ikut ke kantor mama aja, kan ada jesi juga" kata Amira memegangi pundak anaknya


"iya ma.. lagian nanti siang cia udah ada janji dengan teteh Jesi " ucapnya dengan mulut yang penuh


_____


di resto saat ini sangat ramai membuat dia kesusahan mencari parkiran sampai ia tiba di parkiran paling ujung dan intunya masih ada tempat kosong yang tersisa


segera ia menuju ruangan teteh Jesi begitu ia datang lansung di sambut hangat oleh Jesi dan sudah disiapkan coklat hangat kesukaan cia


"silahkan duduk nona cia" Goda Jesi


"ihh.. teteh.. lebay deh aku cuma mau nanya pantauan teteh selama aku di Jakarta" kata cia


"kebetulan kamu datang teteh udah ketemu titik terang siapa dalang dari semua ini, kamu liat ini"


Jesi memberikan laptop yang berisikan hasil penyelidikannya dan semua bukti bukti


"mereka memaksa para petani untuk menjual dengan harga yang sangat rendah jika petani tidak bersedia mereka mengancam akan mengobrak abrik lahan, dan teteh udah Dapat saksinya" penjelasan teteh Jesi "sekarang teteh serahin ke kamu semua" lanjutnya satengah berbisik


dengan tatapan tajam cia memandang foto pada layar laptop tangganya mengepal geram


"teh hubungi pengacara keluarga dan jangan sampai papa mama tau" ucapnya datar setelah mengangguk Jesi segera menghubungi orang yang cia maksud


sebuah mobil mewah dan mobil kecil berwarna putih tepat berhenti di sebuah apartemen, begitu keluar dari mobil cia memperhatikan sejenak sekelilingnya lalu tuan wilsen selaku pengacara keluarganya segera mempersilahkannya masuk


setiba di depan pintu bernomor 109 tuan wilsen menekan bell lalu keluar seorang peria berkulit putih mungkin usianya sekitar 25 tahun keluar sambil mengenakan piyama tidur


"maaf kalian mencari siapa?" tanya peria itu bingung tanpa menjawa cia lansung masuk di ikuti pengacaranya


"heyy kalian siapa jangan sembarang masuk rumah orang""dasar tidak sopan""heyy anak kecil" segala umpan keluar dari peria itu terlebih lagi melihat cia yang lansung duduk di sofa dengan muka datar


"kalian pasti salah rumah, sekarang silahkan pergi" bentar peria itu, tanpa menghiraukannya cia malah menatap peria itu tajam


"tuan alfraksin wizeno abrah, pemilik saham hotel X yang dermawan berhasil dalam menjalankan bisnisnya disegani oleh bawahannya bahkan dapat bekerja sama dengan para petani dengan dengan komisi yang sangat rendah" cia menatap tajam orang itu sambil menyunggingkan ujung bibirnya "tapi sayangnya selalu ngenggunakan cara kotor" senyum devil itu membuat orang itu semakin melotot menatap cia


"jangan seenaknya nuduh anak kecil kamu salah orang, saya bukan alfraksin" berusaha tenang ia mengelak berlagak tidak terjadi apa-apa, kembali cia tertawa puas, ia berjalan mendekati pajangan pajangan dinding milik alfraksin


"alfraksin wizeno abrah S.kom, sarjana komunikasi" cia membaca tulisan pada sebuah frame foto yang besar dan terdapat foto pemilik nama "harus pandai bohongin anak kecil dong" lanjut cia kali ini alfraksin di buat tak berkutik di buatnya


"apa tujuan kalian datang kesini" tanya alfraksin sambil menggeram tanpa di sadari tangannya mengepal


akhirnya cia tersenyum senang lalu kembali duduk ke sofa


"hentikan perbuatan bodoh anda dan bersaing secara sehat" jawab cia dengan sinis, sekilas cia memberi isyarat pada pak wilsen, segera pengacaranya itu menunjukkan isi map yang berisikan semua bukti permainan kotornya


"HAHAHA... Eh.. anak kecil gak usah sok gaya gayaan bawa pengacara untuk ngegertak gue" tawa alfraksin pecah lalu menatap tajam cia "gue gak ngelakuin apa apa dan gue gak takut sama Lo bicah" lanjutnya


"jangan fikir kami tidak tau tak tik anda, kami bisa saja melaporkan anda kapan saja klien kami mau"


"saya bisa saja menggugat kalian karna masuk ke rumah orang seenaknya dan penuduhan tanpa sebab" gumamnya tegas lalu oerhalan menuju pintu dan mengayunkan tangannya menuju luar untuk mengusir cia dan tuan wilsen


tanpa mengeluarkan kata kata lagi cia bersama tuan wilsen lansung meninggalkan tempat itu

__ADS_1


__ADS_2