
menatap ke luar jendela banyak kendaraan yang berlalu lalang, cia duduk di bangku yang ada di pojokan samping jendela, ya bukan cia namanya kalau duduk gak nyari pojokan dekat jendela, kini ia di sebuah cafe yang dulunya sering mereka jadikan tempat berkumpul, sambil menunggu teman temannya datang cia terlebih dahulu memesan chicken fingers dan tiramisu latte, tangannya memegang novel, telinganya menggunakan headset tapi ia terus menatap kosong keluar jendela
dredd.. dredd.. dredd..
suara ponsel yang berbunyi membuyarkan lamunannya saat ia melihatnya ternyata terlfon dari Revan
"Hay.." sapa Revan
"Hay.. tumben banget nih?" dengan semangat, yang tadinya hanya diam melamun entah memikirkan apa kini berubah 180°
"enggak tadi tiba tiba kepikiran aja pengen nelfon Lo" cia tersenyum
"gue tau Lo pasti masih mikirin sherly, udah deh jangan di pikirin terus kasian gue sama Lo"
"siapa yang mikirin dia" elak Revan "gue lagi mikirin Lo" lanjut Revan dengan lembut
mendengar perkataan Revan, cia lansung tersentak wajahnya tiba tiba merona mulutnya terasa kaku tak bisa terucap
"ciaaa..." terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya siapa lagi kalau begitu kan suara cempreng sila
"ada teman teman gue, entar gue telfonan lagi" segera cia mematikan telfonnya dan segera berdiri menyambut teman temannya yang baru saja datang
"ciaaa..." teriak rindi sambil memeluk cia
"kyaraaa kangen banget gue" teriak cia lansung memeluk Kyara Setelah melepas pelukannya dengan rindi
"gini deh nasipnya kalau jadi orang yang terlupakan" sindir sila lansung duduk begitu saja
"sila.." cia lansung menarik sila dan rindi kedalam pelukan mereka
"Oya gue ada sesuatu untuk Lo pada" setelah berpelukan mereka berempat lansung duduk, cia mengambil tas belanjanya yang ada di sampingnya dan mengeluarkan tiga benda yang serupa tapi beda warna
"katanya dream catcher itu bisa bikin mimpi indah jadi gue beliin untuk kalian" cia menyodorkan ketiga dream catcher itu
"cantik banget ci" gumam sila kagum mengambil salah satunya begitu juga rindi dan kyara
btw kyarana thafiqa misxina atau yang lebih di kenal dengan nama Kya adalah sahat terdekat gue bahkan gue lebih dekat dengan dia di bandingkan dengan yang lain, sekarang ia sekolah di Amsterdam karena ayahnya asli orang belanda
"Oya Ky gima amsterdam ?" tanya cia
"gue gula banget di sana tapi kalau kayak Lo gak cocok deh tinggal di sana karna dingin banget" jawab kyara sambil menghirup sedikit minuman cia
"weee pesan sendiri dong" dengan cepat cia mengambil cangkir minumannya dari kyara
"dikit dong" rengek kyara
"kayak orang susah aja Lo, ntar gue pesenin" sila pergi ke meja barista untuk memesan minuman
"Oya ci gimana dengan Renaldi ?"tanya Rindi tiba tiba
cia hanya mengangkat bahunya, karna semenjak putus Renaldi memblokir semua tentang cia, kembali mengingat itu semua rasanya hati cia kembali sakit, mengingat setiap kejadian yang pernah mereka alami
"gue bilang juga apa tu anak banyak ceweknya, ujung ujungnya juga di selingkuhin juga kan" sepontan kyara angkat bicara sambil menghadap ponselnya dan ketika kyara menghadap ke arah rindi ia melihat rindi yang sudah melotot kearahnya dan ia lupa ada cia dan keceplosan lansung di depan cia
"maksudnya ?" tanya cia bingung dan penuh pertanyaan yang ada di benaknya
"mm.. maksud gue.. mungkin dia dekat dengan cewek lain tapi gak mau selingkuhi Lo"kata kyara denagn terbata bata di selingi tawa garingnya
cia hanya mengangguk seolah percaya tapi cia tidak semudah itu percaya ia tau kalau kyara sedang menyembunyikan sesuatu, walaupun ia bertanya pasti mereka tidak akan mengatakan yang sebenarnya
"gue tau ada yang kalian sembunyikan dari gue biar gue cari tau sendiri deh" batin cia
"guys.. mau makan apa, Oya ada menu baru juga mau coba gak" kata sila yang baru saja datang
"boleh boleh" jawab kyara
"gue ke toilet dulu ya" gumam cia tapi teman temannya malah diam sambil menatap cia yang pergi
"lu si.." tunjuk rindi pada kyara
"ya sorry kelepasan"
"kenapa nih ?" tanya sila bingung
"nih pake keceplosan segala soal Renaldi"
"lagian seharusnya dia tau kan udah putus juga" tegas sila
"iya sih ntar kita ngimog pelan pelan deh" rindi menghela nafas pelan
di sisi lain cia berdiri di depan kaca kaca toilet sambil mengutak ngatik ponselnya, sebenarnya barusan ada telfon dari teh Jesi, tidak terdengar oleh teman-temannya karena ponselnya di sailen
"halo teh ada apa ?" cia menjawab ponselnya dengan sedikit berbisik
"teteh baru aja dapat informasi tentang satu orang pemilik hotel di puncak kata orang suruhan teteh mereka ada ngeliat pemilik hotel ini datang lansung ke lahan petani kita dan sempat ngobrol juga, teteh jadi curiga dia ada kaitannya dengan ini semua"
mendengar penjelasan dari teteh cia seperti sedikit berfikir sambil memegang dagunya, bisa jadi orang itu ada sangkut pautnya dengan masalah ini
"oke teh terus selidiki ya ntar malam aku k rumah teteh kita obrolin lagi" setelah percakapan keduanya selesai ia mematikan ponselnya dan kembali menemui teman-temannya
pesanan sudah ada di atas meja mereka ketiga sahabatnya pun sudah menunggunya di sana
"lama ya sorry kebelet banget" kata cia dengan ekspresi biasa saja
"Oya gess..nanti malam itu penutupan festival budaya di alun alun pergi yuk" kata rindi dengan antusias
"beneran pas banget gue lagi di Bandung"kata cia, tanpa ia ketahui rindi terus melihat gerak geriknya
"pasti pura pura tegar ni anak" batin rindi
"hahh udah penutupan aja gue belom sempet datang" kyara sedikit kaget dengan mulut yang penuh dengan makanan
"oke nanti malem datang ya gue jemput" kata sila, kembali baru cia ingat malam ini ia harus ke rumah teteh Jesi
__ADS_1
"Oya guyss Lo betiga deluan aja kita ketemu di alun alun ya, soalnya ntar malem gue mau kerumah kerabat gue dulu"
"oke deh tapi harus Dateng ya" sila merangkulnya dan cia hanya mengangguk sambil tersenyum
"iya tenang aja"
setelah menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal keempat gadis itu memutuskan untuk pulang karena hari juga semakin sore
mobil putih cia parkir di garasi dengan rapi, cila melihat mobil mama sudah deluan tiba di rumah, segera ia masuk tapi rumah masih terlihat sepi, dan kata mama hari ini bik Atun sudah selesai cuti tapi tak terlihat seorang pun di ruang depan
bik Atun adalah asisten rumah tangga di rumah cia, sudah bekerja bersama mereka sekitar 10 tahunan, dan beberapa hari kemaren bik Atun cuti pulang kampung. tanpa pikir panjang cia lansung naik ke atas menuju kamarnya, segera membersihkan diri dan melaksanakan ibadah sholat Maghrib, setelah itu cia turun ke dapur dengan slipper bulunya dengan baju yang sudah rapi dan sedikit riasan tipis. disana ada bik Atun yang sedang memotong buah untuk membuatkan jus Tante Amira
"mama mana bik ?" tanya cia menghampiri bik Atun
"ada di kamar non, lagi istirahat kayaknya nyonya kecapean banget" cia hanya mengangguk lalu pergi menuju kamar ibunya
"Oya bik mwkqn malam siapin untuk mama aja cia mau keluar nanti" cia berbalik menghampiri bik Atun
"siap non" setelah jawaban dari bik Atun, cia pergi ke kamar ibunya
perlahan cia mengintip dari pintu kamar yang setengah terbuka, terlihat Tante Amira yang sedang membaca buka di bangku busa samping ranjang
"ngapain ngintip ngintip" kata Tante Amira sepontan membuat cia sedikit tercengang pada dari tadi ibunya masih fokus pada buku di tangannya
"hehe mama" cia masuk menghampiri ibunya dan duduk di tepi ranjang menghadap ibunya
"kenapa mau pergi ya ?" tanya ibunya sambil meletakkan buku keatas meja dan melepaskan kaca matanya
"kok mama tau sih ?" Tante Amira melirik pakaian yang cia kenakan sambil tersenyum, setelah cia menyadarinya ia tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal
"memangnya mau ke mana ?" tanya Tante Amira
"cia mau pergi ke festival budaya di alun alun bareng dengan yang lain juga, jadi cia ke sini mau minta izin sama mama" kata cia sambil memeluk mamanya sambil memohon, walaupun sebenarnya tidak perlu memohon juga pasti di izinkan
derd.. dredd.. ponsel cia berdering, Tante Amira melirik ponsel itu terbaca nama Jesi yang ada di layar ponsel
"cia angkat telfon dulu ya ma daaa" cia menarik ponselnya sejenak mencium ibunya dan berlari menuju kamarnya
"hallo teh" cia mengangkat telfon itu
"cia kamu teh cepetan ke sini, kamu harus liat ini" suara teh Jesi terdengar panik
"iya teh cia berangkat sekarang" terburu buru cia menggunakan sepatu sneakers putih polosnya dan mengambil tasnya dan lansung turun ke ba ah setelah mematikan telfonnya
"maa cia pergi" teriak cia sambil menuruni tangga dengan tergesa-gesa
setelah pak supir membukakan pintu gerbang cia lansung melesat cepat dengan mobilnya menjauh dari pekarangan rumah, sampai ia tiba di depan sebuah apartemen 10 lantai itu yang tidak terlalu mewah tapi tetap berkelas, memarkirkan dengan rapi mobilnya di besmen, ia naik ke lantai 6 menuju apartemen teth Jesi, cia tau paswot apartemennya jadi setelah tiba ia lansung memasukan kata sandinya dan mencari teteh Jesi
begitu masuk ia melihat apartemen yang begitu rapi tau terlihat sepi, perlahan ia mencari sosok Jesi sampai cia tiba di depan ruangan yang pintunya terbuka lebar
"astaghfirullah.." gumam cia kagum pada ruangan itu bagaimana tidak ruangan kecil itu sanagt bertolah belakang dengan ruangan yang lain buku makanan dan susa sisa cemilan berhamburan di mana mana dan terlihat Jesi yang masih sibuk dengan laptopnya Dean beberapa buku di atas meja kerjanya
"aku heran sama teteh bisa bisanya hidup di dua alam" cia berjalab mendekati Jesi "ada berita terbaru apa ?" tanya cia berupah serius
"toko roti gimana teh" tanya cia
"toko roti Alhamdulillah masih berjalan lancar, karna toko roti kan kita kebanyakan orang terdekat bu amiradan resepnya juga hanya beberapa orang ya tau kalau ada yang gak stabil keliatan banget cuma orang dalam yang bertindak"
"tapi syukur deh toko roti aman, teh.. cia mereka nya tolong ya besok papa Dateng dan aku juga harus balik ke Jakarta aku mau orang suruhan kakak tentang pengusaha hotel itu dan jangan sampai papa tau, soalnya aku pernah dengar papa sama Mama ribut karena mama mau buka cabang di puncak"
"tenang aja teteh tau papa kamu kayak gimana, teteh akan berusaha untuk Bu Amira" kata Jesi sambil mengusap puncak kepala cia "Oya mau kemana kamu gelis pisan atuh" lanjut teh Jesi sambil melirik cia dari atas sampai ke bawah
"hehe mau ke alun alun teh dengan temen temen" jawab cia sedikit gugup
"ya udah sok atuh berangkat serang ntar lama di tungguin"
"tapi teteh gak papa nih" tanya cia, sebenarnya cia tidak enak terlalu banyak melibatkan teteh jesi
"tenang aja yang teteh lakuin gak seberapa dengan semua yang Bu Amira kasi ke teteh, tahian teteh di bantu dengan temen teteh yang jago IT, teteh juga minta bantuan dia" Jesi mengusap kedua pundak cia meyakinkan dia
"ya udah kalau gitu, kalau ada apa apa cepat hubungi cia" Jesi menjawab dengan anggukan setelah itu ia berpamitan untuk pergi
tak lama kemudian cia tiba di parkiran alun alun, melihat banyaknya kerumunan orang-orang yang tidak ia kenal cia memutuskan menunggu di mobil
ecia : "gue ada di parkiran Lo pada ada di mana" pesan WhatsApp yang cia kirim ke grup mereka
rindi : " lagi nungguin kyara nih lama hanget" jawaban dari rindi
sila : "tadi cessa udah deluan ci" setelah membaca pesan dari sila cia memutuskan untuk menelfon cessa
"hallo ces Lo di mana gue di parkiran nih ?" tanya cia
"gue di dalam masuka aja"
"gak pede gue"
"ya elah cia.. ya udah gue jemput tunggu di sana" setelah mematikan telfon cia keluar dari mobil agar memudahkan cessa mencarinya, tapi tanpa sengaja ia melihat sosok yang tidak asing di matanya dengan seorang wanita sambil merangkul pinggang wanita itu, tapi karena hanya melihat dari belakang cia masih belum yakin
"bukannya itu Renaldi, masa iya sih, mungkin cuma mirip" dalam batin cia terus bertanya tanya
"woii.." cessa datang dan membuat cia terkejut "liatin apa sih yuk masuk " cessa menarik tangan cia, diam sambil m ngikuti cessa tapi pandangan cia masih terus tertuju pada orang itu
"tadi gue kayak liat Renaldi" gumam cia setelah tiba di meja yang sudah di siapkan oleh cessa untuk mereka
"wajar aja sih kalau ada dia ini event terbuka untuk umum" kata cessa sambil menuangkan minuman untuk cia "jangan di pikirin deh nih minum" ia menyodorkan segelas minuman itu untuk cia
tapi cia masih terlihat seperti berfikir, tanpa ia sadari cessa terus memperhatikannya ia tau walau seribu kali ia menyuruhnya untuk tidak memikirkan masalah ini itu akan percuma saja
"maaf ci, sebenarnya gue gak tega liat Lo di bohongin kayak begini, tapi gue lebih gak tega kalau Lo tau kebenarannya, Renaldi bukan orang yang tepat untuk Lo " batin cessa
"keliatannya bagus tuh foto di sana yok ci" tunjuk cessa pada sebuah stand yang memamerkan kain dan busana busana khas Bandung, cessa menarik tangan cia padahal belum sempat ia menjawab
di temani sang fotografer keduanya berfoto ria dengan canda dan tawa tidak lupa untuk menggunakan aksesoris tambahan yang di pamerkan di sana
__ADS_1
"hpunten kang, sama dengan pacar saya mau foto" seorang cewek yang menggandeng pacarnya menghampiri fotografernya
"Renaldi.." panggilan cia sontak membuat cessa terbelalak ketika peria itu juga berbalik menghadap mereka
"hpunten sekedap teh sacetak dulu fotonya" cia mengangguk lalu sang fotografer menepi menuju mesin printnya
"cia, cessa" gumam Renaldi lalu sekilas menatap wanita yang ada di sebelahnya
"kamu kenal mereka sayang?" tanya cewek itu, Revan menghampiri mereka berdua diikuti wanita yang ada di sebelahnya
"em itu, ini kenalin.."
"cessa teman sekolah Renaldi dulu" dengan cepat cessa memotong perkataan Renaldi dan lansung mengulurkan tangannya
"Hay.. aku natia" natia membalas uluran tangan cessa dengan ramah
"cia" gumam cia pelan sambil bersalaman dengan natia
"kapan balik ke Bandung?" tanya Renaldi kaku berusaha memecahkan suasana
"kemaren kebetulan libur" jawab cessa
tanpa sengaja cessa melihat sila dan yang lainnya melambaikan tangan pada mereka, cia mengambil foto yang baru saja selesai di cetak
"ren kita deluan ya udah di tungguin" pamit cia, keduanya berlalu dari tempat itu tapi Renaldi terus saja melihat cia yang terlihat semakin menjauh
"ih parah foto foto gak mau ningguin kita" kata kyara, masing masing menarik bangkunya dan duduk melingkar bersama
"siapa suruh datang kelamaan, eh gue udah siapin minuman nih" masing masing mengambil minumannya
"akhirnya bisa kumpul kayak begini lagi ya" kata rindi sambil memainkan gelas minumannya
"iya padahal baru aja SMA udah pada mencat ada yang di Jakarta malahan ada yang di Amsterdam " sambung sila
putri yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik cia seperti tidak biasa memberanikan untuk bertanya
"Lo kenapa ci ?" pertanyaan itu sontak membuat yang lain juga ikut tersadar dan memperhatikanya
"em gak papa kok cuma jadi sakit perut aja mungkin karna gue berangkat tadi gak sempat makan" gumam cia
"seriusan Lo gak papa" tanya cessa sekali lagi
"gue gak papa, gue ke toilet dulu ya"
sedang tidak baik baik saja itu lah yang ada di pikiran rindi saat itu,ia bisa melihat semua jadi wajahnya
"guys.. asal kalian tau gue dan cia baru aja ketemu Renaldi" kata cessa dengan serius "ditambah lagi Renaldi bawa pacarnya" lanjutnya sedikit berbisik
"what's" teriak mereka bersamaan" lansung menutup mulut mereka masing masing
"oh my God"
"biar gue susulin dia aja deh" segera Rindi berlari kecil menuju toilet
di sisi lain Renaldi tengah asih duduk di sebuah meja dan saling berhadapan dengan pacarnya dan menikmasi makanan mereka
"em sayang kamu harus coba ini enak banget" natia menyendokan makanan khas Sunda
"kamu ingat ngak, sebentar lagi anniversery kita yang ke satu tahun, gak nyangka ya udah sejauh ini hubungan kita" kata natia dengan manjanya sambil membelai tangan Renaldi
"aku mau tambah minum dulu kamu tunggu di sini" Renaldi menepis tangannya dan saat berdiri ia baru menyadari kalau ada cia yang berdiri beberapa meter di belakan natia
"jangan ke mana mana ya" kata Renaldi sekali lagi tapi cia lansung berlari
setelah beberapa langkah menjauh dari natia, ia lansung berlari mengejar cia
"ciaa.." teriak Renaldi, cia akhirnya berhenti ketika sedikit jauh dari keramaian
"ngapai kesini ?"tanya cia ramah seolah tidak terjadi apa apa
"aku tau kamu dengar semuanya, aku mau jelasin semuanya"kata Revan dengan nafas yang sedikit memburu karena mengejar cia
"okey jelasin deh" cia masih berusaha untuk menahan, tapi Renaldi sama sekali tidak mengatakan apapun, cia mengangkat dagunya menyuruhnya dengan isyarat tapi tetap tidak ada jawaban
"maaf.." gumama Renaldi pelan sambil menundukkan kepalanya
cia tersenyum kecut "gak papa tadi itu udah cukup menjelaskan semuanya" renaldi sama sekali tidak dapat berkata-kata "hampir dua tahun kamu demanin aku, es tunggu aku ganti, setahun kamu nemanin aku setahun lagi nemanin dia it's oke Im fine kalau dia tau apa yang udah kamu lakuin kedia apa natia gak kecewa" bentak cia dwngan mata yang sudah berkaca-kaca
tanpa mereka sadari di dua sisis ada pasang mata yang melihat itu di satu sisi rindi dan di sisi lainnya ada natia yang mantap dengan air mata
"kalau kamu suka sama dia jangan bikin dia sakit Lo mikir gak" bentak cia sekali lagi
"tapi cia.." Renaldi berusaha mendekat tl
"wait.." cia menjauh darinya "jangan hiraukan gue, gue cuma minta jangan sakiti dia kayak Lo nyakitin gue, ingat kita udah putus" lalu cia berlalu meninggalkannya
tak kuasa menahan air mata natia berlari ke dalam toilet menangis sejadi jadinya setelah ia puas mencurahkan semua air matanya natia mencuci muka Kanya dan memperbaiki riasanya dan bersifat seperti ditak terjadi apa apa
di sisi lain cia yang hendak pergi ke parkiran lansung di hadang oleh rindi
"mau kemana Lo" tanya rindi tiba tiba sontak membuatnya kaget " tadi gue liat semuanya ci" lanjut rindi
"liat apa Lo" cia mebaikkan sebelah bibirnya
"jangan gara gara cowok Lo ninggalin sahabat sahabat Lo yang udah nunggu lama untuk pertemuan ini" bentak rindi
"Rin memang gue mau pergi ke mana, gue mau ke mobil ganti sepatu nih liat" cia menunjukkan kakinya yang lecet karena haihils "Lo kan tau gue gak biasa pake ginian"
"hehe gue kira mau kabur"
🌸🌸🌸🌸
jangan lupa like follow dan komen ya
__ADS_1
author sayang kalian 🌹