
hari latihan kedutaan telah tiba, setelah purnama dan Rafki memilih pasangan yang pas untuk setiap calon duta mereka di berikan beberapa carik kertas untuk mempelajari tentang sekolah dan kepramukaan
"Mario jella, lalina Kenta, Saskia Yaris, Patricia Arka dan Wildo cia, itu pasangan kalian untuk sesi latihan dan bisa saja berubah sesuai peforma kalian" kata kak Rafki sambil memegang selembar kertas yang berisikan nama mereka
"tiga hari kedepan empat dari kalian akan gugur dan enam lainnya akan lanjut ke sesi penjurian Minggu depan, saya harap kalian bisa memberikan hasil yang maksimal" lanjut purnama
"Nanti kita juga akan di bantu kak Rizka, jadi santai aja ya jangan nerfes" lanjut kak Rafki
sambil menunggu kak Rizka datang, mereka semuanya fokus membaca lembaran yang tadi di berikan dan memperhatikan Rafki dan purnama bagaimana berjalan diatas podium
sambil berjalan menuju tempat duduk Wildo cia membawa dua buah air mineral yang dari di pesan oleh Wildo
"thankyou" ucap Wildo sambil menerima air dari cia
"gue gak nyangka bisa pasangan bareng Lo" ucap Wildo pada cia yang ada di sebelahnya
"gue malah gak niat mau ikut ginian" ucap cia datar samil mengelap keringatnya
bagaimana tidak keringatan mereka sadari tadi mereka mondar mandir belajar catwalk bersama tiga mentor lainnya
"tapi gue tenang sih pasangan sama Lo yang gak menye menye kayak yang lain" tanpa menjawab cia hanya menatap Wildo sambil mengangkat sebelah alisnya, membuat Wildo tertawa lepas "sellow aja kalik, gue tau bangun chemisry bareng Lo gak mudah jadi harap bantuannya nona ecia fabela Kusuma" lanjut Wildo, mendengar nama lengkapnya disebut secara lengkap membuat cia tertawa kecil
"ingat ya jangan ada yang baper, it's challenge we must be able" sambil mengacungkan jari kelingkingnya, cia tersenyum dan menjabat acungan jempol Wildo
setelah latihan hari ini selesai cia melirik jam tangannya sudah hampir pukul 5 sore pasti semi batu selesai main baske jadi dia mengurungkan niatnya untuk meminta jemput
begitu keluar dari gerbang sekolah ia melihat Patricia yang duduk di halte sendirian yang terus menatap ponselnya dengan sedikit gelisah, walaupun tidak begitu mengenalnya tapi ia memutuskan untuk menghampirinya
"Hay.." sapa cia yang sudah duduk beberapa meter di sampingnya
"oh hay" jawab gadis itu dengan ramah
"Lo nunggu jemputan?" tanya cia
"ia nih" jawab Patricia sedikit malu malu
"gue liat dari tadi Lo kayak gelisah gitu, apa karna belom di jemput?" tanya cia sekali lagi sambil duduk mendekati Patricia
"barusan Abang gue kasi kabar mobilnya mogok" jawab cia segikit gugup sambil menundukkan kepalanya
"Lo itu pemalu atau penakut sih, tenang aja gue gak makan orang kok" cia bercanda tapi kelihatannya tidak lucu
"ikut ke apar gue aja yuk gak jauh dari sini ntar kalau Abang Lo mau jemput ke apar gue aja, gak tega gue liat Lo sendiri di sini" perlahan Patricia mendongakkan kepalanya menatap cia
setelah obrolan kecil mereka akhirnya berjalan menuju apartemen cia, mereka berjalan berdampingan walaupun awalnya tidak banyak percakapan, cia selalu berjalan dengan gayanya dengan karismanya sedangkan Patricia seperti yahh.. entah lah dia tu cupu atau pemalu
"gue sering liat Lo dengan teman-teman Lo di sekolah" Patricia angkat bicara walaupun ia sedikit canggung
"oh ya.." jawab cia singkat
"gue seneng liatnya" gumamnya pelan, cia tersentak dan lansung memperhatikan Patricia
"kenapa ni anak?" tanya cia dalam hatinya
"sebenarnya gue seneng bisa kayak gini dengan Lo" kembali ia bergumam sambil menatap kosong ke depan
di tengah perjalanan mereka singgah di sebuah penjual air kelapa, dengan ramah penjual itu memberikan dua gelas air kelapa pada cia
"nih minum dulu" cia meletakkan air kelapa itu tepat di samping Patricia, dengan senang hati Patricia meminum air kelapa itu
"Oya kita baru kenal di ajang ini, Lo anak kelas berapa" tanya cia
__ADS_1
"gue kelas 10 IPS 2, btw thanks ya cia"
"santai aja kalik cuma hal kecil" jawab cia
"hal kecil tapi baru gue rasain di sekolah ini" cia menatap gadis itu tak di sangka ia tersenyum sangat lebar "selama ini gue gak punya teman, di kelas kalau nilai gue jelek bakal di buli habis habisan makanya gue takut" cia terdiam mendengar cerita Patricia, bahkan tidak bisa ia bayangkan cewek secantik Patricia bagaimana bisa tidak punya teman selama berbulan bunan
"lanjut lagi aja yuk itu apar gue di depan" tunjukkan pada sebuah bangunan tinggi nenmegah yang ada di sebrang jalan
saat hendak ingin menyeberang tiba tiba sebuah klakson motor menghalangi mereka, sebuah motor Scoopy putih singgah tepat di depan mereka, seorang peria yang menggunakan seragam olahraga raga SMA mereka melepas helem dan lansung menyapa mereka
"Revan.." panggil cia
"baru pulang jam berapa nih" tanya Revan bingung
"ngapain Lo di sini apartemen Lo kan bukan arah sini" dengan malas cia mengalihkan pembicaraan
"ya mau ajak pacar gue jalan dong" jawabnya sambil mengangkat kedua alisnya
"haa..." sontak Patricia kaget dan lansung menutup mulutnya, membuat cia menjadi gugup
"udah sore males banget.. gue capek"
"cia please dong temenin pacar Lo ini jalan, bentar doang" rengek Revan sambil meraih tangan cia
"enggak Van.." cia menepis tangan itu "lagian ada temen gue mau maen Lo ajak fido aja atau kak Angga deh"
"ya elah ci Lo lebih milih teman dari pada pacar Lo sendiri?" tanya Revan kesal
"iya memangnya Kenapa ?" jutek cia
Revan hanya terdiam bagaimana lagi cia bukan seperti cewek yang dia kenal ia harus terima itu
"bye.. byee pacar" cia melambaikan tangannya sambil menyebrangi jalan bersama Patricia
hingga malam tiba Patricia masih bersama cia duduk di depan tv sambil menonton acara tv yang random
"Lo gak solat ?" tanya cia
"gue Kristen cia hehe" sontak cia tersenyum kikuk sambil menggigit bibirnya padahal gak enak banget jadinya
"ohh gitu ya maaf" suasana kembali hening hanya suara TV yang menembus kesunyian
sesekali cia melihat jam dinding, selepas magrib semi memutuskan untuk membeli makanan ke luar untuk mereka bertiga, sambil menunggu cia dan Patricia hanya memakan beberapa cemilan ringan
"semi kayaknya agak lama mending Lo mandi dulu gak gerah apa, pake baju gue aja" cia berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambilkan baju
tapi di depan tv Patricia tersenyum sejenak dan mengikuti kemana cia berjalan.
setelah Patricia selesai membersihkan tubuhnya akhirnya semi tiba dengan kotak makanan yang begitu banyak dan ternyata ia tiba bersama Arka, teman satu kelasnya dan juga teman cia pastinya
"banyak banget Sem.." cia melonggo takjuk melihat makanan sebanyak itu
di meja makan mereka makan dengan di selingi candaan candaan receh yang di buat semi, begitu mereka asik makan tiba tiba suara bell ointu berbunyi
"lanjut aja biar gue yang buka" gumam cia pada semuanya sambil beranjak dari kursi
"HAYYY..." begitu cia membuka suara heboh itu lansung menusuk telinganya membuat ia meringis sambil menutup telinganya
siapa lagi kalau bukan Salma dan qisya yang selalu rame, sambil membawa beberapa paper bag yang lumayan besar mereka berdua lansung masuk tanpa menunggu perintah dari cia
"wahh pas banget lagi makan makan" kata qisya sambil meletakkan paper bag di atas meja
__ADS_1
"kebetulan ni baru aja gue sama qisya mau ngajakin Lo pada makan bareng soalnya tadi gue lupa masak nasi dari pada keluar ongkos lagi mending minta sama Lo aja ya gak" kata Salma
"eh eh tapi mejanya gak cukup duduk bawah aja Lo beduak" dengan cepat cia Landung menepis qisya yang hendak duduk di bangkunya, karena meja makannya hanya untuk kapasitas 4 orang
"tumben banget ada Patricia di sini" tanya Salma yang menyadari kehadiran Patricia, dengan malu Patricia tersenyum
"gue yang ngajak" jawab cia datar
"udah deh bawa piring masing masing makan di sofa aja biar muat" kata semi sambil sambil membawa lari piringnya dan beberapa lauk lalu semua menyusul
sambil menonton mereka makan Dengan penuh tawa mulai dari candaan semi dan Salma, menjaili Arka bahkan mengingat masa kecil yang konyol, tawa semuanya lepas
"asal kalian tau ya semi pernah jatih dari pohon jambu depan rumah gue di Bandung tapi dia itu udah jatuh sempat diam dulu baru nangis, nangisnya kenceng banget lagi"
"gue jatih gara gara Lo juga" celetuk semi sambil mengacak rambut cia
setelah selesai Salma dan qisya berpamitan pulang sedangkan Arka akan menginap karna karna sebenarnya mereka harus mengerjakan tugas sekolah
cia duduk di depan cermin sambil mengenakan masker wajah, Patricia yang duduk di tepi ranjang terus memperhatikannya
"circle Lo itu asik ya" gumam Patricia tiba tiba, sejenak cia menghasilkan tangannya tanpa menjawab ia kembali melanjutkan maskerannya
"selama di Jakarta gue takut salah pilih teman" lanjutnya
"memangnya asal Lo dari mana ?" tanya cia memutar tempat duduknya menghadap Patricia
"gue lahir di Jerman di umur 9 tahun gue pindah ikut nyokap ke kampungnya di pedalaman Sumatera dan sampai sekarang" cia mengangguk "eh ci Abang gue udah di bawah " lanjutnya setelah membaca pesan yang baru saja masuk
"biar gue antar ke bawah"
setiba keduanya di loby seorang peria yang mungkin umurnya baru 20an berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Patricia
"maaf ya dek, Abang lama" kata peria itu sambil mengusap pelan kepala Patricia
"gak papa bah aku seneng jadi ada teman" sahut cia
"cia thanks for to day" bisik Patricia, cia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan
setelah mobil hitam yang di kendarai Patricia dan abangnya tak terlihat lagi, cia ingin kembali ke atas tapi langkahnya terhenti begitu ponselnya berdering
"hallo" cia angkat bicara
"puter balik dong" suara cool yang sudah tidak asing di telinganya, begitu memutar tubuhnya ada seorang peria yang bersandar pada mobilnya di depan pintu loby sambil tersenyum padanya
tanpa berbicara ia lansung berlari menghampiri peria itu, Revan mematikan telfonnya dan berjalan mendekati cia sambil menekan pinggang
"busett" gumam Revan sambil menggelengkan kepalanya membuat cia bingung
dari ujung kaki hingga kepala Revan memperhatikan cia membuat ia tidak nyaman
"wahh mesum ni anak" canda cia sambil menyilangkan lengannya ke bahu
"heh ngawur aja, Lo liat aja diri Lo sendiri keluar cuma pake ginian" tunjuk Revan pada pakaian yang ia kenakan, tanpa bicara ia lansung melepas jaketnya dan membalurkannya di pinggang cia
bagaimana tidak, orang orang akan safok pada cia yang turun menggunakan slipeer bulu, kaos oblong tak berlengan dan celana sepaha
"jadi ngapai di sini?" tanya cia dengan lembut
"kangen, cuma mau liat pacarnya aman"jawab Revan
"besok sekolah, masuk gih gue juga mau pulang" gumam Revan, cia mengangguk senang sambil berjalan mundur ia melambaikan tangan pada pacarnya
__ADS_1