The Boy I Love

The Boy I Love
peria yang lucu


__ADS_3

"Sem kacang panjang atau buncis ?" tanya cia masih fokus pada dua jenis sayur yang ada di tangannya


"sama aja" jawab semi singkat sambil memainkan handphonenya


tanpa pikir panjang cia pun memasukan kedua jenis sayur itu ke dalam troli yang sudah lumayan banyak isinya walaupun kebanyakan isinya adalah cemilan dan makanan ringan lainnya


"brokoli yang putih atau yang hijau" tanya cia lagi


"sama aja" masih dengan posisi yang sama


"lebih enak sosis atau naget " tanya cia lagi


"sama enak"


berbagai pertanyaan yang cia katakan tap tak ada satupun pertanyaan yang di simak oleh semi, dia hanya sibuk dengan handphonenya dan game onlinenya


cia mengambil beberapa buah-buahan dan membawanya ke troli dan baru menyadari bahwa semi yang dari tadi sibu dengan handphonenya


"sem.. pir atau apel lebih enak yang mana tanya" tanya cia dengan wajah datarnya dengan posisi menghadap ke semi


"dua duanya" jawab semi singkat


dengan sedikit kesal perlahan cia mengangkat tengannya memegangi ujung troli dan senyum devilnya itu pun terlihat, tanpa di sadari oleh semi perlahan cia menarik sedikit troli dan bamm...


"cia sakittt kampret" troli tadi mengenai tepat di perut semi


pasalnya tadi troli itu cia diring kejut hingga mengenai perut semi walaupun tidak terlalu sakit bagi cia cukup untuk memberikannya pelajaran, untungnya cia masih punya hati kalau untuk menyakiti sepupu sekaligus sahabatnya itu


"Lo kira tempat Mabar apa ?" tanya cia sambil menekan pinggangnya "hallo semm.. jadi Lo mau ke mall cuma untuk Mabar" sambung cia sambil mengomel


"ya gue Betek dari dati ngekorin Lo mulu"


"siapa yang nyuruh Lo ngekorin gue, memangnya gue ada nyuruh" kata cia sambil menarik troli dan perlahan berjalan lagi


sedikit kesal semi berjalan sambil mengumpat cia, yang benar saja sepupunya itu


"tadi kan Lo bilang belajar untuk dapur berati untuk gue juga dong jadi untuk apa gue milih barang" seka semi dengan sedikit berlari mengikuti cia hingga langkah keduanya sejajar


"gue gak bilang beli untuk Lo juga, kan gue beli barang untuk gue doang"


dengan sedikit kesal semu berjalan lebih dulu dan menghentikan langkahnya sambil menghadap cia, cia pun berhenti setelah semi berhenti.


"bener bener lu ya oke gue beli barang gue sendiri" Dengan kesal semi berjalan meninggalkan cia berjalan mengambil troli satu lagi untuknya dan mengambil sembarang barang-barang yang ada di rak dengan kesal sambil mengumpat cia


"memang kelewatan tu bocah awas aja lu, Abang lo sendiri di giniin" umpat semi


sedangkan di sisi lain cia hanya tertawa kecil melihat tingkah semi yang sangat emosi padanya


"ya kalik gue makan makanan sebanyak ini sendiri" ucap cia dengan tawanya


tanpa menghiraukan semi lagi cia pun melanjutkan langkahnya mencari beberapa lagi cemilan yang wajib cia siapkan di kamar


Oya cia itu paling gak bisa ketinggalan kalau yang namanya cemilan, di kamarnya juga harus ada cemilan untuk malam. walaupun tubuhnya ramping dan seksi tapi salah satu hoby yang paling cia suka itu makan, walaupun hobynya makan tapi cia paling gak tahan kalau makan makanan yang pedas.


saat sedang berjalan santai tiba tiba langkah cia terhenti, samar samar ia mendengar seorang anak kecil yang menangis.


kembali ia melangkah mencari dari mana suara itu berasal, sambil mendorong trolinya cia melihat kanan kiri terus menerus sampai langkahnya terhenti seketika


"Deva jangan nangis ya mama lagi ke toilet" ucap seorang peria


dari jarak beberapa meter cia mengamati pemandangan itu, dua peria yang duduk jongkok dengan seorang anak perempuan yang mungkin usianya 2 atau 3 tahun, satu peria menggunakan baju berwarna merah dan satunya menggunakan baju berwarna hitam


"Deva mau apa ntar Abang beliin deh" ucap peria yang menggunakan baju hitam


sambil memandangi ketiga orang itu dari kejauhan, pandangan cia terus tertuju laki laki yang mengenakan baju merah


"kok kayak gak asing sih tu cowok " batin cia


"ni Abang ada permen untuk Deva deh" kata peria berbaju merah


sejenak cia tersenyum melihat ketiganya, peria yang lucu, batin cia


"gak mau Deva mau mana" Isak anak kecil bernama Deva itu


"mana lagi ke toilet bentar doang kok" ucap peria berbaju hitam sambil mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut


"Deva kok malah nangis" tiba tiba seorang wanita setengah baya datang dengan sedikit tergesa-gesa


"mama kemana aja" Ical Deva kecil sedikit keras sambil berlari lalu memeluk wanita itu

__ADS_1


"mama cuma ke toilet sayang" ucap wanita itu sambil mengecup puncak kepala anaknya "aduh Angga jadi ngerepotin nih" lanjut wanita itu pada kedua peria itu


"enggak kok buk, mungkin Deva takut di tinggal di tempat yang ramai kayak gini " Jawab peria berbaju merah


Angga, baru cia bisa mengingat dengan jelas ya benar itu adalah kak Angga ketua OSIS di sekolah barunya, tapi jika peria yang satunya ia sama sekali tak mengenalnya saat di sekolah pun cia tidak pernah melihatnya, mungkin saja temannya yang beda sekolah


sejenak cia mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan langkahnya


dret.. dret.. dret...


setelah menyadari handphone berbunyi ia berhenti sejenak untuk mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya


'semi' gumamnya pelan


"kenapa lagi ni anak" gumam cia pelan


"hallo Sem apaan lagi sih" tanya cia kembali mendorong trolinya


"gue di dekat kasir ni buruan bosen gue nungguin lo" kata semi dari sebrang sana


"iya iya gue kesana sekarang" jawab cia


setelah kematian telfonnya cia pun berjalan memutar balik untuk kembali ke depan


dari jarak beberapa meter semi sudah terlihat dengan trolinya yang sudah banyak terisi, dan terlihat jelas apa saja yang sudah di beli oleh semi.


"yang bener aja lu belanja ginian" tanya cia sedikit sedikit tak percaya.


ya bagaimana tidak cia kaget kalau yang di belinya Kebanyakan mie instan hanya satu minyak rambut satu garfum dan satu kotak masker wajah


"Lo gila makan mie instan sebanyak ini" ucap cia berjalan mendekati sepupunya itu


"kalau ko malas masak kan gue gak perlu pesan gofood" jawab semi sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"terserah lo" ketus cia berlalu meninggalkan semi berjalan menuju meja kasir. sambil mengikuti butut cia, semi hanya tertawa kecil


_____


malam tiba semua barang-barang yang di beli semua sudah rapi tersusun, sejenak cia melirik jam tangannya, sudah memasuki waktu isya ia pun berjalan ke kamarnya untuk menunaikan sholat isya.


setelah selesai sholat cia duduk di meja belajarnya membuka laptopnya, mata nya terus tertuju pada wallpaper yang ada di laptopnya, sebuah foto dimana di dalam foto itu cia yang terlihat sangat bahagia dengan senyumnya yang lebar bersama seorang lelaki yang juga tersenyum menghadap ke kamera


melihat handphonenya yang terletak di samping laptop cia pun meraihnya, menggeser geser layarnya mencari kontak Renaldi


'maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk' hanya terdengar suara operator yang menjawab


ia pun beralih ke WhatsApp berniat mengirimkan pesan, jika Renaldi sedang sibuk pasti ia akan membacanya setelah bembuka WhatsAppnya


ecia : kamu kemana aja kalau udah baca chat ini telfon aku ya' kira kira seperti itu lah pesan yang cia kirim kepada Renaldi


beberapa menit cia menunggu balasan tapi sama sekali tak ada balasan bahkan hanya centang satu


"kamu kemana aja sih ren" batin cia


cia pun beralih ke ranjang, di sana ia merebahkan tubuhnya sambil menghela nafasnya. di pandanginya langit langit kamarnya


tred.. tred.. tred.. suara handphonenya berbunyi


"Renaldi" gumamnya cepat, dengan crpat ia bangkit dari ranjang dan langsung meraih handphonenya


namun setelah melihat siapa yang memanggil membuat cia sedikit kecewa ternyata itu bukan Renaldi. cia pun menekan tombol berwarna hijau untuk mengangkat panggilan video itu


"Hay.. gusy.." sapa cia kepada tiga sahabatnya itu


sila, rindi dan kyara adalah tiga sahabat cia sama seperti cessa dan Putri. ketiga sahabatnya itu hanya melanjutkan sekolah di Bandung


sila udah temenan dengan cia dari kecil usianya lebih tua setahun dari cia tapi pemikirannya masih sama aja kayak bocah pikirannya cetek walaupun begitu orangnya baik banget


rindi cantik modis fan paling pandai bicara suka debat dan sering memenangkan lomba debat antar organisasi ataupun olimpiade dari covernya aja nampak kalem padahal hobi berantem juga


kyara paling muda, paling cetek, paling pinter, paling Magetan, paling gak pernah pacaran tapi bukan karna gak laku karna dianya aja yang paling gak suka di deketin sama cowok seleranya terlalu tinggi, btw sekarang kyara sekolah di Amsterdam dan tinggal bersama keluarganya di sana


"apa kabarnya yang di Jakarta" ucap salah satu dari mereka


"Alhamdulillah gue baik" jawab cia


"gimana ci sekolah di Jakarta ?" tanya rindi


"sama aja sih, tapi gue cessa Ama putri beda kelas jadi gak seru" usap cia sambil memindahkan posisinya menjadi tiarap di ranjang

__ADS_1


"gimana cogan di sana" tanya sila iseng


"sama aja sih gak ada yang gimana gimana juga" jawab cia


"gak ada niat mau cari cogan Jakarta ni ci" goda kyara


"ya enggak lah gue kan ada Renaldi untuk apa nyari lagi" mendengar penuturan dari cia sontak ketiga sahabatnya itu langsung terdiam


cia yang menyadari itu pun langsung merasa bingung dan langsung menanyakan apa yang terjadi


"why.. kenapa.." tanya cia bingung


"guys.. ntar lanjut lagi, nyokap gue manggil" setelah berpamitan segera kyara mematikan video call mereka berempat


"guys adek gue nangis ntar ya" begitu juga dengan sila Setelah berpamitan segera ia mematikan video call mereka


dan kini hanya tersisa cia dan rindi, perlahan dengan rasa campur aduk cia memberanikan dirinya untuk bertanya tentang Renaldi


"gue kurang tau ci dia kayak gimana soalnya gue sama dia beda sekolah" jawab rindi "gue kira Lo udah putus sama Renaldi" sambung rindi lagi


cia tertawa kecil "putus memangnya ada masalah apa" kata cia dengan tawa kecilnya


sedangkan rindi hanya tersenyum getir mendengar ucapan cia, sebenarnya rindi ingin menceritakan apa yang pernah ia lihat


flashback


rindi berjalan dengan sedikit kesusaha sambil membawa barang belanjaan yang sedikit kesusahan


"ma rindi ngatar ini ke mobil dulu ya" ucap rindi sambil membawa beberapa kantong belanjaan yang penuh Dengan sayuran dan beberapa barang belanjaan mama rindi


" mama tunggu di sana ya" tunju mama rindi pada sebuah perbelanjaan pakayan


setelah beberapa menit berjalan akhirnya rindi tiba di parkiran bawah. ia pun memasukan satu persatu barang yang mereka beli ke dalam bagasi mobil.


tappp.. suara pintu bagasi di tutup


"eh.. akhirnya, berat baget sih" ucap rindi


setelah mengunci bagasi mobilnya rindi pun berjalan kembali memasuki mall. sambil berjalan sesekali rindi memainkan handphonenya membalas chat dari teman temannya sesekali ia tertawa kecil melihat candaan cia dan teman temannya yang lain, tiba tiba..


"iya sayang iya" kata seorang peria


seketika langkah rindi menjadi sangat lambat sambil menolehkan kepalanya ke arah di mana suara itu berasal


suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya membuat rindi tersentak saat ia menoleh kesamping karena benar saja itu adalah suara Renaldi teman sekaligus pacar dari sahabatnya yaitu cia


sambil berjalan dengan merangkulkan tangannya pada pundak seorang wanita yang sama sekali tidak rindi kenal


"kok Renaldi manggil tu cewek pake sayang sayangan sih" ucap rindi dalam batinnya


seketika muncul niat untuk mengikuti Renald, akhirnya rindi pun berjalan mengikuti mereka hingga mereka tiba sebuat penjual ice creame


"kamu mau apa lagi sayang ?" tanya Renaldi pada gadis di sebelahnya


"kita makan aja ya sayang" ajak gadis itu


"apa aja untuk kamu" gombal Renaldi


"makasih sayang" kata wanita itu sambil memeluk Renaldi


tanpa mereka sadari diam diam rindi merekam kejadian itu dan mengirimkannya pada sila dan kyara, rindi yang melihat keduanya timbul banyak pertanyaan dalam fikirannya, apa kah renaldi dan cia sudah putus ?, tapi seingatnya mereka jarang bertangkar apa kah renaldi selingkuh ?


tapi kembali rindi menepis pikiran itu berfikir positif dan meningkatkan tempat itu menemui mamanya.


flashback off


"Rin.. rindi kok Lo diem sih" tanya cia


rindi menggelengkan kepalanya pelan karena cia yang dari tadi memanggilnya membuat lamunannya buyar


"eh sorry ci kepala gue agak pusing soalnya, mungkin kecapean" bohong cia


karna cuma dengan cara berbohong seperti ini rindi bisa mengalihkan pembicaraan nya dengan cia tentang Renaldi, karena rindi tak ingin menyakiti perasaan sahabatnya itu, walaupun ia tau kalau sebelumnya cepat atau lambat cia pasti akan mengetahui semuanya


"Lo sakit Rin?" tanya cia cemas


"gak tau nih cumu agak gak enak badan aja" ucap rindi sambil memijat kepalanya yang tak sakit


"ya udah Lo istirahat aja, daa assalamualaikum" setelah di jawab oleh rindi cia segera mematikan video call mereka sedangkan di sisi lain rindi bisa bernafas lega untuk sementara karena bisa menghindar kali ini

__ADS_1


__ADS_2