
pukul setengah lima pagi, semalaman Salma menemani cia mengobrol sampai pukul tiga pagi, karena kelelahan Salma tertidur di ranjang sebelah yang sudah di siapkan sedangkan Revan tertidur di sofa
rumah sakit masih sangat sepi cia terbangun beberapa kali mengerjakan matanya semua masih tertidur, ia bangkit dan melirik jam, tenggorokannya toilet terlebih dahulu tapi begitu ia membuka selimutnya matanya terbelalak bahkan kemerahan itu belum hilang, karena sudah kebelet tanpa pikir panjang cia pergi ke toilet, lantai begitu dingin karena sejak awal cia tiba di rumah sakit ia tidak menggunakan alas kaki
begitu keluar dari toilet ia terus memegangi dadanya nafasnya terdengar memburu, segerabia meneguk segelas air dan kembali berbaring karena nafasnya semakin memburu membuat ia terus memegangi dadanya hingga hampir 15 menit berlalu nafasnya semakin sesak membuatnya susah bernafas
di sisi lain semi baru saja tiba di Bali sambil menelfon cia dan Salma tapi tidak ada yang mengangkat, sebelum ia berangkat ke Bali ia sempat menyewa mobil keluarga untuk pergi ke bali
"cia gak aktif Salma gak di angkat jadi kemana gue nyari mereka lagi" gumam semi bingung lalu melirik sebentar kesampingkannya, kucing kecil milik cia yang duduk disebelahnya
tiba tiba ia ingat sesuatu dan segera mengeluarkan ponsel satunya lagi, untungnya ia mengerti sedikit tentang IT dan lansung mengutak-atik ponselnya melacak keberadaan ponsel Salma sambil melaju
di rumah sakit cia semakin tidak bisa bernafas hingga setengah jam berlalu, tubuhnya semakin memerah
tak butuh waktu lama mobil yang ia kendarai sudah tiba di rumah sakit, setelah bertanya pada resepsionis ia berlari menuju kamar yang di beri taukan
___
saat membalikan badan pandangan Revan lansung tertuju pada cia yang sedang susah bernafas dan terus menepuk dadanya
"CIAA.." teriaknya dan lansung berlari dan memeluk cia begitu Revan menarik selimutnya bercak merah di tubuhnya semakin banyak dan membuatnya panik
"SALMAA.. SALMA..BANGUN" Salma terbangun begitu mendengar teriakan itu dan lansung panik begitu melihat cia yang sekarat "panggil dokter cepetan" perintah Revan
tak butuh waktu lama beberapa doker datang di sertai beberapa perawat setelah di periksa dokter Wildan menatap rekan kerjanya lalu mengangguk dengan tatapan serius
"kami harus membawa cia ke ruangan ICU untuk perawatan lebih lanjut" kata dokter Wildan pada Revan dan Salma yang masih sangat panik
dengan terburu buru dokter Wildan masangkan tabung oksigen dan berlari membawa bed cia
"permisi permisi" semua orang yang sedang melintas lansung menepi
"cia" gumam semi lirih ketika melihat para dokter yang terburu buru membawa tubuh lemah itu dan diikuti Salma dan Revan dari belakang
Revan ikut menyusul walaupun dadanya semakin sesak melihat cia yang terbaring tak sadarkan diri dengan di bantu oleh tabung oksigen
"maaf silahkan tunggu di sini" seorang perawat menghentikan langkah mereka lalu meninggalkan mereka di luar ruangan
"Salma" panggil semi yang berlari menghampiri mereka
semi menatap keduanya tapi tapi tak satupun yang berani menatap wajah semi, Revan yang duduk dan terus saja menunduk sedangkan Salma, semi tau kalau saat ini ia berusaha menahan tangisnya
"kenapa cia bisa begini" tanya semi lirih
mendengar pertanyaan semi kini suara tangisnya pecah tak mampu di bendung, sambil terduduk di bangku ia menangis tersedu-sedu dan terus menyalahkan dirinya
"kalau Waktu itu gue gak biarin cia pergi sendiri cia gak bakal begini, dan gue udah janji sama Lo Sem tapi gue gak bisa nepatin janji gue"
"cia sakit apa, gak mungkin kalau dia kecapean sampai begini" batin Revan sambil menatap pintu ICU
semi berdiri di hadapan Salma yang masih meluapkan air matanya, perlahan mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Salma
sudah hampir setengah hari tapi cia masih belum diizinkan keluar dari ruang ICU, dari balik pintu kaca itu terlihat sosok yang dari tadi terus menatap kedalam, melihat tubuh lemah yang belum sadarkan diri
"gue janji ci gue akan selalu jagain Lo, dan gak akan kejadian ini terulang" gumam Revan lirih
bahkan dari pagi Revan belum mandi dan makan apapun, hanya mondar mandir di depan pintu menunggu kabar baik dari cia
____
__ADS_1
di lain tempat Salma dan semi tiba di sebuah wartek untuk membeli makan siang sekalian singgah ke hotel untuk check in menginap sampai cia bisa keluar dari rumah sakit
"Lo yakin makan di sini" ucap Salma sambil memangku kucing kecil milik cia
"iya lah memangnya kenapa ?" tanya semi bingung "Lo gak suka makan di tempat ginian" tanya semi sekali lagi
"engga gitu, malahan gue kira Lo gak bakal mau mqkan di tempat ginian secara kan Lo itu anak pengusaha kemana mana aja pake mobil sport, gue mah udah biasa" tanpa mendengarkan perkataan Salma Revan lansung keluar dari mobil menuju wartek tersebut "eh main cabut aja" celoteh Salma sambil mengikuti semi
"Lo banyak bacot" kata semi begitu Salma di sampingnya "buk paket lengkap ya sama air putih dingin" pinta semi pada ibu penjual nasi
dengan kesal Salma duduk di depan semi dengan tatap tajam "ni orang lama lama ngeselin" batin Salma
"Lo mau makan atau nerkam gue gitu amat ngeliatnya" ucap semi datar sambil menatap layar ponselnya, tanpa panjang lebar Salma hanya berdecak kesal sambil memesan makanan
"Bu sama paket lengkap"
"silahkan di santap" ibu pemilik wartek mengantarkan pesanan Salma dan semi
"Oya mbok pesan satu lagi di bungkus ya" ucap Salma
"siap" jawab penjaga warteg
sambil menyantap hidangan di atas meja tiba tiba Salma teringat kalau hari ini peserta Scout camping akan kembali ke Jakarta
"Oya Sem antar gue ke pantai ya masih ada barang gue dan barang cia di sana" tanpa menjawab seni hanya mengangguk sambil terfokus pada makanannya
setelah makan sesuai rute mereka pergi ke pantai untuk mengambil barang sekalian perpisahan dengan pak Agus dan siswa yang lain karena mereka akan pulang ke Jakarta
"daaa..." Salma melambaikan pada semua tan teman yang sudah berada di dalam bus
"saya percaya sama kamu semi, jaga adikmu sampai cia bisa kumpul lagi disini" pak Agus menepuk sebelah pundak semi dengan sedikit berbisik
pak Agus mengangguk dengan dan sedikit menyunggingkan bibirnya, tak lama kemudian bus itu berangkat Salma dan semi kembali ke mobil
"hayy Kim" sapa Salma pada Kimi yang duduk di bangkunya
keduanya kembali ke hotel untuk menaruh barang barang terlebih dahulu dan membawa kimi pulang karna setelah perjalanan itu pasti membuat Kimi kelelahan
selama perjalanan menuju rumah sakit tak ada percakapan penting di antara keduanya, semi terus fokus pada jalanan tapi di pikiran Salma banyak pertanyaan yang timbul begitu saja, sesekali ia melirik ke samping tapi setiap ingin bertanya ia kembali gugup, kembali ia uring-uringan tak jelas
"mau nanya tanya aja, kayak gue makan orang aja" suara dingin itu terdengar membuat Salma lansung tersentak
"ehhee.." ia menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Sem.." panggilnya pelan "Lo tau Salma sakit apa?" memberanikan diri ia akhirnya bertanya
"tau" dengan santai ia menjawab
"Lo tau tapi Lo gak pernah bilang dan Lo gak ngelarang dia untuk pergi"
"apa hak Lo sampai gue harus cerita sama Lo"jawab semi ketua "lagian gue gak akan ngekang cia apapun kegiatan yang bikin dia senang" lanjut semi, lalu keduanya kembali hening tapi di kepala Salma masih sangat ribut ia cemas, khawatir tapi juga penasaran dengan penyakit itu
"sejak kapan cia sakit?" tanya Salma pelansambil menunduk
"dari SD, gue juga gak tau gimana awalnya dia bisa sakit, nyokap bilang dia lahir perematur dan punya jantung lemah bawaan" tutur kata semi perlahan menjadi lembut, Salma menatapnya iba "dokter di Bandung bilang kalau cia gak fokus pada pengobatannya akan bahaya untuk kesehatannya" lanjut semi
"gue gak nyangka cia begini kasian banget" gumam Salma sambil menatap kosong kedepan
"eh tunggu cia gak butuh kasian dari Lo, dia gak suka di kasihani asal Lo tau cia tu anak yang kuat buktinya dia mampu bertahan selama ini" ucap semi tegas
__ADS_1
di rumah sakit Revan masih setia berdiri di balik pintu kokoh itu sambil melihat perkembangan cia dari luar walaupun tak ada tanda apapun
"masih terngiang di kepala gue gimana Lo ketawa" ucapnya lirih
tanpa sengaja dokter Wildan lewat sambil membaya setumpuk kertas yang berisi laporan pasien, karena penasaran Revan lansung menghampirinya
"dokter saya mau bicara" sekilas dokter Wildan melirik ruangan di tempat cia sekarang, dokter tersenyum hambar laku mengangguk
mereka berdua pergi keruangan dokter wildan, sembari mempersilahkan Revan masuk dokter Wildan mengambil sebuah berkas putih yang ada dibenak bukunya
"sebenarnya cia kenapa dok ?" tanya Revan penasaran
"jadi kamu belum tau ?" tanya dokter bingung
"katanya cia kecapean kenapa sampai masuk ICU"
" cia menderita anafilaksis penyakit langka yang sangat sedikit di temui di Indonesia" sontak Revan diam mematung rasanya seperti ada petir yang menyambar, suaranya seolah terkunci sambil melonggo kaget "saya sudah sampaikan ini semua pada teman cia yang perempuannya, saya harap orang tua pasien bisa segera menemui saya"
setelah keluar dari ruangan dokter Wildan Revan lansung mengeluarkan ponselnya untuk browsing di internet mencari tau tentang penyakit cia
"apa itu anafilaksis"
mata Revan membulat sempurna bahkan ia syok sampai terduduk di bangku di depan ruangan tersebut begitu melihat berbagai informasi dan berita tentang penyakit cia mulai terungkap
____
pukul tiga siang setelah selesai sholat ashar Revan masih berada di hotel bersama semi, sambil menunggu semi selesai mandi Revan berbaring di ranjang sambil memejamkan matanya rasanya hari ini begitu panjang
dredd.. dredd.. dreddd.. ponsel yang ada di atas meja berbunyi revan bangkit melihat ponselnya ada di sampingnya
"semm.. handphone Lo bunyi tuh" teriak revan
"dari siapa" tanya semi diselingi dengan suara air yang mengalir dari shower, Revan berjalan mendekati meja
"Salma"
"angkat aja" teriak semi
"Sem... cia udah siuman dan sekarang lagi di priksa dokter" kata Salma dengan kegirangan
"apa cia udah sadar ?" tanya Revan saking gembiranya
"Revan? Semi mana eh tapi buruan deh ke sini cia Uda siuman sekarang"
"Alhamdulillah ya Allah" gumam Revan bersyukur "tu gue dan semi tiba Disana gak pake lama" setelah mematikan telfonnya Revan berlari ke kamar manggrdor semi yang baru saja selesai mandi
"semm buruan cia udah siuman" desak Revan
"serius lo, siapin mobil tunggu gue gak bakal lama" keduanya lansung berlari Revan berlari ke bawah sedangkan semi berlari keruang ganti
____
kini cia sudah di pindahkan keruangan inap karena respon tubuhnya mengalami peningkatan yang positif, sampai di depan ruangan Revan dan semi lanung masuk dan semi lansung mendekapnya
"Sem Lo ada di sini" gumam cia pelan
"gue dengar Lo masuk rumah sakit lansung kesini"
"emmm di mana lagi gue dapat Abang kayak lu" kata cia dengan manja, Revan di buat tersenyum olehnya
__ADS_1