The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 100. Apa lagi?


__ADS_3

Kabar tentang pernikahan Arthur dan Sierra meledak langsung ke publik. Baik itu surat kabar, stasiun televisi dan media online, semua membicarakan tentang pernikahan mereka yang dilangsungkan di Bali.


Dan tiba tiba, foto foto pernikahan mereka pun beredar. Siapa lagi pelakunya, tentunya Arthur yang menugaskan Malvin untuk menyebar foto pernikahan itu. Dan kabar itu bahkan sampai ke telinga Carine yang berada di dalam penjara.


" Bagus, dengan begini.. Dunia akan tahu, Sierra adalah miliku.. dia Istri Arthur Edward." Gumam Arthur senang.


Daniel pun melihat foto foto pernikahan itu, dimana rupanya Sierra terlihat begitu cantik dan bahagia. Ia kian menyadari, bahwa dirinya tak pernah bisa membuat Sierra tersenyum sedikitpun.


"UHUK!! UHUK!! UHUK!! Hemm... Apakah sampai aku mati pun tidak akan sedikitpun mendapat maaf darinya?" Gumam Daniel.


Semakin hari, entah mengapa kondisi Daniel semakin parah. Ia yang semula sehat sehat saja, tiba tiba terserang batuk. Bahkan kini pengelihatannya pun rabun. Padahal Daniel tidak pernah memiliki riwayat sakit sebelumnya, ia hanya mengalami darah tinggi. Itu pun dia sudah mengontrol makanannya.


" Tuan, lebih baik anda ke rumah sakit untuk memeriksakan diri." Ucap Tio yang kini menjadi asisten Daniel.


" Aku tidak memiliki riwayat apapun, ini hanya batuk biasa." Ucap Daniel.


" Tuan, jika itu hanya batuk biasa mana mungkin sampai keluar darah. Tolong tuan, periksakan diri anda ke dokter." Ucap Tio, khawatir.


" Ya.. ya.. Nanti aku periksa ke dokter." Ucap Daniel.


" Tuan, apakah anda tidak mencurigai tuan Vian? Saya mengingatnya, sejak anda sering meminum teh buatannya, anda menjadi lemah seperti ini." Ucap Tio.


" Beraninya menjelekan dia! Dia adalah putra adikku, mana mungkin dia berbuat demikian. Pergilah, aku ingin beristirahat." Ucap Daniel, marah.


" Maaf, tuan. Kalau begitu beristirahatlah, saya pamit." Ucap Tio, menunduk.


' Aku akan menyelidiki pria itu, aku yakin kedatangannya memiliki maksud tersembunyi.' Batin Tio.


Daniel mengambil obat di lacinya, lalu ia menelan obat itu. Kemudian saat ia hendak bangun, entah mengapa kedua kakinya menjadi sangat lemah, ia pun terjatuh.


BRUK! BRAK!


Mendengar suara keras dari arah kamar tuannya, Tio pun kembali masuk, dan terkejut mendapati Daniel terkapar tak sadarkan diri.


" TUAN!" Teriak Tio, panik.


" Panggil dokter, cepat!!" Teriaknya lagi.


Dengan susah payah, Tio mengangkat Daniel ke atas ranjangnya. Rupanya pelipis Daniel berdarah, sepertinya ia terpentok ujung meja yang tajam.


Tak lama Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Daniel. Dokter bahkan terkejut, karena Daniel terlihat sakit sakitan. Padahal belum lama Daniel memeriksakan tensi darahnya, dan terlihat baik baik saja.


" Kenapa tuan Daniel bisa terkihat se memprihatinkan ini?" Tanya Dokter.


" Saya tidak tahu, Dok. Tiba tiba dalam waktu semingguan ini, kondisinya kian memburuk." Ucap Tio.


Dokter hanya menggeleng geleng, dokter mengira mungkin Daniel merokok karena stres, san menjadikan dirinya batuk batuk.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter, dan Tio pun mengangguk.


Tio pun ikut keluar tak lama setelah Dokter keluar. Tio menjadi asisten Daniel, karena Daniel tak mudah percaya dengan orang baru. Sejak Asistennya terbunuh oleh Arthur, ia menjadikan Tio sebagai asistennya.


Tio memasuki ruangannya, ia mengambil ponsel lamanya dan menghubungi Sierra.


" Halo.. Nona, bisakah kita bertemu?" Ucap Tio.


"...."


" Tidak, nona. Hanya saya, saya berjanji." Ucap Tio.


" ... ...."


" Baik, terimakasih nona." Ucap Tio. Dan panggilan di akhiri.


" Biar bagaimanapun, nona harus tahu kondisi tuan." Ucap Tio.


_______________________


Esok harinya, Sierra dan Arthur melakukan pengecekan gedung yang akan menjadi tempat resepsi pernikahannya. Gedung itu adalah Hotel mewah milik keluarga Edward.


" Bagaimana nyonya? Apakah semuanya sudah sesuai?" Ucap WO.


" Ini bagus.. " Ucap Sierra.


" Baik, jika nyonya menyukainya maka kami akan meneruskan semuanya supaya besok selesai." Ucap WO, mengulurkan tangan.


" Baik, terimakasih." Ucap Sierra menjabat tangan WO itu.


Sierra pun pergi dari sana dan menghampiri Arthur yang saat ini sedang duduk dan berkutat dengan laptopnya.


" Sudah selesai sayang? " Tanya Arthur, sambil menutup laptopnya.


" Sudah.. Oiya, aku memiliki janji temu dengan paman Tio, apakah kamu keberatan jika aku bertemu dengannya disini?" Tanya Sierra.


" Tidak sama sekali, panggil saja dia." Ucap Arthur.


" Tapi kamu jangan muncul, jika ada kamu.. dia pasti tidak akan berani berkata banyak." Ucap Sierra.


" Hmmm.. baiklah, aku akan menunggumu tak jauh dari kalian." Ucap Arthur, setelah menimbang nimbang.


"Oke, aku akan panggil dia." Ucap Sierra, sambil mengirimkan pesan pada Tio.


Mereka pun turun ke bawah menggunakan lift. Dan sesampainya di bawah, Arthur menunggu di sofa yang tak jauh dari istrinya itu. Berhubung sofa disana besar dan tinggi, jadi tidak terlihat bahwa ada Arthur disana.


Sierra pun menunggu, dan tak lama Tio sungguhan datang dengan stelan jas formal. Sebuah pemabdangan baru bagi Sierra melihat Tio begitu rapi, pasalnya Tio hanya seorang menjaga kandang dan tukang kebun di kediaman Leon.

__ADS_1


" Paman, kau terlihat keren dengan jas itu." Ucap Sierra.


" Ah, benarkah? Terimakasih nona. " Ucap Tio kikuk sendiri.


" Ada apa paman?" Ucap Sierra.


" Nona.. Tuan sakit parah." Ucap Tio dengan mengumpulkan keberaniannya.


DEG.


Sierra terkejut, namun menyembunyikan keterkejutannya itu.


" Lalu? Dia bisa ke dokter sendiri paman, kenapa paman justru datang padaku." Ucap Sierra.


" Tapi.. "


" Dia tidak ada hubungannya denganku paman. Bukankah paman juga tahu sendiri?" Ucap Sierra datar, memotong ucapan Tio.


" Sungguh nona, saya tidak mengerti dengan kondisinya akhir akhir ini. Dia begitu berbeda dengan tuan Daniel yang selalu sehat biasanya." Ucap Tio.


" Paman, bukankah usia mempengaruhi kesehatan seseorang? Mungkin karena dia sudah tua jadi dia sakit sakitan. Bawa saja dia ke dokter." Ucap Sierra.


Tio menunduk, dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk membujuk Sierra agar menengok kondisi Daniel. Tio berada dalam dilema saat ini.


" Nona.. Jika beliau tiada.. apakah nona tidak akan bersedih?" Ucap Tio.


Sierra diam, kenyataan bahwa Daniel adalah ayah kandungnya tidak bisa di pungkiri. Sejauh mana dia pergi, nama Daniel pasti selalu tersemat di dalam kehidupannya, karena Daniel adalah ayahnya.


" Tidak." Ucap Sierra.


" Dia sudah terlalu lama menyakitiku, dan mengambil terlalu banyak kebahagiaanku. Jika dia mati maka.. itu takdirnya." Ucap Sierra.


" Demi Tuhan, Sierra.. Sejahat jahatnya dia, dia ayahmu. Apakah kau tidak curiga sama sekali dengan semua ini? Dia sudah menyerah terhadapmu dan tinggal di kota K, tetapi setelah kedatangan tuan Bernard, dia kembali berambisi terhadapmu. Paman yakin ini adalah konspirasi.." Ucap Tio tidak formal.


" Tolong paman Sierra, jika kamu tidak peduli pada ayahmu, maka biar paman yang merawatnya nanti. Tetapi tolong ungkapkan kebenaran tentang Bernard dan putranya, Vian. Agar ayahmu tersadar, Bernard bukan orang baik. Sierra Ini.." Ucap Tio memberikan dua plastik kecil berisi sebutir obat dan teh tehan.


" Tolong selidiki ini, paman sangat yakin didalamnya mengandung sesuatu. Tuan Daniel menjadi pesakitan setelah mengonsumsi itu." Ucap Tio.


" Paman permisi Sierra, waktu paman hanya sebentar, karena ayahmu juga saat ini tengah berada di kursi roda." Ucap Tio, lalu pergi dari sana dengan terburu buru.


Sierra tertegun mendengarnya, ia juga menatap kedua plastik kecil yang Tio berikan kepadanya dengan tatapan tak bisa diartikan.


" Kamu baik baik saja, sayang." Ucap Arthur yang menyentuh bahu Sierra.


" Apa lagi ini, Arthur?" Ucap Sierra.


" Biar aku yang tangani ini.. Kamu jangan terlalu memikirkannya. " Ucap Arthur mengusap tangan Sierra yang terasa dingin.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2