
Arthur tengah merekam apa yang dilakukan Sierra menggunakan ponselnya, Sierra terlihat sangat lucu saat ini. Ia tengah dalam kebingungan membaca petunjuk memasang pohon Natal yang mereka beli siang tadi.
" Sayang, lihat kemari." Ucap Arthur.
" Astaga.. Kamu merekamku?" Ucap Sierra tidak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya itu.
" Oh, sayang.. Bagaimana kalau kita bawa Hwan masuk?" Ucap Sierra.
" Dia rusuh, kamu yakin mau mengeluarkannya." Ucap Arthur.
" Ehm.." Sahut Sierra mengangguk.
Arthur menyudahi kegiatan merekamnya, lalu meletakan ponselnya di meja.
" Kita pasang pohon Natalnya dulu, baru kita keluarkan Hwan. Dia akan memakan semua bola bola Natal ini jika dia disini." Ucap Arthur.
" Hahahaha.." Tawa Sierra pecah, seketika di otaknya saat ini muncul gambaran Hwan yang membuat onar dengan memakan bola bola Natal.
Akhirnya Arthur membaca panduan memasang pohon Natal besar itu, dan mempraktekannya. Seorang Arthur Edward memasang pohon Natalnya sendiri di bantu calon istri tercintanya. Hingga setelah dua jam lamanya, mereka pun selesai dengan pohon Natal itu.
" Huft.. Rupanya memasang ini bisa menghabiskan waktu begitu lama." Ucap Sierra.
" Nah, sekarang kita bisa mengeluarkan Hwan." Ucap Arthur.
" Biar aku yang keluarkan dia." Ucap Sierra antusias.
Sierra berlari ke halaman belakang rumah Arthur dan melihat Hwan yang sedang tertidur di dekat pagar besi. Sierra mengendap endap dan berdiri persis di belakang Hwan, Ia mendekatkan telinganya lalu berbisik.
" Hwannn..."
"GRAORR!!" hwan terkejut hingga lompat dari tidurnya. Mungkin jika Hwan manusia, dia bisa jantungan.
Hwan sudah semakin terlihat besar, bulu bulu di sekitar kepalanya sudah semakin panjang dan lebat. Dia sudah terlihat 100% sempurna menjadi singa jantan sang penguasa hutan.
" Hei! Beraninya mengaum padaku." Ucap Sierra.
Takhta Hwan sebagai raja hutan sepertinya benar benar hancur begitu saja dengan sekali jitakan Sierra. Hwan langsung menciut jika Sierra menjitaknya.
" Hwan, kemari.!" ucap Sierra.
" Kya.. Aku sangat merindukanmu, kita akan bermain bersama." Ucap Sierra sambil mengacak acak bulu Hwan.
Seakan senang di perlakukan seperti itu, Hwan mengusel pada Sierra.
" Good boy.. Good boy.. Kamu suka aku usap ya." Ucap Sierra sambil mengacak bulu Hwan.
" Sayang.. Apa yang kamu lakukan, kamu bilang mau membawa Hwan masuk." Ucap Arthur.
Arthur begitu kesal melihat Sierra mengusap usap Hwan begitu gemas. Awalnya ia merasa pemandangan itu lucu, tapi semakin lama dia kesal sendiri melihatnya.
' Hwan jantan, jika dia manusia itu berarti dia laki laki. Aku tidak mau Sierra lebih menyayangi Hwan.' Batin Arthur.
__ADS_1
" Hwan, ayo.. Ayahmu memanggil." Ucap Sierra.
Mendengar itu rasa kesal Arthur tiba tiba hilang. Kata kata Sierra bagai seorang ibu yang tengah memberitahu anaknya bahwa ayahnya memanggil.
' Ayah.. kelak aku akan menjadi ayah dari anak anakku bersama Sierra.' Batinnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
" Nah, kita masuk kerumah. Ini rumah ayahmu, kamu jangan membuat kerusuhan, oke!?" Ucap Sierra.
Singa bernama Hwan yang baru masuk kedalam rumah Arthur pun nampak begitu antusias. Nakuri hewannya benar benar tak bisa di kendalikan saat melihat berbagai benda asing. Menurutnya mungkin itu adalah hal yang mrnarik.
" Hwaannnn..." Ucap Sierra, ketika melihat Hwan menggigit kaki meja di ruang tamu. Hwan pun berjalan kearah lain.
" Lihat dia, dia begitu senang masuk kedalam rumah." Ucap Arthur, sembari memeluk Sierra dari belakang.
" Dia sangat antusias, Hwan!! Aku pukul kepalamu jika kau menggigit pohon Natal ibu!" Teriak Sierra ketika melihat Hwan hendak menggigit bola hiasan.
Arthur terkekeh melihat begitu galaknya Sierra memarahi Hwan. Hwan pun menciut dibuatnya. Arthur jadi membayangkan kelak ketika dirinya sudah memiliki anak, mungkin sifat cerewet Sierra akan keluar.
" Aku jadi tidak sabar ingin segera memiliki anak denganmu sayang." Ucap Arthur.
Sierra memerah mendengar itu, bisa bisanya Arthur berkata demikian. Anak.. Ya, adanya pernikahan pasti akan ada hadirnya seorang anak yang akan melengkapi perjalanan rumah tangga mereka.
" Kurang dari dua minggu lagi kita akan menikah, aku sungguh sudsh tidak sabar melihatmu menjadi pengantinku, menjadi istri Arthur Edward." Ucap Arthur lagi.
" Setelah menikah nanti, aku harap kamu akan tetap mencintaiku." Ucap Sierra.
" Aku akan tetap mencintaimu, bahkan rasa cintaku akan semakin bertambah untukmu." Ucap Arthur memeluk Sierra.
Daniel tengah duduk di ruang kerjanya, ia tidak lagi berada di kantor, karena kantor begitu jauh dari rumahnya saat ini. Rencananya ia akan memindah kantor pusatnya agar berada di kota yang sama dengan kota yang saat ini ia tinggali.
Tiba tiba asisten nya masuk dan mengatakan ada tamu yang mencari Daniel.
" Tuan, ada tuan Bernard di depan." Ucap sang asisten.
" Oh, akhirnya dia berkunjung juga kemari. Suruh dia masuk, aku akan menyusul keruang tengah." Ucap Daniel.
" Baik tuan." Ucap sang asisten dan pergi meninggalkan Daniel.
Daniel keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang tengah, terlihat disana ada Bernard sendirian.
" Hey kak, apa kabar kamu.." Ucap Bernard memanggil Daniel.
" Baik.. Baik.. Hahah. Kamu ingat jalan pulang juga rupanya." Ucap Daniel.
" Haih.. Bagaimana lagi, aku semakin tua dan putraku juga semakin sibuk." Ucap Bernard.
" Kau tidak pulang dengan istrimu juga?" Tanya Daniel.
" Istriku meninggal dua tahun yang lalu, kak. Aku hidup hanya berdua dengan putraku." Ucap Bernard.
" Astaga, aku tidak tahu itu, maaf. Kau mengapa hilang kontak begitu saja, sama sekalitidak mengabariku. Lalu dimana Vian." Ucap Daniel.
__ADS_1
" Dia sedang menelepon, mungkin sebentar lagi dia masuk." Ucap Bernard.
Dan benar saja, tiba tiba masuk seorang pria bertubuh tinggi menggunakan pakaian formalnya.
" Halo paman." Sapanya pada Daniel.
" Vian? " Tanya Daniel.
" Benar paman, aku Vian." Ucap Vian.
Vian ini rupanya adalah pria yang tadi siang bertemu dengan Sierra di pusat perbelanjaan.
" Astaga.. Terakhir kali paman melihatmu, kamu masih anak berusia delapan tahun. Sekarang kamu menjelma menjadi pria dewasa, sungguh waktu sangat cepat berlalu." Ucap Daniel.
" Haha.. Paman, dimana Sierra?" Tanya Vian dengan mata yang mencari cari keberadaan Sierra.
Mendengar itu, Daniel menjadi menyendu. Bernard menyadari perubahan ekspersi Daniel dan bertanya..
" Apa ada sesuatu yang terjadi kak? Kau terlihat sedih." Ucap Bernard.
" Benar, telah terjadi begitu banyak peristiwa setelah kamu sekeluarga pindah ke AS. Aku dan Sierra tidak tinggal bersama, dia begitu membenciku sekarang." Ucap Daniel.
" Astaga, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa kalian berdua tidsk akur?" Tanya Bernard.
" Itu salahku, aku telah membuatnya menderita begitu lama setelah kematian Sophia." Ucap Daniel.
" Astaga kak, apakah tidak bisa kalian kembali akur lagi? Maksudku, kalian ayah dan anak, bagaimana bisa Sierra tidsk memaafkanmu." Ucap Bernard.
" Karena kesalahanku tidak termaafkan. Dan aku menyadari itu. Sophia juga mungkin membenciku saat ini. " Ucap Daniel.
" Bicara tentang kakak ipar, aku jadi teringat dulu saat Vian kecil dan Sierra kecil mereka di jodohkan." Ucap Bernard.
" Ayah.. Sierra pasti sudah memiliki kekasih." Ucap Vian tak enak hati.
" Kak, kau tahu? Vian terus menunggu hari ini datang. Dia begitu mencintai Sierra kecilnya hingga tak mau menikah ." Ucap Bernard.
" Benar.. Dulu mereka dijodohkan, aku sampai tidak ingat itu lagi. Tapi yang dikatakan Vian juga benar, Sierra sudsh memiliki kekasih." Ucap Daniel.
" Kak, itu adalah janji mendiang kedua istri kita, apa kakak tidak mau membuat janji itu menjadi nyata kak? Istri kita pasti senang disana jika melihat putraku dan putrimu bersama." Ucap Bernard.
' Apakah bisa begitu? Sophia dulu memang menjodohkan Sierra dengan Vian, tapi.. Sierra sudah bertemu Arthur yang selalu menjaganya.' Batin Daniel.
" Ayah, bibi dan ibu tidak mungkin mengingat janji itu." Ucap Vian.
" Haih.. Bahkan permintaan sederhana ibumu saja ayah tidak bisa memenuhinya." Ucap Bernard, menyedih.
Melihat itu, Daniel menjadi tidak enak hati sendiri. Bernard sudah seperti adik kandung baginya walau sebenarnya Bernard ini hanya anak angkat kedua orang tua Daniel.
" Nanti, akubakan berusaha untuk menemui Sierra lagi. Aku akan mencoba berbicara kepadanya." Ucap Daniel.
Dan entah terlihat atau tidak, Bernard tersenyum smirk sembari menatap Vian.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..