The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 125. HARU HARI KELAHIRAN.


__ADS_3

Ke esokan harinya, di markas..


Tiga pria berbadan besar itu baru saja keluar dari ruangan penyekapan Carol. Mereka terlihat menatap Carol dengan senyum smirknya. Sementara Carol, dia terlihat begitu memalukan dan mengenaskan.


Seluruh tubuhnya penuh dengan luka, Tubuh tua nya itu kini hanya meringkuk lemas setelah berkali kali di hajar oleh tiga pria itu. Ia bahkan tak menggunakan pakaian luar, hanya pakaian dalam.


" Kerja bagus, kalian boleh pergi." Ucap Malvin.


" Baik, tuan. " Ucap ketiga pria itu.


Malvin menekan sebuah tombol agar dia bisa mendengarkan suara Carol. Tapi dia tidak membuka kaca itu, ia tidak mau melihat pemandangan menjijikan. Terdengar Carol yang merintih kesakitan dan terus mengucap ampun.


" Bagaimana rasanya, apakah enak? Atau sakit?" Ucap Malvin.


" Air.. aku ingin air.." Ucap Carol lemah.


" Bukankah kau telah meminum banyak air sejak semalam? Carol.. Carol.. Lihatlah dirimu, kau pasti terlihat sangat menjijikan sekarang. Apakah kau sudah merasakan bagaimana rasanya di siksa? " Ucap Malvin.


" Lucifer membuatmu merasakan sakit yang dirasakan oleh semua korbanmu. Kau tahu rasanya bukan??" Ujar Malvin.


" Bunuh saja aku.. " Ucap Carol.


" Mati terlalu bagus untukmu, kau nikmati saja rasanya, masih banyak waktu yang tersisa. Oiya, seperti apa yang kau lakukan pada semua korbanmu, Lucifer menyiapkan sebuah film bagus untukmu. Silahkan menonton." Ucap Malvin.


Tiba tiba di ruangan dimana Carol berada menyala sebuah Video yang merekam apa yang di lakukan tiga pria itu pada Carol. Carol langsung menangis, dia merasa dirinya begitu menjijikan.


" Matikan!! Aku mohon matikan!! Bunuh saja aku, Arthur." Teriak Carol frustasi.


Malvin tersenyum smirk mendengar tangisan dan teriakan frustasi Carol. Ia menekan tombol agar Suara Carol tidak terdengar keluar, lalu ia pun melangkah pergi dari sana.


Malvin mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota, tujuannya saat ini adalah menuju ke rumah sakit. Ia akan mengunjungi Andra yang masih koma. Dan tak lama mobil pun sampai di rumah sakit.


Malvin masuk kedalam ruangan dimana Andra dirawat, terlihat Andra yang masih tidak ada kemajuan sedikitpun. Nafasnya bahkan masih lemah, selang selang alat bantu pernafasan masih terpasang di tubuhnya.


TUT! TUT! TUT!


Suara monitor.


" Hei, Warrior. Kau masih saja tidak mau bangun kah? Apa kau tidak mau bertemu nyonya? Dia sudah baik baik saja, dan menanyakanmu." Ujar Malvin.


" Bukankah kau gadis yang kuat? Dimana Andra yang begitu berkepala batu itu?" Gumam Malvin.


Tangan Malvin menggenggam tangan Andra, Malvin terus menatap wajah layu Andra. Malvin ingat betul, saat pertama kali dia membantu Andra mengobati luka saat Andra pertama di bawa ke TITANES. Andra tidak sedikitoun mengatakan sakit, padahal tubuhnya sangat kurus.


" Jika kau mau aku panggil Warrior, cepatlah bangun." Ucap Malvin.


Malvin menganggap Andra itu spesial. Dia kuat, tangguh, tidak cengeng, dan keras kepala. Tapi karena semua hal itu lah, Andra tidak pernah bisa tersentuh. Dia telah terlalu mengalami banyak kesakitan dulu, hingga semua masalah bisa ia hadapi sendiri tanpa mengeluh.


Setelah mengatakan itu, Malvin pun pergi, dari ruangan Andra. Terlihat Jari Andra sedikit bergerak, namun hanya sebentar dan lalu berhenti. Malvin berjalan keluar, dan kali ini tujuannya adalah ke perusahaan.

__ADS_1


Di kediaman Arthur.


Sierra sedang duduk di gazebo. Ia melihat semua taman tampak berbeda, dengan tanaman tanaman baru. Kolam ikan juga terdapat banyak ikan ikan baru.


Kenapa Sierra menyadarinya, karena Sierra melihat ikan ikan itu setiap hari, dan kini ada warna lain disana. Sierra yakin, penyerangan kemarin pasti telah merusak semua hal.


" Sayang, minum susu dulu." Ucap Arthur.


" Terimakasih sayang.." Ucap Sierra.


Arthur tersenyum menatap Sierra, dan Sierra seolah tidak tahu apa apa.


" Kamu sedang menggoda, hm??" Ujar Arthur.


" Tidak.." Ucap Sierra.


" Kemari, beri aku ciuman. Kamu melakukan pelanggaran." Ujar Arthur, dan Sierra terkekeh. Akhirnya mereka berciuman.


" Aku ambil laptopku dulu, dan aku akan menemanimu duduk di sini." Ucap Arthur, dan Sierra pun mengangguk.


Tak lama, Arthur kembali dengan laptop di tangannya, ia akan kembali melakukan rutinitas kantornya dari rumah, dan Malvin yang menangani dari kantor.


DUA BULAN KEMUDIAN..


Sierra tengah memakan sarapan paginya, dan Arthur sedang memijat kaki Sierra yang terlihat semakin membesar.


Setiap hari dirinya berkata tidak percaya pada apa yang dialaminya, dia menjadi begitu bulat berisi. Padahal Arthur selalu berkata bahwa itu normal dialami ibu hamil, apalagi hamil kembar seperti Sierra.


Arthur terkekeh mendengar ucapa istrinya, bagi Sierra mungkin dirinya terlihat seperti ikan buntal, tapi bagi Arthur.. Sierra sangat menggemaskan.


" Sayang.. Kamu tetap cantik, walau bulat. Dan itu wajar dialami ibu hamil. Nanti setelah pumpkins lahir, maka tubuhmu akan kembali seperti semula." Ucap Arthur menghibur istrinya.


" Pumpkin's, kapan kalian akan keluar nak, mommy sudah tidak sabar bertemu kalian." Ujar Sierra.


Tiba tiba perut Sierra bergerak, menunjukan pergerakan duo bayi yang masih berada di dalam kandungan itu. Arthur san Sierra sampai terperanga melihatnya, gerakan mereka itu sangat lain dari biasanya.


" Wah.. Wah.. Anak anak daddy, apakah kalian sudah mau keluar?" Tanya Arthur sambil mengusap perut Sierra yang bergerak tanpa henti.


" Hihihi.. Mereka lucu sekali." Tawa Sierra.


Tapi kemudian tawa itu perlahan hilang dan Sierra meringis merasakan sakit.


" Ah!! Sayang, perutku sakit sekali." Ucap Sierra sambil memegangi perutnya.


" Sayang, mungkin pumpkins sungguhan sudah mau lahir. Ayo kita kerumah sakit." Ucap arthur.


Arthur menggendong Sierra, walau bertambah berat tapi Arthur tetap mampu menggendong Sierra, karena tubuh Arthur sendiri kini semakin atletis karena sering berolah raga dirumah.


" Cepat kerumah sakit!!" Teriak Arthur pada anak buahnya.

__ADS_1


Semua orang panik, dan langsung menyiapkan mobil. Mobil Arthur dikawal oleh mobil pengawal pengawalnya dan menuju rumah sakit.


" Aah.. Sayang, perutku sakit sekali." Ucap Sierra.


" Sabar ya sayang, kita akan segera sampai. Pumpkin's sabar ya sayang, jangan menyakiti mommy kalian." Ujar Arthur.


Sierra menangis karena perutnya benar benar sakit, hingga akhirnya tibalah mereka di rumah sakit, dan Sierra langsung dibawa keruang bersalin.


" Tuan ingin melihat dan mendampingi nyonya?" Tanya sang dokter, dan langsung mengangguk.


" Sayang, sakit.." Ucap Sierra dengan air mata yang meleleh.


Arthur tak henti hentinya menciumi Sierra, seakan memberikan kekuatan pada Sierra. Arthur sendiri ikut menangis melihat bagaimana Sierra kesakitan.


" Kuat ya sayang.." Ujar Arthur.


" Nyonya, pembukaan sudah sempurna, jika saya hitung sampai tiga, tolong nyonya menggenjan ya.." Ujar sang dokter.


Sierra mengangguk, ia mengikuti instruksi sang dokter, ia manrik nafas, membuang nafas dan menggenjan dengan tangannya menggenggam kuat tangan Arthur.


" Satu sudah lahir.." Ucap Dokter, dan menaruh bayi itu di atas tubuh Sierra.


" Oeekk.. oeek.. Oeek.. " Suara tangis anak pertama Sierra dan Arthur. Arthur pun menangis semakin terharu.


" Hey baby.. hey sayang.. Selamat datang di dunia." Ucap Arthur penuh haru.


Dan lahir satu lagi, anak kedua mereka. Dokter meletakan kedua bayi itu di atas tubuh Sierra, Arthur dan Sierra menangis haru melihat kedua anak merek terlahir sempurna.


" Hey baby boys.. Terimakasih sudah berjuang bersama mommy kalian. Mommy kalian adalah wanita terhebat dan paling kuat. Daddy sangat mencintai kalian." Ucap Arthur dengan suara serak karena menangis.


Akhirnya mereka pun di bersihkan, begitu juga dengan Sierra. Setelah selesai, mereka dibawa ke satu ruangan khusus yang sudah Arthur persiapkan untuk menyambut kelahiran anak anaknya.


Kemudian ia menghubungi Sahara, dan memberi tahu bahwa Sierra telah melahirnkan. Sierra sendiri kini masih tertidur, ia sepertinya sangst kelelahan.


" Tuan, selamat anda telah menjadi ayah dari dua pengeran kecil. Yang bergelang biru, adalah Kakak. Dan yang hijau adalah sang adik." Ucap Dokter.


" Terimakasih, sudah membantu istriku melahirkan." Ucap Arthur.


" Tugas saya tuan." Ucap sang dokter.


Arthur menyentuh pipi anak anaknya yang di bungkus kain bedong, sangat mulus, sangat kecil sangat membuat hati kecil Arthur begitu terenyuh.. Tidak menyangka dirinya akhirnya bisa menjadi seorang ayah dari dua bayi sekaligus.


" Halo anak anak daddy, kalian mengantuk ya?" Bisik Arthur pada anak anaknya.


Tiba tiba sang kakak membuka matanya seakan mendengar suara daddy nya. Namun ia sama sekali tidak menangis, dan hanya berkedip kedip. Arthur tersenyum haru, dan menggendong sang kakak yang terbangun itu.


" Hey kakak.. Hey sayang.. Kamu bangun? Biar daddy gendong kamu ya?" Ucap Arthur dengan suara penuh kasih sayang.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2