The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 71. Kenangan .


__ADS_3

" TUT.. TUT.. TUT.."


Bunyi suara monitor.


Arthur tengah mengusap kepala Sierra, setelah hampir setengah jam Sammy dan tim dokter menangani Sierra, akhirnya luka itu berhenti mengalirkan darah.


" Dia masih belum sadar.?" Tanya Sammy yang masuk kedalam ruangan.


" Belum.. " Sahut Arthur.


" Mami dan papimu ada di depan, aku tidak langsung membawa mereka masuk karena takut Sierra akan terganggu." Ucap Sammy.


" Hmm.. Biarkan mereka masuk. " Ucap Arthur tetapi tangannya tak sedikitpun lepas dari tangan Sierra.


Sammy membuka pintu, dan terlihat Sahara yang sudah beruraian air mata.


" Sierra.. " Ucap Sahara sambil terisak pelan.


" Mami, jangan menangis.. Nanti Sierra justru akan sedih." Ucap Cornelius.


" Apakah orang yang melakukannya sudah di hukum.?" Ucap Sahara kepada Arthur.


" Bukan hanya dihukum, nama baiknya sudah hancur mi." Ucap Arthur.


" Berani beraninya menyentuh keluarga kita, tidakkah mereka tahu bahwa Sierra anggota keluarga Edward sekarang.?" Ucap Sahara.


" Yang melakukannya adalah putri Ruslan Walter, Calista." Ucap Arthur.


" Astaga.." Ucap Sahara sambil menutup mulutnya.


" Papi, orang yang papi anggap teman dan penolong itu bukanlah orang baik, dia hanya benalu dan parasit yang menggerogoti kita dari dalam." Ucap Arthur.


" Papi mengerti, hanya saja papi tidak tahu bagaimana caranya agar lepas darinya. Setiap kali dia datang , dia selalu mengungkit budinya pada papi." Ucap Cornelius.


" Tapi bukankah dia sudah menghilang? Dia terlalu banyak berhutang dan judi, anggap saja itu karma untuknya, mungkin dia sudah mati." Ucap Sahara.


' Mami benar, dia sudah mati.. Ditanganku.' Batin Arthur.


" Mami tidak terima wanita kejam itu bebas diluar sana Ar, lakukan semua cara agar dia mendapatkan hukuman yang setimpal." Ucap Sahara.


" Arthur mengerti.." Ucap Arthur.


" Mami tidak mau kehilangan satu putri lagi..hiks. hiks.." Tangis Sahara kembali pecah.


Sahara memang bukanlah ibu kandung Sierra, tetapi rasa sayangnya kepada Sierra begitu besar. Apalagi saat mengetahui bahwa Sierra di sia siakan oleh orang tua kandungnya, hatinya ikut merasa sakit. Dia kehilangan putrinya dulu, orang lain yang memiliki putri yang begitu baik dan cantik seperti Sierra justru disia siakan.

__ADS_1


" Sierra akan baik baik saja mi, doakan saja yang terbaik." Ucap Arthur.


" Apakah Sierra belum sempat sadar sejak semalam Ar.?" Tanya Cornelius.


" Sudah.. Tapi setelah aku memberitahunya bahwa tuan Daniel mendonorkan darahnya selama berjalannya operasi, Sierra menjadi begitu emosional, dan akhirnya membuat jahitannya terbuka." Ucap Arthur.


" Daniel.. Mendonorkan darahnya.??" Tanya Cornelius tidak percaya.


" Ya, dia bilang dia sangat menyesali apa yang telah ia lakukan dulu, ia bahkan ingin menebus semua kesalahannya kepada Sierra. Tetapi kebencian dan kekecewaan dihati Sierra terlalu besar.. Sierra tidak mau menerimanya." Ucap Arthur.


" Menyesal selalu datang di akhir, Daniel menyesalpun sudah sangat terlambat." Ucap Cornelius.


Sierra membuka matanya perlahan, pandanganya saat ini terasa berkunang kunang.


" Arthur.." Gumam Sierra.


" Sierra, kamu sudah sadar sayang? Ini mami." Ucap Sahara yang bahagia melihat Sierra sadar.


" Mami.." Ucap Sierra lemah.


" Iya nak, ini mami.. Kamu mau apa?? apakah kamu ingin sesuatu?" Tanya Sahara.


" Sierra haus mi." Ucap Sierra.


Arthur mengusap kepala Sierra sambil tersenyum.


" Apa yang kamu rasakan sayang? Apakah perutmu masih sakit.?" Tanya Arthur.


" Tidak.." Ucap Sierra sambil menggeleng pelan.


" Ini sayang.. gunakan sedotan ini." Ucap Sahara.


Sierra menyedot air mineral yang Sahara berikan, ia meminumnya hingga habis setengah botol.


" Bagaimana perasaanmu sayang?? Apakah sakit.?? Pasti sangat sakit." Ucap Sahara mengusap tangan Sierra.


" Sierra akan baik baik saja mi, mami tidak perlu khawatir." Ucap Sierra.


" Mami tahu, kamu anak yang kuat... " Ucap Sahara.


Sierra tersenyum, ia sangat bahagia karena ada orang orang baik disekelilingnya yang menyayanginya tanpa syarat.


' Tuhan.. Aku sudah sangat bersukur dengan apa yang kau berikan, aku bersukur karena memiliki keluarga lain yang menyayangiku. Tapi Tuhan.. Aku tidak mengerti mengapa kau mengaitkan dia ( Daniel ) kembali dalam hidupku. Aku sudah terlalu sakit, terlalu kecewa, bahkan melihatnya saja hanya akan mengingatkan aku dengan semua kenangan buruk yang ia ( Daniel ) berikan kepadaku.' Batin Sierra.


Disisi lain...

__ADS_1


Daniel telah sampai di kediaman lamanya, kediamannya saat sebelum menikah dengan Sophia dulu. Kediaman itu juga yang menjadi saksi perjalanan cinta antara Daniel dan Sophia.


" Sophia.. Aku telah kembali kerumah yang dulu sering kau singgahi. Rumah dimana kau masih menjadi gadis manja dan nakal yang selalu membuat ibuku naik darah dan ayahku tertawa begitu lepas." Ucap Daniel menatap foto Sophia yang terlihat masih sangat muda, mungkin sekitar usia tujuh belas tahunan.


Daniel mengusap foto itu sambil air matanya menetes, ia mengingat semua kenangan manis mereka dulu. Dimana Sophia yang masih muda begitu energic dan ceria. Ia sering membuat ibu Daniel marah dengan tingkah sembrononya, tetapi juga menghangatkan suasana.


Sophia mampu membuat orang lain merasa nyaman dengannya, mungkin hal itu juga menurun kepada putrinya, Sierra. Sama seperti sang ibu, Sierra mampu membuat siapapun nyaman dan menyukainnya.


" Shopia aku merindukanmu..hiks.. Hiks. " Ucap Daniel sambil terisak pilu.


Waktu begitu cepat berjalan, sudah 15 tahun lamanya Sophia meninggalkan Daniel di dunia yang fana, dengan kebutaan yang tidak tertolong. Daniel buta mata karena tak bisa melihat kebenaran yang berada dihadapan matanya sendiri, juga buta hati karena begitu membenci Sierra.


Daniel menangis disisi ranjang dengan memeluk foto Shopia. Ia menyesali segalanya.. Segala - galanya tentang kekejamannya kepada Sierra , putri kandungnya sendiri yang kini tidak menginginkan lagi kehadirannya.


TOK.. TOK.. TOK..


pintu diketuk.


" CKLEK."


Pintu terbuka dan terlihat disana ada asisten Daniel yang bernama Andi membawa beberapa berkas.


" Tuan, ini adalah data pelaku yang menikam nona Sierra. Dia adalah ayah kandung nona Carine." Ucap Andi.


Daniel menatap tajam Andi, ia tidak terima Carine di sebut sebagai nona oleh Andi.


" Nonamu hanya satu, yaitu Sierra.. Selain dia, tidak ada nona lain di garis keturunanku." Ucap Daniel tegas.


" Maaf tuan." Ucap Andi.


" Berikan kepadaku, dan kau boleh keluar." Ucap Daniel.


" Baik tuan, sekali lagi saya minta maaf." Ucap Andi.


Daniel membuka map itu dan membaca isinya. Ia menjadi begitu emosi saat ini.


" Beraninya mereka menyakiti putriku, Aku benar benar telah memelihara ular berbisa dirumahku dulu." Gumam Daniel.


" Tapi kemana Julia.. Sejak hari itu , dia tidak pernah terlihat batang hidungnya. Kemana Arthur menyembunyikannya." Gumam Daniel lagi.


Daniel selalu merasa aneh dengan Arthur, semua riwayat hidupnya bersih tanpa sedikitpun kecacatan, sangat sempurna hingga Daniel berpikir apakah Arthur menyembunyikan jati dirinya pikirnya.


" Dimanapun dia, aku berharap dia menderita, dia telah membuat Sierra menderita. Bahkan aku berharap dia mati." Ucap Daniel..


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2