
Pukul 8 pagi hari, Sierra bangun dari tidurnya. pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah pemandangan yang sangat manis, dimana Arthur tidur sambil duduk sembari memangku si kembar.
" Astaga, dia sampai tidur sambil duduk." Gumam Sierra.
Sierra mengambil ponselnya, dan mengabadikan momen manis itu. Ia tersenyum senyum sendiri melihatnya. Sierra bangun dan hendak mengangkat si kakak namun Arthur terbangun.
" Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Arthur.
" Hm...berikan kakak padaku, aku akan taruh dia di ranjangnya." Ujar Sierra.
Sierra menggendong si kakak dengan sangat pelan, lalu meletakannya di ranjang bayi. Arthur pun bangun untuk menaruh si adik dan menaruhnya di ranjang. Arthur merangkul istrinya itu, dan menciumi Sierra.
" Mereka lucu sekali sayang." Ucap Arthur.
" Ya, sangat menggemaskan." Ujar Sierra.
Di tempat lain..
Malvin yang mendengar bahwa Sierra telah melahirkan ikut merasa senang. Ia berada di markas, dimana ia masih asik memberikan segores demi segores sayatan di tubuh Carol.
" Aku harus pergi, nyonya sudah melahirkan dan kedua tuan muda kita selamat." Ucap Malvin pada anak buah TITANES.
" Wahh.. tidak sabar bisa melihat wajah kedua tuan muda kembar, pasti mereka sangat lucu." Ucap Zan.
" Eksekusi Carol, dan hilangkan jasadnya. Sudah saat nya dia menghadap malaikat maut." Ucap Malvin.
" Apakah tuan tidak mau mengeksekusi Carol sendiri?" Tanya Zen.
" Tuan tidak mau meninggalkan si kembar, jadi kalian saja yang melakukannya. Dia sudah mendapatkan hukuman yang lebih pedih dari pada yang mendiang nona Leah alami." Ujar Malvin.
" Baik.." Ujar Zan dan Zen.
Malvin pun pergi dari markas, Ia senang Sierra melahirkan dengan kondisi baik baik saja, tapi yang masih membuatnya sedih. Andra.. belum juga sadar dari koma nya.
Malvin melajukan mobilnya membelah jalanan, tujuannya saat ini adalah datang ke kediaman Sierra. Ia ingin sekali melihat keponakan kecilnya.
Dan tak lama dia pun sampai di kediaman Arthur.
Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencangnya, sudah bisa di pastikan anak anak Sierra dan Arthur begitu sehat, karena suara tangisnya begitu kencang.
" Halo.." Ucap Malvin.
" Oh, hai paman Malvin.. " Ucap Sierra pada Malvin.
" Astaga kakak ipar, apakah ini keponakanku? Lucunya.. " Ucap Malvin tidak formal.
Malvin menoel noel pipi si adik yang sedang tidur, sementara si kakak yang sedari tadi menangis di gendongan Arthur.
" Hei! jangan mengganggunya, dia baru saja tidur." Ucap Arthur.
" Oho.. Papa muda, kau terlihat keibuan." Ujar Malvin.
" Bicara sekali lagi, kau ku lempar ke jalan. " Ujar Arthur.
" Iya.. Iya.. papa mu galak sekali." Ucap Malvin pada si adik.
__ADS_1
" Daddy, bukan papa." Ucap Arthur protes.
" Astaga, iya - iya .. Daddy.." Ucap Malvin.
" Aku bukan Daddy mu." Ucap Arthur.
" Angel temen tuturanmu." Ucap Malvin saking kesalnya.
Sierra hanya bisa tertawa dengan interaksi keduanya. Sierra mengambil alih si kakak yang berada di gendongan Arthur, ajaibnya.. si kakak langsung diam si gendong Sierra.
" Wah.. Memang pelukan seorang ibu adalah yang ternyaman. Anakmu saja lebih mencintai ibunya." Ucap Malvin.
" Pulang saja kau sana! Hanya bisa meng olok ku. Menikah, dan punya anak lah sana.. supaya kau bisa merasakan bagaiamana rasanya menjadi ayah." Ujar Arthur.
" Hah... Jika membahas pernikahan, maka jawabannya.. mohon maaf saya tidak ingin menikah." Ujar Malvin.
" Hah, kamu serus tidak mau menikah?" Tanya Sierra, dan Malvin mengangguk.
" Kenapa?" Tanya Sierra.
" Orang yang dia cintai hanya menganggapnya ayah." Ucap Arthur.
" Eh??? Andra?" Ucap Sierra.
" T- tidak.. Mana ada." Ucap Malvin gugup.
" Ohhh.... Aku tahu.. aku tahu.. " Ucap Sierra.
" Kakak ipar, jangan dengar ucapannya." Ujar Malvin.
Arthur dan Malvin pun diam, mereka menyesal membahas Andra. Sierra pasti akan bertanya tentang Andra yang tak kunjung datang.
" Dia sedang menjalankan misi, jadi tidak bisa datang." Ucap Arthur.
" Kasian dia sayang, jangan di beri tugas terus. Jika dia sudah selesai, suruh dia datang kemari. Dia bersamaku saja." Ucap Sierra.
" Hmm.. Nanti aku katakan padanya." Ucap Arthur.
' Bagaimana cara memberi tahu Sierra bahwa Andra masih koma..' Batin Arthur. .
" Astaga.. Dua anak kecil ini benar benar sangat lucu. kakak ipar, apakah aku boleh menggendongnya?" Tanya Malvin, mengalihkan Sierra dari pembahasan tentang Andra.
" Jangan, kau selalu menggendong berkas, nanti kau apakah anakku." Ujar Arthur.
" Ya ampun, aku juga tahu cara membedakan berkas dan anakmu. Memangnya aku sebodoh itu?" Ujar Malvin.
" Tidak - tidak.. mereka baru saja tidur." Ujar Arthur.
" Ck.. pelit. Ngomong ngomong, siapa nama mereka, kakak ipar? " Ucap Malvin.
" Si kakak adalah Justin, dan adik adalah Dustin." Ujar Sierra.
" Justin, Dustin.. Kenalkan, aku adalah paman Malvin" Ucap Malvin.
Mereka mengobrol, dan si kembar tidur dengan nyenyaknya, padahal saat malam mata mereka begitu besar seakan menolak tidur. Hingga tidak terasa hari juga sudah siang, akhirnya Malbin pamit pergi, ke perusahaan.
__ADS_1
" Dadah tuan - tuan kecil." Ujar Malvin pada si kembar.
" Sudah pergi sana, nanti mereka bangun." Ujar Arthur.
" Ya, ya.. Kalau begitu saya permisi, tuan." Ujar Malvin menjadi formal.
Malvin pun pergi dari kediaman Arthur. Malvin membelah jalanan kota yang padat, dan ia menuju ke suatu tempat. Bukan kantor, melainkan rumah sakit. Tak lama ia sampai disana, dan langsung masuk menuju kesebuah ruangan.
CKLEK!
Pintu terbuka dari luar.
Malvin masuk kedalam ruangan, dimana ada Andra disana. Andra masih setia dengan tidur panjangnya, meskipun ia sudah berangsur membaik, tapi ia masih menolak sadar.
" Dua bulan Andra.. Apakah kau masih ingin setia dengan tidur panjangmu? Jika kau tidak menunjukan sedikitpun kemajuan, maka aku akan melepaskan semua alat bantu pernafasanmu, kau dengar itu?" Ucap Malvin.
Wajah Malvin menyendu, Andra memang sudah tidak kritis, nafasnya bahkan sudah lebih baik, walau masih harus menggunakan alat bantu pernafasan, berupa selang oksigen. Tapi Andra tidak ada respon sedikitpun.
" Tidak kah kau ingin melihat dunia lagi? Kembar sudah lahir, tidak kah kau ingin melihat mereka? " Ujar Malvin.
Malvin menyentuh tangan Andra yang semakin kurus. Dokter mengatakan bahwa orang yang koma masih bisa mendengarkan kita bicara, jadi setiap Malvin datang mengunjungi Andra, dia akan bicara dengan Andra meski tidak ada jawaban.
" Andra.. aku beri kau waktu, jika kau tidak menunjukan tanda tanda kesadaran, aku akan melepas alat bantu pernafasanmu. Aku serius, lebih baik aku merelakan kamu pergi selamanya dari pada melihatmu yang tersiksa begini." Ucap Malvin.
Tiba tiba tangan Andra sedikit bergerak, dan Malvin terkejut merasakannya. Ia menggenggam tangan Andra, untuk memastikan lagi. Dan benar tangan Andra bergerak.
" Kamu... cerewet sekali." Ucap Andra lemah, dan perlahan matanya terbuka.
Malvin langsung terkesiap, padahal dia yang terus menyuruh Andra sadar, tapi dia juga yang kaget hingga tidak bisa berkata apa apa.
" Kamu.. semakin cerewet, benar benar seperti seorang ayah." Ucap Andra lagi.
Malvin langsung memeluk Andra, Andra sampai merasa sesak karena pelukan Malvin itu.
" Jika kamu memeluku begini kencang, maka aku akan kembali koma nanti." Ujar Andra.
" Kenapa kau baru sadar? Lama sekali kau koma." Ujar Malvin.
" Aku sudah sadar sejak semalam." Ucap Andra.
" Ha?? Semalam?" Ucap Malvin terkejut.
Semalam, Andra bangun dari koma nya. Bahkan dokter yang mngurus Andra pun terkejut karena melihat Andra yang sudah membuka mata dan duduk menyender.
" Ya, tapi aku mengatakan kepada dokter untuk tidak langsung mengabarimu. Bagaimana kabarmu, ayah?" Ucap Andra.
" Aku baik.. sangat baik." Ujar Malvin memeluk Andra.
" Wah.. kamu tidak protes aku panggil ayah?" Ujar Andra, dan Malvin menggeleng.
" Terserah kamu, mau panggil aku apa." Ujar Malvin, dan Andra hanya tersenyum manis.
" Kalau begitu, terimakasih.." Ujar Andra terkekeh lemah.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1