
Arthur masih menunggu Sierra di kamar mandi, sudah sekitar 20 menit lamanya Sierra di dalam kamar mandi. Entahlah apa yang sedang Sierra lakukan, hingga Arthur yang tadi pergi mengambil pakaian ganti Sierra di kamar Sahara sudah kembali, Sierra belum juga keluar.
" Sayang.." Panggil Arthur.
" Y- ya." Sahut Sierra gugup.
" Kamu sudah selesai?" Ucap Arthur.
" Y- ya aku sudah selesai." Ucap Sierra.
" Ini bajumu, aku taruh di depan pintu." Ucap Arthur.
" Iya." Ucap Sierra.
Arthur tahu, mungkin Sierra masih malu. Jadi ia pun menyingkir dari pintu kamar mandi. Sierra membuka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit hingga Arthur yang melihat tangan Sierra mencoba meraih kantong berisi pakaiannya pun terkekeh sendiri.
" Astaga, Istriku lucu sekali." Gumamnya.
Hingga Akhirnya Sierra berhasil dan merih kantong itu, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di sediakan. Tak lama Sierra berjalan keluar, tapi Arthur mengernyit bingung, mengapa Sierra masih mengenakan bath robe nya.
" Sayang? kenapa tidak ganti bajumu?" Tanya Arthur.
' Astaga, apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku mengatakan baju yang mami bawa ini kurang bahan, kan?' Batin Sierra.
" Tidak apa apa, aku hanya masih sedikit kedinginan." Ucap Sierra.
" Apakah airnya dingin?" Tanya Arthur.
" Mm.. sedikit. Kamu mandilah, air nya sudah menjadi hangat sekarang." Ucap Sierra.
" Baiklah.." Ucap Arthur, walau masih menatap Sierra dengan pandangan heran.
Arthur berlalu pergi ke kamar mandi, sementara Sierra mencoba mencari cari koper barang kali ada disana, tapi rupanya ridak ada satupun koper, atau bahkan tas disana.
' Apakah mami tidak membawakan pakaian yang normal untukku? Kalau begini bagaimana aku akan tidur nanti.' Batin Sierra.
Sierra mencari cari ponselnya dan mencoba menghubungi Sahara. Tetapi beberapa kali panggilan tidak juga tersambung, hingga akhirnya Arthur selesai mandi. Sierra yang sedang gusar itu sampai tak menyadari Arthur di belakangnya saat ini.
" Sayang.." Ucap Arthur.
" Hua!! Astaga." Teriak Sierra terkejut, hingga ponselnya jatuh ke lantai.
" Astaga, untung tidak pecah. Kenapa kamu mengaget...kan? Huuaa!!" Teriak Sierra makin Histeris.
Sierra lebih terkejut lagi saat berbalik menghadap Arthur, Arthur tidak menggunakan pakaian, hanya sehelai handuk yang menutupi area private nya. Sontak Sierra langsung menutup wajahnya, ia semakun runyam saja saat ini.
" Hei, kamu kenapa?" Tanya Arthur.
" Kamu kenapa tidak pakai bajumu?" Ucap Sierra.
__ADS_1
Arthur tersenyum, rupanya Sierra terkejut melihat tubuhnya yang top less itu. Dengan jail, Arthur justru semakin maju menghampiri Sierra. Sierra yang merasakan sesuatu menabrak dirinya semakin mundur dan semakin mundur hingga menabrak sisi kursi meja rias dan jatuh terduduk disana.
" Ar- Arthur." Ucap Sierra gugup.
Dengan gerakan pelan, Arthur membuka tangan Sierra yang menutupi wajahnya. Hingga Sierra bisa melihat Arthur yang menunduk kearahnya.
" Kamu masih malu?" Tanya Arthur, dan Sierra mengangguk.
Arthur menyentuh tangan Sierra dan menuntunnya untuk menyentuh dada bidang Arthur yang saat ini berdegup sama kencangnya dengan Jantung Sierra.
" Kamu merasakannya? Dia berdegup sangat kencang saat ini." Ucap Arthur, dan Sierra lagi lagi hanya mengangguk seakan terhipnotis.
"Sayang, kita sudah menikah. Tubuh ini, raga ini, bahkan jiwa ini.. adalah milikmu. Kamu bebas melakukan apa saja padanya, kamu berhak melihatnya, menyentuhnya, kamu memiliki aku seutuhnya." Ucap Arthur.
" Jika kamu masih malu, tidak apa apa.. Aku tidak akan meminta hak ku malam ini. Tapi... Keringkan dulu rambutmu. Nah, biar aku keringkan, kamu duduk yang manis saja, oke." Ucap Arthur mencoba mencairkan suasana.
Sierra yang mendengar itu menjadi sangat terharu, Arthur mau sabar menghadapi dirinya. Tapi Sierra juga jadi merasa bersalah pada Arthur. Karena sudah sewajarnya suami dan istri itu saling memiliki, apalagi mereka baru saja menikah.
Sierra menatap pantulan Arthur dari cermin, Arthur begitu telaten merawat dirinya. Sama sekali tidak terlihat raut kecewa atau kesal di wajah Arthur, mungkin karena Arthur sangat dewasa, juga sudah terbiasa menyembunyikan ekspresi di wajahnya dengan sangat baik.
Arthur tersenyum manis kearah Sierra ketika menyadari dirinya di tatap begitu dalam oleh Sierra.
" Kamu kenapa sayang?" Ucap Arthur.
Entah mengapa mendengar Arthur bertanya, ia justru semakin merasa sesak di hatinya, dan tiba tiba saja air matanya menetes. Sierra berbalik dan memeluk pinggang Arthur yang berada di belakangnya.
" Maaf.." Gumam Sierra.
" Untuk??" Ucap Arthur.
" Ak- Aku istri yang buruk." Ucap Sierra sambil menangis.
" Hei, siapa yang mengatakan hal demikian?" Ucap Arthur.
" Tidak ada, tapi aku merasa aku memang istri yang buruk." Ucap Sierra.
" Haha.. Astaga, sayang." Ucap Arthur justru terkekeh sendiri.
" Hei, kita menikah baru beberapa jam yang lalu sayang, bagaimana bisa kamu menilai dirimu sendiri buruk begitu?" Ucap Arthur. Tapi Sierra justru hanya menggeleng di dada Arthur.
" Baiklah, jika kamu tidak mau bicara. Dengar sayang.. Aku tidak mau memaksa kamu, jika kamu belum siap maka aku akan menunggu hingga kamu siap. Aku tidak mau menyakitimu, atau membuatmu tidak nyaman." Ucap Arthur sambil mrnciumi kepala Sierra.
" Lebih baik kita lanjutkan mengeringkan rambutmu, supaya kamu bisa tidur dengan nyaman, oke." Ucap Arthur.
Arthur begitu sabar, begitu telaten dengan Sierra. Siapa yang menyangka dia seorang ketua mafia nerdarah dingin dan belum lama ini telah membunuh puluhan orang dengan tangannya sendiri. Seperti kata orang, Pria akan menjadi begitu penyayang dan lembut hanya pada wanita yang dicintainya, dan itu Arthur.
Sierra menggelengkan kepalanya, lalu menatap wajah Arthur yang berada di hadapannya itu. Tangannya meraba dada Arthur yang memiliki delapan kotak roti sobek hingga Arthur memejamkan matanya karena merasakan sesuatu pada dirinya.
" Bi- bisakah kita mencobanya sekarang?" Ucap Sierra tiba tiba.
__ADS_1
Arthur tentu terkejut, apakah pendengaranya terganggu karena sensasi sentuhan tangan Sierra di dadanya? Dia menjadi diam sekarang.
" Sayang, kamu bilang apa tadi?" Ucap Arthur.
" It- itu.. Bisakah kita mencobanya?" Ucap Sierra gugup.
" Kamu serius?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.
" Jika kamu belum siap, kita bisa menunggu hingga kamu siap, sayang." Ucap Arthur.
" Ak- aku siap." Ucap Sierra.
Mendengar itu, Arthur senang. Tandanya Sierra telah memberikan lampu hijaunya padanya. Perlahan Arthur mencium bibir Sierra, mereka saling menyesap dan dengan gerakan tiba tiba Arthur menggendong Sierra tanpa melepas ciuman mereka lalu berjalan kearah ranjang.
Perlahan Arthur merebahkan Sierra di ranjang, nafas mereka saling memburu. Arthur melepaskan ciumannya dan menatap wajah Sierra yang begitu cantik itu. Dan tatapan Arthur saat ini tertuju di pundak Sierra. Arthur melihat seperti ada pita berwarna merah disana.
" Eh, pita apa ini?" Ucap Arthur. Karena pita itu benar benar berbentuk simpul pita.
Sierra langsung panik, ia baru ingat saat ini dirinya menggunakan pakaian laknat di tubuhnya.
" Um.. It- itu.. kantong pakaian yang kamu bawakan tadi isinya.. Itu.." Ucap Sierra gugup sendiri.
" Itu apa? Coba aku lihat?" Ucap Arthur.
" Jang!!! an... " Ucap Sierra, tapi terlambat. Arthur sudah menarik sampul pitanya dan menariknya.
" Kenapa ini, apakah menyangkut?" Ucap Arthur sambil menarik pita itu.
" Arthur, jangan di tarik." Ucap Sierra.
" Kenapa?" Ucap Arthur, polos.
" Itu.. tutup matamu dulu." Ucap Sierra.
" Tutup mata? Baiklah." Ucap Arthur.
Arthur menutup matanya, ia tidak tahu apa yang sedang Sierra lakukan. Sierra membuka bath robe nya, dan terlihat dirinya yang menggunakan lingerie berwarna merah darah. Kulit putih Sierra yang seputih susu itu begitu pas di kombinasikan dengan lingerie merah.
" Buka matamu.." Ucap Sierra.
Perlahan Arthur membuka matanya, dan terkesima dengan pemandangan dibawahnya saat ini. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan hingga ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Sierra terlihat begitu menantang saat ini.
" Sayang.. Kamu.." Ucap Arthur.
Tidak bisa berkata apapun, Arthur mendekatkan bibirnya ke bibir Sierra, mereka berciuman sangat dalam. Hingga Akhirnya malam itu, menjadi malam yang panas bagi mereka berdua. Arthur bagai singa kelaparan, hingga Sierra kewalahan mengimbanginya.
Malam yang begitu manis, dan ruangan hotel yang menjadi saksi penyatuan mereka. Sepasang kekasih yang sekarang telah resmi menjadi suami istri yang sah.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1