The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 42. Sadar.


__ADS_3

Sierra membuka matanya perlahan, Arthur menciumi tangam Sierra dengan begitu antusias karena akhirnya Sierranya sadar kembali.


"Sayang, terimakasih sudah mendengarku. " Ucap Arthur.


Rupanya saat ini Sierra berada dirumah sakit, Sudah hampir seminggu rupanya Sierra tak sadarkan diri.


" Arthur.." Ucap Sierra.


" Ya sayang, kamu ingin sesuatu??" Ucap Arthur.


" Aku bertemu ibuku.. " Ucap Sierra.


Entah mengapa sudut mata Arthur tiba tiba mengalir air mata dan jatuh begitu saja. Bukannya Arthur cengeng, tetapi itu adalah pertama kalinya ia jatuh cinta, dan ia takut kehilangan Sierra.


" Aku tahu.." Ucap Arthur mengangguk.


" Kamu menangis.??" Ucap Sierra.


Saat Sierra hendak bangun, ia baru menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit.


" Aku dirumah sakit.?" Tanya Sierra.


" Ya, kamu tidak sadarkan diri hampir seminggu lamanya, hanya terus bergumam dan bergumam tapi tidak mau bangun." Ucap Arthur.


Sierra tentu terkejut, rupanya sudah selama itu dirinya tidak sadarkan diri.


Arthur membantu Sierra duduk dan bersandar di ranjang.


" Terimakasih.." Ucap Sierra.


" Untuk.??" Ucap Arthur bingung.


" Memanggilku pulang. Suaramu menembus alam bawah sadarku berkali kali. Dan membuatku memiliki sedikit kesadaran disana." Ucap Sierra.


" Aku yang berterimakasih, karena kamu mau bertahan bersamaku." Ucap Arthur.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu di ketuk.


" Nona Sierra, kamu sudah sadar.??" Ucap Sammy terkejut melihat Sierra sudah duduk bersandar.


" Sudah dokter.. Sammy." Ucap Sierra membaca kembali nama yang tertera di kartu tanda pengenal Sammy.


" Bagus, kalau begitu biar saya cek keadaanmu terlebih dahulu." Ucap Sammy.


Sierra mengangguk, lalu Sammy mengecek kondisi Sierra. Dan semuanya sudah normal.


" Semuanya sudah normal, detak jantung, tekanan darah, hanya saja kamu harus makan makanan yang bergizi." Ucap Sammy.

__ADS_1


" Terimakasih dok." Ucap Sierra.


" Jika sudah selesai, kau boleh keluar." Ucap Arthur.


" Ish.. Tuan muda kutub utara yang arogan ini, bisa bisanya mengusir dokter yang sudah susah payah menangani kekasihmu, keterlaluan.." Ucap Sammy.


Sierra terkejut melihat keakraban mereka berdua.


" Kalian saling mengenal.?" Ucap Sierra.


" Hm.. Kami tumbuh besar bersama, kau boleh panggil panggil aku kakak." Ucap Sammy.


" Tidak boleh.." Ucap Arthur.


" Hei, kau dan aku lebih tua aku, kau seharusnya memanggilku kakak. Maka dari itu dia harus memanggilku kakak." Ucap Sammy.


" Kita hanya beda sehari." Ucap Arthur datar.


" Tetap saja lebih tua aku, jangankan beda sehari.. Beda 5 menit saja sudah membuktikan siapa yang lebih tua asal kau tahu." Ucap Sammy.


" Ribut sekali, keluar kau sana." Ucap Arthur yang kalah debat.


Sammy hanya menatap sinis Artur yang ada di hadapannya itu, lalu keluar dari ruangan Sierra.


" Kalian tampak sangat akrab." Ucap Sierra.


" Kami berempat tumbuh bersama, jadi sudah seperti saudara. " Ucap Arthur, sembari mengupaskan buah untuk Sierra.


" Aku, Sammy, Tobiaz dan Malvin. Kami tumbuh bersama." Ucap Arthur.


" Asisten Malvin.??? " Ucap Sierra terkejut.


" Ya, dia adalah yang paling kecil diantara kami. " Ucap Arthur.


" Woah.. Tapi mengapa dia memanggilmu tuan muda.?" Ucap Sierra.


" Semua juga begitu, hanya disaat saat tertentu saja berbicara tidak formal." Ucap Arthur. Sierra hanya mengangguk angguk mengerti walau masih beingung dengan kebijakan itu.


..........


Ke esokan harinya..


Arthur mendorong Sierra yang tengah duduk di kursi roda rumah sakit, mereka hendak menuju ke loby dimana mobil Arthur sudah menunggu disana.


Sierra terus meminta pulang karena ia benar benar tidak merasakan sakit apapun.


Dengan segala cara bujukan, Sierra meyakinkan Arthur, dan hingga akhirnya Arthur setuju. Namun Sierra dilarang berjalan langsung, Arthur memberi Sierra dua pilihan.. Duduk di kursi roda dan di dorong oleh Arthur, atau Arthur gendong secara langsung ala Bride style.


Tentu saja Sierra langsung memilih opsi pertama. Ia tidak mau seisi rumah sakit heboh dengan pemandangan Arthur yang tengah menggendong dirinya. Dan beginilah akhirnya.. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan berakhir menjadi pisat perhatian.

__ADS_1


" Arthur, mengapa semua orang terus menatap kearah kita.?" Ucap Sierra sambil berbisik.


" Tentu karena mereka melihat sepasang kekasih yang sangat serasi dan romantis seperti kita." Ucap Arthur enteng.


" Tidak - tidak, aku lebih merasa kamulah yang menarik perhatian mereka." Ucap Sierra.


" Bagaimana lagi, kamu menolak opsi kedua, jadi kita menjadi pusat perhatian sekarang." Ucap Arthur mengangkat kedua bahunya yang tentu saja Sierra tidak bisa melihatnya.


" Lalu?? Jika aku digendong olehmu bukankah kita akan lebih menjadi pusat perhatian.?" Ucap Sierra.


" Tentu tidak.. kamu memotong ucapanku saat aku sedang memberimu pilihan, kamu bekum mendengarkan keseluruhan dari ucapanku." Ucap Arthur.


" Oh, jadi bagaimana.??" Ucap Sierra.


Arthur terkekeh melihat Sierra yang antusias.


" Terlambat, kita sudah sampai bawah. Tidak bisa memilih opsi kedua." Ucap Arthur.


Benar saja, rupanya mereka sudah sampai di loby. Arthur menggendong Sierra dan memasukan nya kedalam mobil, dan di susul dirinya yang memutari mobil. Sementara Malvin menutup pintu mobil itu, dan mobil pun melaju pergi.


" Kau sudah pastikan tidak ada wartawan atau sejenisnya disekitar kita.?" Ucap Arthur kepada Malvin.


" Sudah tuan muda, semuanya aman." Ucap Malvin.


Sierra memperhatikan percakapan mereka, benar benar sesuai dengan yang Arthur ucapkan semalam, mereka sangat profesional. Tidak tampak sama sekali bahwa mereka saling mengenal.


Di tempat lain..


Daniel berdiri di depan nisan Sophia, setelah berhari hari ia mengurung diri menyesali perbuatannya dan merutuki kebodohannya, akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi makam Sophia.


" Sophia.. Kamu pasti sangat membenciku.." Ucap daniel.


Daniel duduk bersimpuh dihadapan nisan Sophia. Kepalanya menunduk seakan ia malu menatap batu nisan wanita yang sangat ia cintai itu, yang selalu ia usap kala ia mengunjunginya.


" Aku harus bagaimana Sophia.. " Ucap Daniel.


Tiba tiba tubuh Daniel bergetar, ia menangis. Untuk kesekian puluh kalinya ia menangis, ketika ia mengingat kesalahannya, penyesalannya, dan perbuatannya kepada putri kandungnya sendiri, Sierra.


" Aku ayah yang buruk.. Kamu menyelamatkannya, agar dia bisa hidup, tetapi aku membuatnya perlahan mati ditanganku sendiri.. Hiks.. Hiks.. " Ucap Daniel sambil terisak.


Sungguh, tidak pernah Daniel menangis hingga begitu pilu dan terisak selain saat kematian istrinya, Sophia. Dan untuk beberapa hari ini, dirinya terus menangisi Sierra, putrinya. Daniel begitu sesak saat mengetahui kebenaran yang ia ketahui saat di kediaman Arthur.


Ditambah lagi saat ia mendapatkan laporan atas penyelidikan yang dilakukan oleh anak buahnya tentang hidup Sierra. Daniel sampai menangis sambil memeluk foto Sierra berhari hari beberapa hari terakhir ini.


Bagaimana tidak, mereka tinggal satu atap tetapi Daniel sungguh tidak mengetahui penderitaan putri kandungnya itu. Karena saking ia tidak peduli pada Sierra saat itu hingga sedikitpun hal mengenai Sierra, ia tidak mau tahu.


Daniel menangis pilu ketika melihat semua foto foto dimana Sierra rupanya bekerja selama ini, bahkan sejak Sierra berada di bangku sekolah menengah pertama. Belum lagi, saat ia mengetahui bahwa Sierra dijadikan pelayan dirumahnya sendiri, dan tinggal di gudang rumah itu.


" Sophia.. maafkan aku.. aku telah menyiksa buah hati kita sendiri bahkan menggunakan tanganku sendiri." Ucap Daniel memandangi tangan yang selalu ia gunakan untuk menampar Sierra.

__ADS_1


" Aku sungguh ayah yang buruk.." Ucapnya lagi..


TO BE CONTINUED..


__ADS_2