The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 108. HIDUP ITU KARMA.


__ADS_3

Ke esokan Harinya..


Serangkaian upacara pemakaman telah di lakukan, Sesuai pesan Daniel kepada Tio yang meminta agar jasadnya langsung di makamkan. Kini Jasad Daniel pun mulai di kebumikan.


Sierra , Arthur, dan semua orang yang melayat menatap prosesi pengebumian Daniel. Sierra hanya menatap lurus peti mati ayahnya itu, dengan air mata yang sesekali menetes dan langsung di hapus olehnya.


Hingga akhirnya prosesi pemakaman pun selesai, dan semua orang pergi dari sana kecuali Sierra, Arthur, dan Tio. Cornelius dan Sahara sudah kembali ke hotel, karena mereka kelelahan sejak kemarin mereka tidak beristirahat hingga pagi ini.


" Nona.. " Ucap Tio yang menyerahkan kotak kayu peninggalan Daniel.


" Apa ini, paman? " Tanya Sierra.


" Tuan memintaku untuk memberikan kotak itu pada nona. Dia merencanakan semuanya, bahkan kematiannya sendiri." Ucap Tio kembali berkaca kaca.


" Nona, berjanjilah jangan menaruh dendam apapun. Tuan Daniel sudah ikhlas jika memang akhir hidupnya harus demikian. Ia mengatakan bahwa itu adalah karma baginya, karena telah menelantarkan nona." Ucap Tio.


" Apakah dia tahu dirinya diracuni?" Tanya Sierra, dan Tio mengangguk sambil terisak.


" Beliau tahu, dan tidak marah sama sekali." Ucap Tio.


" Tuan mengatakan minta maaf padamu, juga dia sangat menyayangimu. Dia sangat menyesal karena telah menelantarkan dirimu." Ucap Tio.


Mendengar itu, air mata Sierra kembali menetes tanpa permisi. Ia menatap nisan ayahnya yang bersandingan dengan ibunya kini.


" Nona, jalanilah hidup nona dengan baik. Pulanglah sesekali kerumah, rumah itu milikmu, paman akan selalu menunggumu disana." Ucap Tio lalu pamit pergi.


" Sayang, kamu harus istirahat, sejak semalam kamu tidak tidur." Ucap Arthur.


" Kenapa dia menjadi begitu baik di detik akhir hidupnya, Arthur? Apakah dia sengaja agar meninggalkan kesan yang mendalam? Kemana saja dia selama ini, aku selalu menunggunya di rumah yang sama di tempat yang sama. Menunggunya untuk memeluku."


" Sedari aku kecil aku bertanya tanya, apakah penyebab bencinya ayahku kepadaku, dan dia hanya diam, dan lalu mengatakan aku sebagai pembunuh. Kemudian aku menyadari satu hal, apakah aku di benci karena bukan aku saja yang mati saat itu?? "


" Hingga aku tumbuh dewasa, tidak sekalipun dia mengatakan dia menyayangiku. Dia hanya selalu memarahiku, lalu memukulku dan mengatakan dia sangat membenciku karena aku membunuh ibuku."


" Lalu di saat aku benar benar telah membencinya, dan tidak lagi peduli dengan apa pun tentangnya.. dia menhadi begitu baik. Aku benci itu Arthur.. Aku benci dia mengakui kesalahannya, tetapi tidak mengingat seberapa sering dia menyiksaku. " Ucap Sierra dengan air mata yang terus keluar.


Arthur mengecup kepala Sierra, dan membawanya kedalam pelukan. Arthur ikut meneteskan air mata, betapa memilukannya hidup istrinya itu. Dia sendirian, melawan kenyataaan di benci oleh ayahnya sendiri.


' Tuan Daniel, walau anda ayah yang buruk tetapi.. anda ayah yang beruntung. Beruntung karena memiliki seorang putri yang berhati Malaikat seperti Sierra. Terimakasih kalian telah menghadirkan Malaikat yang tak bersayap ini dalam hidupku, aku akan menjaganya selama sisa hidupku.' Batin Arthur.


" Sayang, sudah yah.." Ucap Arthur.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, Akhirnya Sierra kembali menatap nisan ayah dan ibunya itu.


" Beristirahatlah dengan damai ibu, ayah.. Aku pulang." Ucap Sierra.

__ADS_1


Arthur menggandeng tangan Sierra lalu mereka pun berjalan pergi dari makam Daniel. Setelah Sierra dan Arthur masuk kedalam mobil, tiba tiba hujan turun mengguyur bumi.


Sierra kembali teringat dengan kejadian saat ia mengejar Daniel setelah pemakaman Sophia dulu. Ia ingat betul, dirinya terjatuh di jalan saat ini ia berada.


" Selamat tinggal.." Ucap Sierra menatap makam Daniel dan Sophia dari kejauhan.


Mobil pun pergi menuju ke hotel yang tak jauh dari sana. Arthur membawa Sierra kepelukannya, dan perlahan Sierra pun tertidur. Hingga tak terasa mereka sampai di hotel dimana mereka akan menginap sementara .


Arthur yang melihat Sierra begitu pulas tidur pun tak tega membangunkannya, akhirnya ia menggendong Sierra memasuki hotel itu. Seperti De Javu memang, dulu ia pun melakukan hal yang sama saat akan mengunjungi makam Sophia. Dimana Sierra tertidur di dalam pelukannya seperti itu.


Hingga sampailah Arthur di kamar hotel yang mereka tempatim Arthur membaringkan tubuh Sierra dengan pelan, lalu menyelimutinya. Sementara itu, dirinya pergi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di tempat lain, masih di makam Daniel. Bernard duduk bersimpuh di hadapan makam Daniel dan Sophia. Ia menangis pilu, karena merasa bersalah telah membunuh kakak angkatnya sendiri yang begitu baik.


Dendam menutup matanya, ia tidak mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya, hanya karena satu kata dari Carol, tega membunuh kakak angkatnya itu.


" Aku berjanji kak.. tidak akan menyakiti Sierra kak. Aku akan melindunginya semampu yang aku bisa lakukan. Aku minta maaf kepadamu, aku terlambat mengetahui kebenaran." Ucap Bernard penuh penyesalan.


" Beristirahatlah dengan damai kak." Ucap Bernard, lalu pergi di bawah guyuran hujan.


Malam pun tiba, Sierra, Arthur, Sahara dan Cornelius tengah berada di restoran hotel itu. Mereka sedang makan malam bersama.


" Sayang, makan yang banyak, kamu belum makan sejak kemarin." Ucap Sahara.


" Iya mi. " Ucap Sierra tersenyum.


" Ya, sayang." Ucap Sierra, dan Arthur mengusap kepala istrinya itu penuh cinta.


Tuhan adil, bukan? Sierra kehilangan ibunya, dan kurang kasih sayang dari ayahnya. Kini Tuhan membayarnya dengan memiliki Sahara dan Cornelius, yang sangat menyayanginya. Ditambah Arthur, suami yang selalu melindunginya dan sangat mencintai Sierra.


Hidup itu berjalan sesuai dengan karma yang kita buat. Karma baik akan di bayar dengan kebaikan, dan karma buruk maka akan di bayar dengan keburukan juga. Hiduplah selalu dengan kebaikan, apapun itu ujiannya.


_____________________________________


2 Bulan kemudian...


Dikediaman Arthur, Saat ini Sierra bersama Arthur tengab berada di Gazebo. Sierra sedang menyender di bahu Arthur sambil memainkan ponselnya. Sementara Arthur tengah bekerja dari laptopnya.


Sierra tengah sangat bermanja saat ini pada Arthur. Entah mengapa beberapa hari ini Sierra begitu banyak tingkah. Sebentar senang, lalu sedih. Arthur sampai bingung sendiri dengan istrinya itu. Ia sampai tidak berangkat bekerja ke kantor sudah semingguan ini.


" Sayang, aku ingin makan sesuatu yang kenyal, dan pedas. Sesuatu yang.. Munch..munch. " Ucap Sierra sambil mulutnya seolah mengunyah sesuatu.


" Kenyal dan pedas?" Ucap Arthur sambil berpikir.


" Tapi sayang, kamu baru saja makan satu piring pasta, lalu kamu makan melon satu kotak besar sendirian, dan tadi kamu baru saja menghabiskan.. Hehehe.." Ucap Arthur terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari Sierra.

__ADS_1


" Aku lapar lagi.. Jahat sekali kamu." Ucap Sierra merengek.


" Oiya, ya.. ya.. Kita buat, kita buat ya.. Kamu mau makan apa?" Tanya Arthur sambil mencoba menenagkan Sierra.


' Astaga, sejak kapan istriku menjadi begitu kuat makan? ' Batin Arthur.


" Emmm makanan Korea, Tteokbokki sepertinya enak." Ucap Sierra.


" Tteokbokki, baik.. Ayo kita buat." Ucap Arthur.


" Hore.. gendong." Ucap Sierra, Arthur pun tersenyum.


Entahlah, Sierra begitu manja padanya. Tapi dia menyukai itu, ia suka Sierra yang selalu bermanja padanya, hanya saja keinginan Sierra kadang kadang aneh dan diluar nalar manusia.


" Gendong depan atau belakang?" Ucap Arthur.


" Ala bride style.." Ucap Sierra.


Arthur terkekeh, lalu ia menggendong istrinya itu dan masuk kedalam rumah. Arthur mendudukan Sierra di meja dapur, lalu dirinya pun mulai memproses pembuatan Tteokbokki itu. Untungnya dia memiliki stok makanan jenis itu, karena sebelummya Sierra juga sering makan itu.


" Nah.. Sudah jadi, kemari duduk di meja makan." Ucap Arthur sambil membantu Sierra turun dari meja, lalu Sierra pun menikmati makanan itu.


Bukan hanya Arthur yang heran Diandra yang melihat itu pun cukup merasa aneh dan heran. Ditambah lagi, sekarang Diandra jadi kelinci percobaan.


Terlihat Diandra dengan pakaian serbah hitamnya itu, tetapi memakai bando unicorn warna pink, Diandra yang pada dasarnya tidak suka warna pink pun menjadi merasa geli sendiri dengan dirinya.


' Aih... Aku lepas tidak apa apa kali, ya?' Batin Diandra.


" Andra!!! jangan di lepas." Ucap Sierra tiba tiba.


" Astaga Copot jantungku! " Ucap Diandra terkejut.


" Hehehe.. tidak nyonya, hanya sedang membetulkan sedikit." Ucap Diandra.


' Padahal matanya menatap piring tapi dia bisa tahu aku mau lepas bando aneh ini.' Batin Diandra.


" Uh, kenyang.. Sayang, aku mengantuk." Ucap Sierra.


" Tunggu sepuluh menit ya? Supaya makanan nya tercerna." Ucap Arthur, Sierra mengangguk tetapi matanya seakan berat untuk di buka.


Arthur menggendong Sierra yang sedikit bertambah berat itu ke sofa, lalu ia menyenderkan kepala Sierra di bahunya, sementara dirinya kembali bekerja.


" Mmmm.. Kaki ayam yang gurih." Gumam Sierra dalam tidurnya, dan Arthur pun terkekeh mendengar istrinya mengigau.


" Bahkan tidur pun yang di pikirkan makanan, dasar kucing kecil tukang tidur." Ucap Arthur.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2