
Sierra keluar dari kantor polisi dan berjalan menuju mobilnya. Ia menghentikan langkah kakinya karena ia merasa ada yang tengah menatapnya saat ini. Sierra memutar tubuhnya ke kanan, dan ia melihat seorang pria berstelan jas rapi tengah menatap kearahnya.
' Siapa dia, mengapa terus menatap ku dengan tajam.?' Batin Sierra.
Sierra menghadap pria itu, dan kini mereka sali g menatap. Pria itu hendsk menghampiri Sierra, namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat Zen datang menghampiri Sierra.
" Nona , anda sudah selesai.?" Tanya Zen.
" Ah, iya. Zen, apakah kamu mengenal pria yang berdiri disana.?" Ucap Sierra sambil menunjuk kearah pria tadi, namun rupanya pria itu sudah tidak ada disana.
" Eh, kemana perginya pria tadi.?" Ucap Sierra, ketikantak melihat pria itu lagi.
" Nona, sebaiknya kita masuk kemobil saja, tidak aman disini." Ucap Zen.
" Baiklah ." Ucap Sierra.
Sierra pun berjalan kembali menuju mobilnya, dengan Zen yang berjalan dibelakang Sierra , Zen mengantisipasi kalau kalau ada penyerangan dadakan jadi ia berjalan mengawal Sierra dari belakang.
Setelah mobil Sierra pergi, pria yang sedaritadi menatap kearah Sierra muncul dari balik dinding besar, pria itu tersenyum smirk dan menatap kepergian Sierra dengan tatapan dingin.
" Kamu harus mati.. Sierra." Gumam pria itu.
Sementara Sierra sendiri, kini Sierra dalam perjalanan menuju kesebuah tempat. Zen mengatakan bahwa Arthur menyuruhnya mengantar Sierra ke tempat itu, dan Sierra menurut saja.
Namun saat mobil itu melintas di sebuah jalan sepi, ada segerombolan motor yang datang menyusul dari belakang dan menghadang mobil Sierra. Zen menghentikan mobilnya, karena kaca mobil itu terus di gedor, dan di depan mereka ada dua motor yang sudah berhenti untuk menghadang mobil Sierra.
" Zun, tangani mereka." Ucap Zen.
" Ck.. semut semut kecil itu mau apa sebenarnya." Gumam Zun.
Zun turun dari mobilnya dengan tangan kosong.
" Siapa kalian.?" Ucap Zun.
" Tidak usah banyak tanya, cepat serahkan gadis yang ada dimobil kalian.!" Ucap salah satu preman itu.
Sierra melihat pemandangan yang begitu mustahil dihadapannya saat ini. Tubuh Zun terlalu kurus untuk mengalahkan segerombolan pria berotot itu, mengapa Zen menyuruh Zun yang maju pikirnya.
__ADS_1
" Zen, apakah Zun akan baik baik saja.?" Tanya Sierra.
" Dia akan baik baik saja nona." Ucap Zen yakin.
Sierra mengirimi Arthur pesan bahwa dirinya mengalami penyerangan di jalan kecil, dan meminta Arthur untuk mengirim anak buah lain untuk bala bantuan.
" Nona tidak perlu panik, kami sudah terlatih. Hanya segerombolan mereka tidak ada artinya bagi kami." Ucap Zen seakan mengerti kekhawatiran Sierra.
Diluar, Zun mulai berkelahi dengan banyak pria itu.. tubuh kecil Zun bergerak dengan lincah kesana kemari bagai katak, Sierra sampai ternganga melihat bagaimana Zun mengalahkan pria pria berotot itu.
' Wah.. memang jangan meremehkan tubuh kurus, dia pandai bela diri.' Batin Sierra.
Setelah beberapa menit, tiba tiba deretan mobil mewah datang dari arah depan mobil Sierra, Sierra tersenyum saat melihat mobil yang sangat ia kenali datang, mobil Arthur.
Anak buah Arthur membantu meringkus semua orang yang terlibat perkelahian dengan Zun, sementara Arthur sendiri kini berjalan menuju ke mobil Sierra. Dengan gerakan cepat, Arthur membuka pintu mobil Sierra lalu masuk dan memeluk Sierra erat erat.
" Sayang, syukurlah kamu baik baik saja." Ucap Arthur.
" Aku baik baik saja.." Ucap Sierra.
" Ayo, kita pindah mobil." Ucap Arthur.
Malvin yang berada disana hanya bisa menelan ludah, pasalnya Arthur langsung bergegas datang ke sana setelah mendapat pesan dari Sierra. Tidak biasanya Arthur menerima pesan atau panggilan saat rapat, apalagi meninggalkan rapat yang sudah berjalan setengah jalan.
' Nona Sierra benar benar sudah menaklukan beruang es yang ganas itu.' Batin Malvin.
" Arthur, kamu kenal mereka.?" Tanya Sierra.
" Tidak, tapi aku akan mencari tahunya nanti." Ucap Arthur.
" Saat di kantor polisi aku bertatap mata dengan seorang pria, tatapannya penuh kebencian kepadaku. Tapi saat Zen datang dia langsung menghilang sebelum sempat Zen melihatnya. " Ucap Sierra.
" Kamu tenang saja oke, aku akan menangani itu. Yang terpenting mulai sekarang kamu harus kemana mana dengan pengawal, entah itu musuh bisnisku atau orang yang membencimu yang melakukannya. Kamu harus selalu berhati hati." Ucap Arthur.
Sierra mengangguk saja, mobilpun melaju pergi daei sana. Semua preman yang menghadang Sierra di jalan tadi sudsh tidak ada disana, dan sudah bisa dipastikan mereka akan di bawa ke markas Arthur untuk di interogasi.
Arthur membawa Sierra ke sebuah tempat yang sebelumnya Arthur menyuruh Zen membawa Sierra kesana. Dan tibalah mereka di sebuah bangunan seperti rumah namun tidak memiliki jendela sama sekali.
__ADS_1
" Tempat apa ini.?" Tanya Sierra.
" Ini tempat tinggal Julia.." Ucap Arthur.
Sierra menatap bangunan itu, tidak bisa dipercaya, bagaimana ada rumah tidak memiliki jendela sama sekali di sekelilingnya, hanya tembok saja yang terlihat.
" Ayo.." Ucap Arthur.
Arthur menggandeng tangan Sierra, lalu memasuki ruangan itu setelah Arthur menggunakan pengenalan wajah, selain wajah Arthur, pintu beton itu tidak akan bisa terbuka. Setelah pintu terbuka, Arthur pun masuk kedalam, lalu menaiki sebuah lift, dan turun kebawah.
Sierra sampai kagum dengan kecanggihan teknologi pengamanan itu, ia berjalan bersama Arthur di sebuah lorong saat ini. Dari luar bangunan itu tampak kacil, tapi rupanya ruangan intinya ada di bawah tanah.
" Arthur, ini ruangan apa.? Kenapa bau ya tidak enak." Ucap Sierra.
Sierra bisa mencium bau amis yang begitu pekat.
" Ini ruang bawah tanah dimana Julia ditahan disini." Ucap Arthur.
" Lalu dimana dia.?? " Ucap Sierra bingung.
Arthur berhenti di sebuah jendela kaca besar berwarna hitam, dan saat Arthur menekan sebuah tombol kaca itu berubah menjadi bening. Sierra terkejut melihat siapa yang berada didalam ruangan kaca itu.
" Astaga.. " Gumam Sierra.
Julia.. dengan rambut acak acakan, wajah kurus, mata yang memiliki lingkaran hitam seperti mata panda dan bergumam sendiri, saat ini ada didalam ruangan itu. Bahkan pakaiannya pun masih pakaian yang sama dengan terakhir kali Sierr bertemu Julia, yaitu saat kebenaran tentang pembunuh Sophia di ungkap di kediaman Arthur.
" Aku bertanya tanya kemana dia, rupanya dia ditahan disini. " Ucap Sierra.
" Dia tidak pantas bebas, polisi tidak akan menyentuhnya karena kasus itu sudah begitu lama, jadi sebagai gantinya.. aku yang menahannya disini, agar dia tetap mendapat hukuman atas apa yang di perbuat. Dia telah memfitnahmu, menyakitimu, menyiksamu, juga merebut semua milikmu." Ucap Arthur.
Sierra menatap haru laki laki dihadapannya itu, laki laki yang selalu melindunginya dari apapun setelah kelahiran kembalinya. Sierra sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi, bahkan sekedar kata terimakasih pun sangat tidak cukup jika dibandingkan dengan semua kebaikan Arthur padanya.
Lalu Sierra menatap kearah Julia yang sangat kacau itu.
" Apa dia tidak bisa melihat kita.?" Ucap Sierra.
" Kaca ini kaca dua arah, hanya kita yang bisa melihat dia, tapi dia tidak melihat kita. Tapi jika kamu mau bicara padanya, aku bisa mengubahnya menjadi kaca satu arah. Kamu mau berbicara dengannya.?" Tanya Arthur.
__ADS_1
" Iya, aku ingin tahu kabar ibu tiriku." Ucap Sierra dingin.
TO BE CONTINUED..