
Pagi hari di kediaman Arthur.
Sierra sedang berada dihalaman belakang rumah Arthur, karena ia tidak bisa kemanapun saat ini, jadi dia hanya menghabiskan harinya bersama para peliharaan Arthur. Merasa bosan bermain dengan binatang, ia pun mengitari kediaman Arthur dengan menunggangi Hwan.
Para pawang yang menjaga binatang peliharaan Arthur sampai geleng geleng kepala karena melihat Sierra yang begitu berani menunggang singa.
Setelah Sierra mengitari kediaman itu, rupanya ada sebuah ruangan untuk berolah raga disana.
" Aku tidak pernah tahu ada ruangan seperti ini disini, keren." Ucap Sierra.
Sierra masuk kedalam, namun ia meminta agar Hwan tetap berada di depan pintu, Hwan pun patuh.
" Apa Arthur selalu berolah raga disini? Ini lengkap sekali." Sierra kembali bergumam.
Sierra keluar dari ruangan itu, lalu kembali menunggangi Hwan dan kembali ke kandang Hwan.
" Hwan, ibu akan berolah raga dulu, jadilah anak baik, oke?" Ucap Sierra.
Sierra masuk kedalam dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian olah raga. Lalu ia berlari menuju ruangan yang sebelumnya ia masuki. Karena ia belum boleh berolah raga berat, jadi ia hanya berolah raga ringan saja.
Arthur pulang kerumah dan kebingungan karena Sierra tidak ada di manapun. Ia mencari dikamar, kamar mandi, dapur, segala tempat di dalam rumah tapi dia tidak menemukan Sierra. Ia pun langsung menghubungi penjaga yang berjaga di sana.
" Dimana nona?" Tanya Arthur.
" Tuan, nona berada di halaman belakang, di ruang olah raga anda." Ucap penjaga.
" Baiklah, terimakasih." Ucap Arthur, bernafas lega.
Jika ia tak menemukan Sierra, kemungkinan semua anak buahnya itu yang akan menjadi samsak tinju Arthur, untungnya anak buahnya itu benar benar mengawasi Sierra dengan baik.
Arthur berjalan kearah taman belakangnya, lebih tepatnya ketempat dimana dia sering berolah raga. Saat Arthur sampai disana, ia terkesima karena melihat Sierra yang saat ini tengah berlatih boxing sendirian.
Rambut panjang Sierra di kuncir kuda, dengan pakaian olah raganya Sierra benar benar terlihat sangat cantik saat ini.
" Rupanya dia memiliki sisi seperti ini. Aku lupa bahwa dia adalah Sierra, kekasihku. Gadis dengan segala kelebihannya. " Gumam Arthur.
" Sayang, hentikan latihanmu ayo makan dulu." Ucap Arthur.
" Arthur, kamu pulang?" Tanya Sierra bingung.
" Ya, aku ingin makan siang denganmu. Sekarang sudahi dulu aktifitasmu, lukamu belum boleh melakukan aktifitas berat." Ucap Arthur.
" Aku hanya bosan saja, tapi aku melihat tempat ini, jadi semangatku kembali berkobar." Ucap Sierra menyengir.
Arthur terkekeh mendengarnya, berkobar kata Sierra. Arthur terpikirkan sesuatu, mengapa tidak ia ajarkan Sierra cara menembak saja, untuk berjaga jaga jika suatu hari ada keadaan mendesak.
" Sayang, apakah kamu tertarik berlatih tembak?" Tanya Arthur.
" Tembak?? Sepertinya seru." Ucap Sierra.
" Jika kamu tertarik, maka aku bisa mengajarimu." Ucap Arthur.
" Aku mau!" Sahut Sierra antusias.
" Baiklah, setelah makan siang, kita belajar menembak." Ucap Arthur.
Sierra dan Arthurpun keluar dari ruangan itu, kemudian mereka makan siang bersama. Dan sesuai janji Arthur bahwa setelah makan siang mereka akan berlatih tembak , Sierra kini tengah berganti pakaian. Ia menggunakan jeans panjang berwarna putih dengan jaket sport putih sebagai atasannya.
" Sudah siap?" Tanya Arthur.
" Emh.." Angguk Sierra.
__ADS_1
" Kalau hegitu, ayo." Ucap Arthur.
Sierra bingung karena Arthur mengajaknya masuk ke mobil, ia berpikir arena tembak itu juga ada di kediaman itu. Saat didalam mobil ia masih kebingungan, akhirnya ia pun bertanya pada Arthur.
" Kita, pergi?" Tanya Sierra.
" Ya, kita akan berlatih tembak." Ucap Arthur.
" Oh, aku pikir kita berlatih tembak dirumah." Ucap Sierra terkekeh.
" Dirumah juga ada, tetapi aku sekalian ingin menunjukan padamu sesuatu." Ucap Arthur.
" Sesuatu? Apa? " Tanya Sierra.
" Kamu akan melihatnya nanti sayang." Sahut Arthur.
" Baiklah.. " Sahut Sierra.
Hingga setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah hutan. Sebenarnya bukan hutan asli, mengingat tempat itu masih berada di pinggiran kota.
Itu adalah hutan pribadi milik Arthur yang ia bangun menjadi markas TITANES. Tidak ada yang tahu bahwa Arthur membangun markasnya disana. Yang namanya Mafia itu berkaitan dengan hal hal ilegal, jadi ia mendirikan markasnya tanpa diketahui siapapun.
" Kita Sampai." Ucap Arthur.
Sierra tercengang dengan bangunan di hadapannya, seperti Rubik. Jika dilihat dari atas mungkin akan terlihat persegi.
" Tempat apa ini sayang?" Tanya Sierra.
" Ini markas TITANES." Ucap Arthur.
Sierra menutup mulutnya tidak percaya, dirinya dibawa ke markas TITANES. Itu berarti tempat itu adalah tempat dimana banyak anggota Mafia Arthur yang berkumpul.
" Hm.. Kumpulkan semua anggota di tempat arena tembak." Ucap Arthur.
" Baik, tuan." Ucap anak buah Arthur.
Arthur menggandeng tangan Sierra lalu masuk kedalam. Bangunan dangan tinggi 3 lantai itu tidak terlihat menyeramkan sama sekali, lebih seperti rumah biasa pada umumnya.
Arthur mengajak Sierra menaiki lift, yang tersenbunyi di balik dinding buatan. Sierra pikir mereka akan naik, tapi ternyata mereka justru turun kebawah. Sierra terkejut mlihat tombol Lift itu, baguan basment bangunan itu hingga lantai 6.
" Sayang, basment ini apakah sungguh sedalam itu?" Tanya Sierra.
" Ya, bagian paling bawah adalah tempat mengurung tahanan." Ucap Arthur.
Sierra hanya manggut manggut saja. Hingga lift itu berhenti di lantai 3 Basment itu. Saat Lift terbuka, di sana sudah terdengar sangat ramai. Sierra dan Arthur bergandengan tangan lalu membuka sebuah pintu dan Sierra terkejut melihat betapa banyaknya orang disana.
" Selamat datang tuan Lucifer." Sapa para anggota.
" Dengar! Dia adalah Sierra Leona, Calon nyonya kalian. Jika ia datang atau bahkan tidak sengaja bertemu dengannya, hormati dia. Perintahnya adalah perintahku juga, paham!" Ucap Arthur.
" Paham, tuan." Ucap mereka serempak.
" Sekarang bubar." Ucap Arthur.
Setelah semua orang bubar, barulah terlihat bahwa ruangan itu adalah arena tembak yang sangat besar. Ada banyak oersenjataan disana, Sierra mengambil sebuah senapan yang bisa menembak jarak sangat jauh, dan mengarahkannya kearah Arthur.
" Angkat tangan! Anda ditahan!" Ucap Sierra dengan wajah serius.
Arthur terkejut, karena senapan yang Sierra pegang itu adalah senapan buatan baru miliknya yang belum dirilis dan masih diuji coba. Tetapi kemudian ia tersenyum dan mendekat kearah Sierra.
" Oh, apakah kapten Sierra ingin menangkapku?" Ucap Arthur.
__ADS_1
Semakin Arthur maju, semakin Sierra mundur. Hingga akhirnya Sierra mentok di dinding.
" Ish, kamu tidak ada takut takutnya ya!? Aku todong pistol pun tidak takut." Ucap Sierra kesal.
" Itu bukan pistol sayang, itu senapan. Caramu memegang senapan itu saja salah, lalu kamu belum membuka kuncinya, bagaimana kamu bisa menembak?" Ucap Arthur.
" Oh! iya, kah?" Ucap Sierr yang kemudian menganati senapan itu.
" Jangan di sentuh sembarangan ya, setiap tuas itu memiliki fungsinya masing masing, akan bahaya jika kamu tidak sengaja menggesernya." Ucap Arthur.
Sierra yang merasa ngeri sendiri akhirnya meletakan senapan itu lagi. Dan berganti menjadi senjata lebih kecil, yaitu pistol biasa.
" Nah, sekarang ayo aku ajarkan menembak." Ucap Arthur.
Arthur memakaikan rompi anti peluru di tubuh Sierra, lalu ia memasangkan sebuah Headphone dan kacamata pada Sierra. Kini Sierra siap untuk berlatih. Arthur juga memakai perlengkapan yang sama pada tubuhnya.
Arthur memposisikan dirinya di belakang Sierra, ia mengajari Sierra arah angin dan sebagainya, hingga kini Sierra tengah fokus pada papan target yang terletak tak jauh di hadapannya. Sierra membidik titik tengah dengan fokus dan..
DOR.!
Sierra berhasil mengenai titik hitan di tengah, Arthur yang melihat itu pun terkejut. Ia berpikir karena Sierra masih pemula pasti ia masih belum mahir. Tapi rupanya Sierra memberinya sebuah kejutan.
Sierra berganti ke arah lain untuk mencari target lain, dan kini ia tengah memposisikan dirinya kembali untuk menembak.
DOR! DOR!
Sierra kembali berhasil mengenai target walau ia kelepasan satu tembakan.
" Sayangku memanglah gadis yang hebat." Ucap Arthur.
" Ini menyenangkan." Ucap Sierra antusias.
" Gadis lain pasti akan ketakutan melihat senjata api, kamu malah senang bahkan mengatakan menyenangkan. Kamu memang lain dari yang lain." Ucap Arthur memeluk Sierra dari belakang.
Mereka pun melanjutan latihan mereka, hingga akhirnya malam pun tiba.
" Sayang, ayo kita kembali. Hari sudah malam." Ucap Arthur.
" Ya, ayo." Sahut Sierra.
Di sisi lain masih di tempat yang sama. Tepatnya dilantai 6 basment, beberapa pria tengah membicarakan tentang kehadiran nyonya mereka. Sambil beberapa dari mereka tengah sibuk dengan aktifitas mereka dengan seroang wanita.
" Nona Sierra sangat cantik, sangat cocok dengan tuan kita. Aku jadi tidak sabar melihat mereka menikah, keturnan tuan Lucifer pasti akan menjadi penerus tuan Lucifer, aku tidak sabar melihat tuan Lucifer junior." Ucap anak buah Arthur.
" Mereka pasangan yang serasi." Ucap yang satunya.
Wanita yang tengah pasrah saja di jamah para pria itu mendengar obrolan para pria itu.
' Sierra.. Lagi lagi Sierra. Aku akan membunuhmu dan membuatmu merasakan hal yang seperti yang aku rasakan Sierra!' Batinnya bermonolog.
Perempuan yang saat ini tengah di jamah beberapa pria adalah Calista. Tak terhitung sudah berapa ratus ribu kali ia di setubuhi pria disana sejak dirinya dibawa ketempat itu. Setiap hari ia melayani pria berbeda, dan sehari bisa sampai lebih dari sepuluh pria.
Bagi Calista kini melawan atau ketakutan pun tidak akan ada artinya, ia hanya akan semakin disiksa dan mendapat luka luka baru. Jadi ia hanya akan diam saja walau seluruh tubuhnya remuk. Ia diam sambil menyusun rencana pembalasan dendamnya.
" AKH!!" Pekik Calista sambil tubuhnya bergetar.
Seorang pria menjambak rambutnya sangat kuat, Calista sudah tak berbentuk seperti manusia. Ia tidak mengenakan apapun sekarang, bahkan tubuhnya penuh luka dengan rambut acak acakan.
' Aku akan membuat kalian semua menyesal nanti!!' Batinnya dengan air mata meleleh dari sudut matanya.
TO BE CONTINUED.
__ADS_1