
Tio membawa Daniel kedalam kedalam mobil, lalu ia melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit. Sambil menangis Tio mengemudikan mobil itu sendiri.
" Kenapa tuan.." Gumam Tio dalam tangisnya. Tio teringat dengan pesan Daniel saat di rumah sakit.
Flashback on..
Tio sedang berada di kamar rumah sakit. Karena kondisinya parah, ia pun harus menggunakan alat bantu pernafasan.
" Tio.. Besok, aku ingin menemui Bernard untuk yang terakhir kalinya. Kamu pergilah temui orang ini." Ucap Daniel sambil memberikan sebuah karru nama pada Tio.
" Dia adalah mata mata yang sudah aku bayar untuk menyelidiki kebenaran pembantaian keluarga Bernard. Jika beruntung.. Maka kamu akan melihatku hidup. Jika tidak maka... "
" Tuan, jangan mengucapkan kata kata itu. Takdir anda bukan anda sendiri yang mengaturnya. Tuhan sudah menuliskan sekenarionya untuk kita." Ucap Tio.
" Kamu tetaplah kamu, kita tumbuh bersama, dan sejak dulu kamu selalu menjadi religius." Ucap Daniel.
" Terimakasih, karena kamu sudah merawat Sierra. Dia tumbuh menjadi gadis baik pasti karena didikanmu." Ucap Daniel.
" Nona Sierra memang pada dasarnya gadis yang baik, hatinya begitu lembut seperti Malaikat juga penyayang. Semua itu pasti turun dari anda dan nyonya Sophia." Ucap Tio.
" Aku iri padamu, karena bisa melihat Sierra bertumbuh menjadi gadis yang kuat dan tegar. Seandainya waktu bisa di ulang kembali.." Ucap Daniel dengan pandangan menerawang.
" Aku sangat menyesali kebodohanku. Tio.. sampaikanlah maafku pada Sierra." Ucap Daniel.
" Kenapa bukan anda saja yang mengucapkannya." Ucap Tio.
" Dia tidak akan mau menemuiku. Dia sudah sangat membenciku, dan aku terima itu. Aku memang layak dibenci, aku ayah yang buruk." Ucap Daniel.
" Sampaikanlah Tio.. Aku sangat menyayanginya. Ini.. " Ucap Daniel sambil memberikan sebuah kotak kayu.
" Berikan itu kepadanya.. Tio, jika besok aku mati.. "
" Tidak tuan.. Jangan katakan itu." Ucap Tio.
" Dengar, jika besok aku mati.. bawalah aku ke rumah sakit. Katakan aku mengalami sesak nafas, dan meninggal di perjalanan menuju kerumah sakit. Jika ada yang mau mengautopsi jasadku, jangan izinkan. Aku tidak mau tubuhku di potong potong." Ucap Daniel terkekeh.
Tio menangis mendengar apa yang di katakan oleh Daniel. Ia akhirnya mengangguk.
" Terimaksih, aku akan beristirahat." Ucap Daniel.
Flashback Off..
Tio menangis sepanjang perjalanan, hingga ia tiba di rumah sakit. Dan sesuai keinginan Daniel, ia mengatakan kepada dokter bahwa Daniel kehilangan nafas saat menuju ke rumah sakit.
Dokter melalukan pertolongan pertama pada Daniel, ia menekan nekan dada Daniel sembari brankar rumah sakit itu menuju ke ruang ICU.
" Tuan.." Gumam Tio.
Di tempat lain..
__ADS_1
Sierra masih setia dalam tidurnya, kemudian keningnya mengernyit dan mulutnya bergumam. Rupanya Sierra bermimpi.
" Ibu.." Gumam Sierra.
Di dalam mimpi Sierra, ia melihat Sophia yang tersenyum kearahnya. Namun senyumnya itu hampa, seakan ada kesedihan yang tersimpan di balik senyum Sophia.
" Ibu.. Kenapa ibu terlihat sedih?" Ucap Sierra.
Sophia kemudian menangis, dan mengcup kening Sierra. Tangan Sophia membelai pipi Sierra dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir.
" Ibu.. " Ucap Sierra.
" Hiduplah dengan bahagia putriku, lepaskan semua kebencian dihatimu pada ayahmu, maafkan ayahmu, ya?" Ucap Sophia.
Sierra menatap tak mengerti pada Sophia, mengapa tiba tiba ia menangis dan meminta Sierra untuk memaafkan Daniel.
" Kami menyayangimu nak." Ucap Sophia kembali menangis.
" Ibu, sebenarnya kenapa? Bukankah ibu tahu bahwa ayah yang telah menelantatkan aku? Aku membencinya bukan tanpa alasan." Ucap Sierra.
" Dia sudah mengakui kesalahannya sayang, dia sangat menyesali semua perbuatannya padamu. Ibu dan ayah.. Sangat menyayangimu." Ucap Sophia.
Tangis Sierra pecah tatkala melibat siluet Daniel yang berdiri begitu jauh dari Sophia. Terlihat Daniel dengan wajah sendunya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Sierra.
Sierra akhirnya menyadari, bahwa Daniel juga telah pergi dari dunia. Air mata nya menetes tanpa permisi, marah, kecewa, sedih, bercampur aduk di benaknya saat ini. Ia melihat Daniel yang berdiri begitu jauhnya.
" Kami pamit sayang, tolong.. maafkan ayahmu, ya? Hiduplah dengan bahagia, tanpa dendam.. Ayahmu, menyesali semuanya. Semuanya... " Ucap Sophia.
" Sayang.. Kami menyayangimu." Ucap Sophia.
Perlahan Sophia menjauh, meninggalkan Sierra. Sierra hendak mengejar, tetapi kemudian ia tidak bisa melangkahkan kakinya sekaan ada magnet yang menariknya.
" Ibu..." Ucap Sierra..
Sophia menggandeng tangan Daniel, lalu melambaikan tangan kearah Sierra. Perlahan mereka menghilang di balik cahaya.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Suara tangis Sierra. Arthur terbangun saat mendengar tangisan istrinya.
" Sayang... hei.. hei.. Kamu kenapa? Sayang.. Sierra." Ucap Arthur membangunkan Sierra.
Sierra membuka matanya kemudian langsung memeluk Arthur dan pecah kembali tangisannya. Arthur menjadi bingung, karena Sierra terus terusan menangis.
" Sayang, kamu kenapa?" Ucap Arthur.
" Dia.. pergi." Ucap Sierra.
" Dia, dia siapa?" Tanya Arthur sambil mengusap punggung Sierra.
__ADS_1
" Ar- Arthur.. dia sudah pergi. Ayahku, sudah pergi." Ucap Sierra sambil sesenggukan.
" Sayang, itu hanya mimpi." Ucap Arthur.
RING... RING... RING..
Ponsel Sierra berdering, panggilan dari Tio. Karena Sierra sedang menangis, Arthur pun mengangkat panggilan itu.
" Halo.." Ucap Arthur.
" Tuan Arthur, apakah nona Sierra ada? Saya ingin memberitahukan sebuah berita."
" Katakan, akan aku sampaikan." Ucap Arthur.
" Tuan daniel telah meninggal dunia sore tadi, dan akan di bawa kerumah duka di kota K. "
Arthur menatap Sierra yang saat ini tengah menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka apa yang Sierra katakan dari mimpinya ternyata sungguhan terjadi.
" Baik, aku mengerti. Terimakasih sudah mengabari. Kami akan menyusul kesana. " Ucap Arthur, lalu panggilan pun berakhir.
Arthur memeluk Sierra dengan erat, sekaan ia bisa merasakan kesakitan istrinya itu. Arthur ikut bersedih, dan mengusap usap punggung Sierra.
Terkadang, ikatan hati antara anak dan orang tuanya begitu erat. Bahkan hingga saat kematian orang tua menghampiri, maka anaknya mengalami mimpi yang aneh, dimana orang tuanya berpamitan pada anaknya.
Beberapa jam berlalu, Sierra dan Arthur saat ini dalam perjalanan menuju ke kota K dimana Daniel berada. Sepenjang perjalanan itu, Sierra hanya diam didalam pelukan Arthur bahkan matanya tidak berkedip sekalipun seperti orang yang tengah melamun.
Ada banyak iring iringan mobil yang mengikuti mobil Arthur. Sahara dan Cornelius juga rupanya ikut melayat walaupun ia sempat geram dengan Daniel saat hidup.
Hingga sampailah mereka di rumah duka diaman Daniel berada saat ini. Mengapa Daniel berada di kota lain, karena Daniel ingin makamnya bersebelahan dengan makam istrinya, Sophia.
Sierra turun dan berjalan bergandengan tangan dengan Arthur. Dan kehadiran Sierra di sambut oleh Tio.
" Nona.." Ucap Tio, Sierra hanya mengangguk dan berjalan lurus menuju ke peti mati Daniel.
Sierra berdiri di samping peti mati Daniel, wajah Daniel yang biasanya segar itu begitu kurus dan pucat. Air mata Sierra menetes tanpa permisi melihat bagaimana Daniel yang sudah tidak bernyawa dan terbujur kaku saat ini.
' Bagaimana kita bisa berkahir seperti ini.. kau membuat hubungan kita hancur seperti ini karena kematian ibu? Dulu, aku ingin tahu kebenarannya, tapi kau hanya mendiamkanku, dan mengatakan aku sebagai pembunuh.'
' Setelah semua yang terjadi, kamu meminta ku untuk memaafkanmu. Aku telah mengalami banyak kesakitan dan tidak pernah merasakan kasih sayang darimu, kenapa aku harus memaafkanmu? ' Batin Sierra.
' Kamu ayah yang buruk, dan kejam dan aku sangat membencimu.. Tapi aku lebih benci caramu meninggalkan aku di dunia ini, kamu menghancurkan dinding kebencian yang sudah aku bangun tinggi tinggi. Mengubahnya menjadi kesedihan. '
' Aku benci mengakui bahwa aku sedih karena kehilanganmu, tapi.. dalam lubuk hatiku, masih tersisa sedikit rasa sayang untukmu. Bagaimana kamu dulu menggendongku, dan memanjakan aku sebelum ibu pergi meninggalkan kita dan kamu menjadi begitu memusuhiku.'
' Dulu, aku sangat ingin sekali di peluk olehmu, hingga sekarang kamu pergi untuk selamanya, aku tidak pernah merasakan pelukanmu yang hilang. Ayah... kenapa kita harus menjadi seperti ini? ' Batin Sierra.
Arthur memeluk Sierra yang tubuhnya bergetar dan tampak lunglai. Sierra tidak terisak, hanya saja ia menangis dalam diam.
" Aku memaafkanmu, beristirahatlah dalam damai bersama ibu. " gumam Sierra.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..