
Ke esokan harinya, seluruh stasiun televisi, internet bahkan surat kabar memberitakan tentang identitas jasad yang di temukan membusuk di gang kemarin.
Yang menggemparkan adalah hasil DNA jasad pria yang di temukan membusuk itu adalah milik Alden Mikhael, pria yang kabur dari penjara dan menjadi buronan selama beberapa bulan ini.
Dugaan kuat penyebab kematian Alden adalah karena luka tembak di jantungnya. Polisi langsung menelisik kembali TKP guna mencari tanda bukti lain berupa saksi atau cctv yang merekam kejadian pembunuhan itu.
" Sayang, minum jusnya dulu." Ucap Arthur.
" Ya. Sayang lihat, jasad yang kemarin di temukan rupanya dalah jasad Alden." Ucap Sierra yang tengah menonton tv.
" Jangan menonton tentang kriminal, sayang." Ucap Arthur.
" Jadi Alden akhirnya mati mengenaskan? Tapi kenapa dia berakhir demikian, padahal dia diangkat menjadi anak paman Bernard." Ucap Sierra.
" Jika seseorang sudah tidak berguna, maka akan lebih baik menyingkirkannya. Apalagi jika orang itu terlalu banyak tahu rahasia. Mungkin Alden sudah tidak di butuhkan lagi." Ucap Arthur.
" Jadi, apakah niat paman Bernard membantu Alden kabur dari penjara adalah untuk membuat perjodohan pernikahan itu saja? Sebenarnya apa tujuan dia melakukan hal konyol itu." Ucap Sierra.
" Karena sudah berlalu, maka biarkan saja berlalu, sayang. Pumpkin akan kelaparan jika mommy nya tidak segera minum jus." Ucap Arthur.
" Ya, Daddy.. " Ucap Sierra, menirukan suara anak kecil.
Akhirnya Sierra meminum jus yang Arthur buat. Di luar, hujan sedang turun begitu lebatnya.. membuat siapa saja yang beraktifitas menjadi malas, seperti Sierra ini. Dia hanya rebahan saja di sofa sejak bangun tidur.
" Oiyah, sayang.. Malam ini mami berulang tahun, apakah mami mengadakan acara?" Tanya Sierra.
" Jika tidak membuat acara besar, maka bukan mami Sahara namanya. Tapi tahun ini mami merayakan ulang tahunnya di hotel milikmu." Ucap Arthur.
" Ha? Milik siapa?" Ucap Sierra, memastikan pendengarannya.
" Milikmu, sayang." Ucap Arthur lagi.
" Aku tidak punya hotel, sejak kapan aku memiliki hotel?" Ucap Sierra
" Nanti malam, kamu akan melihatnya." Ujar Arthur sambil mengerlingkan sebelah matanya.
" Ish, lihat nak.. sejak kapan daddy mu menjadi genit begitu." Ucap Sierra sambil mengajak bicara perutnya yang masih rata.
" Sejak daddy bertemu dengan mommy pumpkin." Ucap Arthur.
Sierra terkekeh mendengarnya, Entahlah, ada saja bahan candaan mereka. Bersama Sierra, Arthur seperti bukan Lucifer yang terkenal bengis, tetapi lebih seperti suami dan ayah yang siaga terhadap istri dan anaknya.
Siapa yang tahu, setelah kehidupan pahit yang Sierra alami sepanjang hidup hingga kematiannya di kehidupan lalu, kini ia bisa merasakan kehidupan manis bersama orang yang sangat ia cintai dan mencintai dirinya.
Ditambah lagi kini dirinya tengah mengandung buah cinta mereka. Semakin sempurna kisah cinta mereka. Bahkan tanpa mengotori tangannya, Semua orang yang jahat kepadanya kini mendapatkan karma mereka masing masing.
" Sayang, aku ingin menyentuhnya." Ucap Arthur sambil mengelus perut rata Sierra.
" Pumpkin belum berbentuk daddy, perut mommy masih rata." Ucap Sierra menirukan suara anak kecil.
" Tidak masalah.." Ucap Arthur.
Arthur merebahkan dirinya di pangkuan Sierra, kemudian wajahnya menghadap ke perut Sierra dan mulai menciumi perut Sierra.
" Baby pumpkin nya Daddy, cepatlah tumbuh besar dan keluar dari perut mommy. Daddy sangat tidak sabar bertemu denganmu." Ucap Arthur.
" Kira kira dia perempuan atau laki laki, sayang?" Tanya Sierra.
" Perempuan atau laki laki bukanlah masalah, yang terpenting dia sehat dan normal. Juga.. yang paling penting, kamu baik naik saja." Ucap Arthur.
__ADS_1
" Sayang, jika nanti terjadi sesuatu padaku saat mekahirkan anak kita.."
" Jangan bicara begitu sayang.. Tidak ada yang tau takdir manusia. Kamu akan baik baik saja.." Ucap Arthur, memotong ucapan Sierra.
" Dengar , sayang.. Aku hanya berpesan. Jika nanti sungguh terjadi sesuatu padaku, tolong kamu besarkan anak kita, dan sayangi dia. Aku tidak mau anakku bernasib sama seperti diriku." Ucap Sierra.
" Kenapa kamu begitu takut, sayang." Ucap Arthur.
" Aku tidak ingin anak kita mengalami nasib seperti diriku dulu, sangat menderita hidup tanoa kasih sayang. Kamu adalah ayahnya, dia hanya memiliki dirimu. Jadi aku mohon berjanjilah untuk tidak menelantarkan anak kita." Ucap Sierra.
Arthur melihat dalamnya ke khawatiran Sierra, Arthur bisa mengerti mengapa Sierra bisa begitu khawatir. Karena apa yang dialaminya memanglah tidak mudah. Hidup sendirian, diasingkan, di kucilkan, bahkan tidak dianggap.
" Aku berjanji, sayang. Dia adalah anakku, buah cinta kita. Tetapi aku akan memastikan tidak akan terjadi apapun padamu. Kamu akan baik baik saja, dan kita akan membesarkan dia bersama sama, hingga dia dewasa." Ucap Arthur bersungguh sungguh.
Sierra meneteskan air matanya, ia bisa bernafas lega. Jika terjadi sesuatu kepadanya nanti, ia tidak akan khawatir dengan nasib anaknya.
Arthur menghapus airmata Sierra sembari menggelengkan kepalanya.
" Jangan menangis sayang, baby pumpkin akan ikut bersedih jika mommynya bersedih." Ucap Arthur.
" Maaf, aku hanya terlalu terbawa perasaan." Ucap Sierra.
Arthur bangun dari posisi baringnya lalu membawa Sierra kedalam pelukannya. Ibu hamil memang mudah berubah ubah suasana hati. Sebentar ceria, sebentar menyedih. Sebentar marah sebentar senang.
" Muah."
Arthur mengecup bibir Sierra satu kali, Dan Sierra tersenyum.
" Muah muah."
Arthur mengecup bibir Sierra lagi, dan Sierra mulai terkekeh kecil.
" Oh, belum berhasil.. Pumpkin nya daddy, bantu daddy bujuk mommy mu, oke? Kita buat mommy kembali ceria." Ucap Arthur.
" Nah... aku lebih senang melihat kamu ceria, sayang. Tetaplah ceria, bahagia, senyum, tertawa, jangan ada kata sedih." Ucap Arthur.
" Ya, daddy.." Ujar Sierra.
Hingga akhirnya, malam pun tiba. Sierra sudah cantik, ia mengenakan gaun model Cheongsam modern berwarna navy dengan panjang sebatas lutut dan memiliki ekor sebatas betis. Sangat anggun dan elegan.
Sementara untuk rambutnya, Sierra hanya membiarkannya terurai, dan ia memakai satu buah jepit cantik untuk menghiasi rambit indahnya itu.
Arthur sengaja memilihkan gaun yang simpel untuk Sierra, ia tidak ingin Sierra kesusahan nantinya, ia bahkan memilihkan sepatu slop yang nyaman untuk Sierra berjalan.
" Kamu cantik sekali sayang." Ucap Arthur memeluk Sierra dari belakang.
" Kamu juga tampan, selalu tampan, dan semakin tampan." Ucap Sierra.
Sementara Arthur, ia menggunakan kemeja Navy dan di padukan dengan jas hitam. Ia terlihat sangat tampan memang, sangat serasi dengan Sierra yang seperti dewi.
" Ayo.." Ucap Arthur.
" Peluk dulu." Ucap Sierra.
Arthur terkekeh mendengarnya, ia pun memeluk Sierra lalu mereka pun pergi dari sana. Malvin mengemudikan mobilnya, dan Andra duduk di sebelah Malvin.
Di sisi lain..
Di sebuah aula hotel nan mewah, terlihat begitu banyak tamu undangan telah datang menghadiri acara ulang tahun Sahara. Lalu terlihat Sahara yang tampak anggun seperti biasanya dengan gaun merah maroon nya.
__ADS_1
" Papi, mana Arthur dan Sierra?" Ucap Sahara.
" Mungkin mereka macet mi." Sahut Cornelius.
" Mami sudah beberapa hari ini tidak bertemu Sierra, mami merindukannya." Ucap Sahara.
" Pi, kenapa Arthur memilih hotel ini sebagai tempat ulang tahun mami? Ini hotel siapa?" Ujar Sahara.
" Mana papi tahu, mami tanyakan saja pada Arthur nanti. Nah.. itu mereka tiba." Ucap Cornelius saat melihat Arthur yang menggandeng Sierra.
" Sierra.." Ucap Sahara antusias langsung memeluk Sierra.
" Palan pelan mi, nanti kalian jatuh." Ucap Arthur langsung menjaga di belakang Sierra.
" Astaga, apakah peluk saja bisa jatuh? Lihat sayang, suamimu ini over protektif." Ucap Sahara, dan Sierra hanya bisa terkekeh melihatnya.
" Ayo.. ayo.. Acara akan segera di mulai." Ucap Cornelius.
Dan benar saja, seorang MC mulai berbicara diatas panggung, dan membuka serangkaian acara ulang tahun Sahara.
Pesta ulang tahun itu pun berjalan dengan sangat meriah dan lancar. Hingga setelah Sahara menyelesaikan sesi potong kue nya, Arthur maju ke depan panggung dan mengambil alih pusat perhatian.
" Selamat malam semuanya. Terimakasih telah hadir di pesta ulang tahun ibuku. Malam ini selain pesta ulang tahun ibuku, aku juga ingin meresmikan berdirinya hotel ini." Ucap Arthur.
" Astaga, rupanya hotel ini milik Arthur pi." Ucap Sahara.
" Jika kalian mengira hotel ini miliku, kalian salah. Hotel ini milik istriku, Sierra Leona. Sayang, kemari." Ucap Arthur dan para tamu pun bertepuk tangan.
" Majulah sayang." Ucap Sahara pada Sierra.
Sierra pun berjalan dengan anggun nya maju keatas panggung, dan langsung di sambut pelukan dan kecupan hangat dari Arthur.
Andra dan Malvin juga ikut naik keatas panggung membawakan sebuah pita merah dan gunting. Mereka berdiri saling berjauhan dengan menjenjang pita merah itu, lalu memberikan gunting itu pada Sierra.
" Potonglah sayang." Ucap Arthur, Sierra mengangguk lalu memotong pita itu.
Semua orang pun bertepuk tangan, terutama Sahara yang terlihat begitu antusias. Setelah pita di potong, barulah tirai hitam di belakang Arthur dan sierra terbuka.Terdapat nama SIERRA HOTEL Yang tertulis dengan indah disana.
" Hotel ini resmi di buka." Ucap Arthur.
Serangkaian acara itu pun akhirnya berakhir. Kini mereka tengah menikmati makan malam bersama di aula itu.
" Selamat ulang tahun Mami.. Maaf Sierra tidak membawa kado apapun." Ucap Sierra.
" Astaga, sayang.. kamu hadir saja mami begitu bahagia. Tidak perlu kado." Ucap Sahara.
" Tapi Sierra membawa kabar baik." Ucap Sierra.
" Apa itu sayang?" Tanya Sahara.
Sierra mengeluarkan sebuah foto kecil, itu adalah foto hasil USG Sierra. Sahara langsung menutup mulutnya tidak percaya.
" Sayang, kamu hamil?" Ucap Sahara, dan Sierra mengangguk.
" Kyaa!!!! " Teriak Sahara begitu bahagia.
" Ada apa nyonya?" Tanya salah seorang tamu.
" Maaf, saya hanya terlalu bahagia." Ucap Sahara. Sierra sampai terkekeh sendiri melihat kelakuan mertuanya itu.
__ADS_1
" Akhirnya aku akan menjadi seorang nenek." Teriak Sahara senang.
TO BE CONTINUED..