The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 94. Lupa.


__ADS_3

Di Jakarta, Daniel masih terus berusaha mencari cara untuk menemui Sierra. Menurut anak buahnya, Sierra di rawat di kediaman utama keluarga Edward. Yang berarti itu di rumah Cornelius dan Sahara.


Daniel semakin kesulitan saja untuk menemui Sierra, penjagaan disana sanhat ketat. Bahkan menurut anak buah Daniel, Arthur tidak datang ke perusahaan dan menjalankan pekerjaan nya dari rumah.


" Apakah Sierra baik baik saja?" Gumam Daniel.


Dia tidak tahu saja bahwa Sierra telah menikah dengan Arthur di Bali semalam. Vian ( Alden) pun kini semakin sering mengunjungi Daniel setelah Daniel kembali ke kediamannya di jakarta.


" Paman, apakah ada perkembangan tentang Sierra?" Tanya Vian ( Alden).


" Tidak ada, keamanan disana sangat ketat. Bagaimanapun keluarga Edward orang yang sangat berpengaruh, kediamannya di jaga oleh aparat negara, dan orang orangku tidak bisa begitu saja masuk." Ucap Daniel.


" Vian, bagaimana jika kau yang kesana? Mereka mengenalku, jadi melarangku masuk. Jika kamu yang kesana dan mengatakan bahwa kamu adalah teman Sierra, pasti mereka mengizinkanmu masuk" Ucap Daniel.


Vian ( Alden ) meninmbang nimbang ucapan Daniel. Memamg benar itu bisa saja ia lakukan, tapi.. Arthur mengenalnya juga, pasti Arthur juga akan mempersulit dirinya, terlebih lagi kerja sama mereka telah berakhir, maka akn sulit menemui Arthur.


" Sepertinya tidak bisa paman, Arthur adalah kolega kerja ayahku. Dan beberapa hari yang lalu dia memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengaku. Melihat dari sifat Arthur. Sepertinya akan lebih sulit lagi menemuinya." Ucap Vian ( Alden ).


" Huft.. Baiklah, aku akan mencari cara lain." Ucap Daniel.


" Paman, ayahku membawakan ini untukmu. Ini adalah teh herbal untuk merileks-kan fikiran. Dengan meminum ini kita bisa lebih tenang." Ucap Vian ( Alden ) Sembari memberikan satu kotak teh.


" Oh, ya.. Terimakasih." Ucap Daniel.


" Biar aku buatkan paman." Ucap Vian ( Alden ) Sembari berjalan menuju kearah dapur.


' Lihatlah, dia adalah pria yang baik dan perhatian pada orang tua. Walaupn Arthur baik pada Sierra, tapi dia sangat dingin padaku. Vian adalah pilihan yang cocok untuk Sierra.' Batin Daniel.


Jika saja Daniel tahu kebenaran tentang Vian yang adalah Alden, mungkin dia akan menangis darah. Karena dia telah memaksa putrinya sendiri menikah dengan Alden yang seorang kriminal itu.


Tak lama Vian ( Alden ) kembali membawa secangkir teh herbal untuk Daniel dan manaruh nya di atas meja.


" Paman, silahkan." Ucap Vian ( Alden )


" Mana punya mu?" Tanga Daniel.


" Oh, aku tidak suka teh paman, aku lebih ke kopi." Ucap Vian ( Alden )


" Oh, baiklah. Terimakasih ya nak." Ucap Daniel.


" Ya, paman." Ucap Alden.

__ADS_1


Di temoat lain, Bali.


Sierra baru saja membuka matanya, dan pemandangan yang terlihat pertama kali adalah wajah Arthur, suaminya yang saat ini tengah menatap dirinya.


" Pagi, Sayang." Ucap Arthur.


" Pagi." Sahut Sierra.


Arthur mengecup singkat bibir Sierra, satu kali, dua kali tiga kali hingga Sierra menahan yang ke empat kalinya.


" Aku haus." Ucap Sierra.


" Oh, sebentar biar aku ambilkan." Ucap Arthur.


" Aku ambil sendiri saja." Ucap Sierra menghentikan Arthur.


" Kamu yakin?" Tanya Arthur.


" Ya aku ya ukh!! Sssh.. " Ucap Sierra kesakitan.


" Nah kan, sudah tiduran saja, biar aku yang ambil minumnya." Ucap Arthur dan bangkit dari ranjang.


Ia lupa telah melakukan pertarungan sengit dengan Arthur semalam.


" Ini, minumlah." Ucap Arthur, Sierra pun mengambil gelas dan meminum air itu.


" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, ayo aku gendong." Ucap Arthur, Sierra menurut saja toh hanya gendong ke kamar mandi.


Namun saat Arthur membuka selimutnya, ia baru merasakan dirinya dingin karena tak menggunakan apapun saat ini. Sierra hampir berteriak tapi Arthur membekap mulut Sierra sambil terkekeh.


" Jangan teriak, kamu akan membangunkan seluruh penghuni hotel ini, nanti." Ucap Arthur masih terkekeh. Sementara Sierra, nafasnya memburu dengan mata yang panik karena syok melihat dirinya tak berpakaian.


" Janji jangan teriak, oke?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Arthur pun melepaskan bekapan nya dari Sierra dan kembali terkekeh, karena wajah Sierra sangat lucu saat ini. Seperti orang yang linglung.


" Kamu lupa, hum? Kita semalam sudah melewati malam pengantin kita. Terimakasih sayang, kamu sudah mengizinkan aku memilikimu seutuhnya." Ucap Arthur


" Astaga.." Ucap Sierra , lalu kembali bersembunyi di balik selimut.


Sierra menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut. Arthur yang melihat itu pun semakin terkekeh. Menggemaskan sekali Sierrra nya itu.

__ADS_1


" Sayang.. Kenapa malah kembali kedalam selimut? Kamu mau melakukannya lagi?" Ucap Arthur jail.


" Arthur.." Ucap Sierra kesal.


Sierra merutuki kebodohan nya, bisa bisanya dia bangun dengan santai padahal tubuhnya tak memakai apapun. Tiba tiba ia merasaka sesuatu yang ikut masuk bersamanya kedalam selimut, itu adalah Arthur.


Sierra hendak membuka selimutnya, tetapi Arthur menahannya. Keduanya kini berada didalam selimut dengan posisi Arthur berada di belakang Sierra sambil memeluk Sierra yang tengah meringkuk.


" Sayang, kita sudah menikah.. Kamu lupa ya? Wajar jika pasangan kita melihat tubuh kita, kita sudah menikah." Ucap Arthur sambil menciumi pundak Sierra.


" Aku hanya masih sedikit syok saja." Ucap Sierra.


" Aku mengerti, sekarang kita mau mandi atau mau terus seperri ini? Kamu tidak mau melibat pantai, kah?" Ucap Arthur.


" Itu ku sakit." Ucap Sierra.


Arthur terkekeh mendengarnya. Akhirnya ia membuka selimut yang menutupi mereka, dan gerakan pelan Arthur menggendong Sierra lalu menuju ke kamar mandi yang telah tersedia air hangat di dalam bath up.


Arthur ikut masuk dan menemani Sierra berendam, ia bahkan membantu Sierra mandi hingga benar benar selesai semua. Sierra telah bisa berdiri kini, walaupun ia masih merasa nyeri di pangkal paha nya.


" Bagaimanah, Apakah sudah mendingan? " Tanya Arthur sembari mengeringkan rambut Sierra dengan mesin pengering rambut.


" Ya, ini lebih baik. Tapi bagaiaman dengan pakaian kita? Kita tidak memiliki pakaian." Ucap Sierra.


" Mami mengirim pesan, orang hotel yang akan mengirimkan kemari." Ucap Arthur, sembari meletakan mesin itu dan menata Rambut panjang Sierra yang telah kering sempurna.


" Oh, baiklah." Ucap Sierra.


Dan benar saja, akhirnya karyawan hotel datang mengantar dua koper besar milik Sierra dan Arthur. Arthur membuka pintu dan menerima kopernya, lalu orang orang itu kembali pergi.


" Nah, sudah datang. Biar aku carikan bajumu." Ucap Arthur.


Arthur mengambilkan satu set pakaian untuk Sierra, dan membantu Sierra memakainya. Setelah itu dirinya pun berganti pakaian dengan warna yang sama seperti pakaian yang di kenakan Sierra, yaitu biru muda.


" Ayo, kita sarapan, mami, papi, dan semuanya sudah menunggu kita di restoran." Ucap Arthur.


" Ya." Ucap Sierra.


Akhirnya mereka pun keluar dari kamar pengantin mereka itu, menuju ke restoran hotel. Walau sakit, Sierra mencoba untuk berjalan se- normal mungkin, sambil bergandengan tangan dengan Arthur.


TO BE CONTINUED.

__ADS_1


__ADS_2