
Daniel di larikan ke rumah sakit, dan dokter pun langsung menangani Daniel. Tio berjalan mondar mandir dengan gelisah. Ia ingin menghubungi Sierra, tetapi ia ingat pesan Daniel untuk tidak memberi tahu Sierra apapun yang terjadi padanya.
" Ya Tuhan, aku harus bagaimana." Gumam Tio.
Di tempat lain, saat ini Vian / Alden sedang dalam masa pengejaran anak buah Arthur. Ia bersembunyi di gang gang kumuh saat ini.
" S* al!! Kenapa ini bisa terjadi." Gumam Vian /Alden.
Saat Alden dalam perjalanan menuju ke kediaman Daniel dengan membawa anak buahnya yang akan ia tempatkan ke sisi Daniel, tiba tiba mobilnya di ikuti oleh mobil mobil hitam di belakangnya.
Vian dan anak buahnya itu saling kejar dengan anak buah Arthur tidak peduli arah mana mereka pergi mereka masuki saja, hingga akhirnya mereka justru terjebak di sebuah jalan sepi, dan buntu. Vian dan anak buahnya pun berlari, tetapi anak buah Vian lebih dulu tertangkap oleh anak buaj Arthur.
Vuan mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengirim pesan teks kepada Bernard, tetapi sebuah langkah kaki menghampiri tempat diaman dirinya berada saat ini. Vian langsung bungkam dan mematikan ponselnya.
" Sia sia aku membuatmu keluar dari penjara, rupanya kau hanya orang bodoh tak berotak. Bisa bisa nya kau mengirim penyusup di siang hari ke kediaman Arthur." Ucap Bernard.
Vian/ Alden langsung keluar dari persembunyiannya. Namun tiba tiba dirinya di todong empat senjata api milik anak buah Bernard.
" Tuan, kenapa anda menodongku?" Ucap Vian/ Alden.
" Karena kau gagal. Aku sudah berulang kali mengatakan kepadamu untuk jangan bertindak sembarangan, Alden. Arthur Edward bukanlah orang yang mudah di hadapi, ia lebih sulit dari ayahnya yakni Cornelius. Tetapi kau.." Ucap Bernard menggantung.
" Bukankah kau ingin hidup bebas, Alden? Aku sudah membebaskanmu, dan memintamu dengan patuh bekerja kepadaku. Aku menyusun rencanaku matang matang tetapi kau!! Merusaknya." Ucap Bernar dengan tatapan bengis.
" Pukuli dia!!" Ucap Bernard.
" Tuan.. Ukh!" Alden langsung di seret dan di pukuli, ia melawan pun kalah karena anak buah Bernard ada banyak.
BAK! BUG! BAK! BUG! BRUK!!
" Uhuk!! Uhuk!! Tuan, aku minta maaf. Tolong beri aku satu kesempatan lagi." Ucap Alden memohon.
" AARGH!! Tuan." Alden kesakitan.
" Rusak wajahnya, aku tidak rela wajah putraku yang baik di pakai oleh pria kriminal sepertinya!" Ucap Bernard.
Seorang anak buah Bernard membuka sebuah belati kecil, dan dua orang anak buah Bernard mencekal kedua tangan Alden.
" Tidak!! Jangan!! Tuan, tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan membangkang." Ucap Alden.
Percuma saja, Bernard justru melangkah pergi meninggalkan Alden.
Anak buah Bernard merusak wajah Alden dengan belati, terdengar teriakan memilukan dari Alden.
" AARRGHHH!! AARRGGHH!!!" Teriak Alden.
BRUK!!
__ADS_1
Alden tergeletak dengan wajah penuh darah, Alden saat ini hanya bisa mengerang kesakitan dan tidak berdaya. Anak buah Bernard bahkan membutakan satu mata Alden.
" Arrhh... Tolong.. Siapapun.. Arrhh.." Erang Alden kesakitan.
Tetapi gang itu adalah gang kumuh yang terpencil, dan jarang di kunjungi orang, karena itu adalah bekas pabrik kosong. Mengapa Bernard bisa menemukan Alden, karena Bernard memasangkan alat pelacak di tubuh Alden.
Saat menjalankan operasi, Bernard meminta pada tim dokter agar memasangkan sebuah mikrochip kecil untuk melacak dimanapun keberadaan Alden. Oleh karena itu, Bernard mengetahui apapun yang di lakukan oleh Alden, termasuk ketika Alden diam diam mengunjungi Carine, dan menyewa penyusup.
__________________
Ke esokan harinya..
Di kediaman Sierra, pagi di awali dengan senyum senyum manis antara dua sejoli yang baru saja merayalan resepsi pernikahan mereka semalam.
" Apakah kamu ingin bulan madu ke suatu tempat, sayang? " Tanya Arthur pada Sierra yang tengah memakan sarapannya.
" Tidak.. Aku tidak ingin kemanapun untuk saat ini." Ucap Sierra, sambil mengunyah roti selai kacangnya.
" Baiklah, nanti malam Malvin akan menjemputmu. Aku punya kejutan untukmu. Sekarang aku harus pergi ke perusahaan, kamu baik baik di rumah, oke?" Ucap Arthur.
" Kejutan apa?" Tanya Sierra.
" Jika aku memberi tahumu, maka bukan kejutan namanya sayang. " Ucap Arthur terkekeh.
Sierra pun manyun, dan Arthur langsung mengecup bibir Sierra yang manyun itu. Menggemaskan menurutnya.
" Oiyah, karena sekarang disini sudah ada nyonya rumah.. aku meminta Malvin membawakan asisten wanita untukmu, supaya bisa menemanimu dan membantumu selama di rumah. Kamu pasti jenuh sendirian jika aku ke kantor." Ucap Arthur.
" Sungguh?" Ucap Sierra antusias.
" iya, sayang.. " Ucap Arthur sambil mengusap kepala Sierra.
" Kalau begitu aku pergi kerja dulu, kamu baik baik di rumah, dan pilihlah Asistenmu." Ucap Arthur.
" Emh.. hati hati dijalan." Ucap Sierra.
Arthur mencium kening, lalu bibir Sierra. Ia pun pergi dari kediamannya menuju perusahaan. Sementara Sierra sendiri kini membereskan sisa sarapannya dan mencuci semuanya sendiri.
Setelah Arthur pergi, barulah semua pekerja disana masuk satu persatu, Sierra terkejut ketika kepala pelayan membawa begitu banyak perempuan masuk kedalam kediamannya.
" Kepala pelayan ini...?" Ucap Sierra menggantung.
" Selamat pagi nyonya, mereka semua adalah pelayan baru yang yang tuan Malvin seleksi. Tuan memerintahkan semua pekerja pria di kediamanan ini tidak lagi bekerja di dalam, mereka di tempatkan di luar rumah. Dan mulai sekarang, pelayan wanita yang akan bekerja di dalam, agar nyonya lebih nyaman." Ucap kepala pelayan.
" Oooohh...." Ucap Sierra manggut manggut.
' Hihi.. tidak disangka Arthur begitu memikirkan kenyamananku.' Batin Sierra.
__ADS_1
" Selamat pagi nyonya." Sapa semua pelayan itu.
" Pagi.." Ucap Sierra ramah.
' Tunggu! tapi Arthur memiliki phobia dengan wanita.. Dan ini...' Batin Sierra menyelidik satu persatu pelayan wanita itu.
Para pelayan itu memiliki wajah yang cantik cantik, dan terlihat seperti seumuran dengan Sierra. Sierra menjadi merasa gelisah sendiri, walaupun ia yakin Arthur tidak akan tergoda, tapi ia takut akan ada konflik nantinya.
" Apakah sistem kerja mereka tetap sama dengan sebelumnya?" Tanya Sierra pada kepala pelayan.
" Ya, nyonya. Mereka hanya akan masuk apabila tuan sudah pergi, dan pergi ketika tugas mereka selesai." Ucap kepala pelayan, dan Sierra pun mengangguk.
" Baiklah, selamat bekerja semuanya." Ucap Sierra, ramah.
" Terimakasih, nyonya." Ucap para pelayan itu.
Sierra pun pergi menuju ke Gazebo, dengan membawa laptopnya. Belum sempat ia berkutat dengan laptopnya, Malvin datang dengan seorang gadis cantik dengan penampilan sangat nyentrik.
" Nyonya, perkenalkan.. dia adalah Diandra, asisten yang akan menemani anda kemanapun anda pergi." Ucap Malvin.
" Selamat pagi nyonya, saya Andra." Sapa Diandra.
Sierra sampai tidak bisa berkata kata, gadis di hadapannya itu sudah seperti gadis punk. Dari ujung rambut, sampai kaki, berwarna hitam.
" Hai.. Andra." Ucap Sierra saking bingungnya.
" Kau sudah bertemu dengan nyonya, perbaiki perilakumu. Juga.. Ubah itu gaya berpakaianmu, kau membuat nyonya ketakutan." Ucap Malvin.
" Ish, cerewet." Ucap Andra.
" Nyonya, aku sungguh penggemar sejatimu. Nyonya bisa mengubah bos yang dingin dan angkuh itu menjadi kucing rumah. Ck.. Ck.. Aku benar benar terkejut mendengar bos menikah. Aku lebih terkejut lagi saat melihat nyonya.. Amazing.." Cerocos Diandra.
Sikap dan sifat Diandra sangat kontras dan berbanding kebalik dengan penampilannya. Dia memang cantik, tetapi wajahnya datar seakan sombong. Siapa yang tahu, rupanya Diandra itu periang dan banyak bicara.
" Nah, sekarang.. Apa tugas pertama saya nyonya?" Tanya Diandra.
" Eh.. itu..aku belum ingin kemana mana. Kamu boleh sarapan dulu jika kamu belum sarapan." Ucap Sierra.
" Ya Tuhan, nyonya bos ku benar benar baik hati. Kalau begitu aku tidak akan sungkan, aku sarapan dulu nyonya." Ucap Diandra dan pergi dari sana.
" Astaga anak itu, benar benar. " Gumam Malvin.
" Dari mana kamu dapat yang seperti itu? " Tanya Sierra.
" Dia adalah salah satu anak buah di markas. Dia satu satu satunya anggota wanita di markas, dia baru saja pulang menjalankan misinya dan meminta ingin menjadi asisten nyonya." Ucap Malvin.
TO BE CONTINUED. .
__ADS_1