The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 126. JUSTIN & DUSTIN


__ADS_3

Sahara dan Cornelius tiba di rumah sakit, dan mereka begitu bahagia melihat kedua cucu mereka yang lahir dengan sehat dan sempurna.


" Pi, lihat.. Cucu kita menggemaskan sekali." Ucap Sahara, sambil menoel noel pipi si kembar.


" Apakah kamu sudah memikirkan nama untuk mereka, Ar?" Tanya Cornelius.


" Sudah, tapi menunggu sampai Sierra bangun baru aku beri tahu." Ucap Arthur.


Sahara menggendong sang adik, dan Cornelius menggendong sang kakak. Keduanya sangat anteng, tidak rewel sedikitpun. Pipi mereka begitu chuby, tidak heran Sierra juga berubah menjadi bulat.


" Mereka mirip Arthur saat kecil ya pi? Hanya saja matanya lebih mirip Sierra. Perpaduan yang sempurna dari kalian berdua." Ucap Sahara, dan Arthur pun tersenyum.


Tiba tiba Sierra membuka matanya, dan terkejut melihat ruangan yang rupanya sudah berganti.


" Sayang, kamu sudah bangun?" Ujar Arthur.


" Hm.. Aku haus sayang." Ucap Sierra.


" Sebentar, aku ambilkan air." Ucap Arthur. Arthur mengambil air mineral, dan menaruh sedotan di dalamnya lalu memberikannya pada Sierra.


" Sayang, lihat.. si kembar sangat menggemaskan." Ujar Sahara pada Sierra.


Sierra melihat putra nya dengn senyum haru. Dia menggendong sang adik yang di sodorkan oleh Sahara.


" Hey sayang.. Anak mommy, kamu sudah bangun ya? " Ucap Sierra.


" Dia adalah adik, kakak yang ada pada papi. " Ujar Arthur.


Arthur mengambil sang kakak lalu menaruhnya di sisi kanan Sierra, dan sang adik di sisi kiri. Keduanya hanya berkedip kedip dengan sesekali menguap, menggemaskan sekali.


" Siapa nama mereka sayang?" Tanya Sierra.


" Apa kamu tidak ada usulan,sayang? " Tanya Arthur


" Aku memikirkannya, tapi aku ingin daddy mereka yang memberi nama." Ucap Sierra.


" Baiklah.. Kalau begitu, daddy yang beri nama. Kakak, namamu adalah Justin Xander Edward. Dan adik.. namamu adalah Dustin Xavier Edward. Bagaimana sayang? Apakah bagus?" Tanya Arthur.


" Bagus sekali, terimakasih daddy.. sudah memberi kami nama yang bagus." Ucap Sierra menirukan suara anak kecil.


" Sama sama sayang, terimaksih juga sudah hadir di hidup mommy dan daddy. Jadilah anak anak yang baik, kuat, pemberani, dan penyayang seperti mommy dan daddy." Ucap Arthur.


Sahara dan Cornelius menatap penuh haru keluarga kecil itu. Mereka bahagia, putra mereka bisa memiliki cinta sejatinya yang tidak pernah di sangka sangka.

__ADS_1


Akhirnya pada malam harinya, Sierra meminta pada Arthur agar dia pulang saja. Ia tidak mau lama lama dirumah sakit, dan juga dia sudah bisa mulai berjalan walau lemah. Dan akhirnya mereka pun pulang.


" Mami menginap disini ya? Mami mau bantu Sierra." Ujar Sahara.


" Tidak usah mi, Arthur akan mengurus mereka bersama Sierra. Mami dan papi datang saja kemari jika rindu dengan si kembar." Ujar Arthur.


" Tapi Sierra masih baru melahirkan, dia akan kesakitan nanti." Ucap Sahara.


" Ada Arthur mi, Arthur yang akan menjaga mereka." Ucap Arthur.


" Kamu yakin Ar, tidak butuh mami mu?" Ujar Cornelius, dan Arthur menggeleng.


" Baiklah, mami tidak menginap. Tapi jika ada apa pun, dan kalian bingung harus bagaimana segera hubungi mami, ya? " Ucap Sahara, dan Arthur pun mengangguk.


Tiba tiba si kembar membuka mata mereka, mereka terbangun. Padahal sejak di mobil mereka begitu anteng.


" Selamat datang dirumah baby.. ini rumah kita." Ujar Sierra.


" Oeekk.. Oeeek.. " Tangis sang adik pecah.


" Oh, dia kelaparan sayang.. Kamu beri dia susu dulu " Ujar Sahara.


" Adik.. lapar ya? Uhh.. Kacian, sini sini sama mommy." Ucap Sierra dan mengambil alih Dustin dari Sahara.


" Kakak lapar ya? Sabar ya sayang.." Ucap Sierra.


Tapi Justin semakin kencang menangis, ia seakan cemburu adiknya berada lebih lama di pelukan sang mommy.


" Sayang, bagaimana ini? Dustin belum selesai " Ujar Sierra.


" Kalau begitu kamu susui dua duanya sayang, kamu meyender saja biar aku bantu." Ucap Arthur.


Diam diam, Arthur membaca buku bagaimana cara merawat bayi kembar, karena ia tidak mau anak anaknya di urus oleh pengasuh.


Arthur meletakan Justin di sisi kiri Sierra, jadi posisi si kembar menyilang, dan Arthur pun membantu agar Justin bisa mendapatkan asi mommy nya. Arthur tersenyum melihat pemandangan di depannya, kedua putranya itu begitu anteng di pelukan sang mommy.


" Sayang, sepertinya si kakak memiliki sifat pecemburu sepertimu." Ucap Sierra.


" Sepertinya begitu, dan adik memiliki sifat penyabar sepertimu." Ucap Arthur sambil terkekeh.


Pasalnya, sejak di rumah sakit.. saat Sierra menggendong Dustin, maka Justin akan menangis. Dan ketika keduanya di gendong, barulah diam. Saat Sierra menyusui Dustin juga, Justin terus menangis dan alhasil Sierra memberikan jarinya agar di genggam Justin dan dia langsung diam.


Hingga akhirnya, Dustin selesai menyusu. Arthur pun membantu dengan mengangkat Dustin dari pangkuan Sierra. Dan saat ini, hanya Justin yang masih menyusu.

__ADS_1


" Wow, kakak lapar ya? Hm.. Anak mommy lapar ya? " Ucap Sierra sambil menciumi kening Justin.


Arthur meletakan Dustin di ranjang bayi yang sudah tersedia disana. Dustin tidur dengan sangat anteng sambil sesekali mulut kecilnya itu berkedut seolah sedang menyusu. Dan Arthur terkekeh melihat hal itu, menggemaskan sekali putra nya itu.


" Sayang, aku keluar menemani mami papi dulu, ya?" Ujar Arthur, dan Sierra mengangguk sambil tersenyum.


" Dimana si kembar?" Tanya Sahara.


" Si adik sedang tidur, dan si kakak masih menyusu." Ujar Arthur.


" Yah.. padahal mami merindukan mereka. " Ucap Sahara.


" Ini sudah malam mi.. Besok datang saja lagi kemari." Ucap Arthur.


" Baiklah... " Sahut Sahara menyedih.


" Jangan begitu mi, Sierra juga masih butuh istirahat." Ujar Cornelius.


" Ya, pi.. Mami hanya enggan meninggalkan mereka. Tapi ya sudahlah, Arthur dan Sierra juga butuh istirahat." Ujar Sahara.


Tapi nyatanya, baik Arthur dan Sierra keduanya kurang tidur malam ini. Setelah Sahara dan Cornelius pulang, Arthur kembali masuk kedalam kamar dan melihat Justin yang masih setia menyusu.


Sebagai orang tua baru, yang belum berpengalaman dan hanya bermodalkan membaca di buku panduan mengasuh anak, mereka sedikit kewalahan.


Tiap jam nya, si kembar menangis, jika tidak pup, maka mereka kencing jika tidak, mereka kelaparan dan Sierra selalu siaga dengan asi nya. Sierra bahkan menyusui si kembar sambil terkantuk kantuk hingga jam sudsh menunjukan pukul 3 pagi.


" Kasihan istriku, kamu tidur saja sayang, biar aku yang menjaga mereka." Ucap Arthur.


" Hmm.. Tapi kamu juga perlu istirahat." Ucap Sierra sambil menahan kantuk.


" Tidak apa apa, aku sudah terbiasa begadang. Kamu tidur saja, supaya tetap sehat." Ucap Arthur.


" Baiklah.. Sayang nya mommy, mommy tidur dulu ya, jika kalian lapar, kalian bangunkan mommy." Ucap Sierra pada si kembar.


Setelah Sierra tidur, Arthur mencium kening istrinya itu. Arthur meletakan bantal di pahanya, lalu ia merebahkan si kakak di bantal itu. Kemudian Arthur menyenderkan tubuhnya di ranjang sembari menggendong si adik, dan dua duanya tidak kunjung tidur.


" Kakak, kamu semangat sekali sayang, tidak mau tidur, hm? " Bisik Arthur pada si kakak yang sejak tadi matanya terbuka lebar.


" Hatchi!" Si adik bersin. Arthur pun terkekeh melihat anaknya sendiri bersin dengan mata yang berkedip kedip.


" Oooh... kalian berdua mau lomba begadang? Ayo.. daddy temani." Ucap Arthur dengan suara kecil.


Mereka terus membuka mata sampai akhirnya matahari pun terbit. Kembar dan sanga daddy, mereka mulai mengantuk. si adik tidur lebih dulu, dan di susul sang kakak, lalu Arthur menyusul kedua anaknya itu pergi ke alam mimpi dengan posisi duduk menyender.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2