The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 78. Negosiasi.


__ADS_3

Sierra turun kebawah, dan disambut oleh Arthur juga Sahara yang menunggunya di meja makan.


" Sayang, Arthur bilang kamu sakit? Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Sahara begitu khawatir.


" Siera sudah baik baik saja mi, maaf Sierra terlambat bergabung." Ucap Sierra sambil tidak enak hati.


" Tidak apa apa, ayo sarapan. Lalu minum obatmu." Ucap Sahara.


Arthur sudah menyiapkan roti yang di olesi selai kacang kesukaan Sierra, juga segelas susu putih di sampingnya.


" Sayang, makan sarapanmu." Ucap Arthur.


" Iya.." Sahut Sierra.


Sembari menemani Sierra yang sarapan, Arthur sibuk dengan laptopnya. Bagaimanapun ia tidak bisa begitu saja lepas tangan terhadap pekerjaannya selagi ia masih bisa mengerjakan.


" Sayang, kamu tidak mau menginap disini lebih lama saja, kah? Mami senanh ada kamu disini, tapi Arthur sedari tadu kukuh bahwa kalian akan pulang." Ucap Sahara.


" Mi, Sierra butuh istirahat yang baik, dia butuh ketenangan, mami begitu berisik bagaimana Sierra bisa tenang." Ucap Arthur.


Walaupun dia sibuk dengan laptopnya bahkan jari jarinya pun saat ini tengah mengetik, tetapi dia mendengarkan sekitarnya. Itulah Arthur dengan segudang kejeniusan dan ke pekaan nya terhadap sekitar.


" Ish! mami janji tidak akan mengganggu istirahat Sierra." Ucap Sahara.


Sierra tahu mungkin Arthur ingin agar cepat keluar dari rumah Sahara dan cornelius adalah demi keamanan mereka juga. Karena saat ini Alden berada di luaran sana, tidak tahu apa yang akan dia lakukan nantinya.


" Mami.. Nanti jika Sierra sudah sembuh, Sierra akan sering menginao disini, bagaimana?" Ucap Sierra menghibur Sahara.


" Benarkah? Kamu tidak hanya sedang menghibur mami, kan?" Ucap Sahara.


" Tidak, mi. Sierra janji, jika sudah sembuh nanti akan sering main kemari." Ucap Sierra.


" Baiklah.." Ucap Sahara mengalah.


" Sayang, minum susunya, agar kamu lebih segar." Ucap Arthur.


Sierra mengangguk saja. Hingga akhirnya Sierra selesai dengan sarapannya. Dan saat ini mereka tengah berada di ambang pintu, tengah berpamitan pada Sahara.


" Mami, jabgan kemana mana tanpa pengawalan." Ucap Arthur.


" Iya.. Mami tahu. Mengemudilah dengan benar, selamat sampai rumah kalian." Ucap Sahara.


" Terimakasih mi, kami pulang dulu." Ucap Sierra.


" Iya sayang.." Ucap Sahara.


Sierra masuk kedalam mobil, lalu disusul Arthur yang mengudikan mobil itu sendiri.


" Bye..." Teriak Sahara.

__ADS_1


Sierra melambaikan tangannya pada Sahara hingga sudsh tak terlihat lagi. Arthur menggenggam tangan Sierra erat, sambil sebelah tangannya mengemudikan mobil.


" Sayang, apakah ada perkembangan tentang Alden?" Ucap Sierra.


" Alden terlihat dibandara, dia terbang ke Incheon, Korea Selatan. Tetapi mata mataku yang berada disana tak menemukan keberadaan Alden, seakan hilang tertelan bumi." Ucap Arthur.


Sierra semakin takut sendiri, ia sangat mengenal Alden, dia bisa saja berbuat kasar tanpa memandang siapa itu. Sierra takut Alden akan menyakiti orang orang terkasihnya, keluarga baru yang baru saja ia temukan.


" Kamu tenang oke, aku masih melalukan pencarian, jika seluruh Korea Selatan tidak di temukan, mungkin dia di tanah air." Ucap Arthur.


" Tapi dia kan tahanan, bagaimana caranya dia bisa terbang dengan begitu bebas?" Ucap Sierra.


" Karena ada yang membantunya. Ada orang besar di belakang Alden." Ucap Arthur.


' Siapa.. Aku tidak ingat aku punya musuh lain di kehidupan sebelumnya. Gakdir tampaknya sungguh berubah, semua ini.. Aku tidak tahu akan ada kejadian ini. Ini tidak terjadi di kehidupanku sebelumnya.' Batin Sierra.


Sierra mengingat ingat, apakah dia pernah menyinggung seseorang saat dulu, dia juga mengingat ingat siapa saja rekan Alden. Tetapi tak mengingat siapapun kecuali yang sering bertemu dengannya.


" Kita datangi Carin, dia pasti tahu sesuatu." Ucap Sierra.


" Meskipun tahu, dia tidak akan memberitahu kita sayang. Dia dan Alden itu berkomplot." Ucap Arthur.


" Maka aku akan membuatnya memberitahukan kebenarannya." Ucap Sierra.


" Kamu punya cara memancingnya berbicara?" Tanya Arthur, dan Sierra mengangguk.


Mereka telah tiba di pusat tahanan kota Jakarta, dan bertemu Tobias.


" Halo, Sierra?" Ucap Tobias.


" Kapten, saya ingin mengunjungi Carine. " Ucap Sierra.


" Baik, mari ku bantu." Ucap Tobias.


" Sayang, kamu disini saja. Jika dia melihatmu, dia tidak akan emngeluarkan taringnya. Lalu.. Aku pijam ponselmu." Ucap Sierra.


" Baiklah. hati hati, ya?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Sierra masuk ke ruang kunjungan dan menunggu Carine. Tak lama Carine pun muncul dengan penampilan acak acakan. Ia selalu menangis setiap hari di dalam selnya, menangisi ibunya yang telah meninggal dunia.


Carine begitu emosi ketika melihat Sierra. Sierra adalah biang masalah di hidupnya. Karena Sierra, dirinya masuk penjara, kehilangan saudarinya, dan kini ibunya. Carine juga kehilangan segalanya, tak ada lagi yang bisa ia harapkan. Dia sendirian, benar benar sendirian.


' Atas dasar apa dia bisa menikmati hidup lebih baik dariku!? Aku menderita disini dan dia bahagia diluar sana. Atas dasar apa Tuhan lebih baik kepadanya dari pada aku!?' Batin Carine.


" Halo, Carine? Belum lama kita tidak bertemu. Kau semakin kacau saja." Ucap Sierra.


" Bukankah seharusnya kau senang? Untuk apa pura pura peduli padaku!" Ucap Carine ketus dengan tatapan menyalak.


" Aku tidak peduli padamu, hanya tidak menyangka saja seorang Carine Areza yang dulunya begitu membanggakan dirinya, kini terlihat kumal." Ucap Sierra dengan senyum sinis.

__ADS_1


" Kau pembunuh!! Kau membunuh ibuku, kan?? Kau pasti menyiksanya seperti apa yang kami lakukan kepadamu dulu! Benar? Kau Iblis Sierra! Kau Iblis.!" Ucap Carine dengan air mata yang membasahi pipinya.


" Aku tidak melakukan apapun, dia bunuh diri karena dia merasa bersalah terhadap kematian Hailey." Ucap Sierra santai.


" Tidak mungkin, ibuku tidak akan semudah itu membuat keputusan. Kau!! Kau pasti menyiksanya benar, kan?" Ucap Carine.


" Carine.. Bisakah kamu berbicara padaku baik baik? Aku kemari bukan untuk membahas hal yang sudah lalu, aku ingin membicarakan masa depan." Ucap Sierra.


" Ck!! Masa depan! Seolah kau bisa membuat masa depan yang indah. Untuk apa juga aku membahas masa depan denganmu." Ucap Carine.


" Kau ingin cepat bebas, bukan?" Ucap Sierra.


Carine menatap tajam Sierra, mereka saat ini saling tatap menatap.


" Carine, aku bertanya. Kau ingin cepat bebas, kan?" Ucap Sierra lagi.


" Apa maumu?" Ucap Carine.


" Berarti aku anggap kau setuju untuk bernegosiasi denganku. Carine.. Aku bisa membuat masa hukumanmu berkurang atau bahkan bertambah, apa kau percaya?" Ucap Sierra.


" Katakan saja apa tujuanmu, tidak perlu bertele tele.' Ucap Carine.


" Apa kau tidak iri dengan Alden yang terbebas Carine? Alden sudah bebas." Ucap Sierra berbohong.


Carine tentu saja terkejut, ia tidak menyangka Alden bisa bebas begitu cepat. Ia curiga Sierra hanya membohonginya saja, tapi menatap Sierra saat ini yang berkata dengan sungguh sungguh membuatnya bingung sendiri.


" Kau mau menipuku dengan mengatakan bahwa Alden sudah bebas? untuk apa?" Ucap Carine.


" Aku tidak bohong, lihat.. Dia ada di bandara dan langsung pindah dari tanah air setelah di bebaskan." Ucap Sierra, sembari menunjukan foto Alden dari ponsel Arthur yang memasuki pintu keberangkatan.


' Alden, beraninya dia meninggalkan aku sendirian di tanah air. Orang itu pasti menjamin Alden, aku tidak terima ini!' Batin Carine.


" Aku juga bisa membuatmu bebas, dengan satu syarat." Ucap Sierra mulai bermain trik.


" Apa!?" Sahut Carine.


" Siapa orang besar di belakang kalian?" Ucap Sierra.


Carine ragu, tatapannya saat ini penuh ketakutan.


" Kau sudah ditinggalkan, untuk apa menjaga rahasia orang itu lagi, kau bisa membalas dendam pada mereka jika sudah bebas. Lalu jika kau balas dendam padaku, maka penjara siap menyambutmu kembali." Ucap Sierra.


" Baiklah!! Dia sudah meninggalkan aku, maka aku akan bergerak sendiri. Musuhnya musuh, adalah teman." Ucap Carine.


" Dia Carol Mahendra, Arthur pasti tahu siapa dia." Ucap Carine, akhirnya menyebutkan sebuah nama.


' Bingo... ' Batin Sierra.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2