
Sierra dan Arthur duduk di kursi yang sudah di sediakan. Meja itu pun sudah terdapat dua piring steak yang masih panas, dan dua gelas anggur serta lilin di tengahnya. Sungguh romantis pemandangan saat ini.
" Sayang, kenapa kamu tiba tiba membuat makan malam romantis ini?" Tanya Sierra.
" Aku ingin melewati tahun baru bersamamu. Dulu, aku tidak pernah sekalipun merayakan sesuatu. Bagiku perayaan apapun adalah hari biasa bagiku." Ucap Arthur, sambil tangan nya menggenggam tangan Sierra.
" Manisnya.." Ucap Sierra.
" Nah, ayo makan." Ucap Arthur.
" Boleh aku mengucapkan terimakasih?" Ucap Sierra.
" Boleh.. Tapi hukuman tetap berlaku walau kamu meminta izin." Ucap Arthur.
" Terimakasih suamiku, kamu menjadikan aku yang bukan apa apa ini menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Kamu begitu sabar padaku, baik dan mencintaiku tanpa sarat. Aku adalah wanita paling beruntung karena bisa memilikimu." Ucap Sierra dengan mata berkaca kaca.
Sierra mengatakan itu sembari mengingat kilasan kilasan awal mereka bertemu, disaat semua orang menolak Sierra, Arthur adalah satu satunya yang mengulurkan tangannya pada Sierra dan memeluknya erat.
Sierra tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak bertemu Arthur, hidupnya berubah karena bertemu dengan Arthur. Tanpa terasa air matanya justru menetes.
Arthur menggelngkan kepalanya, sambil tersenyum.
" Salah.. Aku lah yang seharusnya berterimakasih kepadamu, sayang. Kamu.. Adalah cahaya di hidupku, membuatku bisa melihat apa itu cinta, dan bahagia. Kamu menarikku dari sisi gelapku, dan hidup dengan warna warna baru yang kamu berikan. Akulah yang beruntung karena memilikimu.." Ucap Arthur.
Sierra tak berhenti meneteskan air matanya, Arthur pun bangun dari duduknya lalu memeluk Sierra dan mengecup kepala Sierra berkali kali.
" Sssttt... Jangan menangis, kita sudah melewati tahun ini dengan berbagai kisah. Pahit, manis, sedih, senang, semuamya.. Dan aku berjanji, akan memberikan kamu lebih banyak kebahagiaan lagi." Ucap Arthur.
" Bersamamu, aku bahagia." Ucap Sierra.
Arthur mencium Sierra, begitu lambat dan manis terlihat. Mereka saling bertukar rasa cinta, hingga siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iri.
" Aku mencintaimu, selalu.. Dan selamanya." Ucap Arthur lalu memeluk Sierra erat erat.
" Nah, ayo makan." Ucap Arthur.
" Emh.. Ayo." Ucap Sierra.
Mereka pun akhirnya memakan makanan yang di buat oleh Arthur itu. Melewati malam itu sengan canda dan tawa, dengan cerita cerita mereka yang tidak ada habisnya. Hingga akhirnya pertengahan malam pun tiba.
Tiba tiba, begitu banyak kembang api yang meledak di langit, berwarna warni dan berbagai bentuk pecah bertaburan di langit, sangat indah. Arthur dan Sierra kembali berciuman di tengah tengah pergantian tahun itu.
" Semoga tahun ini ada Arthur junior." Ucap Arthur, dan Sierra hanya tersenyum manis sambil memeluk suaminya itu.
Di balik keromantisan mereka, dari jauh ada dua sosok yang sama sama menikmati kembang api itu, yaitu Diandra dan Malvin. Mereka berdiri saling berjauhan, tetapi sama sama memejamkan mata mereka sekaan sedang membuat permohonan.
Entah apa yang mereka ucapkan dalam hati, hanya Tuhan yang tahu. Hingga akhirnya kembang api itu habis, mereka pun sama sama membuka mata mereka.
" Ck, rupanya kau juga membuat permohonan?" Ucap Diandra yang melihat Malvin tampak serius sebelumnya.
" Memangnya saya tidak boleh membuat permohonan?" Ucap Malvin kesal.
__ADS_1
" Ekhem! Ekhem! Ayah, kapan akan memberiku ibu??" Ucap Diandra meledek.
" Ayah kepalamu, aku masih sangat muda oke." Ucap Malvin semakin kesal.
" Hahahaha... Ayah.. Ayah.." Ucap Diandra.
Meskipun kesal, tetapi Malvin sama sekali tidak memasukannya kedalam hati, Diandra sudah biasa berbuat seperti itu sejak dulu. Hingga akhirnya Arthur dan Sierra selesai dan mereka pun pulang.
" Andra, kamu langsung pulang saja.. aku ikut Arthur." Ucap Sierra.
" Oh, baik nyonya." Ucap Diandra.
Arthur masuk kedalam mobil bersama Sierra, lalu Malvin pun mengemudikan mobilnya. Setelah kepergian mereka bertiga, Diandra pun masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
_________________
Ke esokan harinya..
Arthur tengah menatap wajah cantik istrinya yang saat ini masih tertidur. Begitu damai dan tenang Sierra saat sedang tertidur. Arthur yang gemas pun memulai kejahilannya, ia menciumi Sierra tanpa henti.
Merasa terganggu, Sierra pun perlahan membuka matanya. Ia terkejut melihat suaminya yang saat ini menciumi pundaknya berulang kali.
" Sayang.." Ucap Sierra.
" Kamu sudah bangun." Ucap Arthur.
" Ya, karena seseorang tidak berhenti menciumiku." Ucap Sierra.
Arthur mencium bibir Sierra, sangat pelan namun semakin lama semakin menuntut. Dan terlihat tatapan Arthur yang begitu sayu menatap Sierra.
" Bolehkah??" Tanya Arthur.
" Semalam kita sudah melakukannya." Ucap Sierra tersenyum.
" Aku menginginkannya lagi, bolehkah?" Ucap Arthur.
Dan Sierra hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, Arthur pun kembali mencium Sierra, dan perlahan tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.
Di tempat lain..
Tio tengah membantu Daniel yang kini hanya bisa duduk diatas kursi roda. Tubuhnya semakin lemah saja sejak kemarin. Mereka berjalankeluar dari rumah sakit, dan Sammy tidak sengaja melihatnya.
' Kenapa dia duduk di kursi roda?' Batin Sammy.
Sammy melihat dokter yang menangani Daniel, dan menghentikannya.
" Dok, apa yang terjadi dengan tuan Daniel?" Ucap Sammy.
Dokter itu pun sedikit terlihat panik, karena Daniel mengatakan untuk tidak menceritakan apapun pada siapapun tentang kondisi Daniel.
" Ah.. Itu, tuan Daniel terpeleset semalam. Jadi dia datang dan pulang dengan kursi roda." Ucap dokter itu.
__ADS_1
" Oh.." Ucap Sammy.
Namun Sammy yakin, ada sesuatu ysng di sembunyikan. Dan tak lama, Malvin tiba disana mencari Sammy.
" Apakah hasil tes itu sudah keluar?" Ucap Malvin.
" Sudah, ayo keruanganku." Ucap Sammy.
Mereka pun berjalan keruangan Sammy, dan Sammy pun mencarikan map yang berisikan hasil tes dari teh dan obat yang di berikan oleh Malvin beberapa hari lalu.
" Alu melihat Daniel disini tadi, ia terlihat sakit sakitan dan pulang dengan kursi roda." Ucap Sammy.
" Apa hasil kandungan dari teh dan obat itu?" Tanya Malvin.
" Tehnya bercampur dengan tanaman Aconitum lycoctonum , kau tahu tanaman apa itu?" Ucap Sammy.
" Apakah Wolfsbane Eropa? Tanaman beracun yang digunakan orang Eropa kuno untuk meracuni musuhnya? " Ucap Malvin.
" Betul, Di dalam teh itu, bercampur dengan tanaman Wolfsbane Eropa kering. Karena teh itu juga sama sama kering, jadi tanaman itu tidak terlihat dan tidak disadari." Ucap Sammy, menjelaskan.
" Lalu obatnya?" Tanya Malvin.
" Obat itu mengandung senyawa Amatoxin. Racun yang menyerang hati dan ginjal, dan bisa menyebabkan kematian untuk pengonsumsinya. Untuk Amatoxin ini, dia menyerang dengan lambat, sehingga kamu tidak akan menyadari bahwa kamu telah keracunan." Ucap Sammy.
Malvin yang mendengarnya pun ikut ngeri. Bagaimana bisa ada manusia yang menggunakan janis jenis racun mematikan pada saudaranya sendiri.
" Sebenarnya milik siapa dua benda itu?" Tanya Sammy.
" Daniel Leon." Ucap Malvin, dan Sammy pun terkejut.
" Kau serius?? " Ucap Sammy.
" Ya, dan itu dari adik angkatnya, Bernard Muyera." Ucap Malvin.
" Aku pergi dulu, terimakasih untuk hasilnya." Ucap Malvin lalu pergi dari rumah sakit.
Malvin mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman Arthur, Sesampainya disana sudah terlihat Diandra yang berada di teras tengah memainkan ponselnya.
" Nyonya dan tuan sudah bangun?" Tanya Malvin.
" Sudah, Tuan menanyakanmu tadi." Ucap Diandra. Dan tak lama Arthur pun keluar dengan stelan jasnya, bersama dengan Sierra.
" Tuan, ini adalah hasil lab itu." Ucap Malvin.
Sierra menatap Arthur dan Arthur pun mengangguk. Ia menerima hasil lab dari Malvin dan kembali masuk kedalam rumahnya bersama Sierra. Arthur duduk di sofa, dan Sierra di sebelahnya. Terlihat wajah Arthur yang begiti terkejut dengan isi dari hasil lab itu.
" Sayang, apa isinya?" Ucap Sierra.
" Sayang.. Tuan Daniel, diracuni." Ucap Arthur, dan Sierra pun terkejut.
TO BE CONTINUED ..
__ADS_1