The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 106. RIP. DANIEL.


__ADS_3

Sierra tampak sedang berolah raga di ruang boxing, terlihat juga Diandra yang berada di ruangan itu memperhatikan Sierra. Sierra sejak tadi seperti orang emosi, ia memukul samsak tinju itu bertubi tubi dengan nafas memburu.


' Kenapa? Kenapa hatiku begitu sakit mendengar dia diracuni? Bukankah aku membencinya?' Batin Sierra.


BAK! BUG! BAK! BUG!


Suara pukulan Sierra yang menggema di ruangan.


" Nyonya, apakah anda baik baik saja?" Tanya Diandra.


Mendengar suara Diandra, Sierra pun kembali sadar dari lamunan nya. Tak dirasa jari jarinya berdarah karena ia memukul samsak tinju terlalau lama tanpa menggunakan sarung tinju. Sierra hanya menggunakan Hand wrap, kain panjang yang dililitkan di jari jari tangan nya.


" Aku tidak apa apa." Ucap Sierra.


" Astaga! Tangan anda berdarah." Ucap Diandra langsung meraih tangan Sierra.


Diandra langsung pergi mengambil kotak obat, lalu kembali dan mengobati tangan Sierra yang berdarah.


" Apakah anda sedang memiliki masalah?" Tanya Diandra.


" Aku tidak apa apa.. terimakasih sudah mengobatiku." Ucap Sierra.


" Ini tugasku, nyonya." Ucap Diandra.


" Aku akan membersihkan diri." Ucap Sierra.


Diandra mengangguk, dan Sierra pun pergi dari sana menuju ke kamarnya. Sepeninggal Sierra, Diandra mengirimi Malvin pesan teks, bahwa kondisi Sierra sedang tidak baik baik saja.


Di perusahaan, Malvin yang mendapat pesan teks dari Andra pun langsung berjalan memasuki ruangan Arthur.


" Tuan, Andra mengatakan nyonya tidak baik baik saja." Ucap Malvin.


" Apakah hari ini ada rapat penting?" Tanya Arthur.


" Tidak ada, hanya pertemuan biasa." Ucap Malvin.


" Kamu handle sisanya, aku akan pulang. Jika ada rapat mendadak yang memerlukan aku, kamu saja yang maju." Ucap Arthur.


" Baik." Ucap Malvin.


Arthur pun mengambil jasnya, lalu pergi dari sana. Arthur mengemudiakan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sangat khawatir dengan istrinya itu. Arthur sudah memiliki firasat bahwa Sierra tidak akan baik baik saja, karena saat dia akan berangkat ke kantor pun wajah Sierra sangat murung walaupun di sembunyikan di balik senyumnya.


Arthur sampai di kediamannya, ia berlari memasuki rumahnya dengan panik dan semua pelayan disana langsung menunduk.


" Dimana istriku?" Tanya Arthur pada Andra.


" Nyonya di kamar, tuan." Ucap Andra.


Arthur pun langsung memasuki kamarnya dan melihat Sierra yang sedang mengeringkan rambutnya karena ia baru saja keramas. Arthur langsung memeluk Sierra dari belakang, dan hal itu membuat Sierra terkejut.


" Eh, sayang kamu pulang?" Tanya Sierra.


" Hmm.. Aku merimdukan istriku." Ucap Arthur sambil menciumi pundak Sierra.

__ADS_1


" Manja.." Ucap Sierra sambil terkekeh.


Arthur mendudukkan Sierra di atas ranjang , lalu ia mengambil mesin pengering rambut dan mengeringkan rambut Sierra. Kali ini Arthur berdiri di depan Sierra, dan Sierra menatap wajah Arthur langsung.


Sierra tersenyum, tetapi senyumnya sekaan hambar. Arthur yakin, Sierra memikirkan kondisi Daniel. Benci bisa terucap, tetapi pada dasarnya Sierra adalah gadis penyayang. Dan Sierra juga sangat menyayangi Daniel dulunya.


Tidak ada percakapan selama Arthur mengeringkan rambut Sierra, mereka hanya saling melempar senyum dan sesekali Arthur akan mencium kepala Sierra dan mengusap nya dengan sanyang. Hingga akhirnya Arthur selesai mengeringkan rambut Sierra.


Arthur mengangkat Sierra dan menggendong Sierra ala koala, kemudian ia duduk di sofa yang berada di kamar itu dengan posisi Sierra berada diatas pangkuan Arthur.


" Kamu baik baik saja?" Tanya Arthur.


" Apa yang bisa terjadi padaku ketika aku memiliki suami yang menyayangiku." Ucap Sierra sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Arthur.


" Pembohong.." Ucap Arthur.


Arthur membuka laci, dan mengeluarkan kotak obat. Ia pun menarik kedua tangan Sierra dan menatapnya sedih.


" Kenapa harus melukai dirimu sendiri, sayang? Aku sedih melihatmu begini." Ucap Arthur meniup kedua tangan Sierra.


Entah mengapa, Sierra tak kuasa menahan air mata yang sejak pagi ia tahan tahan. Tiba tiba saja ia menangis tersedu sedu dan berhambur kedalam pelukan Arthur. Terdengar sangat pilu, dan menyayat hati.


Arthur pun hanya bisa memeluk dan mengusap usap lunggung Sierra berusaha menenangkan Sierra.


" Sssttt.. Tenangkan dirimu sayang." Ucap Arthur.


Sangat lama Sierra menangis didalam pelukan Arthur, hingga nafasnya tersenggal senggal. Dan yang bisa Arthur lakukan hanya mengusap dan menciumi Sierra agar Sierra bisa tenang.


Dan setelah tangisan itu reda, rupanya Sierra justru tertidur di atas tubuh Arthur. Arthur bangun dengan hati hati sambil menggendong Sierra, lalu ia membaringkan Sierra di atas ranjang. Bahkan tidur pun nafas Sierra masih sesenggukan.


Arthur mengambil obat lalu mengobati luka di tangan Sierra, dan memperbannya. Setelah selesai, ia pun menghubungi anak buahnya di markas TITANES, ia memerintahkan untuk mencari tahu tujuan Bernard meracuni Daniel.


Setelah itu, Arthur pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


Di Tempat lain..


Daniel tengah duduk bersama Bernard, walau Daniel tahu Bernard meracuninya tetapi ia berpura pura tidak tahu saja. Daniel menyayangi Bernard bagai adik kandungnya sendiri, sejak kecil Daniel selalu berbagi dengan Bernard.


" Kakak, Vian kembali ke AS, sepertinya dia begitu patah hati." Ucap Bernard berbohong.


" Dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya." Ucap Daniel.


" Ya, benar.. bagaimana kondisimu kak?" Tanya Bernard.


" Seperti yang kamu lihat, semakin sakit sakitan. Mungkin sebentar lagi aku akan menyusul Sophia." Ucap Daniel tersenyum.


" Apa yang kau katakan kak! jangan berkata seperti itu." Ucap Bernard berpura pura khawatir.


" Haihh.. Kamu ingat dulu waktu kita kecil kita selalu berbagi hal apapun itu?" Tanya Daniel.


" Tentu aku ingat.. Kau selalu membagi hal apapun itu padaku. Hingga orang orang mengira kita saudara kandung." Ucap Bernard.


" Kandung.. Kandung atau tidak, aku menyayangimu sangat tulus Bernard. Aku memang sering memarahimu dulu, tapi itu aku lakukan demi kebaikanmu." Ucap Daniel.

__ADS_1


" Kenapa kakak membahas masalalu?" Ucap Bernard.


" Karena aku ingin tahu, apakah aku ini tersimpan di hatimu sebagai kakak atau bukan. Dengar Bernard, masalalu mungkin memang sudah berlalu, tapi rasa kasih sayang di hatiku sebagai saudaramu tidak pernah berlalu. Kau adikku, dan tetap adikku. Walau kau bisa dengan tega nya meracuniku." Ucap Daniel.


DEG!!


Bernard terkejut.


" Kamu terkejut? Aku sudah tahu bahwa kamu meracuniku. Sekarang, aku bertanya padamu.. sebenarnya apa yang membuatmu begitu tega padaku, Bernard." Ucap Daniel.


Seketika tatapan Bernard menjadi tatapan permusuhan, ketahuan ya ketahuan pikirnya.


" Karena ayahmu, yang membunuh ayahku. Ayahmu, yang merencanakan pembantaian terhadap keluargaku. Kalian membantai, lalu hanya meninggalkan aku seorang diri di dunia. Ayahmu merawatku, hanya agar aku menganggapnya sebagai pahlawan penyelamat, padahal dia adalah penjahat yang sebenarnya." Ucap Bernard meledak.


Daniel mendengarnya, lalu perlahan ia tersenyum. Bernard merasa heran melihat Daniel tersenyum.


" Kenapa kau tersenyum?" Tanya Bernard.


" Kamu masihlah mudah di bohongi, Bernard." Ucap Daniel.


" Carol Mahendra, apakah kamu mendapat kebenaran itu darinya? Bernard, Ayah Carol Mahendra lah yang telah menghabisi keluargamu, ayahnya Carol cemburu pada apa yang dimiliki oleh ayahmu. Hingga dia gelap mata lalu tega membantai keluargamu semua." Ucap Dnaiel.


" Ayahku, adalah sahabat baik ayahmu.. Ayahku yang tidak tega melihatmu sendirian, dia mengangkatmu menjadi putranya, mengangkatmu menjadi adikku." Ucap Daniel lagi.


" Bohong, kau mencoba menipu siapa, huh?" Ucap Bernard.


" Kamu bisa tanyakan itu pada pamanmu." Ucap Daniel.


Daniel menuangkan teh kedalam gelasnya dengan gerakan sangat pelan.


" Di ruangan ini, hanya ada aku dan kamu Bernard. Tio sedang aku suruh untuk mengurus sesuatu. Kamu tahu mengapa? " Tanya Daniel, sambil mengangkat cangkirnya.


" Agar kamu bisa melihat hal yang kamu inginkan. Kamu menginginkan kematianku, bukan? Maka aku akan mengabulkannya. Hari ini dihadapanmu, aku akan memenuhi keinginanmu. "


" Tetapi Bernard.. Tolong jangan sakiti Sierra. Aku sudah sangat merasa berdosa padanya. Aku bahkan hampir membawanya mati konyol bersamaku. Kebenarannya sudah aku ungkap, kau akan mendapatkan buktinya dari Tio nanti."


" Terimakasih sudah memberikan aku karma di hidupku. Aku tidak menyalahkanmu, aku menganggap ini karma karena aku sudah menyakiti putriku Sierra berulang kali. Terimakasih Bernard." Ucap Daniel lalu ia meneguk habis teh di cangkirnya.


Tiba tiba Daniel merasakan sesak di dadanya, sakit dan menyiksa terlihat dari raut Daniel yang menahan sesak. Daniel terjatuh di atas lantai, dan menatap Bernard lalu tersenyum. Kemuduian pandangannya kabur dan menjadi gelap.


BRAK!!


Suara pintu yang di buka paksa dari luar.


" Tuan!!!" Teriak Tio.


" Tuan!!! Tidak, tuan!! tuan!! " Panggil Tio.


" Bagaiaman bisa anda membunuh kakak anda sendiri tuan Bernard. Walaupun dia kakak angkatmu, dia sangat menyayangimu." Ucap Tio bersedih.


" Ini adalah bukti, bahwa tuan Daniel dan keluarganya bukanlah penjahat yang menghabisi keluargamu!" Ucap Tio melemparkan sebuah map ke hadapan Bernard.


Tio mengangkat tubuh Daniel sambil menangis, dan menaruhnya diatas kursi roda lalu mendorongnya keluar dari sana.

__ADS_1


Bernard membuka map yang di berikan oleh Tio, ia membacanya dengan saksama, lalu menetes satu demi satu air matanya diatas kertas itu.


" Hhhhh.. hiks.. hiks.. Kakak." Ucap Bernard.


__ADS_2