
Arthur kembali menghampiri Malvin, seluruh tubuhnya penuh dengan noda darah dan bau anyir. Malvin yang melihatnya juga begitu Syok, Arthur penggila bersih, biasanya ia akan menyuruh anak buahnya untuk mengerjakan hal yang seperti itu. Tapi kali ini Arthur turun tangan sendiri.
" Ar, pakaianmu." Ucap Malvin.
" Aku tahu." Ucap Arthur singkat.
" Cari penginapan yang tidak mencolok, aku hanya ingin membersihkan diriku. Lalu cari Sierra di rumah sakit, entah rumah sakit manapun itu. Dia terluka saat ini." Ucap Arthur.
' Jadi pemicu kemarahannya adalah Sierra.' Batin Malvin.
" Baik." Ucap Malvin.
Malvin meghapus rekaman cctv kediaman Daniel, lalu mengembalikan sistem itu ke awal seperti semula. Lalu mencari sebuah penginapan yang menurut Malvin paling dekat dengan tempat Daniel saat ini.
" Aku sudah dapat, ayo." Ucap Malvin.
Mereka berdua pun pergi menuju ke penginapan yang sudah Malvin pesan.
Tak lama mereka pergi, Daniel tiba di kediamannya dan terkejut saat ia turun dari mobil. Jasad orang orang nya tergeletak di segala tempat.
" Apa apaan ini, siapa yang melakukuan ini?" Gumam Daniel.
Daniel memasuki kediamannya dan kondisi didalam lebih mengerikan dari pada di luar. Darah mengalir dan berceceran dimana mana, nafasnya memburu karena marah sekarang.
" Palayan, siapa yang melakukan ini?" Tanya Daniel.
" Kami tidak tahu tuan, seorang pria datang dan membabi buta membunuh mereka semua. Tapi wajahnya tidak terlihat." Ucap pelayan.
' Apakah Arthur? Tapi Arthur tidak mungkin membunuh orang begitu saja. Apakah suruhan Arthur?' Batin Daniel.
Daniel tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini
" Dimana Vian?" Tanya Daniel.
" Tuan Vian pergi setelah mendapat panggilan telepon, tuan. Dia terlihat sangat marah." Ucap pelayan itu lagi.
' Apakah Vian akan memaksa Arthur untuk melepaskan Sierra? Bagaimana pun Sierra masih menvintai Arthur dan menolak dijodohkan dengan Vian.' Batin Daniel.
Daniel beranggapan begitu karena menurut Daniel, Vian juga termasuk kuat. Kaluarga Muyera juga terkenal di AS. Tentang mengapa Bernard Muyera bisa berakhir menjadi adik angkat Daniel, karena dulu orang tua Bernard di bantai, dan ayah Daniel yang menyelamatkan nyawa Bernard. Sejak saat itu, Bernard tinggal dan tumbuh besar di kediaman Leon.
Berpindah ke sisi Arthur, saat ini Arthur telah membersihkan dirinya dan kembali bersiap. Anak buah nya sudah ia sebar untuk mencari pasien bernama Sierra Leona, dirinya hanya tinggal menunggu kabar.
RING.. RING..
Telepon Arthur berdering.
" Halo, kau serius? Bagus.Tunggu aku datang." Ucap Arthur.
" Apakah sudah ketemu?" Tanya Malvin.
__ADS_1
" Ya, ayo." Ucap Arthur, sambil tangannya menekan sederet angka.
" Terbanglah ke rumah sakit Xx di kota K, aku membutuhkanmu disana." Ucap Arthur menghubungi Sammy.
Malvin mengangguk, pakaian Arthur yang penuh noda darah sudah di lenyapkan. Kini keduanya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi menuju kesebuah rumah sakit. Anak buahnya berhasil menemukan Sierra, benar benar Sierra dan tidak terlihat Daniel disana.
Sekitar 10 menit, mereka sampai di sebuah Rumah sakit besar di kota K. Arthur dengan langkah lebarnya langsung menuju ke lantai yang telah disebutkan oleh anak buahnya. Beruntungnya Arthur tidak menggunakan pakaian yang formal seperti biasanya, jadi tidak ada satupun yang mengenali bahwa dia adalah Arthur.
" Dimana Sierra?" Ucap Arthur pada anak buahnya setelah sampai di atas.
" Di dalam ruangan itu tuan, yang ada empat pria berjaga." Ucap anak buahnya.
" Baik, Vin.. Tugasmu." Ucap Arthur.
Malvin mengangguk lalu berjalan dengan santainya menuju ke arah pria pria itu berada. Malvin melihat kanan kiri sebelum beraksi, dan setelah dirasa aman, dengan gerakan cepat Malvin menyerang 4 pengawal itu dan pingsan.
Arthur langsung berlari kesana dan masuk kedalam ruangan Sierra. Saat membuka pintu, Arthur tertegun Sierranya terlihat sangat pucat tengah tak sadarkan diri.
" Sayang.." Gumam Arthur.
Sierra membuka matanya saat mendengar suara yang sangat ia rindukan dan harapkan itu.
" Ar.."
" Sshhh... Jangan bicara. Kamu masih lemah." Ucap Arthur, memotong ucapan Sierra dan langsung memeluk Sierra.
Sierra mengangguk, ia menangis di dalam pelukan Arthur. Mengeluarkan segala rasa sesak didadanya yang ia bendung sejak kemarin.
Malvin membantu untuk mengangkat selang infus Sierra agar tidak perlu di lepas. Sementara Arthur menggendong Sierra. Anak buah Arthur menyeret masuk semua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar rawat Sierra .
" Ayo." Ucap Arthur.
Ketiganya pergi dari sana dengan menaiki lift menuju atap ke landasan udara rumah sakit. Saat mereka telah sampai dan hendak membuka pintu atap, seseorang berteriak mengehentikan mereka.
" HEI! BERHENTI!! " Tiba tiba ada seorang pria yang tampaknya anak buah Daniel.
" Biar saya tangani tuan, kalian pergi saja." Ucap anak buah Arthur.
Arthur mengangguk, dan pas sekali Sammy sampai tepat waktu. Dengan gerakan cepat, Arthur masuk kedalam helikopter dan langsung terbang dari sana.
" Sierra, kamu tidak apa apa? Kenapa dia bisa ada disini?" Tanya Sammy berentet.
" Diam! lebih baik cepat tangani Sierra. Sepertinya lukanya kembali berdarah." Ucap Arthur.
" Vin, pesan penerbangan langsung menuju ke bali, sekarang." Ucap Arthur.
" Hah!! Kau mau langsung ke bali? " Ucap Malvin dan Sammy bersamaan.
" Ya, aku, Sierra dan kau Sam. Malvin biarkan di Jakarta, dia harus membuat alibi." Ucap Arthur.
__ADS_1
" Kenapa tidak kau gunakan jet pribadimu saja Ar, pesan penerbangan umum tidak bisa se mendadak itu." Ucap Malvin.
" Jika aku menggunakan jet pribadiku, maka akan banyak orang yang tahu bahwa aku meninggalkan Jakarta. Dan Daniel pasti akan tahu." Ucap Arthur.
" Maka gunakan helikopter milikku, ayo ke kediamanku." Ucap Sammy, sembari menangani luka Sierra yang kembali berdarah.
" Terimakasih." Ucap Arthur.
" Kita saudara bro, apa yang kau bicarakan." Ucap Sammy.
" Sierra, kamu baik baik saja? Jika terasa sangat nyeri maka aku mau tidak mau menyuntikan obat padamu, agar rasa nyerimu berkurang. Luka mu kembali berdarah. " Ucap Sammy.
" Aku baik baik saja." Ucap Sierra.
" Baiklah, itu bagus. " Ucap Sammy.
Setelah beberapa saat, Helikopter rumah sakit itu mendarat di atap kediaman Sammy. Arthur, Sierra, dan Sammy turun disana, sementara Malvin dan pilot yang menerbangkan helikopter rumsh sakit masih di dalam heli.
" Kembalilah, buat alibi seolah olah Sierra di sana." Ucap Arthur.
" Baik, ayo." Ucap Malvin. Dan Helikopter rumah sakit itu pun pergi dari sana.
" Ayo masuk, kita tangani luka Sierra dulu. Peralatan di rumahku juga lumayan lengkap." Ucap Sammy.
Arthur mengangguk, lalu membawa Sierra yang berada di gendongannya itu memasuki kediaman Sammy. Kediaman Sammy tidak bisa di bilang besar, juga tidak bisa di bilang kecil. Rumah nya benar benar mencerminkan dirinya yang seorang dokter penyendiri.
Rumah itu sangat bersih dan rapi dengan nuansa hitam dan putih. Dan seluruh dindingnya kebanyakan menggunakan kaca kaca besar yang kokoh berdiri.
Arthur merebahkan Sierra di sofa, lalu Sammy mulai menangani luka Sierra. Sekitar seteangah jam lamanya akhirnya luka Sierra tak lagi mengeluarkan darah.
" Terimakasih kak." Ucap Sierra.
" Tidak masalah, ini tugasku sebagai seorang dokter. Mau minum atau makan sesuatu?" Tanya Sammy.
" Tidak, terimakasih." Sahut Sierra.
" Kalau begitu aku akan mennyiapkan semua peralatanku, dan barang barangku sebelum terbang ke Bali." Ucap Sammy.
Sammy pun pergi dari sana menuju kamarnya, dan Arthur mengusap rambur Sierra yang terbaring di sofa.
" Aku merindukanmu, sayang." Ucap Arthur.
" Aku juga.. Aku pikir aku tidak akan bisa pergi dari sana. Kamu tahu, pria yang akan dijodohkan dengan ku itu, adalah pria yang di mall waktu itu. Yang aku bilang mirip Alden." Ucap Sierra.
" Aku tahu, aku menyelidikinya kemarin." Ucap Arthur.
" Aku sangat yakin, dia Alden. Tapi entah bagaimana bisa dia menjadi Vian." Ucap Sierra.
" Aku sedang menyelidikinya juga, sayang. Jika dia benar benar bukan Vian yang asli, maka keluarga Muyera berarti sudah hancur." Ucap Arthur.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...