
Di markas..
Carol dibawa ke sebuah lahan terbuka, Carol sudah tidak memiliki tenaga karena belum lama ini dia baru saja di gempur habis habisan oleh beberapa pria.
" Berdiri yang benar!!" Bentak Zan
" Aku haus.." Ujar Carol.
Wajahnya begitu kuyu, dan tumbuh jambang di sekitar lehernya. Carol yang sebelumnya begitu terawat, kini terlihat seperti tuna wisma tua tak terurus.
" Kau belum lama meminum banyak air, bukan?" Ujar Zan.
" Aku mohon, aku ingin minum air yang sesungguhnya." Ujar Carol memelas.
" Tidak perlu, sebentar lagi juga kau tidak akan merasa kehausan atau kelaparan, tuan Lucifer sudah membebaskanmu." Ujar Zan.
Mendengar itu, Carol merasa senang. Akhirnya penderitaan nya sudah berakhir.
" Benarkah? Akhirnya aku bebas juga. " Ucap Carol senang.
" Pergilah, kesana.. Ada jalan keluar disana." Ucap Zan, dan tersenyum smirk.
Dengan tertatih tatih, Carol berlari menuju arah yang tadi Zan tunjuk. Ia Jatuh dan bangun lagi, hingga sampai di sebuah pintu besi.
" Akhirnya... " Gumam Carol senang. Ia membuka pintu besi itu dengan susah payah, namun senyumnya yang merekah tadi seketika hilang dan berganti menjadi ketakutan.
"GGGRRRRRR"
Carol mundur hingga terjatuh, di hadapan nya saat ini adalah harimau besar yang sepertinya sedang kelaparan.
" Perkenalkan, dia adalah Lucia. Lucia sudah tiga hari tidak makan, dia pasti senang mendapatkan makan siangnya." Ucap Zan.
Zan langsung menutup pagar besi yang membatasi dirinya dan Carol. Carol mundur dan harimau besar itu semakin maju dengan tatapan permusuhan.
" Kumohon, tolong aku.. bukankah aku sudah mendapatkan hukumanku, aku mohon." Ucap Carol sambil terisak.
" Kau dihukum, belum tentu kau bebas. Kau saja menghabisi nyawa nona Leah dengan begitu entengnya. Kamu nikmati saja rasanya melihat anggota tubuhmu dimakan oleh Lucia." Ujar Zan.
" Tidak! Aku mohon.. tolong aku." Ucap Carol. Carol mundur, dan semakin mundur.
" Lucia, makanlah makan siangmu." Ucap Zan.
Seakan mengerti apa yang Zan ucapkan , harimau itu semakin menatap tajam Carol.
" TIDAK!! AKU MOHON!! TOLO.. AARGH!!" Teriak Carol kesalitan ketika harimau itu mulai mencabik tubuhnya.
Harimau itu pun menerkam Carol, Zan pun berbalik pergi setelah memastikan pagar besi otomatis itu terkunci dengan sempurna.
Sekarang terjawab sudah mengapa orang yang bersinggungan dengan Arthur atau menghianatinya berakhir tanpa jasad. Karena mereka masuk kedalam perut Lucia, harimau jantan berusia 8 tahun.
__ADS_1
Di tempat lain..
Sierra sedang duduk di sofa ruang tengah bersama si kambar. Tiba tiba dari luar, Hwan begitu berisik.
" GRROOAAR!! GRROAR!! " Suara Hwan mengaum.
Ya, Hwan.. Singa jantan yang pemberani itu hidup, dan sudah kembali sehat. Ia sempat di rawat di rumah sakit selama hampir sebulan lamanya, karena ia harus menjalani perawatan pasca operasi pengambilan peluru di pahanya.
Beruntungnya peluru itu hanya bersarang di paha, dan tidak mengenai organ vital lainnya.
" Kenapa dengan Hwan?" Tanya Sierra pada Arthur.
" Entah, biar aku lihat dulu." Ucap Arthur.
Arthur pun keluar dan menghampiri Hwan. Terlihat pawang baru yang menjaga Hwan sampai ketakutan melihat Hwan yang mengamuk. Bagaimanapun Hwan adalah raja hutan, apa lagi kini Hwan sudah terlihat begitu besar.
" Kenapa dengan nya?" Ucap Arthur.
" Tidak tahu tuan, tiba tiba dia mengamuk." Ujar sang pawang.
Arthur pun menghampiri Hwan, benar.. Hwan terlihat sangat marah ia terus menunjukan taringnya.
" Kau marah marah kenapa?" Tanya Arthur.
" GROAARR!! GRROAR!! " Auman Hwan terdengar begitu menggelegar.
" Kamu merindukan ibumu?" Tanya Arthur, dan hwan langsung mendekatkan dirinya pada Arthur yang berdiri di luar kandang.
" Jadilah anak baik, ibumu sedang bersama tuan kecilmu." Ucap Arthur, membelai bulu Hwan, dan seakan tahu.. Hwan hanya membuang nafasnya kasar, Arthur pun terkekeh.
Arthur kembali masuk kedalam, dan melihat Sierra yang sedang kesulitan mengambil camilan nya, karena si kembar berada diatas pangkuannya.
" Biar aku ambil, sayang." Ujar Arthur.
" Kenapa dengan Hwan, sayang?" Tanya Sierra.
" Dia merindukanmu." Ujar Arthur.
" Ayo kenalkan Justin dan Dustin padanya." Ujar Sierra.
" Bahaya sayang, dia sedang sensitif." Ucap Arthur.
" Tidak apa apa, aku yang akan memperkenalkan nya." Ucap Sierra.
" Baik.. Ayo." Ujar Arthur.
Arthur menggendong si kakak, dan Sierra menggendong si adik. Mereka pun berjalan keluar. Hwan seakan tahu kehadiran Sierra, ia langsung bangun dan terlihat antusias.
" Hey, kamu mencari ibu, ya?? Kemari.. Ibu akan memperkenalkanmu pada si kembar." Ucap Sierra.
__ADS_1
Hwan menatap bingung si kembar, mungkin dia heran dengan dua makhluk kecil di gendongan Sierra dan Arthur. Hwan mengendus Dustin, lalu kemudian ia mencium Dustin dengan pelan.
" Good boy.. Jaga mereka berdua saat mereka besar nanti, oke?" Ujar Sierra.
Hwan terlihat senang, ia berjalan menghampiri Justin, lalu kemudian kembali menghampiri Dustin dan ia bolak balik mencium dengan pelan kedua bayi itu seakan tahu bahwa itu adalah bayi.
" Dia antusias sekali." Ujar Yara, terkekeh.
Sementara si kembar sendiri hanya berkedip kedip ketika merasakan pipinya diendus oleh Hwan.
" ASTAGA!!! Cucu omah.." Teriak Sahara tiba tiba.
Sahara langsung melempar tas nya dan berlari menghampiri Sierra dan Arthur.
" Apa yang kalian lakukan! Bagaimana kalau Hwan menggigit?" Ucap Sahara.
" Tidak mi.. Hwan justru menyukai mereka." Ujar Arthur.
" Ha? Masa.." Ujar Sahara tidak percaya.
Hwan mendengus seolah kesal, lalu ia kembali mencium Justin dan lari kembali mencium Dustin. Sahara terperanga melihat singa ganas yang kehilangan jati dirinya di hadapan Sierra.
" Bisa bisa nya seekor singa jantan bersikap sepertimu, jika binatang lain tahu, mereka akan menertawakanmu." Ujar Sahara.
Hwan tidak peduli dengan hal itu, saat ini dirinya hanya sedang fokus pada dua makhluk kecil yang menggemaskan, Justin dan Dustin.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa.. perasan dan ikatan hati antara binatang dengan tuannya begitu tinggi, hingga terkadang binatang lebih manusiawi dari pada manusia itu sendiri.
Bahkan ketika seekor binatang yang terkenal dengan kebuasannya memiliki anak, mereka pun akan sangat menyayangi anaknya, dan menjaganya dari hal hal yang membahayakan.
" Sudah waktunya minum susu, sayang. Bawa Justin masuk." Ucap Sierra.
" Hwan.. Patuh, ya.. Nanti kita main bersama lagi." Ucap Sierra.
Begitulah seharusnya orang tua bersikap. Menyayangi dan mengutamakan buah hatinya sendiri. Bagaimana bisa manusia begitu keji, menyakiti dan mengabaikan anaknya sendiri.
Kita bisa melihatnya dari kisah Sierra, dia di asingkan, di kucilkan, dan di anak tirikan. Padahal Sierra saat itu masih begitu sangat kecil, dan butuh kasing sayang.
Kadang ke egoisan manusia menutup mata dan hati mereka. Sehingga mereka tidak bisa melihat kebenaran, juga tidak memiliki rasa kasih pada anaknya sendiri.
Dan tanpa kita sadari, kita melepaskan satu hal penting, yaitu makna kekeluargaan. Dimana seorang ayah seharusnya melindungi dan mencintai anaknya tanpa sarat. Dan seorang anak yang seharusnya bisa berlindung pada orang tuanya.
Kita tahu, tidak semua keluarga itu sama, tidak semua keluarga itu bahagia. Mungkin ada banyak yang mengalami nasib seperti Sierra.. atau bahkan lebih buruk dari Sierra.
Peluklah, dan sayangi keluarga kalian. Berilah cinta pada anak anakmu, berikan mereka tempat berlindung..
Terimakasih telah mengikuti kisah Sierra dan perjuangannya mendapat keadilan, hingga mendapatkan kebahagiaan nya sendiri.
THE END..
__ADS_1