The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 83. Beraninya menggertak!


__ADS_3

Arthur masih berada diruangan yang sama dengan Vian. Mereka membahas tentang kelanjutan kerja sama antara perusahan MC milik Vian dan perusahaan Arthur.


" Bagaimana tuan Arthur, Apakah anda setuju? Jika ya, maka kita bisa segera menandatangani kelanjutan kerja sama kita." Ucap Vian.


" Tapi saya beri tahu satu hal, saya tidak memiliki banyak waktu. Banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan MCku." Ucap Vian lagi.


' Pria ini mengira aku tidak memiliki kekuatan dan mudah di gertak, beraninya dia menggertakku.' Batin Arthur.


Arthur adalah tipe orang yang sangat lihai mengendalikan emosi dan menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Seperti saat ini, Vian bahkan tidak bisa menebak apa yang Arthur pikirkan, karena Wajah Arthur begitu tenang.


" Tuan Vian Muyera, anda begitu sangat ingin bekerja sama denganku, kah? Sampai sampai anda begitu terburu buru?" Ucap Arthur.


" Saya mengatakan itu agar anda cepat membuat keputusan, karena banyak yang mengantri untuk bekerja sama denganku." Ucap Vian.


" Lalu menurut anda, apakah tidak ada yang ingin bekerjasama denganku? Jika begitu menurut penilaian anda, maka saya lebih baik tidak menerusakan kerja sama kita. Tuan Muyera tua saja tidak pernah terburu buru seperti anda, tampaknya dia memiliki putra yang sombong." Ucap Arthur.


" Kau!!" Bentak Vian sembari menggebrak meja Arthur.


" Baik! kita akhiri kelanjutan kerjasama kita! Jangan sampai anda menyesal tuan Arthur." Ucap Vian, lalu keluar dari ruangan Arthur.


" Tuan, dia tidak tampak seperti putra Muyera yang di kabarkan selalu sakit sakitan. " Ucap Malvin setelah Vian pergi.


" Ya, aku tahu. Selidiki dia, Selidiki tentang tuan muda Muyera itu." Ucap Arthur.


" Baik tuan. Lalu, bagaimana dengan kelanjutan kerja sama ini, apa sungguh anda tidak akan lagi bekerja sama dengan MC?" Ucap Malvin.


" Lima tahun lalu, tuan Muyera tua yang mengemis untuk bekerja sama denganku, mungkin dia tidak menceritakan itu pada putranya hingga putranya begitu kurang ajar. Tidak apa apa melepaskan satu, toh banyak perusahaan yang lebih maju darinya yang mau bekerja sama dengan kita." Ucap Arthur.


" Anda benar tuan, kalau begitu silahkan anda pulang. Ini sudah waktunya makan siang, biar saya yang melanjutkan pekerjaan disini." Ucap Malvin.


" Hmm.. Kamu cukup pengertian. Kalau begitu aku oulang dulu." Ucap Arthur.


" Oiya, selidiki Daniel. Juga pria yang di jodohkan dengan Sierra." Ucap Arthur.


" Baik." Sahut Malvin.


Arthur menyambar jas kerja nya lalu ia sampirkan di lengannya dan berjalan pergi. Arthur mengemudikan mobilnya sendiri, ia tidak menggunakan supir. Walau begitu keamanannya selalu di jaga dengan ketat oleh mata mata yang mengikutinya.


Namun sepertinya kali ini ia mendapat tamu, karena sedari tadi iringan mobilnya itu di ikuti oleh sebuah Jeep berwarna cokelat tua dari jarak 30 meter. Arthur memasang earphone di telinga nya lalu menghubungi pengawal nya.

__ADS_1


" Ada Jeep yang mengikuti kita." Ucap Arthur.


" Benar tuan, kami sedang menyelidiki plat mobilnya." Ucap anak buah Arthur.


" Urus dia, aku tidak ingin dia mengikutiku sampai rumah." Ucap Arthur.


" Baik, tuan." Ucap anak buah Arthur.


Arthur menaikan kecepatan mobilnya dan saat mobil Jeep itu hendak ikut mengejar, mobil pengawal yang berada di belakang Arthur mencegat Jeep itu di tengah jalan.


Pengemudi Jeep yang terkejut pan langsung mengerem saat mobilnya di hadang oleh dua mobil mewah di depannya.


" S*al!! Apa apa an ini, kenapa dua mobil ini menghadangku." Ucap pengemudi Jeep yang ternyata adalah Vian.


Pengawal Arthur sebanyak empat orang turun dan mendatangi Vian, sedangkan satu mobil lagi melaju pergi dengan kecepatan penuh. Vian yang di datangi secara mendadak pun kelabakan sendiri, ia hendak mundur namun kemudian mobilnya di gebrak oleh pengawal Arthur.


Dan dengan kecepatan penuhnya, ia meloloskan dirinya dari anak buah Arthur. Namun menuju arah lain, tidak mengikuti Arthur yang sudah tak terlihat dari sana.


" Kau menempelkan pelacak di mobilnya?" Tanya pengawal Arthur pada rekannya.


" Ya, ayo kita lacak dia." Ucap pria yang menempelkan pelacak di Jeep yang Vian kendarai.


Sementara Arthur sendiri, kini ia sudah sampai di kediamannya. Saat ia sampai, ia tak melihat Sierra lagi. Ia menebak, pasti Sierra ada di tempat olah raga di belakang rumahnya.


' Aku tidak tahu dia bisa begitu menguasai bela diri. Ruoanya Sierra ku memiliki banyak kejutan.' Batin Arthur.


" Sayang." Panggil Arthur.


" Sayang, kamu sudsh pulang?" Tanya Sierra.


" Ya, aku tidak tahu kamu begitu pandai bela diri?" Ucap Arthur.


" Aku menguasai beberapa seni bela diri karena dulu aku pernah bekerja paruh waktu di tempat kebugaran. Aku memperhatikan mereka yang berlatih, lalu aku mempraktekanya saat jam latihan mereka berakhir, itu saja." Ucap Sierra.


Arthur merasakan sakit dihatinya, Sierra nya harus bekerja keras sendirian. Ditambah hanya memperhatikan mereka yang beruang untuk bisa latihan, sementara dirinya harus bekerja sambil melihat.


" Tapi aku bangga padamu, sayang. Kamu hanya melihat tapi bisa menguasainya." Ucap Arthur.


" Ya, tapi dulu aku terlalu takut menonjolkan diriku. Dulu mentalku lemah, karena mereka selalu.."

__ADS_1


" Jangan di teruskan! Aku tidsk mau mendengarnya. Jangsn ungkit kesakitanmu lagi, sayang. Hiduplah selalu dengan bahagia bersamaku. Mulai sekarang, lupakan semua kepahitan itu. Aku ikut sakit mendengarnya." Ucap Arthur sambil memeluk Sierra.


" Astaga, Arthur. Aku basah dengan keringatku, kamu akan ikut bau nanti." Ucap Sierra.


" Tidak masalah.. Lagi pula kamu tidak bau sama sekali." Ucap Arthur.


" Hei, lepas.. Ayo kita makan siang." Ucap Sierra.


" Baiklah.. " Ucap Arthur, akhirnya Arthur melepas pelukannya dari Sierra.


Mereka bergandengan tangan dan berjalan menuju ke dalam rumah. Sierra pergi ke kamarnya untuk mandi, sementara Arthur sendiri, kini tengah menyiapkan makan siang untuk Sierra dan dirinya.


Ditengah tengah aktifitas masaknya, ia menerima telepn dari bawahannya, yang melaporkan bahwa mobil yang mengikuti Arthur tadi adalah milik Vian Muyera, dan terparkir sebuah apartmen mewah di daerah Jakarta Selatan.


" Oke, selidiki apa sebenarnya motifnya berada di tanah air." Ucap Arthur, lalu panggilan di akhiri.


" Sayang, kamu masak apa?" Ucap Sierra yang telah kembali dari kamarnya.


" Makanan kesukaanmu, hot pot." Ucap Arthur dwngan senyum manisnya.


Mendengar kata Hot pot, Sierra langsung sumringah. Ia sudah sangat lama tidak memakan makanan berkuah pedas itu karena luka di perutnya.


" Apakah aku bileh memakannya?" Tanya Sierra.


" Karena kamu begitu sehat hingga bisa membunuh gangster, jadi aku izinkan kamu memakan ini. Tapi... Jangan terlalu pedas oke?" Ucap Arthur.


" Oke!" Ucap Sierra antusias.


Kenapa selalu Arthur yang memasak? Karena Arthur tidak mudah percaya dengan orang lain untuk urusan makanannya. Semua itu bukan tanpa alasan, saat ia berusia 15 tahun ia menggunakan jasa koki untuk urusan makanannya, tetapi kemudian rupanya koki itu berniat meracuninya.


Beruntungnya ia belum makan terlalu banyak, jadi ia masih bisa terselamatkan saat di bawa kerumah sakit. Dan saat koki itu diselidiki, rupanya dia adalah mata mata musuh yang menyamar menjadi koki. Sejak kejadian itu, ia jarang memakan makanan dari orang lain.


Tapi lain halnya dengan restoran milik ibunya, koki disana adalah orang orangnya yang ia letakan di restoran milik Sahara, jadi ia masih sedikit memiliki rasa aman. Dedangkan untuk di kediamannya pribadi, ia lebih memilih untuk memasak sendiri.


" Mmmmm... Ini enak sekali, aku mencintaimu hot pot." Celoteh Sierra.


" Lalu kamu tidak mencintaiku?" Ucap Arthur sedikit merajuk.


" Hehe.. Aku paling mencintai Arthur Edward." Ucap Sierra. Arthur tersenyum mendengarnya, Baginya Sierra adalah pusat dunianya.

__ADS_1


" Makan yang banyak, kamu pasti kehilangan banyak tenaga." Ucap Arthur.


" Siap boss!!" Ucap Sierra mengacungkan dua jempolnya kearah Arthur, dan Arthur pun terkekeh melihatnya.


__ADS_2