
Arthur dan Cornelius bergabung dengan Sierra dan Sahara.
" Bagaimana dengan yang ini? Papimu sama sekali tidak bisa diandalkan. Setiap tahun saat ulang tahun pernikahan hanya mami yang sibuk menyiapkan semuanya, dia hanya iya iya saja, dasar laki laki." Keluh Sahara
Cornelius hanya bisa menelan ludahnya saja. Ia pasrah saja disalah salahkan oleh istrinya itu. Padahal sesungguhnya Sahara lah yang terus berganti pilihan ketika Cornelius sudah memilih satu.
' Dasar wanita.. ' Batin Cornelius.
" Mami dan Sierra saja yang memilih, kalian sama sama wanita seharusnya memiliki insting yang sama." Ucap Cornelius mengalah.
" Oiyah, mami juga sudah meminta mereka untuk memasang piano mami di aula nanti. Mami dan Sierra akan memainkan sebuah lagu disana nanti." Ucap Sahara antisias.
" Mami bisa main piano.? " Tanya Sierra.
" Bisa dong.. mami ini multi talenta saat muda dulu, iya kan papi.?" Ucap Sahara kepada Cornelius.
" Iya.." Ucap Cornelius hanya mengiyakan saja.
" Kamu bisa bermain piano sayang.?" Tanya Arthur.
" Kamu tidak tahu?? Astaga.. Sierra mu ini sangat lihai bermain piano. Mami sampai terkagum kagum hingga menangis melihatnya." Ucap Sahara.
" Mami melihat Sierra bermain piano dimana.?" Tanya Arthur.
" Di toko alat musik, saat mami mencarikan kado untuk papi, Sierra memainkan sebuah lagu dengan piano disana." Ucap Sahara.
" Oh... Jadi kado untuk papi adalah alat musik.?" Ucap Cornelius.
"Ups.. " Ucap Sahara menutup mulutnya.
Sierra dan Arthur hanya tersenyum saja melihak interaksi Sahara dan Cornelius.
" Yah.. Sudah ketahuan, tidak seru.." Ucap Sahara.
" Tapi kan papi belum tahu alat musik apa yang mami beli." Ucap Sierra.
Seketika Sahara langsung kembali sumringah.
" Benar.. Papi kan belum tahu kalau mami membeli saksopon baru." Ucap Sahara.
Sierra dan Arthur hanya bisa tersenyum kaku mendengar Sahara yang justru menyebut hadiahnya sendiri.
" Hahahahaha... Mami yang memberi tahu papi kadonya." Ucap Cornelius junstru menertawakan Sahara.
" Apa mami tadi menyebut mami membeli kado apa.?" Tanya Sahara kepada Sierra.
" Iya, mami bilang saksopon." Ucap Sierra.
__ADS_1
" Hiks.. Mami kebodohan." Ucap Sahara kembali menyedih.
Cornelius yang melihat Sahara menjadi sedih langsung menghentikan tawanya. Ia menghampiri Sahara dan duduk di sebelh Sahara. Kini Sahara duduk diantara Cornelius dan Sierra.
Cornelius menggenggam tangan Sahara lalu memutar tubuh Sahara agar menghadap dirinya.
" Mami... Apapun kadonya tidaklah penting. Yang terpenting adalah kita selalu bersama, dalam suka maupun duka, menua bersama dan saling mencintai juga mengasihi seperti janji suci pernikahan kita dulu. Apapun kadonya papi akan suka, asal itu dadi mami. Namun yang terpenting adalah satu, mami ada bersama papi, mami mengerti .?" Ucap Cornelius.
Sahara yang mendengar kata kata Cornelius untuk menenangkannya pun seketika tersenyum.
" Mami mencintai papi." Ucap Sahara.
" Ya.. Papi juga. Tapi apa mami tidak malu, kita dilihat Arthur dan Sierra." Ucap Cornelius.
" Aiyah.. Itu gara gara papi berkata manis." Ucap Sahara menepuk pundak Cornelius.
" Padahal mami baru saja mengatakan mencintai papi, tapi sekarang sudah di pukul lagi " Ucap Cornelius.
Sierra sungguh terkesan dengan keharmonisan Cornelius dan Sahara. Mereka tetap mesra, tetap saling peduli, saling cinta, saling menyayangi walaupn mereka sudah tidak muda lagi. Dan akhirnya Sierra mengetahui dari siapa sifat hangat Arthur itu berasal. Cornelius.. Adalah orangnya.
Sierra menatap Arthur, dan Arthur tersenyum kearah Sierra. Senyuman hangat yang selalu Arthur berikan kepadanya. Tetapi Sierra masih belum mengerti mengapa Arthur bisa memiliki sifat dingin bahkan kepada orang tuanya sendiri.
" Sayang, maafkan mami yah, ayo kita lanjutkan mencari desain dekorasi untuk ulang tahunnya." Ucap Sahara kepada Sierra.
" Iya mi.." Ucap Sierra.
Akhirnya mereka mencari desain bersama, Arthur tak henti hentinya memandangi Sierra. Hingga akhirnya waktu makan malam tiba, dan mereka pun menyudahi aktifitas mereka.
" Tidak.. Mami benar benar benar benar mengobati kerinduanku akan sosok ibu." Ucap Sierra.
Arthur bangun dan menghampiri Sierra.
" Kemari.." Ucap Arthur sembari merentangkan kedua tangannya.
Sierra pun berhambur kepelukan Arthur.
" Jika kamu senang bersama mami, kamu main saja setiap hari kemari." Ucap Arthur.
" Tidak bisa, aku sudsh sembuh dan sekarang aku harus mencari pekerjaan." Ucap Sierra.
Arthur menatap Sierra yang berada di pelukan nya, lalu mencium rambut Sierra. Arthur senang mencium rambut Sierra, sekaan menjadi candu tersendiri.
" Kenapa kamu mau bekerja, aku tidak miskin dan masih lebih dari mampu untuk menghidupimu." Ucap Arthur.
" Kamu adalah kamu, aku adalah aku.. Aku tidak mungkin terus terusan bergantung padamu bukan.? Bagaimana aku bisa menjadi wanitamu jika pekerjaan saja aku tidak punya.?" Ucap Sierra.
" Kamu tidak perlu menjadi siapapun atau apapun, cukup jadi Sierra Leona saja dan duduk manis menungguku pulang kerja. Pasti akan sangat menyenangkan melihat kamu setiap hari menungguku dirumah." Ucap Arthur.
__ADS_1
" Aku bukan istrimu Arthur Edward, jika kamu lupa. " Ucap Sierra menatap Arthur.
" Maka menikahlah denganku, dan kamu akan menjadi istriku." Ucap Arthur.
" Cih.. Aku masih terlalu muda untuk menikah sayang.. " Ucap Sierra.
" Lagi.." Ucap Arthur.
" Apanya.?" Ucap Sierra bingung.
" Panggil aku sayang." Ucap Arthur.
" Tidak mau." Ucap Sierra.
" Sayang.. " Ucap Arthur.
" Sa.. "
RING.. RING.. RING..
ponsel Arthur berdering menghentikan ucapan Sierra.
" Sebentar ya, kamu ke meja makan saja dulu menyusul mami, aku angkat telepon dulu. " Ucap Arthur.
" Emh.. " Sierra mengangguk.
Sierra pergi menuju meja makan, dimana ada Sahara yang sedang mengupas buah buahan disana.
Sementara Arthur mengangkat teleponnya.
" Katakan, jika apa yang ingin kau katakan tidak lebih penting maka kau akan terbang ke afrika besok." Ucap Arthur.
Malvin, adalah orang yang menghubungi Arthur. Arthur yang sedang bahagia hampir dipanggil sayang oleh Sierra menjadi begitu kesal. Wajahnya begitu dingin dan masam saat ini, mungkin jika Sierra melihatnya pun akan mengira Arthur memiliki kepribadian ganda, karena sebelumnya Arthur bersikap begitu hangat.
" Tuan muda maaf mengganggu waktu anda, tapi ini mendesak. Salah satu rekan kerja tuan besar yakni Ruslan Walter memaksa untuk bertemu dengan anda, atau dia akan melakukan sesuatu. Entah apa yang ingin dia lakukan, saya hanya khawatir akan mengganggu kenyamanan tuan besar dan nyonya." Ucap Malvin.
" Ruslan Walter.. Selalu menganggap dirinya berkontribusi penting didalam hidup keluarga Edward. Sudah terlalu banyak kita membalas budinya, dia sudah terlalu sering memanfaatkan kita. Baik, besok aku akan menemuinya, kita lihat.. Apa lagi yang akan dia lakukan." Ucap Arthur dengan tatapan gelap dan dingin sedingin es di kutub utara.
" Baik tuan muda." Ucap Malvin, dan panggilan pun diakhiri.
' Kau pikir keluarga Edward akan selalu menampung keluarga bobrokmu itu, jangan mimpi terlalu tinggi.' Batin Arthur.
Sierra menghampiri Arthur, dan seketika Arthur kangsungbmerubah ekspresinya yang sebelumnya menjadi mode Iblis menjadi mode Malaikat.
" Sayang.. Ayo makan, mami dan papi menunggumu." Ucap Sierra.
Arthur tersenyum, akhirnya Sierra memanggil dirinya sayang.
__ADS_1
" Ya, sayang.. " Ucap Arthur, sambil bangkit dan mengganding tangan Sierra menuju meja makan.
TO BE CONTINUED...