
Di sebuah penjara pusat kota, seorang pria mengunjungi seorang tahanan. Tahanan itu pun keluar dari sel, dan menemui orang itu. Rupanya tahanan itu adalah Carine.
Sudah lama tidak ada yang mengunjungi Carine, terakhir kali orang yang mengunjungi Carine adalah Alden yang menggunakan identitas Vian.
" K- kau! " Ucap Carine dan air matanya langsung menetes, Carine ketakutan saat ini.
Rupanya yang mengunjungi Carine adalah Carol, atasan dari atasannya . Carine langsung pias, Terlihat Carine sangat kurus wajahnya yang dulu cantik kini kuyu dan kusam.
" Untuk apa menangis, apa kabarmu, Carine?" Ucap Carol.
" Apa kabar yang bisa diharapkan dari tahanan penjara. Untuk apa anda datang?" Ucap Carine menyembunyikan ketakutan nya.
" Mengunjungi seorang yang berkhianat, tetapi lalu di tinggal mati oleh kekasihnya." Ucap Carol.
Carine tidak bisa mengontrol emosinya, air matanya terus menetes. Ia tahu bahwa Alden telah mati mengenaskan, tapi ia sama sekali tidak tahu siapa yang membunuhnya.
" Apakah anda yang membunuhnya?" Ucap Carine.
" Aku? Untuk apa aku mengurusi anjing lepas itu? Dia mati karena keputusan bodoh ya sendiri." Ucap Carol.
" Tuan Carol, aku sudah tidak ingin lagi terlibat apapun denganmu, aku sudah mulai menata hidupku, tolong jangan tarik aku dalam hal hal itu lagi." Ucap Carine.
" Ck.. Menata hidup, sudah hampir setahun kamu di penjara, siapa yang datang. Tidak ada, kan?" Ucap Carol.
" Aku tahu, tapi aku tidak ingin terjun ke jalan itu lagi, aku sudah lelah." Ucap Carine.
Carine bangun dari duduknya, dan hendak pergi meninggalkan Carol, hingga tiba tiba Carol berkata..
" Sierra hidup bahagia dengan suaminya, ia juga tengah mengandung anak kembar sekarang. Apakah kamu tidak iri?" Ucap Carol.
Carine mengerat kan tangannya kuat, hingga kukunya memutih. Mendengar nama Sierra, hatinya bergemuruh di penuhi dendam.
" Dia bahagia, dan kamu disini membusuk. Tidak kah kamu ingin balas dendam?" Ucap Carol lagi.
" Aku tidak peduli dengan dirinya lagi." Ucap Carine, lalu pergi meninggalkan Carol.
' Kau bilang tidak peduli, tapi tubuhmu bergetar hebat. Perempuan munafik.' Batin Carol sambil tersenyum smirk.
Di tempat lain..
Arthur dan Sierra tengah berada di panti asuhan. Sierra membagi bagikan banyak barang di panti asuhan, terutama alat alat sekolah. Sejak siang dia berada disana, bermain dengan anak anak panti.
" Sayang, sebenarnya apa salah anak anak ini, sampai di tinggalkan di panti asuhan? Kenapa orang tua mereka begitu kejam meninggalakan mereka disini." Ucap Sierra pada Arthur, ketika dirinya sudah merasa lelah.
" Karena mereka egois. Mereka tidak pernah berpikir akan bagaimana kehidupan anak mereka nantinya." Ucap Arthur.
__ADS_1
" Padahal mereka tidak pernah mau dilahirkan ke dunia ini. Apalagi jika hanya untuk di tinggalkan. Lihatlah, bukankah mereka sangat lucu?" Ucap Sierra, dan air matanya mengalir.
Sejak tadi, Sierra menyembunyikan kesedihannya. Ia sangat terluka, ketika melihat anak - anak kecil yang tidak berdosa itu. Senyum mereka membuat Sierra menitikan air matanya. Senyum yang begitu tulusnya, yang begitu polosnya apakah orang tua mereka tidak merindukan mereka pikirnya.
" Sayang, jangan terlalu emosional.. Ingat kamu sedang membawa duo pumpkin disini." Ucap Arthur sambil mengelus perut Sierra.
" Kalau begitu ayo kita pulang, aku tidak kuat melihat mereka." Ucap Sierra.
" Ayo." Ucap Arthur.
Sierra dan Arthur pun berjalan dan menemui suster pengurus panti, dan berpamitan.
" Terimakasih nyonya, anda sudah berbagi banyak kasih di tempat kami. Anak anak begitu senang mendapat hadiah dari nyonya. " Ucap Suster yang mengurusi anak anak panti.
" Senang melihat mereka bahagia, kalau begitu saya permisi Suster." Ucap Sierra.
" Iya, semoga nyonya mendapatkan banyak berkat dari Tuhan. Hati hati di jalan nyonya." Ucap suster itu lagi.
" Ameen, terimakasih." Ucap Sierra.
Sierra dan Arthur pun pergi dari panti asuhan itu. Kini, mereka sedang berada di jalan menuju ke kediaman mereka dan Arthur terus mengusap usap perut Sierra yang nampak besar itu.
" Sayang, aku lapar.." Ucap Sierra.
" Makan buah dulu, ya? Sampai rumah baru makan yang berat." Ucap Arthur. Arthur, dan Sierra mengangguk.
Arthur memberikan Sierra buah, buah buah dan camilan wajib ikut serta kedalam mobil, atau kalau tidak ibu hamil itu akan merengek kelaparan. Hingga sampailah mereka di kediaman mereka.
Sierra berjalan menuju ke gazebo di gandeng oleh Arthur. Dan ia duduk di bantalan nyaman khusus untuk Sierra seorang.
" Tunggu disini, oke.. Daddy akan memasak untuk kalian bertiga." Ucap Arthur.
" Ya, daddy." Ujar Sierra.
" Andra, temani nyonya." Ucap Arthur.
" Siap, tuan." Ucap Andra.
Arthur pun pergi kedalam untuk memasak kan makanaan untuk anak dan istrinya. Terbayang tidak bagaimana romantisnya mereka? Seorsng CEO yang super sibuk itu benar benar lebih mengutamakan anak dan istrinya.
Walau ia sibuk, tapi jika tentang makanan dia turun tangan langsung tanpa bantuan siapapun. Padahal orang orang mengatakan waktu adalah uang, tapi tidak bagi Arthur. Baginya, Anak dan istrinya adalah yang paling berharga.
" Andra, bisakah kamu lepaskan Hwan? Atau minta pawang untuk melepaskan Hwan." Ucap Sierra.
" E.. Hwan? " Ucap Andra sedikit ngeri.
__ADS_1
" Ya, Hwan." Ucap Sierra.
" Tapi nyonya.. Bagaimana jika dia menggigit? Maksudku, dia seekor singa." Ucap Andra.
Selama hamil, Sierra hanya bermain dengan Hwan di luar kandang. Karena Arthur melarangnya, Arthur takut Hwan melompat ke tubuh Sierra yang tengah mengandung. Jadi dia hanya mengizinkan Sierra bermain dengan Hwan di luar kandang.
" Tidak apa apa, dia singa yang baik." Ucap Sierra.
" Nyonya, T- tapi.."
" Andra.. Percaya padaku, dia baik." Ucap Sierra.
" Baik.. saya akan minta pawang melepaskannya." Ucap Andra.
Andra pun pergi menemui para pawang Hwan. Hwan hanya satu ekor, tapi dia di jaga dua pawang. Karena sekarang tubuh Hwan benar benar besar, dia sudah menjadi singa jantan dewasa yang sesungguhnya.
" Tolong lepaskan Hwan, nyonya ingin di temani Hwan." Ucap Andra.
" Baik." Ucap sang pawang.
" GRROAR!!" Auman itu, membuat siapa pun yang berada di rumah itu merinding. Begitu besar dan menggelegar.
Dua pawang itu merantai Hwan, lalu membawa Hwan keluar. Hwan seakan tahu diamana keberadaan Sierra, ia pun langsung berlari menuju dimana aroma Sierra berada.
" Hwan.." Panggil Sierra.
Dan benar saja, Hwan langsung berlari kearah gazebo. Namun tiba tiba Hwan berhenti dan seakan berpikir untuk mendekati Sierra.
" It's ok boy, come.." Ucap Sierra.
Perlahan Hwan mendekat dan menggesekan dirinya pada Sierra, Andra yang baru pertama kali melihat itu pun terkagum kagum.
" Memang benar benar nyonya ku, tidak ada lawan." Gumam Andra.
" Lihat nak, ibu akan segera memiliki bayi bayi kecil. Saat mereka lahir nanti, temani mereka bermain, oke? Jaga mereka baik baik." Ucap Sierra, sambil mengusap usap bulu Hwan.
Hwan merebahkan dirinya, melingkari Sierra, seakan ia menjaga Sierra dari siapapun yang akan mengganggunya. Hingga akhirnya Arthur datang.
" Hwan, siapa yang mengeluarkanmu?" Ucap Arthur sambil membawa makanan.
" Ibu.." Ucap Sierra.
" Ayah minta, jaga ibumu dan calon anak anak ibu dan ayah baik baik, oke?" Ucap Arthur, dan Hwan hanya mendengus. Arthur dan Sierra pun terkekeh.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1