The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 56. Hailey bunuh diri.


__ADS_3

Ke esokan harinya, di sel tahanan.


Siang itu langit begitu cerah, matahari terlihat begitu jelasnya tanpa sedikitpun awan di sekelilingnya. Hanya warna langit biru yang mendominasi siang itu, sungguh indah pemandangan. Namun langit cerah  itu tidak berlaku bagi Hailey.


Hailey tampak begitu mendung, wajahnya suram bagai badai di lautan. Tatapannya kosong namun air matanya tak henti hentinya menetes. Hari ini adalah hari dimana dia akan menjalani hukuman matinya.


Takut, tentu saja itu yang dirasakan oleh Hailey saat ini. Ia masih ingin hidup dan menjalani kehidupannya yang bebas. Ia masih ingin bersenang senang di luaran sana. Mengingatnya, hanya membuat air mata Hailey semakin deras mengalir.


" Hiks.  Hiks.  Hiks. Tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Untuk apa juga aku hidup, benar.. lebih baik aku mati. Tapi aku tidak mau mati dengan status tahanan." Gumam Hailey dalam tangisnya.


Hailey menatap kuku kuku panjangnya, kuku kuku yang selalu terawat cantik itu kini tidak cantik seperti dulu lagi. Lalu kemudian Hailey menatap pergelangan tangannya.


" Kamu kalah Hailey.. kalah." Gumam Hailey sambil terisak.


Beberapa jam kemudian, dua orang petugas polisi datang menghampiri sel tahanan Hailey.


KLANG.! KLANG.!


Suara pintu sel tahanan dibuka.


" Saudari Hailey, mari ikut kami, sudah waktunya anda menjalani hukuman anda. " Ucap salah satu petugas polisi itu.


Namun Hailey tidak bergerak sama sekali, posisi Hailey seperti orang yang sedang tertidur menghadap ke dinding membelakangi petugas polisi.


" Saudari Hailey, tolong jangan mempersulit kami." Ucap petugas yang satu lagi.


Karena Hailey tak kunjung bergerak, akhirnya petugas polisi itu pun mengguncang tubuh Hailey. Mereka terkejut ketika membalik tubuh Hailey, Hailey sudah membiru, ia sudah meninggal dengan luka goresan goresan yang dalam di pergelangan tangannya.


" Astaga, dia bunuh diri. Cepat panggil kapten.!" Ucap petugas polisi itu.


Polisi itu langsung panik mencari keberadaan Tobiaz, hingga akhirnya Tobiaz datang dan wajahnya menunjukan ekspresi datar.


" Bagaimana ini kapten.?" Ucap petugas polisi.


" Urus jasadnya, bawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Lalu hubungi pihak keluarganya juga." Ucap Tobiaz dan pergi dari sana.


Dua petugas polisi itu pun langsung memanggil ambulance.


Di tempat lain..


Sierra sedang menikmati indahnya pemandangan di belakang kediaman Arthur, saat ini ia tengah berdiri dibawah pohon besar. Ia menggunakan dres berwarna kuning dengan panjang selutut. Dres itu pun berkibar karena di terpa angin yang lumayan besar di siang menjelang sore hari itu.


' Saat ini .. seharusnya Hailey sedang menjalani hukuman matinya. Dia sendirian, sama seperti saat aku menjalani hukuman matiku dikehidupanku yang lalu.' Batin Sierra bermonolog.

__ADS_1


' Dendamku, sudah terbalas kepadamu Hailey.. ' Batin Sierra lagi.


Bukannya Sierra kejam dan tidak berperikemanusiaan, tetapi apa yang telah ia lalui di kehidupannya yang lalu itu lebih dari kejamnya Sierra saat ini. Sierra dulu begitu di nistakan, tak ada satupun anggota keluarganya yang menyayanginya, begitu juga ayahnya, Daniel.


' Semoga kau tidak tenang Hailey, aku bahkan tidak rela kau mati dengan mudah. Tetapi Negara memiliki hukumnya sendiri, aku tidak bisa melupakan atau memaafkan kesalahanmu kepadaku dulu." Batin Sierra.


Sierra memejamkan matanya, dan tiba tiba langit berubah menjadi mendung.


" Kenapa tiba tiba mendung.." Gumam Sierra.


Tiba tiba Arthur datang dan memeluk Sierra dari belakang. Pelukan Arthur itu tidak begitu erat, lebih seperti seseorang yang sedang menguatkan orang lain.


" Arthur, kamu sudah kembali.?" Ucap Sierra.


" Ya sayang, aku sudah kembali. " Ucap Arthur.


" Kamu kenapa.??" Tanya Sierra karena mendapati keanehan pada Arthur.


Arthur melepas pelukannya, dan menatap Sierra lekat lekat. Arthur hendak berbicara tapi seakan tidak tega jika ia harus melihat wajah kecewa Sierra. Tetapi bagaimanapun juga Sierra harus tahu kabar itu.


" Hailey.. dia bunuh diri." Ucap Arthur.


Dan benar saja, Sierra  langsung terkejut dan wajahnya langsung merah.


" Beraninya dia.. beraninya dia bunuh diri setelah hakim menjatuhinya hukuman mati.. beraninya dia berbuat begitu." Ucap Sierra dengan air mata yang menetes.


Arthur langsung memeluk Sierra, mencoba menenangkan Sierra.


" Sayang.. sayang.. dengar, kendalikan dirimu oke." Ucap Arthur sambil mengusap usap punggung Sierra.


Sierra tidak terima Hailey mati tanpa membawa gelar kriminalnya, Sierra ingin Hailey mati seperti saat dirinya mati dikehidupan sebelumnya. Mati menyandang predikat sebagai pengguna dan pengedar obat terlarang.


" Aku tidak mengizinkannya mati Arthur.. aku tidak mengizinkannya mati semudah itu. Dia harus mati dengan predikat kriminalnya." Ucap Sierra terisak.


" Sayang, dengar.. seluruh dunia sudah tahu bahwa dia adalah kriminal, hanya saja ia mati bunuh diri." Ucap Arthur.


" Tapi aku ingin dia merasakan juga bagaimana rasa sakitnya jantung di tembus oleh peluru, aku ingin dia merasakan juga bagaimana sakitnya sekarat menunggu ajal dengan jantung yang perlahan berhenti berdetak. Itu tidak adil.!!" Teriak Sierra.


Arthur terkejut mendengar apa yang diucapkan Sierra, kata 'Juga ' itu mengganggu pikiran Arthur.


" Sayang, tenangkan dirimu oke.." Ucap Arthur.


Arthur memeluk Sierra erat, sembari menciumi kepala Sierra. Ia membawa Sierra untuk duduk di kursi yang tersedia disana. Satu jam lamanya, Sierra baru bisa tenang dari tangisnya. Arthur membenarkan penampilan Sierra, ia menyisir rambut Sierra dengan jarinya, lalu menghapus sisa sisa air mata Sierra.

__ADS_1


" Are you okay.? Kamu sudah tenang sekarang.??" Tanya Arthur.


Sierra menganggukan kepalanya, walau ia masih tidak terima Hailey mati bunuh diri, tapi tok ia tidak bisa memutar waktu kembali. Arthur menggenggam tangan Sierra dan menatap Sierra lekat lekat.


" Sekarang bisakah kamu ceritakan,  apa maksudmu dengan kamu ingin Hailey juga merasakan rasa sakitnya tertembak.?? Apakah dia sudah membunuh kerabatmu.?" Tanya Arthur.


Sierra menatap Arthur panik, karena ia tidak bisa mengendalikan emosinya, ia sampai kelepasan berbicara.  Seketika Sierra binging sendiri harus berkata apa, jika ia jujur.. akankah Arthur percaya dan tidak meninggalkannya.?


' Bagaimana ini..' Batin Sierra.


" Sierra.." Panggil Arthur.


Sierra kembali menatap Arthur, ia perlahan menyentuh pipi Arthur.


" Jika aku jujur, apakah kamu akan meninggalakan aku.?? " Tanya Sierra.


" Tidak.. aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku sudah bilang padmu bukan, bahaa aku akan selalu melindungimu, dan hanya kamu yang akan menjadi istriku kelak." Ucap Arthur.


Sierra mencari kebohongan atau keraguan dimata Arthur, tetapi ia tidak menemukannya, yang ia lihat adalah tatapan seperti biasanya, tatapan penuh cinta dari Arthur untuknya.


" Apakah kamu percaya tentang kelahiran kembali.?" Ucap Sierra.


" Kelahiran kembali.?" Ucap Arthur bingung.


" Ya, kelahiran kembali. Aku sudah mati Arthur, saat usiaku dua puluh tujuh tahun di kehidupanku yang sebelumnya. Aku mati menyandang status kriminal, karena aku difitnah telah merencanakan pembunuhan berencana terhadap Carine, juga mengedarkan dan memakai obat terlarang." Ucap Sierra, dan Arthur masih diam mendengarkan Sierra.


" Aku ingin membela diri tapi tidak ada yang membelaku saat itu, ayahku.. dia bahkan meminta petugas polisi untuk langsung menghukum mati diriku. Hingga akhirnya aku dijatuhi hukuman mati, dan tidak ada seorangpun yang datang menjengukku. Aku mati dengan tiga tembakan peluru yang menembus jantungku.. rasa sakitnya, panasnya, masih begitu jelas terasa. Aku bahkan.. "


Cup..


Arthur membungkam Sierra dengan ciuman. Entah mengapa mendengar apa yang Sierra katakan hatinya ikut merasa perih bagai tersayat sayat.


" Jangan diingat lagi.. aku percaya padamu." Ucap Arthur.


" Benarkah, kamu percaya padaku.?" Ucap Sierra.


" Ya, aku mempercayaimu sayang. Terimaksih sudah terlahir kembali dan bertemu denganku. Aku berjanji, kehidupanmu yang sekarang kamu hanya akan merasakan kebahagiaan, cinta, kasih sayang, semuanya yang tidak kamu dapatkan dikehidupanmu sebelumnya. " Ucap Arthur.


" Aku yang berterimakasih, karena kamu tidak menyerah meluluhkan aku. Seandainya aku tidak bertemu denganmu, kurasa takdirku masihlah tetap sama." Ucap Sierra.


Arthur memeluk erat Sierra , seakan ia takut kehilangan Sierra.


' Rupanya kamu sudah melewati begitu banyak kesakitan dan kepahitan, Sierra.. Dikehidupanmu yang baru ini.. Aku berjanji, kamu tidak akan mengalami apa yang sudah kamu alami di masalalu. Aku akan membuat kamu bahagia, bagaimanapun caranya.' Batin Arthur. Ia tak henti hentinya menciumi kepala Sierra.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2