
Ke esokan harinya, Sierra bangun dan kembali merasakan sakit di kedua tangannya yang di ikat. Ia tidak bisa kemanapun dan saat ini ia tengah menahan buang air kecilnya sampai perutnya sakit.
" HEI!!! SIAPAPUN DENGAR AKU ATAU TIDAK!! AKU SAKIT PERUT INGIN KE TOILET.!" Teriak Sierra dari dalam kamar.
Dan pas sekali ada dua orang pelayan wanita yang masuk kedalam kamar Sierra.
" Tolong aku, aku ingin ke toilet." Ucap Sierra.
" Baik nona." Ucap dua pelayan itu.
Salah satu pelayan wanita itu membuka tangan Sierra, dan dengan gerakan cepat, Sierra menarik dirinya dan melepaskan satu ikatan ditangannya yang satu lagi dan lari membuka pintu. Dua pelayan itu mengejar Sierra sambil berteriak.
" Nona Sierra melarikan diri!!" Teriak pelayan itu.
' S* al, dimana ini sebenarnya, kenapa rumah ini sangat luas.' Batin Sierra.
Sierra tidak ingat rumah itu adalah rumah nenek dan kakeknya, karena dulu saat ia dibawa kesana usianya masih sekitar 2 tahunan.
" Nona! Berhenti!" Ucap Penjaga yang kini ikut mengejar Sierra.
" Matilah, kenapa semakin banyak saja yang mengejarku." Gumam Sierra.
Ia berlari kesana kemari, dan membanting benda apapun yang ada di hadapannya untuk menghalangi para penjaga dan pelayan yang mengejarnya.
' Dimana pintu keluarnya! Aku sudah memutar mutar tapi tidak menemukan pintu keluar.' Batin Sierra kesal.
Dia sudah kelelahan berlari, seluruh jendela di pasangi teralis besi. Saat ia hampir tertangkap, ia melihat sebuah pintu yang rupanya tertutup lemari hias. Ia pin mempercepat larinya dan hendak keluar namun..
BRUK.!!
Tubuh Sierra menabrak dada bidang seorang pria yang berdiri diambang pintu.
" Tuan, hentikan nona Sierra, dia mau melarikan diri." Ucap penjaga.
Pria yang di tabrak Sierra itu mencekal pergelangan tangan Sierra.
" Lepas!!" Ucap Sierra.
" Kamu, Sierra?" Ucap pria itu.
Pria itu adalah Vian, Vian mencekal satu tangan Sierra dan merangkul pinggang Sierra.
__ADS_1
" Lepas! Br*ngs*k! Beraninya kau menyentuhku!" Ucap Sierra.
" Sierra, aku Vian." Ucap Vian.
Sekarang dipikiran Sierra, sosok Vian ini adalah Alden, ia membenci Vian karena senyum Vian mirip dengan Alden.
" Aku tidak peduli siapa kau, lepas!" Teriak Sierra.
Karena Vian tak kunjung melepaskan cekalannya, Sierra pun menggunakan kekerasan, ia menendang ************ Vian dan menggigit tangan Vian. Setelah Vian melepas pegangannya, Sierra dengan gerakan cepat membanting Vian ke lantai, dan kembali berlari.
BRAK!!
" UGH!!" Suara Vian kesakitan.
" SIERRA!!" Sebuah Suara menggelegar memanggil nama Sierra. Itu adalah suara Daniel. Daniel yang mendapat laporan dari orangnya bahwa Sierra meleoasrkan diri langsung keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Sierra.
" SIERRA, BERHENTI!" Teriak Daniel.
Seakan tuli, Sierra terus saja berlari hendak meninggalkan kediaman itu, tetapi halaman itu begitu luas dengan dinding dan pintu pagar yang sangat tinggi. Merasa buntu akhirnya Sierra berhenti dengan nafas tak beraturan.
" Sierra! Bisa bisanya kau melakukan itu pada Vian. Vian adalah calon suamimu!" Ucap Daniel.
" Ck! siapa kau bilang, Calon suami? Kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya." Ucap Sierra kesal.
" Sierra, jangan berbicara kasar pada ayahmu. Walaupun dia bersalah, tapi dia tetap ayahmu. Aku sangat sedih melihat kamu seperti ini." Ucap Vian.
" Siapa kau mengaturku?!! Lalu apa urusannya kesedihanmu denganku? Kau mau mati pun aku tidak peduli." Ucap Sierra.
' Sial, kenapa gadis ini semakin bar bar saja. Kemana dia yang lemah lembut itu. Jika begini, pasti akan sulit menjinakkan dia.' Batin Vian.
" Sierra.. Kamu tidak aingat aku? Aku Vian. Dulu saat kamu kecil aku selalu menggendongmu, kamu sangat lucu dulu." Ucap Vian.
" Ya , sekarang aku yang merasa lucu melihatmu ada disini. Kau pikir manusia tidak bertumbuh besar? Seiring bertumbuhnya manusia, sifat dan sikapnya pun pasti akan berubah, dasar bodoh!!" Ucap Sierra.
" Untuk apa kau datang kemari? Aku bukan Sierra bayi itu lagi. Jika kau ingin menikah dengan Sierra bayi itu, kenapa tidak kau meminta dia membuatkan satu Sierra bayi lagi saja? Mungkin dia bisa hamil." Ucap Sierra melirik Daniel.
Semua orang menahan tawanya saat ini, bagaimana bisa Sierra berkata sangat bar bar begitu. Bahkan menyuruh Daniel yang seorang pria untuk membuat anak.
' Astaga, gadis ini benar benar..' Batin Vian tak habis pikir.
" SIERRA! Apakah setelah tinggal dengan Arthur kau menjadi begitu tidak sopan!?" Teriak Daniel marah.
__ADS_1
" Aku sopan tergantung dengan siapa aku berhadapan. Orang sepertimu dan sepertinya, tidak pantas mendapatkan kesopananku. Sekarang buka pintunya, aku mau pulang." Ucap Sierra.
" Sierra, kemari.. Kakak akan menjadi suami yang baik untukmu. Mengapa kita tidak mencoba saja, kita di jodohkan sejak kecil oleh kedua ibu kita. Kau tidak ingin mengecewakannya kan?" Ucap Vian.
" Lebih baik aku mengecewakan ibuku dari pada menikah dengan dirimu." Ucap Sierra.
' Aduh, perutku semakin sakit karna menahan buang air kecilku. ' Batin Sierra.
Tapi rupanya bukan karena ia ingin buang air kecil, perutnya sakit karena luka tusukan di perutnya kembali terbuka. Mungkin saat ia berlarian dan menabrak Vian.
" Sierra, kamu berdarah." Ucap Vian.
Sierra menunduk dan melihat baju putihnya membercak merah. Sierra meraba perutnya dan benar, perutnya yang berdarah.
' Sial, kenapa harus kembali terbuka.' Batin Sierra.
" Sierra, ayo . Ayah akan membawamu kerumah sakit." Ucap Daniel khawatir.
Tetapi Sierra semakin mundur, ia menghindari Daniel. Daniel pun panik, begitu juga Vian. Daniel khawatir sesuatu terjadi pada Sierra.
" Sierra, tolong menurut lah." Ucap Daniel.
" Aku tidak mau. Kau merasa berjasa karena telah mendonorkan darahmu padaku bukan? Maka hari ini, aku akan membiarkan darah itu mengalir keluar. Agar aku tak memiliki hutang apapun padamu lagi." Ucap Sierra.
Daniel menggeleng, ia panik bahkan matanya sudah berkaca kaca saat ini.
" Tolong nak, jangan katakan hal itu. Ayah benar benar tidak merasa seperti itu, ayah hanya ingin memenuhi keinginan ibumu." Ucap Daniel.
" Dengan mengorbankan aku dan menyakiti ku lagi?? Apa kau tidak berpikir tuan Daniel, ibuku sudah meninggal! Bagaimana mungkin kau masih terus mengaitkan apapaun yang terjadi padaku dengan masalalu? Tidak bisakah aku hidup bebas dan memilih jalanku sendiri? AKU BUKAN BONEKA HIDUP MU!!! Ugh!!" Sierra kembali kesakitan.
" Sierra!!" Teriak Daniel panik.
" Jika begitu jalannya, lebih baik aku mati saja." Ucap Sierra.
Sierra menekan luka di perutnya, hingga darah yang keluar semakin banyak. Daniel yang panik langsung menghentikan tangan Sierra, dan saat itu Sierra hilang kesadaran.
" Cepat kerumah sakit!! " Ucap Daniel menggendong tubuh Sierra yang bersimbah darah.
Sepanjang jalan, Daniel terus menatap wajah Sierra yang berada di pangkuannya, perlahan air mata meleleh dari ujung matanya dan ia langsung mengusapnya. Daniel tidak tahu harus bagaimana lagi agar Sierra mendengarkannya.
Hingga tibalah mereka di rumah sakit besar di kota K. Daniel langsung memindahkan Sierra ke brankar rumah sakit dan Sierra langsung dibawa pergi dokter untuk ditangani.
__ADS_1
" Tolong bertahan, nak." Gumam Daniel.
TO BE CONTINUED...