The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 111. Tidak tahu malu.


__ADS_3

Semua orang yang berlalu lalang disana mulai merekam kejadian dimana Sierra menampar Sisi dan Carisa.


" Apakah aku pernah menyinggung kalian sebelumnya? Sehingga kalian berani berlaku demikian padaku. Beraninya kalian membawa orang yang sudah meninggal dalam masalah sepele seperti ini." Ucap Sierra.


" Kau!! Kau bilang aku mendorongmu bukan? Apalah disini ada yang melihat aku mendorongmu?" Ucap Sierra pada Sisi dengan tajam.


" Tentu saja tidak ada yang melihat, kau mendorongku dengan tiba tiba." Ucap Sisi menyalak.


" Oh, iya kah? Apakah kau tidak berpikir sebelum bertindak nyonya Sisi. Seluruh sudut mall ini terdapat cctv, aju yakin salah satunua merekam kejadian saat kau jatuh. Apa kau ingin melihatnya? Dengan begitu kita bisa tahu apakah aku mendorongmu atau tidak." Ucap Sierra.


Sisi mendadak kikuk sendiri, ia sama sekali tidak memperhitungkan cctv.


" Sudahlah, aku bukan orang yang pendendam. Hanya masalah begitu saja, tidak perlu merepotkan pihak keamanan untuk mengecek cctv. Aku memang menjatuhkan diriku sendiri." Ucap Sisi dengan wajah sendu.


Orang disana semakin berasumsi bahwa Sierra sungguh telah mendorong Sisi, karena Sisi yang berbicara dengan nada takut.


" Sierra! Minta maaf padanya. Walaupun kau kekasih Arthur, kau juga tidak bisa berbuat se enaknya begitu." Ucap Carisa. Carisa belum tahu bahwa Sierra dan Arthur telah menikah, ia baru saja pulang dari luar negeri setelah kasus kakaknya yakni Calista mencuat ke media.


" Hei!! Kau tuli? Minta maaf!! " Bentak Carisa sembari mendorong Sierra.


Sierra hampir saja jatuh, namun dengan sigap Arthur memeluk istrinya itu. Arthur terlihat begitu emosi melihat istrinya di dorong, apalagi saat ini Sierra tengah mengandung.


" Siapa kau! berani menyuruh istriku minta maaf pada orang asing?"


Arthur merasa bahagia setelah menyelesaikan pembayaran belanja nya, itu kali pertamanya ia berbelanja sendiri. Tetapi senyumnya perlahan hilang berganti menjadi amarah ketika melihat Sierra nya di kerumuni banyak orang sembari di rekam.


Ia kian emosi ketika mendengar seseorang membentak Sierra. Dengan langkah lebarnya, ia membelah kerumunan dan langsung melindungi Sierra ketika Sierra hampir saja terjatuh.


" Tu- tuan Arthur.." Ucap Carisa gugup.


' Apa? tuan Arthur menyebut Sierra sebagai istrinya? Apakah aku ketinggalan berita?' Batin Carisa.


Bukan hanya Carisa yang gugup, Sisi juga ikut gugup. Ia tidak menyangka rupanya Arthur sungguh ada bersama dengan Sierra.


" Katakan!! Siapa kau berani menyuruh istriku minta maaf pada orang asing." Ucap Arthur kian emosi.


" Tuan Arthur, Sierra mendorong nyonya Sisi ke lantai, dan dia menolak mengakuinya. Dia harus minta maaf pada nyonya Sisi." Ucap Carisa.


" Apakah benar?" Ucap Arthur pada Sisi.


" I- iya.. Tidak tuan, mungkin nyonya Sierra tidak sengaja." Ucap Sisi kembali berpura pura lemah.


' Lihat, dia peduli padaku.' Batin Sisi senang.


" Lihat, nyonya Sisi karena ketakutan sampai tidak berani jujur. Dia begitu baik, tidak mau memperpanjang masalah." Ucap Carisa.

__ADS_1


" Katakan dengan jujur! Apakah istriku mendorongmu, nyonya Sisi?" Tanya Arthur.


" Iya tuan, nyonya Sierra juga menampar saya dan Carisa." Ucap Sisi.


" Aku menampar kalian, karena kalian berani membawa bawa ayahku yang telah meninggal dalam masalah sepele ini. Aku tidak akan menampar kalian, jika mulut kalian tidak kurang ajar." Ucap Sierra.


" Baik, aku akan meminta seseorang mengecek rekaman cctv kejadian tadi. Aku tidak akan membiarkan maslaah ini berlalu tanpa kejelasan." Ucap Arthur sambil menghubungi seseorang.


" Cek rekaman cctv lantai tiga di depan toko perlengkapan bayi, apakah istriku telah mendorong seseorang atau tidak. Lalu bawakan rekamannya padaku dalam waktu 10 menit." Ucap Arthur.


" Tuan, anda tidak perlu repot repot melindungiku, aku tidak apa apa." Ucap Sisi tidak tahu malu.


Sisi hampir saja menyentuh Arthur, tetapi dengan gerakan cepat Arthur mengibaskan tangannya, hingga Sisi terhuyung kebelakang.


" Beraninya menyentuhku!" Geram Arthur emosi.


" Aku melakukan ini, karena aku tidak mau istriku difitnah. Jika sampai terbukti kalian memfitnah istriku, maka bersiaplah menerima konsekuensi. " Ucap Arthur.


' Gawat! Apakah mall ini milik keluarga Esward juga? Jika rekaman cctv itu sungguh ada Arthur pasti akan membuat perusahaan ayahku dalam kesulitan.' Batin Sisi.


' Apa ini? Apakah aku memihak orang yang salah lagi? Astaga, kenapa Sierra sudah menikah dengan tuan Arthur. Aku mempersiapkan diriku untuk kembali mendekati tuan Arthur, tetapi malah mereka sudah menikah.' Batin Carisa kesal.


" Sayang, kamu tidak apa apa?" Ucap Arthur dengan nada khawatir.


Tiba datanglah petugas keamanan datang membawakan rekaman cctv yang sudah di instal pada ponselnya dan memberikannya kepada Arthur.


" Katakan, apakah nyonya mendorong wanita ini?" Tanya Arthur.


" Tidak tuan, wanita ini menjatuhkan dirinya sendiri." Ucap petugas keamanan.


Semua orang kemudian langsung menyoraki Sisi. Mengatakan sisi sebagai playing victim.


" Semua orang yang merekam istriku, jika sampai ada yang menyebar video itu dan menjelek jelekan istriku lalu ketahuan olehku. Bersiaplah mendapatkan konsekuensinya." Ucap Arthur.


" Ayo sayang." Ucap Arthur.


" Aku lelah, sayang." Ucap Sierra manja.


Arthur tersenyum, lalu menggendong Sierra ala bride style dan pergi dari kerumunan itu. Kerumunan pun ikut bubar, dan hanya meninggalkan Sisi juga Carisa disana.


" Nyonya Sisi, apakah mereka sungguh sudah menikah?" Tanya Carisa.


" Kau tanyakan saja padanya!!" Ucao Sisi emosi, lalu pergi dari sana.


" Idih, sudah aku bela malah menyalak. Dasar tidak tahu terimakasih." Gumam Carisa.

__ADS_1


Berpindah ke sisi Sierra dan Arthur. Sepanjang mereka berjalan, mereka menjadi pusat perhatian. Sierra yang berada dalam gendongan Arthur rupanya tertidur begitu saja.


Mungkin bawaan bayi, Sierra jadi mudah lelah, mudah mengantuk, juga mudah lapar.


" Sayang, kita belum makan malam, jangan tidur dulu." Ucap Arthur, tetapi tidak ada sahutan dari Sierra.


Arthur pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya mereka telah sampai di mobil. Arthur meletakan Sierra dengan sangat perlahan, lalu ia pun melajukan mobilnya menuju pulang ke kediamannya.


Setelah sampai di rumah, Arthur menggendong Sierra kembali, lalu membawanya masuk kedalam kamar baru mereka di lantai satu di bantu oleh Diandra. Setelah memastikan Sierra nya nyaman dalam posisi tidurnya, ia oun keluar daei kamar.


" Andra, mulai sekarang kau harus selalu ikut kemanapun nyonya pergi, lindungi nyonya dengan baik, karena sekarang kau melindungi dua nyawa." Ucap Arthur pada Andra ketika berada di luar.


" Baik tuan, tapi.. Dua nyawa, nyawa siapa yang satunya?" Tanya Andra.


" Nyawa anak kami. Nyonya sedang hamil saat ini, tapi kau jangan beri tahu nyonya besar dan tuan besar, karena ini adalah kejutan nantinya." Ucap Arthur.


" Baik tuan!" Ucap Andra sambil ikut bahagia.


Arthur pun menyiapkan semua kebutuhan makan malam Sierra, ia tidak mau orang lain yang menyiapkan makanan Sierra, ia bukan orang yang mudah percaya pada orang lain dengan mudah. Sierra adalah pengecualian.


Arthur juga memotongkan buah buahan untuk Sierra, sambil sesekali ia juga ikut memakan buah itu. Entahlah, mungkin ia juga ikut merasakan ngidamnya Sierra.


" Sayang.." Panggil Sierra.


" Hmm.. Kamu sudah bangun?" Ucap Arthur.


" Kamu makan apa? Aku tidak di bagi." Ucap Sierra.


" Buah, sayang. Kemari, makan malam dulu, baru makan buah." Ucap Arthur.


Sierra mengangguk, ia pun menuju meja makan. Saat Arthur duduk di kursi, Sierra bangun lalu meminta duduk di pangkuan Arthur.


" Daddy, pumpkin ingin di suapi." Ucap Sierra menirukan suara anak kecil.


Arthur terkekeh mendengarnya, ia sungguh tidak sabar ingin melihat anak nya lahir nanti. Namun karena Sierra duduk di pangkuannya, saat ini ada sesuatu lain yang bergejolak di bawah sana.


" Sayang, apakah boleh melakukan itu?" Tanya Arthur.


" Ada pumpkin di dalam, apakah boleh?" Ucap Sierra. Mereka sama sama tidak tahu tentang hal itu.


Keduanya sama sama lupa bertanya pada dokter perihal urusan suami istei mereka.


" Kalau begitu jangan, dari pada nanti menyakiti pumpkin. Kita makan saja.. " Ucap Arthur.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2