The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 121. TERHALANG BANTAL.


__ADS_3

Sierra bangun dari tidurnya , dan merasakan sebuah tangan besar melingkari perutnya. Ia membuka mata dan kemudian ia melihat Arthur yang tengah tertidur si sampingnya.


" Sayang.." Gumam Sierra.


Arthur merasakan pergerakan Sierra dan membuka matanya. Arthur tersenyum tatkala melihat wajah istrinya yang sudah tidak sepucat sebelumnya.


" Sayang, kamu sudah bangun.. bagaimana apakah ada yang terasa sakit?" Ucap Arthur, dan Sierra menggeleng.


Tetapi tiba tiba Sierra menangis ketika mengingat ia hampir saja mati bersama anak anaknya. Arthur bangun membantu Sierra untuk bangun.


" Jangan menangis sayang, maafkan aku.." Ucap Arthur, memeluk Sierra.


" Aku.. aku hampir saja mati Arthur, aku takut sesuatu terjadi pada anak anak kita." Ucap Sierra.


" Tidak akan terjadi apapun sayang, semua sudah baik baik saja. Kamu sangat hebat, aku sangat bangga kepadamu." Ujar Arthur sambil mengusap usap punggung Sierra.


" Apakah Pumpkin's baik baik saja? Apakah mereka sehat di dalam sana?" Tanya Sierra.


" Mereka baik, sayang.. Maafkan aku, tidak memenuhi janjiku untuk tidak membuatmu menangis. Dan terimakasih karena kamu bertahan dan baik baik saja. Aku mungkin akan gila jika sampai terjadi sesuatu pada kalian." Ucap Arthur.


Sierra memeluk Arthur erat, rasa takutnya itu sangatlah besar. Dia tidak pernah mengalami ketakutan yang sebegitu besarnya selama hidup. Bahkan hukuman mati yang ia terima saat di kehidupan lalu pun tidak membuatnya sebegitu takutnya.


" Sudah, semua sudah baik baik saja.. Malvin sedang berupaya menangkap Carol." Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Sierra kemudian teringat dengan Andra dan Hwan. Ia ingat betul Hwan tertembak saat menyelamatkan Sierra.


" Dimana Andra dan Hwan? Apakah mereka baik baik saja?" Tanya Sierra.


" Hwan dilarikan kerumah sakit, karena tertembak, begitu juga dengan Andra." Ucap Arthur.


Sierra menutup mulutnya, ia tidak menyangka Andra bahkan tertembak karena malindungi dirinya.


" Tidak apa apa, sayang.. Mereka akan baik baik saja." Ucap Arthur menenangkan Sierra.


Padahal sesungguhnya Andra mengalami kritis. Peluru yang menembak bahunya itu tembus hingga mengenai Arteri sebelah kanan. Dokter tengah berupaya mati matian untuk membuat jantung Andra tetap berdetak.


Andra sempat kehilangan detak jantung di tengah jalan nya operasi, dan dengan berbagai upaya Dokter mengembalikan detak jantung Andra. Jantung Andra kembali berdetak walau lemah, dan kini kondisinya koma.


" Jika sesuatu terjadi kepadamu, maka aku tidak akan datang ke pemakamanmu." Ujar Malvin, sambil menatap ruang operasi.


Malvin tiba disana setelah mengurusi semua yang berkaitan dengan Carol. Ia menyuruh anggota TITANES untuk menyebar keseluruh negeri untuk mencari keberadaan Carol dan menangkapnya, hidup atau mati.


Ruangan terbuka, dan dokter yang mengoperasi Andra pun keluar.


" Bagaimana, apakah dia baik baik saja?" Ucap Malvin.


" Dia kritis tuan.. Sekarang dia mengalami koma." Ucap Dokter itu.


Tak lama, Andra di dorong keluar dari ruangan operasi. Terlihat wajahnya yang biasanya ceria itu begitu sangat pucat, terdapat juga selang selang bantu pernafasan yang mengelilingi dirinya.

__ADS_1


Malvin berjalan mengikuti kemana Andra akan di bawa, hingga mereka tiba di ruang rawat yang akan digunakan Andra.


" Tuan, saya permisi." Ucap sang dokter ketika sudah memindahkan Ke ranjang rumah sakit yang lebih besar.


Malvin menghampiri Andra, dan menatapnya dalam dalam. Dia hanya berdiri dan diam, benar benar diam. Namun dari tatapannya itu menunjukan seakan banyak sekali yang ingin Malvin ucapkan, namun tidak bisa di ucapkan.


" Cepatlah bangun Warrior, aku tahu kau tangguh." Ucap Malvin, lalu pergi dari sana, meninggalkan Andra.


Di kediaman Arthur..


Sierra sedang memakan makanan buatan Arthur, kediaman itu sudah kembali tenang seperti tidak ada apapun yang terjadi. Arthur sama sekali tidak menceritakan kejadian berdarah yang sebelumnya memenuhi kediaman mereka agar Sierra tidak banyak pikiran.


Arthur juga tidak memberitahu Sahara atau Cornelius perihal penyerangan itu, dia tidak ingin kedua orang tuanya menjadi kepikiran juga. Tapi mungkin arthur akan bertanya pada Cornelius mengenai Carol, nanti.


" Sayang, apakah tugas di negara C sudah selesai?" Ucap Sierra.


" Sudah, aku menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa cepat kembali." Ucap Arthur, sambil menyuapi Sierra.


" Kamu terlihat sangat lelah, apakah kamu kurang tidur?" Tanya Sierra.


" Hm.. aku sengaja tidak tidur agar bisa menyelesaikan semuanya. Aku tidak mau meninggalkan kamu begitu lama." Ucap Arthur.


Sierra begitu terharu mendengarnya, ia membelai wajah Arthur yang terlihat sangat kuyu itu, dan Arthur memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan istrinya di wajahnya.


" Maafkan aku, kamu jadi begitu kelelahan." Ujar Sierra.


" Satu lagi, A.." Ucap Arthur, dan Sierra membuka mulutnya.


Arthur tersenyum senang, lalu mengecup bibir Sierra, dan kemudian mengecup perut Sierra yang besar itu.


" Pumpkin's sehat sehat di dalam perut mommy, ya? Daddy tidak sabar bertemu kalian." Ujar Arthur, sambil tersenyum.


" Ayo, kita istirahat.." Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


Arthur menggendong Sierra masuk kedalam kamar, ia merebahkan Sierra dengan sangat pelan di ranjang lalu menyelimutinya.


" Aku mandi dulu, sayang." Ucap Arthur, dan mengecup kening Sierra.


Sepanjang Arthur mandi, Sierra berpindah pindah posisi. Perutnya yang semakin besar itu kini menyulitkannya bergerak. Hingga Arthur selesai mandi, Arthur melihat Sierra yang seperti tengah kesulitan berpindah posisi.


" Kenapa, sayang?" Tanya Arthur.


" Aku ingin berganti posisi, pumpkin's semakin besar dan aku semakin sulit berbaring." Ujar Sierra. Arthur terkekeh, kemudian ia membantu Sierra bangun.


" Sebentar, ya.." Ucap Arthur. Arthur menata posisi bantal untuk Sierra.


" Kemari, sayang.." Ucap Arthur sambil membantu Sierra tidur dengan posisi miring. Arthur menaruh satu bantal di bawah perut Sierra, lalu satu guling di punggung Sierra. Kemudian ia menaruh satu bantal diantara kaki Sierra.


" Bagaimana, apakah nyaman?" Ucap Arthur.

__ADS_1


" Mm.. Ini sangat nyaman." Ucap Sierra.


" Tidurlah, kamu pasti lelah." Ucap Arthur.


Arthur pun menyusul Sierra keatas ranjang, ia mengusap usap perut besar Sierra. Kini mereka tidak bisa saling berpelukan, karena kini terhalang oleh bantal. Arthur bahkan menggunakan bantal sofa untuk alas kepalanya, karena semua bantal di pakai oleh Sierra.


Ke esokan harinya..


Malvin datang ke kediaman Arthur, terlihat Sierra yang sedang duduk di ruang tengah dan kondisinya baik baik saja, Malvin lega melihatnya.


" Selamat pagi, kakak ipar." Ucap Malvin tidak formal.


" Pagi Vin." Ucap Sierra yang saat ini tengah memakan roti selai kacang.


" Bagaimana kondisi kakak ipar? " Tanya Malvin.


" Aku sudah baik baik saja, oiya.. bagaimana Andra?" Tanya Sierra.


" Dia baik baik saja, dia hanya terluka ringan tapi masih dalam masa pemulihan." Ujar Malvin, berbohong.


Malvin tidak mungkin mengatakan bahwa Andra koma. Sierra pasti akan menyalahkan dirinya dan banyak berpikir nantinya.


" Syukurlah.. Aku ingin melihat kondisinya, tapi Arthur melarangku kemana mana." Ucap Sierra menyedih.


" Arthur benar, kakak sebaiknya dirumah saja. Andra baik baik baik saja, dan dia senang kakak ipar baik baik saja." Ucap Malvin.


" Kau sudah datang? " Ucap Arthur yang keluar dari kamarnya.


" Ya." Sahut Malvin.


Arthur menggunakan kode mata pada Malvin untuk masuk ke ruang kerjanya, ia tidak ingin Sierra mendengar apapun tentang pembahasannya, dan Malvin mengedip kan matanya tanda mengerti, dan pergi dari sana.


" Sayang, kamu butuh sesuatu?" Ucap Arthur.


" Mmm.. tidak. Kamu mau kemana?" Ucap Sierra.


" Aku ada telepon pertemuan dengan client kerja. Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja kepala pelayan, hm?" Ucap Arthur, dan Sierra pun mengangguk.


" Bagaimana?" Tanya Arthur, ketika memasuki ruangan.


" Carol belum di temukan, tapi aku berhasil menemukan satu fakta. Tapi tolong kau kendalikan emosimu." Ucap Malvin tidak formal.


"Apa?" Tanya Arthur.


" Carol, adalah orang yang memperkosa mendiang kakakmu." Ucap Malvin.


DEG!! DEG!! DEG!!


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2