
Sierra dan Arthur kembali ke kediamannya. Sesampainya disana, mereka terkejut karena Hwan mengaum begitu kerasnya menatap atas pohon yang berada tak jauh dari pagar pembatas pekarangsn Arthur.
"GGRROOAAR!! " Auman Hwan, menggelegar.
Para pawang yang menangani Hwan sampai ketar ketir, karena Hwan terlihat begitu murka saat ini. Hwan hanya berjalan mondar mandir di bawah pohon itu sambil menatap ke atas pohon.
" Kenapa dia?" Tanya Arthur.
" Itu tuan, ada penyusup yang hampir masuk kemari, dan kebetulan Hwan sedang berada di luar kandang lalu mengejarnya. Penyusup itu di atas pohon saat ini." Ucap anak buah Arthur.
Terlihat senjata penyusup itu pun jatuh di atas rerumputan. Arthur sampai heran, penyusup bodoh dari mana itu pikirnya. Menyusup di siang hari.
" Siapa kau?" Teriak Arthur.
Penyusup itu semakin ketar ketir diatas pohon, ia mau mengambil senjata tetapi dibawahnya saat ini ada se ekor singa ganas. Tapi dia juga tidak bisa kemana mana saat ini.
' S*al, bagaimana ini.' Batin penyusup itu.
Penyusup itu menggunakan pakaian serba hitam, dengan penutup kepala ninja yang juga berwarna hitam. Dia terlihat panik saat ini.
Sierra melihat penyusup itu, ia menyipitkan matanya dan melihat pergerakan penyusup itu di atas pohon. Tiba tiba sierra mengeluarkan pistol yang berada di pinggang Arthur dan menembaknya.
DOR!
" ARGH!!" Teriak si penyusup, kini penyusup itu bergelantungan di dahan pohon. Sierra menembak bagian yang tidak fatal, yaitu kaki.
Arthur tersenyum melihat aksi istrinya itu. Sierra berjalan dan mengusap kepala Hwan.
" kerja bagus nak, kau melindungi rumah kita." Ucap Sierra bangga pada Hwan.
Hwan pun menggesek gesekan bulunya pada Sierra. Dan anak buah Arthur yang lain, menarik kaki penyusup itu hingga ia jatuh ketanah.
" AARGH!! LEPAS!!" Teriak penyusup itu.
CKLEK!! Penyusup itu diam ketika kepalanya di todong senjata api oleh anak buah Arthur. Dan Arthur pun berjalan mendekat kearahnya.
" Buka penutup kepalanya." Ucap Arthur. Dan anak buah Arthur pun membuka penutup kepala penyusup itu.
"Siapa yang mengirimmu kemari? " Tanya Arthur. Namun penyusup itu hanya tetap diam.
' Bodohnya menyusup ke rumah orang di siang bolong.' Batin Sierra.
" Bawa dia ke markas." Ucap Arthur.
" Baik tuan." Ucap anak buah Arthur, lalu penyusup itu pun di bawa pergi.
Arthur melihat Sierra yang tengah bercanda dengan singa nya, sungguh ke ajaiban memang, se ekor singa bisa menjadi se ekor kucing di tangan Sierra.
__ADS_1
" Sayang, ayo masuk." Ucap Arthur.
" Bayi besar, masuk kandang sana.. Jangan nakal, oke? Jangan menakuti paman pawang." Ucap Sierra.
Hwan pun patuh, masuk ke kandang dengan sendirinya. Pawang yang menjaga Hwan pun bernafas lega melihatnya. Biasanya mereka akan bergelut dulu dengan Singa nakal itu sebelum akhirnya Hwan benar benar menurut masuk ke kandang.
" Terimakasih, nyonya." Ucap pawang.
" Tidak masalah, kalau begiti saya pergi." Ucap Sierra lalu pergi dari sanam
Arthur berjalan di belakang Sierra, percis di belakang Sierra bagai ekor. Hingga saat Sierra menghentikan langkahnya, Arthur pun menabrak Sierra.
" Aduh!" Ucap Sierra, karena hampir hatuh. Untungnya Arthur sigap memeluk Sierra.
Sierra sampai bingung sendiri melihat tingkah manja sang suami itu. Bahkan saat ini Arthur meletakkan dagunya di pundak Sierra.
" Apakah ini juga bayi besar?" Tanya Sierra, dan Arthur pun mengangguk.
" Oh, bayiku yang ini apakah juga ingin di manja manja seperti Hwan?" Ucap Sierra, dan Arthur mengangguk, tapi kemudian menggeleng.
Sierra sampai terkekeh sendiri dibuatnya. Setan mana yang merasuki Arthur, sampai memiliki sisi seperti itu.
" Sayang.." Ucap Arthur.
" Hmm.. Bisa lepas dulu?" Tanya Sierra.
" Kamu kenapa? Tiba tiba manja seperti bayi." Ucap Sierra.
" Ayo kita buat satu." Ucap Arthur.
" Buat apa?" Tanya Sierra bingung.
Arthur melepas pelukannya dan membalik tubuh Sierra menghadapnya, lalu mencium Sierra. Sierra mengimbangi ciuman Arthur, hingga berjinjit.
" Buat bayi." Bisik Arthur.
Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas, Arthur mengangkat tubuh Sierra dan menggendongnya ala koala dengan ciuman yang tidak terlepas sama sekali.
" Bolehkah??" Ucap Arthur di sela sela ciumannya. Sierra pun mengangguk karena sama sama menginginkannya.
Arthur lanjut mencium Sierra sambil berjalan kearah kamar mereka. Setelah masuk kedalam kamar, Arthur membaringkan tubuh Sierra di ranjang. Mereka berdua pun memulai pergulatan manis mereka di siang menjelang sore hari itu.
......
Sementara di kediaman Daniel. Saat ini Vian dan Bernard mengunjungi Daniel. Mereka tidak ada cara lain selain membunuh Daniel terlebih dahulu, untuk Sierra.. mereka akan mengatur rencana baru nanti.
" Kakak, aku lihat kondisimu semakin hari semakin buruk saja. Apakah kau sudah meminum obat yang aku berikan?" Ucap Bernard.
__ADS_1
" Sudah, entahlah.. mungkin faktor usia." Ucap Daniel.
" Bernard, aku benar benar mjnta maaf.. Sierra.."
" Tidak maslaah kak, dia memilih pendamping hidupnya sendiri. Mungkin memang Sierra bukan jodoh Vian." Ucap Bernard.
" Nak Vian.. tolong jangan patah hati dan pupus harapan nak. Di luar sana pasti banya wanita yang lebih baik dari Sierra." Ucap Daniel.
" Entahlah paman.. Aku pun tidak tahu, apakah aku bisa hidup tanpa Sierra." Ucap Vian ( Alden ) pura pura bersedih.
Daniel menjadi merasa bersalah pada mereka. Bagaimanapun, Vian dulu memang sangat menyayangi Sierra.
" Kakak, jangan merasa bersalah. Vian hanya sedang patah hati, dia pasti bisa melaluinya nanti. Walau memang sangat di sayangkan, hubungan yang kita harapkan tidak terjadi." Ucap Bernard.
" Jangan tambah bersedih, nah mari.. Kita minum teh saja, Vian sangat mahir membuat teh untuku walau dia pencinta kopi." Ucap Bernard.
" Ah, iya." Ucap Daniel.
Daniel pun meminum teh yang di sediakan oleh Vian. Dan Bernard tersenyum kecil saat melihat Daniel meminum teh racikannya.
Semua gerak gerik mereka rupanya tak terlewat sedikitpun oleh mata Tio, Tio bahkan melihat ke lura puraan di wajah Bernard dan Vian. Juga melihat bagaimana Bernard tersenyum kecil barusan.
' Ya Tuhan, tolong segera sadarkan tuan Daniel.' Batin Tio
" Kak, kenapa kau menjadikan Tio yang seorang tukang kebun menjadi asistenmu? Apakah kau kekurangan orang?" Ucap Bernard.
" Ah, iya. Asistenku tewas terbunuh, jadi untuk sementara ini aku menunjuk Tio unruk menjadi Asistenku. Kau tahu sendiri, tidak mudah mencari seseorsng yang setia di sisi kita." Ucap Daniel.
" Apakah kau ingin aku mencarikan satu? Aku bisa memberikan beberapa orang kepercayaanku padamu." Ucap Bernard.
Tio pun panik, Jika Daniel mengiyakan perkataan Bernard, maka dirinya akan semakin sulit memantau kondisi Daniel kelak.
' Jangan tuan.. aku mohon jangan terima.' Batin Tio.
" Baiklah.." Ucap Daniel, Tio pun memejamkan matanya mendengar itu.
' Ya Tuhan..' Batin Tio.
Bukan karena Tio tidak terima posisinya di gantikan oleh orang lain, sejujurnya ia pun tidak menginginkan posisi Asisten itu. Tetapi, ia berat jika harus mempercayakan Daniel pada orang orang Bernard.
Tio bekerja dan tumbuh disana, sejak dirinya dan Daniel serta Bernard sama sama muda. Tio mengenal betul sifat Bernard yang selalu di sembunyikan dalam kedok sosok putra angkat yang baik.
" Paman Tio, mulai besok paman tidak perlu menjadi Asisten paman Daniel lagii. Besok akubakan mendatangkan Asisten baru untuk paman Daniel." Ucap Vian.
" Baik, tuan muda." Hanya itu yang bisa Tio ucapkan dengan menutupi kekhawatiran di wajahnya.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1